"Apa yang kau lakukan?!"
"Justru apa yang kau lakukan? Bukankah aku sudah mengatakan kita akan diserang zombie? Apakah kau ingin mati?"
Takeru menarik napas jengah, "Aku sungguh sudah jengah--"
Takeru menarik napas jengah, "Aku sungguh sudah jengah--"
"Lihat ekspresinya, apakah menurut mu ini ekspresi wajah yang normal?!" Bentak gadis itu meminta Takeru memperhatikan wajah guru konseling-nya itu. Takeru mengernyit karena tidak menemukan satu tanda pun bahwa guru nya adalah zombie. Lagu pula hanya orang bodoh yang berpikir melihat zombie saat jelas-jelas tidak ada luka, darah atau—Takeru memekik saat mendapati dari arah belakang, punggungnya ia mendapatkan tusukan dari bolpoin.
"A-apa yang kau lakukan?" Tanya Takeru dengan wajah syok, namun tatapan syok itu berubah menjadi ketakutan saat ia melihat dari belakang siswi yang menusuknya, ada gerombolan siswa-siswi lain yang berjalan dengan membawa banyak perkakas ditangannya masing-masing, menatap Takeru dengan tatapan yang sama yaitu tatapan membunuh.
Pupil Takeru membola, dengan cepat ia menoleh ke arah siswi yang ternyata sedang bertarung dengan Bu Miyo. Siswi itu bergerak dengan lincah untuk menghindar dari serangan pukulan tangan Bu Miyo, tubuh kurus kecilnya membuat gerakannya gesit untuk bergerak rendah menyapu kaki wanita dewasa yang jelas memiliki tubuh lebih besar darinya terjatuh di lantai. Setelah berhasil menjatuhkan Bu Miyo, gadis itu menarik tangan Takeru yang gemetar. Sungguh, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Semuanya terasa berlalu begitu cepat hingga Takeru kesulitan mencerna situasi apa yang sedang ia hadapi.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan orang-orang di sekolah ini?" Tanya Takeru bingung bercampur panik.
Gadis itu terlihat menatap fokus. "Perpindahan dimensi. Jangan bertanya sekarang! Aku harus menghemat tenaga ku. Intinya sekarang kita harus menyelamatkan diri dulu karena para zombie itu akan mengejar kita dan membunuh kita." Ungkapnya di sela pelarian mereka.
"Aku pasti sedang dalam mimpi! Mustahil hal seperti ini terjadi,"
"Kalau begitu mau aku buat sadar dari mimpi mu?" Gadis itu memukul luka tusukan cukup keras hingga Takeru meringis kesakitan. Takeru mendelik menatap gadis itu dengan tatapan kesal, "Apa yang baru saja kau lakukan?!"
Gadis itu terkekeh, "Nah sekarang apakah kau sudah bangun dari mimpi?" Tanya gadis itu terdengar meledek. Sementara Takeru masih di ambang antara percaya dan tidak percaya. s**l! Jadi ini benar-benar kenyataan? Takeru menggelengkan kepalanya. Tak ada waktu untuk bertanya, yang jelas ia harus menyelamatkan diri terlebih dahulu. Gunakan otaknya, gunakan naluri untuk bertahan hidup.
"Kita harus menemukan pintu sekolah, bukan?" Tanya Takeru berusaha bersikap tenang, kali ini ia
akan mempercayai gadis ini. Gadis itu menggeleng, "Terlambat. Saat cahaya menghilang, maka kemungkinan kita sekarang sedang melakukan perpindahan dimensi. Satu-satunya yang bisa kita lakukan hanya bertahan hidup."
"Bertahan hidup?" Ulang Takeru tidak mengerti.
"Melawan zombie-zombie tanpa ekspresi tadi, sambil menunggu perpindahan dimensi selesai—"
Takeru terhenyak saat tiba-tiba ada sesosok siswa muncul hendak menusuk mereka menggunakan sapu, namun untungnya gadis di sampingnya ini bergerak cepat menggunakan tongkat hockey andalannya untuk menangkis serangan tak terduga itu lalu balas menyerang dengan menyapu kaki siswa itu hingga oleng.
