“S-suara geraman?”
Ia mengedarkan tatapannya sekali lagi untuk mencari asal sumber suara itu. Namun ia tetap tidak menyadari apa pun, sampai entah bisikan dari mana, Takeru merasa bahwa ia harus mendongakkan kepalanya dan ia melihat ada suatu makhluk dengan penampilan yang sangat aneh tengah terbang di atasnya.
“M-monster?!”
Takeru diam tidak bisa berkata-kata melihat sesuatu dengan ukuran yang cukup besar melayang di atas kepalanya, dengan rupa dan aura yang snagat mengerikan.
“P-pemukiman,” gumam Kozumi yang sepertinya terluka cukup parah karena cairan asam yang mengenai kulit wajah dan kakinya. Takeru segera membawa tatapannya kembali ke arah Kozumi, ia usngguh meras apanik hingga otaknya tak bisa berpikir. Ia hanya bisa mengedarkan tatapannya ke sana dan ke mari berharap ada seseorang yang akan datang untuk menolongnya.
“Bertahanlah! Seseorang akan datang menyekamatkan kita.” Ungkap Takeru berusaha meyakinkan Kozumi dan juga sebenarnya ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Takeru kembali membawa tatapannya ke atas, ia dapat merasakan terik cahaya yang hangat seperti cahaya matahari menusuk indera penglihatannya, ia juga sempat melihat awan putih di langit yang biru. Kuatnya sorotan cahaya matahari, membuat Takeru meraskaan netranya perih, ia kembali memejamkan netranya dan berusaha membuka netranya dengan susah payah. Namun saat ia kembali membuka netranya dan mendongak ke arah langit, lagi-lagi ia tidka bisa melihat apa pun. Kini pemandangan yang ia lihat sama seperti pemandangan yang sebelumnya. Dunia yang Takeru kira adalah ruangan besar yang bernuansa putih. Namun sepertinya Takeru mulai menyadari bahwa ini bukanlah sebuah ruangan besar, namun ini memanglah suatu tempat yang luas tanpa sekat di mana semuanya berwarna putih.
“M-monsternya menyemburkan asam—akh!”
“Sebaiknya kau jangan banyak bergerak dulu, jika kau bergerak, mungkin cairan asamnya akan menyebar dan beregrak ke bagian wajahmu yang lain.”
Takeru yang semula mendongakkan kepalanya kebingungan, karena dalam sepersekian detik apa yang ia lihat di penglihatannya berubah, ia masih tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi. Namun fakta bahwa di sini ada monster, Takeru tidka bisa menyangkalnya lagi, ia jelas sudah melihat dengan bola matanya sendiri tadi, meskipun hanya sekilas. Lagi pula jika ia tetap bersikukuh bahw apa yang dilihatnya tidkalah nyata dan halusinasi, lalu bagaimana dnegan luka Kozumi sekarang? Kozumi jelas-jelas terluka dan itu bukanlah tipuan. Luka yang melepuh hingga membuat bagian dalam wajah Kozumi terlihat, itu nyata. Takeru tahu bahwa ia hanya akan membuang-buang waktu jika ia terus berpikir bahwa apa yang di hadapinya sekarang hanyalah mimpi.
“Ya, aku melihat monsternya. Tapi hanya beberapa detik, sekarang aku tidak bisa melihatnya lagi,” ucap Takeru dengan nada bicara tergantung. Takeru terdiam sejenak, ia tak tahu apa lagi yang harus ia katakan atau lakukan, “Apakah, ada yang bisa aku lakukan untuk melawan monster itu?” tanya Takeru dengan tatapan yang begitu tajam. Sebenarnya ia sendiri tidka yakin dengan ucapannya. Memangnya apa yang bisa ia lakukan di sini? Ia bahkan mungkinmengatakan hal itu pada Kozumi hanya untuk mengambil tanggung jawab bahwa ia adalah seorang pria, di mana ia harus melindungi wanita. Caranya? Takeru akan memikirkan itu nanti.
Kozumi meringis seraya memegangi wajahnya dengan hati-hati, ia mendongak ke arah langit. Takeru dari arah samping, Takeru bisa melihat bahwa gadis chunibyo itu memaksakan diri.
“Keadaanmu sangat parah—”
“Visi Reverie, berikan aku obat terbaik untuk menyembuhkan luka yang di dapat tubuh ini—shh,” Bukannya mendengarkan larangan Takeru, gadis itu justru membawa tubhnya dalam posisi tegap, satu tangannya terangkat di udara dan terbuka saat mengatakan sesuatu yang disebut visi Reverie.
