Chapter 3 :

1001 Words
Gadis itu berdecak, “Ah jadi zombie yang di sini sudah bangun juga, ya?” Gadis itu merubah posisinya menjadi posisi sigap dengan kuda-kuda seolah ia siap menyergap jika ada music menyerang. Takeru memicingkan netranya bingung, apa yang baru saja di katakan gadis itu? Zombie? Sudah bangun? Takeru merasakan alisnya berkedut lalu ia tersenyum maklum. Gadis ini pasti sedang berada di fase Chunibyo—sindrom mengkhayal pada seseorang yang seakan-akan memiliki sesuatu yang luar biasa bahkan bisa merasa memiliki kekuatan supranatural di dalam dirinya. Takeru merasa sedih untuk gadis ini. Padahal ia terlihat sangat normal dalam penampilan. Ia memiliki netra gelap dengan sorot tajam, sementara rambut hitamnya yang pendek terkibas saat ia bergerak. Lalu ia memiliki sorot mata yang tajam. Tapi ia menyia-nyiakannya dengan menjadi seorang Chunibyo atau gadis alay—julukan yang biasa dikatakan teman-temannya. Membahas kata teman-teman, Takeru sungguh bingung dengan keadaan sekolah yang sangat hening dan seolah menjadi sekolah horror. Sungguh, di mana semua orang? “Gempa baru saja reda, sebaiknya kita segera ke lapangan atau aula. Di sini sudah tidak ada orang lain selain kita.” Ujar Takeru berusaha bersikap ramah. Namun saat mendengar Takeru berbicara, netra gadis itu terlihat membola. “Kau berbicara dengan normal. Jadi kau bukan Zombie, ya?” Tanya Gadis itu menarik mundur tongkat Hockey yang semula ia acungkan pada Takeru tanpa sedikit pun terlihat ragu. Takeru meringis, sepertinya penyakit Chunibyo nya parah sekali sampai ia mengira Takeru yang jelas tidak mengeram dan masih berpenampilan normal disebut Zombie. Takeru bangun dari lantai, lalu ia menarik tangan gadis itu namun gadis itu menatapnya was-was. “Memang dari bagian mana aku terlihat seperti zombie?” Tanya Takeru tak habis pikir. Bukankah ia berpenampilan snagat normal? ia rapih dan tidak ada darah. bagaimana ia bisa ia disbeut zombie? benar-benar gadis aneh. Takeru harus segera menyelamatkan diri dan berpisah dari gadis aneh ini. “Ya aku tahu kok, kau bukan Zombie.” Jawab gadis itu seolah mencemooh Takeru membuat Takeru kesal. Tak ingin berurusan lebih lama dengan gadis Chunibyo itu, Takeru menarik tangan gadis yang belum ia ketahui namanya itu menuju tangga. “Kalau begitu ayo kita segera bergabung dengan orang-orang yang di evakuasi-“ Takeru hendak mengajak gadis itu ke tempat yang menurutnya paling aman di sini. namun gadis itu menghentikan Takeru dnegan memotong ucapannya. “Kita tidak boleh ke tempat yang banyak orang-orang. Orang-orang sudah menjadi Zombie.” Tatapan gadis itu terlihat kembali awas, seolah ia memang terbiasa menghadapi situais seperti ini. Merasa jengah dengan ucapan gadis itu, Takeru memilih melengos pergi. Hanya membuang-buang waktu dan tenaganya untuk berurusan dengan bocah yang sudah terjangkit penyakit chunibyo akut. Keadaan juga sudah aman, seharusnya tidak akan menjadi masalah besar jika Takeru meninggalkannya. Dengan pemikiran seperti itu, Takeru berjalan meninggalkan gadis itu yang kali ini sedang membuat gerakan seolah ia sedang mendengarkan suara dari lantai, asyik dengan fantasinya. Takeru sudah berada di ujung anak tangga pertama untuk turun, namun ia mendengar suara derap langkah yang ramai lebih dari satu tiga orang. Ia menengadahkan kepalanya untuk melihat siapa yang turun