Cahaya matahari terlihat membias di balik kisi-kisi kaca jendela, di luar jendela itu terlihat banyak kelompok remaja perempuan dan laki-laki sedang menjalani rutinitas mereka sebagai siswa. Jika menoleh ke arah kiri, akan menemukan kelompok yang sedang bermain baseball, dengan kelompok sorak sorai yang cantik dan energik. Sementara jika menoleh ke samping kanan, terlihat kelompok tim lari yang sedang melakukan perenggangan. Sahutan hitungan serempak mereka terdengar nyaring menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang dengan seragam yang sama.
Di balik jendela, rok berwarna abu yang serempak, terkibas-kibas seiring derap langkah kaki tiga siswi yang bergandengan, obrolan antar gerombola*n atau sekedar tawa, lalu ada teriakan penjaga sekolah, menegur siswa-siswa yang nakal berlarian. Semua kebisingan saling bersahutan di lorong panjang sekolah menengah atas Fujisaki, sekolah menjadi favorit kedua di prefektur Kanagawa, sekolah yang juga terkenal karena selalu memborong kejuaraan akademi dan seni.
Namun, keadaan lorong sekolah itu berbanding terbalik dengan keadaan ruang konseling yang berada tepat di ujung lorong. Di balik pintu ruangan itu terdengar gebrakan meja yang nyaring, mengagetkan tiga orang yang terdiri dari guru, wali siswa dan seorang siswa yang berpenampilan urakan dengan baju seragam yang tidak lagi terlihat seperti seragam sekolah. Baju yang lecek dengan noda tanah, seragam yang tidak dikancingkan, ditambah luka memar terlihat di pelipisnya, sementara tatapannya tertunduk ke bawah menatap sepatunya yang juga terlihat kotor.
"Berapa kali aku sudah bilang, jangan berkelahi! Tapi kau, dasar anak nakal! Kau terus berkelahi, lihat sekarang! matahari baru menyingsing, tapi kau sudah membuat onar lagi? Lagi, dan lagi, setiap hari! Apakah kau pikir aku menyekolahkan mu untuk jadi preman? Apakah kau senang aku harus selalu izin kerja hanya untuk menemui wali kelas dan konseling?!" Wanita paruh baya dengan setelan baju kantor berwarna abu itu mengusap surai depannya terlihat frustasi. Hembusan demi hembusan napas yang berat terdengar berkali-kali, sementara kakinya mengetuk-ngetuk sepatu heels di lantai tanpa henti, seolah setiap ketukannya menghitung kesalahan sang anak.
"S-sudahlah Ibu Kugisaki. Mungkin, Takeru hanya membutuhkan konsultasi lebih banyak, dan belum mendapatkan passion-nya hingga ia melampiaskannya pada perkelahian." Ujar wanita lain yang duduk di seberang meja konsultasi itu mengangkat dua tangan di udara hati-hati, berusaha meredam amukan dari wali murid yang dalam Minggu ini sudah mengunjunginya lebih dari tiga kali dengan penyebab yang sama.
"Begitu bukan, Takeru?" Tanya sang guru berharap bahwa anak didiknya akan menjawab ya, lalu meminta kesempatan untuk merubah diri menjadi lebih baik sehingga masalah ini bisa cepat selesai.
Pemuda bernama Takeru itu menatap ke arah tangannya yang bertaut, "Apakah, preman tidak perlu sekolah?"
Dan pertanyaan itu sukses membuat dua orang dewasa di sana terkejut. berbeda dengan beberapa menit lalu, kali ini tidak terdengar bentakan, sang ibu yang mendengar pertanyaan konyol itu hanya bisa menahan gemelatuk di giginya, ia kehabisan kata-kata untuk menegur. Dan otaknya terlalu panas untuk dipaksa merangkai kata.
"Apa, yang baru saja kau katakan?" Tanya sang ibu dengan nada dingin yang menusuk.
"Jika memang jadi preman aku bisa hidup tanpa perlu ke sekolah, aku akan menjadi preman--"
Suara sang ibu merendah, teredam oleh posisi wajahnya yang tertunduk menatap pucuk kepala sang anak, "Apakah kau bodoh?"
"Aku tidak bodoh--"
"Apakah kau baru saja menyahuti ku? Beraninya kau dasar anak--" seolah panas yang semula menyerang otaknya berpindah, tangan kanan sang ibu terangkat, melayang di udara dengan jari-jari yang sedikit terbuka hendak menampar dengan kekuatan yang terkumpul di sana.
Tamparan itu hampir saja menyentuh pipi Takeru, si anak kurang ajar di mata ibunya jika saja tidak ada tangan lain yang menahan tamparan itu. "Bu Kugisaki! Cukup! Tolong berhenti."