Takeru mengernyitkan alis, apa yang baru saja dikatakan siswi aneh itu? Visi Reverie? Istilah apa lagi itu? Tadi ia sudah mendengar kata-kata khas dari pada pengidap chunibyo, peristiwa aneh, zombie, portal dimensi, kekuatan ajaib, sayap eden dan sekarang istilah itu bertambah lagi. Sebenarnya itu bukan hal yang asing, ia sering mendengar dna melihat tokoh-tokoh utama di suatu tontonan laga mengucapkan istilah-istilah asing yang mereka ucapkan untuk menamai jurus mereka. Dan kini ia melihat sendiri seseorang mempraktikan itu di depan matanya. Takeru yang hanya terbiasa melihat hal-hal seperti itu di dalam film dan anime merasa geli sendiri.
“Awas!”
Takeru membelalakkan matanya saat ia Kozumi tiba-tiba menghambur ke arahnya, mendorong tubuhnya pada tubuh Takeru hingga tubuh Takeru terjungkal. Takeru kembali celingukan dnegan ekspresi bingung. Keadaan di sekitarnya hening tanpa ada apa pun, tapi kenapa gadis ini tiba-tiba mendorong tubuhnya?
“Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan? Apakah kau sebodoh itu sampai kau tidak menyadari bahwa musuh akan menyerang?” tanya gadis itu dengan raut yang terlihat begitu kesal. Gadis itu beranjak dari posisi duduknya lalu ia menyentuh bagian atas telapak tangannya yang kosong, tangannya yang tidak cukup lentik terlihat berputar-putar di sana seolah ia tengah mengosok sesuatu, namun di sana jelas tidak ada apa-apa.
Gadis itu kembali membawa arah pandangnya ke udara. Tatapannya begitu serius terlihat dari bagaimana netra hitamnya berkilat-kilat seperti pedang yang tersiram cahaya matahari siang yang terik. Takeru ikut membawa arah pandnagnya, namun lagi-lagi ia tidka melihat apa pun di atas mereka, di sekeliling mereka atau di samping kanan kiri mereka. Semuanya sama seperti saat pertama kali ia datang, hanya berwarna putih dan hampa.
“Ah, jadi kau mau merebut mangsaku, hah?” geram gadis berambut pendek yang berada di sampingnya itu seraya berdiri merapikan roknya yang ditempeli serbuk-serbuk putih dari pijakan mereka. Gadis itu menoleh ke arah Takeru membuat Takeru tersentak dengan gerakan was-was mengantisipasi apa yang akan dilakukan gadis itu. “Sembunyilah, aku akan melanjutkan pertarungan—"
Takeru segera bangun dari posisi terbaringnya, menatap Kozumi dengan tatapan jengah, “Pertarungan?” ulang Takeru dengan nada sinis, “Kau sedari tadi membahas tentang zombie, portal Reverie, perpindahan dimensi dan sekarang pertarungan. Dan aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang. Setelah kejadian di sekolah aku mulai berpikir bahwa ini mungkin mimpi, tapi kau mengatakan bahwa ini bukan mimpi. Kau juga tidak memberi tahu tempat apa ini, atau memberi tahu nama mu, kau bahkan menolak memberi tahu nama—"
“Kozumi. Aku sudah bilang bahwa ini adalah dimensi Reverie, kau sudah tidka bisa kembali ke bumi dan mulai dari sekarang kau akan hidup di sini sebagai manusia dari dimensi lain. Kau pernah membaca komik tentang isekai?” tanya Kozumi dijawab Takeru dengan anggukan kaku.
“Kau pernah berkhayal menjadi tokoh yang mengalami isekai?” Tanya Kozumi lagi dengan ekspresi datar, dan lagi-lagi Takeru mengangguk kaku.
“Selamat, mimpimu terwujud, bocah. Nah, sekarang bersembunyilah karena aku harus melawan dan berburu monster itu sebelum seseorang di sana merebut mangsaku.” Kozumi menunjuk lagi ke arah atas, menunjuk titik kiri saat ia mengatakan monster, dan menunjuk ke arah kanan saat ia membicarakan ornag yang ingin merebut mangsanya, namun Takeru lagi-lagi hanya bisa mendongak dengan eskpresi cengo dengan mulut terbuka dan juga kebingungan. Karena apa dideskripsikan Kozumi tidak ada satu pun yang terlihat di sana, suara, bayangan, apalagi wujudnya. Takeru berdecap pelan lalu menatap Kozumi dengan tatapan bingung juga lelah bagaimana ia harus mempercayai iycapan Kozumi sat apa yang dikatakan Kozumi tidak nyata adanya karena ia tidak bisa melihatnya?