dan tepat saat ia mendongak ia menemukan ada banyak siswa dan siswi yang menatapnya. Anehnya tatapan mereka terlihat aneh, seperti kosong dan melihatnya sebagai sesuatu yang—Takeru tidak bisa mendeskripsikannya. Satu hal yang Takeru rasakan, firasatnya berkata ada sesuatu yang aneh. Namun belum sempat ia memperhatikan lebih jauh, ia merasa bahwa tangannya di tarik. “Mereka datang! Kita harus segera pergi atau kita akan mati.” Takeru terbelalak, lalu menemukan bahwa gadis Chunibyo itu menariknya dengan sangat kuat hingga ia hampir terjungkal. “Apa kata mu? Bisa mati? Jangan gila! Ini bukan dunia fantasi di mana kau berpikir kau akan menemukan Zombie!” Takeru membantak mulai kesal dengan ocahen siswi yang bahkan tidak mengenakan seragam di sekolah itu. Gadis itu mengangkat alisnya lalu melepaskan genggamannya, “Baiklah kalau begitu. Semoga beruntung. Oh ya, di mana pintu keluar di gedung ini?” Mereka berhenti sejenak menoleh kanan dan kiri. Memastikan bahwa keadaan aman—gadis itu sih yang memastikan Takeru yang sedang mengatur napas malah menatap gadis itu konyol. Ia tidak suka harus melakukan hal-hal tidak masuk akal yang membuatnya lelah. Siswi itu bisa melakukan hal apa pun yang ia mau asal tidak melibatkan Takeru. Ia sudah cukup puas menjadi pecundang.   “Di lantai satu. Makannya, sedari tadi aku mengajak mu turun untuk evakuasi! Tapi kau terus bersikap konyol dan gila. Apakah kau terkena penyakit Chunibyo?” Takeru membawa langkahnya hendak kembali menuju tangga namun netranya terbelalak saat ia menemukan sosok wanita yang begitu ia kenal. “B-Bu Miyo?” Takeru tahu, bahwa seharusnya saat itu ia kabur. Seringnya, ia memilih kabur dari Bu Miyo agar ia tidak teringat dengan kejadian memalukan setahun lalu. Namun kali itu entah karena apa hatinya menolak. Rasa khawatir setelah kejadian gempa tadi membuatnya begitu mengkhawatirkan guru konseling baik hati itu. "A-apakah anda baik-baik saja, Bu Miyo?" Tanya Takeru tak berani menatap Bu Miyo secara langsung. Ia memilih memalingkan wajah ke arah kanan dan menaruh tangannya di belakang kepala. Rasa canggung dan malu masih mengalung erat di lehernya hingga membuatnya enggan untuk menatap guru yang memiliki peran besar dalam hidupnya itu. "Jangan!" Takeru menoleh mendapati gadis berambut hitam Chunibyo tadi memekik berteriak, Takeru menoleh ke arah si gadis dan mendapati gadis itu berlari ke arah nya. Takeru mengernyitkan alisnya bingung, menatap miris kelakuan konyol siswi yang bahkan sepertinya tidak mau menggunakan seragam sekolah dan memilih menggunakan kaus putih itu. Takeru kembali mengalihkan tatapannya pada Bu Miyo, namun ia tidak mendengar jawaban, yang terdengar hanya langkah kaki yang cepat, malah iti terdengar seperti langkah kaki orang yang berlari. Pada saat bersamaan tiba-tiba keadaan menjadi gelap. Cahaya matahari siang di mana sebelumnya bersinar terik, tiba-tiba menghilang di gantikan kegelapan malam. "Bu Miyo--" Saat Takeru menoleh ke arah gurunya, Takeru hampir terjungkal, Takeru sontak menoleh dan mendapatkan siswi Chunibyo tadi menahan Bu Miyo dengan tongkat hockey-nya. "Apa yang kau lakukan?!" "Justru apa yang kau lakukan? Bukankah aku sudah mengatakan kita akan diserang zombie? Apakah kau ingin mati?" Takeru menarik napas jengah, "Aku sungguh sudah jengah--"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD