Chapter 2 : Perpindahan Dimensi

1003 Words
Bunyi derap langkah kaki yang tengah berlari terdengar dari lorong sekolah, siswa dengan rambut merah itu terhenti di persimpangan lorong, irisnya bergerak cepat menoleh kanan kiri, menimbang ruangan mana yang sebaiknya ia pilih. Gudang atau toilet yang tidak terpakai? Tempat mana yang cukup aman untuk membuatnya terhindar dari kejaran Aiba—pembuli nomor satu di sekolah dan anak buahnya? “Cari, di mana sembunyinya si kroco lemah itu!” Siswa itu menutup mata sekilas, baru saja ia takutkan, ternyata suara itu malah langsung menyapa pendengarannya. Menyadari bahwa ia tidak mempunyai banyak waktu. Akhirnya ia memilih gudang untuk dijadikan tempat persembunyiannya. Entahlah, pemuda itu tidak yakin bahwa tempat ini adalah pilihan yang pas. Tapi setidaknya ini bisa memberinya waktu untuk tidak mempermalukan dan menghancurkan harga dirinya lagi. Meskipun hukuman itu masih akan berjalan selama empat bulan ke depan, sih. “Takeru-nyan … Di mana kau? Kau mau menganggurkan kostum kucing imut ini? Lihat lah rok-nya berenda dan warna bulunya sama lho seperti warna rambut Bu Miyo. Kau harus menunjukkan kostum ini pada Bu Miyo, dia pasti akan sangat mencintai mu meskipun kalian beda usia, dan meskipun kau pecundang! hahaha.” Pemuda yang tengah bersembunyi di dalam lemari rusak yang ada di dalam gudang itu menghela napas—ia adalah Takeru Kugisaki. Siswa di mana setahun lalu adalah siswa yang senang berkelahi dengan alasan untuk menegakkan keadilan, tidak kapok bolak-balik ke ruangan konseling karena wali kelasnya sudah angkat tangan dengan kelakuannya. Orang tuanya bahkan sudah tidak menganggapnya anak, namun ia tidak peduli karena ia memiliki teman-teman yang mendukung aksi perkelahiannya. Tapi itu dulu. Kini Takeru Kugisaki dikenal sebagai pecundang yang menyedihkan. Pecundang yang takut dengan ibunya, menjadi badut dari geng Aiba Kureno dengan kostum-kostum konyol yang membuatnya ditertawakan seisi sekolahan, ditambah kejadian memalukan yang pernah ia lakukan di lorong sekolah, pernyataan cinta bodoh dan memalukan pada guru Bimbingan konseling, Bu Miyokichi. Takeru dianggap menjijikkan karena menyukai guru yang lebih tua darinya. Kejadian itu sudah berlalu lebih dari setengah satu tahun yang lalu, namun sampai sekarang, Takeru tidak bisa melupakan kejadian memalukan itu. Ia tidak peduli dengan kostum-kostum aneh yang harus ia kenakan karena geng Aiba, tapi kini ia kehilangan wajahnya pada Bu Miyo, guru yang dikaguminya. Jika ia bertemu dengan Bu Miyo, ia selalu berharap agar bumi bisa terbelah menjadi dua lalu ia terkubur di sana saat itu juga, atau, ia berangan bisa berubah menjadi ninja dan berkamuflase saat harus berpapasan dengannya. Terkadang satu-satunya hal yang ia pikirkan saat melihat Bu Miyo adalah satu kalimat; matilah saja kau Takeru Kugisaki yang bodoh! Jika saja ia diberi kesempatan untuk menghapus salah satu hal yang tidak ingin tercatat di sejarahnya, maka ia akan menghapus adegan bodoh di lorong sekolah itu segera. Tapi lagi, itu hanya angan. Ia hidup di dunia nyata, bukan angan-angan. Bukan di dunia fantasi yang mana di dalamnya bisa ia atur sepenuh hati Takeru menajamkan indera pendengarannya, menghitung jumlah langkah kaki untuk memastikan berapa orang yang mencarinya. Takeru menghela napas pasrah, lima orang. Ia tidak akan bisa lolos. Berbeda dengan setahun yang lalu di mana ia berani melawan, kini ia tidak hanya