“Kau melihat monster mirip naga itu? Itu adalah yang disebut phantasiae. Disebut phantasiae karena makhluk itu bisa muncul kapan pun, di mana pun, dalam bentuk apa pun tanpa bisa di duga atau di prediksi sebelumnya. Seperti halusinasi. Aku akan kembali. Kau sembunyilah di balik batu atau pohon di sana.” Ungkap Kozumi menunjuk ke sisi kanan Takeru lalu hendak meninggalkan Takeru untuk kembali ke langit.
“Visi Reverie, sayap Eden—” Kozumi tidak bisa melanjutikan ucapannya saat ia merasakan ada sesuatu yang menahan tangannya. Kozumi sontak menoleh dan mendapati Takeru menahan tangannya. Kozumi menyipitkan netranya sinis dan berdesis hendak bertanya apa yang sebenarnya diinginkan Takeru, namun Takeru terlebih dahulu berbicara memotong ucapannya.
“Aku tidak melihat apa pun.” Ucap Takeru cepat, singkat dan tegas, hingga Kozumi tidak menyimak apa yang baru saja diucapkan siswa itu.
“A-apa?” tanya Kozumi terlihat tidak fokus sehingga ia meminta Takeru mengulang ucapannya.
Takeru menghela napas berat, “Aku tidak melihat satu pun hal yang kau katakan, aku tidak melihat kau bertarung dengan monster, tidak ada juga batu atau pohon yang kau ceritakan. Aku bahkan tidak mengerti dengan apa yang sedang kau lakukan sedari tadi. Loncat sana, loncat di sini, menebas angin dengan tongkat hockey-mu. Meskipun aku salut kau bisa beterbangan ke sana kemari ”
Kozumi terdiam menatap takeru dengan tatapan tak percaya. Ia merasa sudut bibirnya berkedut, namun ia berusaha mengendalikannya, “Apa maksudmu? Kau bilang kau tidak melihat ada monster, pohon, dan batu yang aku tunjuk, kalau begitu kau juga tidak melihat say— Ah, berisik! Baiklah, baiklah kau bisa mengambilnya, Onyakopon!” Kozumi tiba-tiba memekik di sela pembicaraannya dengan Takeru seraya mengibaskan satu tangan di udara seolah ia sedang berbicara dengan orang lain di atas sana.
Takeru menyipitkan netranya dengan ekspresi aneh, “Onyakopon? Karakter dari salah satu anime dan manga terkenal?”
Kozumi menghela napas dan menganggukkan kepalanya, “Ia fans berat dari serial itu. Aku akan menceritakan padamu lain kali kenapa orang itu memilih nama itu.” Kozumi melipat tangan di atas perut, kembali menghela napas berat. Hari ini ia menemui banyak hal yang membuat energi tubuhnya terkuras banyak.
“Whoah, lukamu sembuh! Gila! Bagaimana bisa?” Pekik Takeru saat melihat perlahan luka karena tersiram cairan asam yang semula cukup besar hingga menutup hampir seluruh bagian kanan wajah Kozumi, kini perlahan beregenerasi, memulihkan kulitnya. Kini wajah Kozumi yang semula sebenarnya cukup membuat Takeru ngeri, kini berangsur-angsur kembali normal.
“Ini karena obat—tunggu, jangan bilang kau tidak melihatnya juga?” tanya Kozumi yang dijawab Takeru dengan tatapan bodohnya. Kozumi benar-benar terperangah tak bisa mempercayai apa yang diucapkan Takeru barusan.
“Kau melihat di sana ada pasar? Orang-orang berlarian ke arah sana, dan seseorang yang sedang terbang di atas langit sana dengan membawa tombak?” tanya Kozumi memastikan. Namun Takeru tetap menunjukkan reaksi yang sama. Ia tidak melihat apa yang dibicarakan Kozumi.
Kozumi terlihat menelan ludah kasar, “Kalau begitu, apa yang kau lihat?” tanya Kozumi dengan tatapan waswas.
Takeru terlihat diam sejenak, “Hanya dunia yang semuanya berwarna putih.” Jawab Takeru yang membuat Kozumi lagi-lagi tidak bisa berkata-kata.
“Tidak mungkin, dunia berwarna putih? Dunia warna putih bagaimana? Kau sungguh tidka melihat apa pun di sini?”