Takeru hanya bisa terpana melihat aksi gadis itu yang begitu gesit dan ringan, seolah ia terbiasa menghadapi hal-hal seperti ini. Apakah ia seorang atlit? Petarung? Setelah menjatuhkan siswa tadi, ia bergerak cepat ke arah dua orang yang baru saja muncul dari kelas, memberi tendangan di wajah dengan satu kaki hingga siswa itu terjungkal. Lalu sebelah kakinya yang lain memberi tendangan di perut siswa kedua hingga terhuyung mundur. Semudah membalikkan tangan gadis itu membuka jalannya untuk berlari meninggalkan lorong sekolah.
Tunggu, apakah ia meninggalkan Takeru?
Takeru mengedarkan tatapannya dan menemukan bahwa kini ia dikepung lima orang siswa dan siswi yang membawa alat-alat perkakas bahkan satu di antaranya membawa kursi sekolah. Takeru mengumpat pada gadis yang meninggalkannya itu. Bagaimana ia bisa meninggalkan Takeru begitu saja? Bagaimana cara Takeru menghadapi orang-orang ini sementara ia tidak memiliki s*****a apa pun?
"Woah!" Takeru menunduk saat ia melihat kursi yang tadi dibawa salah satu siswa melayang tepat ke arahnya. Untungnya ia memiliki refleks yang cukup bagus, meskipun sekarang ia harus menabrak jendela lorong sekolah dengan gorden berdebu--netra Takeru berbinar. Dengan cepat ia menarik gorden itu hingga bunyi sobekan terdengar. Seraya menarik gorden ia melepas kedua sepatunya yang sedikit longgar. Saat dua dari siswa itu datang, ia menendang kursi yang tadi dilemparnya hingga menabrak dua siswa yang menghampirinya itu.
Tak menunggu lebih lama, saat gorden berhasil ia robek, ia memungut sepatunya, membungkus sepatu itu dengan gorden putih dan tipis yang baru dirobeknya tadi. Menjadikan telapak tangannya yang memegang dua ujung tali sebagai pusat gaya, lalu memutar robekan gorden secara horizontal hingga membentuk lintasan lingkaran. Menarik napas dalam, lalu ia kembali memutar sobekan gorden berisi sepatu itu dengan bentuk infinite, seraya melangkah menerobos siswa-siswi itu.
"Hah ... Aku akan memberi tahu bagaimana cara menerapkan gaya sentripetal atau sentrifugal dalam kehidupan sehari-hari! Wattau!" Pekik Takeru lalu memantapkan langkahnya untuk menghadapi orang-orang di hadapannya.
"Jangan mendekat! Aku sudah bilang untuk jangan mendekat! Bukan salahku. Aku sudah memperingatkanmu!" Takeru memekik setiap kali lemparan sepatu dengan gaya sentripetal itu mengenai sesuatu. Pukulan dari gagang sapu dan pel dapat ia tangkis dengan mudah bahkan ia berhasil mengenai bagian wajah dari siswa siswi ini.
"Wah itu pasti sakit," pekik Takeru melihat bagaimana sepatunya dengan mulus menampar setiap wajah siswa malang itu. Tidak butuh waktu lama, Takeru kini sudah berhasil menyusul gadis dengan tongkat Hockey tadi di lantai satu. Namun baru saja sampai di lantai satu, Takeru harus menahan napas, saat ia melihat gadis tadi tengah bertarung dengan lebih dari dua puluh orang yang terdiri dari siswa siswi dan guru. Saat Takeru menoleh ke lantai, ia menemukan banyak orang bergeletakan di lantai.
"Sepertinya bukan ide bagus di sini, apa sebaiknya aku bersembunyi saja?" Gumam Takeru pada dirinya sendiri. Namun belum sampai selesai ia mempertimbangkan, kini ia sudah dihampiri siswa siswi lain berjumlah lebih dari sepuluh orang. Bahkan beberapa orang yang semula bertarung dengan gadis berambut itu, kini menghampiri Takeru.
"Oi oi! Kenapa semuanya jadi menghampiriku?" Pekik Takeru sedikit panik.
Karena mendengar suara Takeru, gadis dengan tongkat Hockey itu menoleh, "Hei kau, aku hadapi zombie di sini kau hadapi di sana, ya? Kalau sudah selesai kau susul aku di portal sana! mereka tidak akan menganggu lagi jika kita sudah sampai di sana!" Ungkapnya entah bermaksud menolong karena ia memberi tahu bahwa lokasi portal itu aman, atau apakah ia bermaksud menjadikan Takeru umpan karena siswa-siswi yang disebut Zombie ini, lebih banyak menghampirinya dari pada gadis itu?! Takeru mendengus.