Siswa bersurai kemerahan itu mengeluh dalam hati. Lagi-lagi guru bimbingan konseling itu berusaha melindunginya. Ia tahu bahwa ibunya akan mengatakan ia adalah yang tidak berguna, ia sudah biasa mendengar itu. Dan ia tidak peduli.
"Aku bukan melahirkan mu untuk menjadi seorang pembangkang! Kau bodoh, tidak pernah berprestasi, tidak juga menguasai linguistik atau seni, tidak ada satu pun! Dan kau masih berpikir kau bisa hidup di dunia ini dengan sikap preman dan angkuh mu?"
Pemuda itu akhirnya berdiri dari tempat duduknya, menatap sang ibu tepat di iris dan menguncinya di sana.
"Apakah ibu pikir, aku juga berharap dilahirkan ibu? Aku tidak pernah meminta dilahirkan--"
PLAAKKK
Ungkapan pemuda itu terhenti, digantikan dengan bunyi tamparan nyaring yang menggema.
"Anak kurang ajar!"
Rasa panas menjalar cepat di pipi kirinya, rasanya, seolah wajahnya batu saja ditempat wajan yang baru diangkat dari api dan dihempaskan padanya. Namun pemuda itu tidak terlihat kesakitan, pemuda itu malah sengaja mengangkat wajahnya, membalas tamparan dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Keluar ruangan Takeru!" suara Bu Miyo, guru bimbingan konseling terdengar bergetar. Takeru memejam netranya merasakan sedikit kenyerian dan malu. Rasanya lebih nyeri melihat guru wanita ini panik dari pada ibunya sendiri jika terluka. Dan mungkin karena alasan itu, Takeru memilih untuk membawa langkahnya pergi. Ucapan Bu Miyo yang selalu terdengar lembut bahkan sekalipun pada saat marah, membuat Takeru malu sendiri jika ia membuat wanita baik hati itu panik.
"MAU KEMANA KAU? AKU BELUM SELESAI! TUNGGU! TAKERU! TAKERU KUGISAKI!"
pemuda itu akhirnya menutup pintu, tanpa emosi, menarik napas berat lalu melangkah menuju lorong, mengabaikan tatapan terkejut para siswa dan siswi lain yang mendengar bentakan-bentakan nyaring dari ruangan konseling.
Takeru terkekeh geli. Rasanya aneh sekali, ia tidak merasakan sesak, ia tidak merasakan sedih, rasanya hatinya bisa menerima begitu saja semua ucapan yang dilontarkan ibunya itu. Sepanjang jalan, ia terus terkekeh bahwa kekehan itu berubah menjadi tawa yang nyaring. Anehnya dibalik tawa itu terdapat bulir air mata yang tanpa sadar berlinang membuatnya kebingungan.
"Oi ... Kau, Takeru Kugisaki! Aku mencari mu lho, sedari tadi."
Takeru mendongakkan kepalanya. Untungnya air mata itu langsung berhenti tatkala ia mendengar suara berat dengan derap langkah gerombola*n yang sangat ia kenal. Suara dengan nada meremehkan yang sangat ia kenal.
"Kau tidak lupa hari ini jadwal mu menggantikan Kosuke, Ryo, dan Fujiwara, bukan?" Tanyanya dengan seringai.
"Tentu saja Aiba-san." Jawab Takeru sebenarnya dengan nada sopan, namun terdengar seperti cemoohan bagi Kureno Aiba, siswa terkuat, memiliki banyak anak buah, dan peliharaan--siswa yang ia perlakukan dengan semena-mena olehnya. Dan seorang yang juga benci saat ada siswa lain memanggilnya dengan nama belakangnya. Seperti yang Takeru lakukan, barusan.
"Kali ini kau akan mengeroyokku dengan berapa orang? Tiga? Lima? Sepuluh?" Tanya Takeru dengan nada mencemooh yang semakin menjadi.
Aiba terlihat mengepal seraya menyeringai, lalu detik selanjutnya ia melayangkan sebuah bogem mentah tepat di perut Takeru. Takeru terlihat memekik, namun selanjutnya ia berhasil balas memberi pukulan di bawah dagu Aiba, membuat Aiba terhuyung. Aiba yang terluka, memancing gerombolannya yang berjumlah lima orang untuk menyerang.
Namun bukannya takut, remaja itu malah mengusap hidungnya dengan semangat, menyiapkan kuda-kuda nya dan memusatkan energinya pada telapak tangannya. Lima orang? Takeru menyeringai, lebih banyak dari kemarin. Apakah ia akan kalah? Ia tahu ia akan kalah, tapi ia tidak peduli.