“Kau pikir aku berbohong? Aku bahkan tidak melihat tanda-tanda kehidupan di sini.”
Kozumi menggelengkan kepalanya, “Dengar, aku tahu kau tidak bisa mencerna hal yang terjadi sekarang pada mu. Tapi di sini kau adalah makhluk asing, kau tidak seharusnya berbohong di sini.” Ujar kozumi menasehati Takeru.
“Menurutmu siapa di sini yang berbohong?
Tunggu apakah sebelumnya di dunia mu kau memiliki masalah dengan indera penglihatan?” tanya Kozumi berusaha mencari alasan yang mungkin paling masuk akal. Takeru men ggelengkan kepalanya.
“Mataku sangat normal. Sangat bagus malah karena aku suka memakan makanan yang banyak mengandung vitamin A.” Takeru menyanggah tuduhan Kozumi, “Buktinya aku bisa melihatmu dengan sangat jelas.” Takeru menambahkan.
“Kau benar—whoah!”
Kozumi tercenung sebelum detik selanjutnya Kozumi terlihat merendahkan kepalanya tiba-tiba, dan itu membuat Takeru yang penglihatannya masih tidka berubah selain melihat dunia putih, hanya bisa mengikuti gerakan Kozumi meskipun ia tidka tahu apa yang baru saja hampir menyerang mereka.
“Itu jelas sangat aneh karena seharusnya kau bisa melihat benda-benda yang tadi aku sebutkan. Tapi sekarang keadaan sedang darurat. Ayo kita cari tempat berlindung dulu.” Ungkap Kozumi lalu berlari mendahului Takeru untuk menjadi penunjuk jalan.
“Apakah kau baik-baik saja?” Kozumi menghentikan larinya dan membungkukan tubuhnya terlihat seolah ia sedang membantu seseorang. Tapi lagi-lagi sungguh, Takeru tidka bis amelihat apa pun. Namun untuk sekarang, Takeru akan mempervayai dan mengikuti apa yang dikatakan gadis itu.
“Bagus, ikuti aku, oke?” ajak Kozumi mendorong angin kosong di hadapannya dengan satu tangan seolah itu adalah punggung seseorang, Takeru hanya bisa terperangah dengan perasaan bingung juga aneh. “Apakah kau baru saja membantu seseorang untuk berdiri?” tanya Takeru memastikan dugaanya tidka salah. Kozumi menoleh sedikit lalu menganggukkan kepala.
“Keadaan cukup kacau karena mosnter itu menyerang area yang padat penduduk. Kita sedang di pasar tadinya, sebelum tiba-tiba monster itu muncul.” Kozumi yang sedang membantu beberapa orang untuk bangkit dan mengarahkan mereka pada tempat evakuasi, membuka tangannya dengan lebar mendorong dna memberi arahan mereka untuk sembunyi di titik yang aman. Namun tiba-tiba Kozumi menyadari sesuatu, Takeru tidak bisa melihat, dan sedari tadi bocah itu tidka sedikit pun menunjukkan wajah seolah ia takut atau panik padahal keadaan sedang genting. Kozumi bisa memaklumi jika makhluk atau benda asing di sini bisa tembus pandang sehingga bisa dilewati orang-orang di sini yang sedang berlarian, itulah yang terjadi pada para makhluk pendatang sebelum mereka mendapat berkah Reverie karena mereka dianggap bukanlah bagian dari dimensi ini dan dimensi ini meresponnya dengan menghilangkan massa dari benda asing itu sebelum bisa beradaptasi tapi tidka menghilangkan fungsi indera penglihatan, indera pendengaran, indera perasa dari makhluk asing itu. Tapi sedari tadi Takeru berjalan dan bersikap seolah tidka ada hal buruk yang terjadi. Kozumi membelalakkan netranya, tunggu, apakah jangan-jangan, selain kehilangan massa Takeru juga kehilangan fungsi inderanya?
“Takeru, apakah kau tak mendengar suara atau teriakan panik dan histeris di sini?” tanya Kozumi dengan ekspresi was-was.
Takeru terlihat berpikir sejenak, memasang indera pendengarannya lebar-lebar. “Tidak sama sekali. Aku sudah bilang di sini semuanya berwarna putih dan hening tidka ada suara apa pun? Menurutmu kenapa dari tadi aku terus berpikir bahwa kau sedang berada dalam fase chunibyo? Karena aku tidka melihat, mendengar atau merasakan apa pun. Makannya aku pikir kau pasti sangat gila.” Terang Takeru jujur dengan apa yang ia lihat.
“Mustahil….”