Ah s**l sekali hidupnya. Bahkan jika ini mimpi, bagaimana bisa di mimpi pun ia mengalami kesialan?
"T-tunggu! Hei gadis tongkat Hockey! Tunggu!" Pekik Takeru di sela pertarungan dan usahanya untuk melepaskan diri. Sesekali ia meringis saat ada yang menarik rambut dan bajunya. Takeru berusaha melawan sekuat tenaga, namun perbedaan jumlah membuatnya kewalahan, kini ia bahkan tidak bisa bergerak karena ada banyak tangan yang memegangi tangan, kaki, perut bahkan wajahnya.
"Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?" Takeru berusaha memberontak, namun ia merasakan perih di tangannya saat ia mendapati seorang siswi menusuk tangannya dengan pisau bedah yang ada di lab.
"Oh s**l, aku paling benci dengan pisau bedah! Lepaskan aku! Ahh!" Takeru berteriak histeris saat ia melihat pisau bedah lain dilayangkan Pak Muriyama, guru yang mengajar Biologi.
"Sensei, bagaimana bisa anda melakukan itu pada murid anda-ahh!" Takeru memejamkan netranya saat melihat pisau bedah itu hendak melayang ke arahnya. Namun pekikan teriak itu berganti menjadi keterkejutan saat ia melihat kepala Pak Murayama terhempas ke samping dengan cipratan darah karena sebuah tongkat tumpul, Takeru segera menoleh mencari tahu siapa yang menghempas kepala Pak Murayama, dan alangkah terkejutnya ia menemukan gadis berambut pendek tadi, tengah menendangi dan memukul siswa siswi lain dengan tongkat Hockey andalannya.
"A-apa yang kau lakukan?!" Histeris Takeru saat melihat bahwa beberapa orang yang terkena hantaman tongkat Hockey itu berdarah. Namun bukannya menjawab, gadis itu malah semakin membabi buta, anehnya meskipun terlihat asal. gadis itu tepat sasaran menyerang kanan kirinya, membuat Takeru terperangah juga merinding. Karena posisi Takeru yang berada di tangga sekolah, gadis itu bisa menjatuhkan beberapa orang sekaligus dari sana. Meskipun tidak menyerang sampai habis, tapi gadis itu berhasil membuat Takeru lepas dari jerat orang-orang yang disebut Zombie tadi.
Meskipun tubuhnya sakit, Takeru memaksakan diri untuk menyeimbangi kecepatan berlari gadis di hadapannya itu. Sementara gadis itu fokus untuk membuka jalan dari barisan manusia zombie tanpa ekspresi. Saat akhirnya mereka sampai di portal, gadis itu akhirnya mau menoleh ke arah Takeru.
"Ah aku lupa memberi tahumu, Setelah ini kau mungkin tidak akan bisa kembali ke dunia mu. Tapi sedari awal kau berada di sini dengan kesadaran, di dunia mu, mungkin kau sudah di anggap mati. Jadi kita akan pergi ke Reverie. Sekarang bersiaplah meloncat." Titah gadis itu memfokuskan tatapannya pada portal.
Takeru terbelalak, "Ha? Mati? R-Reverie? T-tunggu, aku sungguh kebingungan dan tidak mengerti. Apa maksudmu aku mati di dunia-" Takeru masih begitu keheranan ditambah tubuhnya sakit sekali.
"Pilih saja! mau di sini menjadi arwah penasaran, atau mau ikut denganku tapi kau akan mati." ujar Gadis itu yang sudah menyiapkan ancang-ancang untuk berlari. sementara Takeru yang juga masih sesekali harus mengelak dari lemparan benda-benda dari para zombie. Ia tidak mempunyai kesempatan untu berpikir atau bahkan mencerna ucapan si Chunibyo itu!
"Terlalu lama! Sekarang, pegang tangan ku erat lalu loncat bersama!" ujar gadis itu.
"T-tunggu, ah!"
Takeru akhirnya mau tak mau meloncat ke arah portal dengan cahaya putih seperti sebuah lampu senter besar yang di arahkan padanya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, cahaya putih yang menyilaukan merenggut fokusnya, membuatnya tidak bisa melihat apa pun, selain cahaya warna putih yang memenuhi seluruh korneanya.