Derap langkah tiga orang terdengar, tiga orang berlari maju dan sudah berada sangat dekat, dengannya. Pada pukulan pertama, ia berhasil menghindar, lalu memberi pukulan pada hidung salah satu gerombolan itu. Sayangnya di saat bersamaan Takeru tidak bisa menghindari pukulan yang kembali menempa perutnya, bahkan di titik yang sama saat Aiba memukulnya. Belum selesai dengan sakit di satu tempat, Takeru melenguh saat mendapatkan pukulan di perut samping kanan.
Tubuh Takeru terhempas ke lantai, dan dari sisi yang sama terdengar tawa Aiba yang puas melihat kesakitan Takeru.
"Hahaha, hei ... Hei ... Takeru-tan! Apakah kau sudah mau ambruk? He ... sungguh tidak seru. Atau kau tidak sabar untuk menjalankan hukuman tiga teman-teman mu yang lemah itu? Oops, bahkan mereka tidak mengakui mu teman, lho. Aduh, aduh, perasaan pertemanan mu itu hanya bertepuk sebelah tangan, tahu! hahaha..." Aiba berbicara dengan nada meledek penuh kepuasan.
Gema tawa terdengar, namun Takeru masih memiliki kesadaran dan energinya, ia berusaha bangun, tangannya kembali hendak melawan, namun Takeru tiba-tiba merasakan dua tangannya tertahan sesuatu. Dengan pasokan oksigen yang tipis hingga membuatnya sedikit kesulitan memfokuskan tatapannya ia melihat ada tiga orang yang memegangi tangan dan perutnya.
"Seharusnya kau tidak usah menggantikan kami,"
Takeru menyipitkan netranya, pupilnya terlihat membola mendengar suara barusan.
"Ryo?" Pekik Takeru menyadari bahwa Ryo lah yang memegangi tangan kanan kanannya. Takeru segera menoleh ke arah lainnya, menemukan Kosuke memegangi tangan kirinya dengan cengkeraman kuat, lalu Fujiwara yang memegangi perutnya.
"Tolong lupakan bahwa kita pernah bermain game dan pulang sekolah bersama. Aku tidak mau berurusan lagi dengan Aiba." Kosuke menambahkan.
"Maaf Takeru, kau lah yang membawa masalah ini pada kami. Kau lah yang membuat kami jadi harus seperti ini." Tandas Fujiwara.
Takeru terdiam, tubuhnya melemas, kekuatan yang semula ia kumpulkan di tangan menghilang entah kemana perginya. Begitu saja lenyap seiring dengan hasrat bertarungnya yang menguap pudar.
Ah ternyata ia membawa masalah lagi.
Takeru tertunduk, lalu mengangguk. "Ya, aku mengerti. Terima kasih atas game-nya selama ini." Ujar Takeru tulus, baginya, memiliki teman yang mau berbagi game, komik, dan pulang bersama selama beberapa bulan ini, menjadi kenangan indah yang tidak akan ia lupakan. Meskipun akan berakhir, Takeru senang setidaknya ia pernah merasakan masa-masa indah memiliki teman.
Tiga orang itu terlihat diam dengan tatapan kosong, detik selanjutnya Takeru menerima pukulan berkali-kali tanpa melawan hingga ia tidak bisa lagi merasakan tubuhnya.
Saat itu, Takeru berpikir mungkin ia akan mati. Tapi, lagi, ia tidak peduli atau takut, apa yang bisa ia harapkan dari dunia ini? Orang-orang mengharapkan kepergiannya karena ia selalu membawa masalah. Namun selama ini, ia mengeraskan kepalanya, selalu berpikir bahwa mungkin ada satu hal saja yang bisa ia lakukan. Pasti ada satu saja alasan kenapa ia dilahirkan. Itulah yang dikatakan wanita itu.
"Karena kau belum menemukannya, kau tidak boleh menyerah untuk mencarinya. "
Bibir Takeru mengukir senyum. Ia mungkin menyukai wanita itu. Wanita yang baik hati seperti malaikat, satu-satunya orang yang mau berusaha mengerti Takeru dan mungkin salah satu alasan Takeru bisa hidup sejauh ini. Bahkan sebelum mati pun, ternyata momento mori yang menghampirinya adalah wajah dari wanita itu, Bu Miyo.
"Ah, Bu Miyo ... Andai saja kita terlahir di tahun yang sama. Atau setidaknya kau adalah kakak kelas ku, aku akan mengungkapkan perasaan ku dan akhirnya, hidup ku pasti memiliki tujuan," pemuda yang hampir kehilangan kesadaran itu mengangkat tangannya menyentuh wajah sang siluet yang terus muncul di momento mori nya, "Aku menyukai Bu Miyokichi,"