lebih dari kroco lemah. Ia sudah berhenti berkelahi dan memaksakan diri untuk belajar meskipun itu membuatnya otaknya berasap. Ia bahkan sudah tidak memiliki otot perut, kini hanya ada perut buncit menggemaskan seperti sepotong roti khas Hokkaido yang baru diangkat dari oven. Empuk dan mengembang, sosok sempurna dari anak yang dibuli dan dipandang menjijikkan. Langkah gerombolan anak buah Aiba terdengar menjauh, pemuda itu menarik napas lega. Ia merogoh telepon genggam dari sakunya. Jam istirahat masih tersisa kurang dari satu jam. Waktu yang lumayan panjang dan akan terasa sangat panjang jika Takeru berada di cengkeraman Aiba. Menari-nari dengan kostum bodoh untuk mereka tertawakan atau dilempari dengan yakisoba. Sepertinya memang keputusan terbaik adalah tidur di sini sambil menunggu jam istirahat usai lalu kembali ke kelas saat jam pelajaran kedua di mulai. Takeru terbangun dari tidurnya saat ia merasa bahwa tubuhnya bergoyang pelan. Suara decitan kayu dan saling bergeser, membuat siswa yang baru saja bangun dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, baru ingat bahwa ia sedari tadi tidur dalam lemari untuk menghindari kejaran geng Aiba. mengumpulkan kesadaran seraya mengucek bola matanya, siswa sekolah menengah atas yang baru menduduki tahun kedua itu melihat kanan kiri bahwa barang-barang yang berada di Gudang itu semakin banyak berjatuhan, kini ia dapat merasakan getaran yang sangat kuat di lantai. “Apa yang terjadi? Gempa?” Pekik Takeru kaget. Takeru segera terperanjat, membawa tubuhnya keluar dari lemari. Ia menutupi kepalanya dengan tangan untuk menghindari barang-barang dari atas rak dan lemari yang bisa menciderainya. Untungnya ia bisa keluar dari gudang tanpa cidera sedikit pun. Keadaan lorong terlihat sepi dan hening kecuali suara decitan kayu dari pintu dan jendela yang saling beradu karena gempa, tidak ada satu orang pun yang terlihat berlarian panik di lorong. “Kemana semua orang? Apakah semua orang sudah berhasil di evakuasi?” Takeru mengatur napas dan ketenangannya, ia tidak boleh panik. Ia hanya perlu mencari tahu di mana orang-orang di evakuasi. Untungnya dulu Takeru mengikuti pelatihan simulasi. ia menganggukkan kepala meyakinkan dirinya sendiri. Sambil berlari untuk menuju tangga, Takeru menoleh kanan kiri, memastikan sekali lagi apakah ada siswa atau siswi yang juga sedang menyelamatkan diri. Namun ia tidak menemukan apa pun selain bayangannya sendiri. Langkah kaki kurusnya terhenti di depan pintu sebuah kelas yang terbuka lebar. Entah karena apa, langkah Takeru seolah tertarik untuk mengintip kelas itu. Kekuatan gempa kali ini perlahan melemah tidak sekuat tadi. Takeru menundukkan kepalanya memperhatikan lantai yang sudah tidak lagi bergetar, lalu bersyukur dalam hati karena sepertinya gempa ini memang sudah benar-benar berakhir. Namun tiba-tiba Takeru merasakan tubuhnya terpelanting ke arah pintu kelas dengan sangat keras, sesuatu baru saja menabrak tubuhnya. Takeru menoleh cepat untuk melihat benda apa yang menabraknya, namun alangkah terkejutnya ia saat melihat seorang gadis yang sepertinya sebaya dengannya dengan tongkat hockey di genggamannya, menatapnya seraya mengayun-ngayunkan tongkat hockey yang berwarna merah kehitaman itu. Takeru meringis, siswi dari mana ini? apalah siswi ini seorang preman? Gadis itu berdecak, “Ah jadi zombie yang di sini sudah bangun juga, ya?” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD