Chapter 5

1739 Words
"Terlalu lama! Sekarang, pegang tanganku erat lalu loncat bersama!" titah gadis itu "T-tunggu, ah!" Takeru jelas tidak siap. Ia belum mengerti dengan keadaan yang terjadi, bahkan ia masih berpikir ini mimpi, tapi akhirnya mau tak mau meloncat ke arah portal yang diajak gadis itu dengan cahaya putih seperti sebuah lampu senter besar yang di arahkan padanya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, cahaya putih yang menyilaukan merenggut fokusnya, membuatnya tidak bisa melihat apa pun, selain cahaya warna putih yang memenuhi seluruh korneanya. Apakah kalian pernah merasakan mimpi melayang lalu kalian tahu bahwa di mimpi itu setelah melayang kalian akan jatuh dan kiemudian kalian akan terbangun dengan perasaan terkejut yang luar biasa. Salah satu mimpi yang bagi Takeru adalah mimpi yang sangat menyebalkan karena saat terjatuh tubuhnya akan merasakan perasaan terkejut yang akan membuatnya tidak bisa tidur lagi. Takeru merasakan tubuhnya melayang di udara untuk sepersekian menit, ia tidak merasakan ada benda di kanan kirinya, tubuhnya terasa begitu ringan, seperti ia sedang berada di waktu berhenti dalam sepersekian detik, sebelum detik selanjutnya ia tiba-tiba merasa bahwa tubuhnya seperti terjatuh cepat ke arah bawah. Takeru terbelalak dalam netra yang terpejam ia berusaha membuka matanya, namun tekanan dari udara yang melawan gravitasi dari jatuhnya Takeru membuat Takeru kesulitan untuk membuka mata, jika ia membuka mata pun ia akan merasakan perih yang luar biasa, dan ia tidak akan bisa melihat. “Pemanggilan Reverie, sayap malaikat Eden!” Meskipun netra Takeru sepenuhnya tertutup, namun Takeru dapat mendengar samar-samar suara lain yang cukup dikenalnya. Itu suara si siswi chunibyo! Meskipun netranya begitu sulit dan sakit dibuka, Takeru terus memaksaan diri untuk membuka netranya. Dalam kesulitan ia bisa melihat sosok gadis chunibyo tengah berdiri dengan posisi tegap sementara dua tangannya saling bertaut seolah ia sedang dalam posisi berdoa. Sebelum detik selanjutnya ia melihat cahaya menyilaukan yang sama seperti cahaya saat pertama kali ia tersedot pada portal Reverie. Cahaya yang menyilaukan membuat ia tak kuasa membuka netranya. Takeru membawa tangan untuk menutup netranya dengan lengan, sampai saat kebetulan ia hendak membuka netranya, ia yang semula terjatuh dengan tubuh yang melesat jauh di langit (?) ini hanya tebakan dari Takeru tapi itu hal yang paling masuk akal. Namun seketika tubuh Takeru berhenti melesat di atas langit, Takeru mencoba membuka netranya sedikit, ia menggererakkan kakinya seolah ia berusaha mencari pijakan untuk menapak. Namun saat ia membuka netra sepenuhnya, ia menemukan bahwa tubuhnya kini melayang. Namun hal yang paling benar-benar membuatnya terkejut bukanlah karena ia kini melayang di udara tanpa ada sesuatu yang menahan tubuhnya, yang membuatnya terkejut sekarang adalah karena saat ia membuka mata dan menundukkan kepalanya ke bawah, ia tidak bisa melihat apa pun, kini yang ia lihat hanya dunia yang berwarna putih. Takeru segera mengerjap-ngerjapkan netranya, memastikan bahwa netranya tidak bermasalah, namun tak ada yang berubah selain kini matanya teras aperih dan sedikit berair karena kucekan netranya yang cukup kuat itu. Takeru terdiam dengan rasa bingung yang menjalar di otaknya, ia mencoba mengedarkan tatapannya ke kanan dan kiri, namun ia tetap tidak melihat atau menemukan apa pun, yang ia lihat hanyalah dunia yang berwarna outih seperti kertas. Seolah ia melihat dunia yang hanya dilingkupi salju, Takeu mengangukkan kepala dalam hati menyadari bahwa itu terdengar yang paling masuk akal. Ia pasti sekarang sedang jatuh di atas lembah salju. Nmaun kemudian Takeru kembali menggelengkan kepala. ah tidak, jika jatuh di atas lembah salju kita masih bisa melihat tekstur dan merasakan dingin dari salju. Tapi ini tidak, tisak ada atmosfer atau hawa apa pun. Benar-benar hanya dunia yang berwarna putih. seolah masuk pada dunia kertas. “Tidak usah panik, matamu tidak bermasalah. Memang begini yang kita lihat saat pertama kali terdampar ke dunia seperti ini.” ungkap suatu suara yang jelas sangat Takeru kenali. Itu adalah suara si gadis chunibyo. Takeru sontak menoleh ke arah belakang dan ia menemukan gadis chunibyo itu berdiri tepat di belakangnya seraya menahan baju Takeru. Gadis itu menatap Takeru dengan tatapan tak terbaca, ia terlihat resah namun juga bingung pada saat bersamaan, “Hah….” Gadis itu menarik napas berat lalu menghebuskannya dengan raut malas. “Selamat datang di Reverie. Aku akan mengantarmu ke Oculus untuk meminta berkah Reverie sehingga kau bisa melihat dengan jelas jadi kau bisa bertahan hidup di sini.” Ungkap gadis itu membuat Takeru merasakan alisnya berkedut-kedut tak karuan. “Oke, jika ini mimpi bukankah sudah saatnya aku bangun?” ungkap Takeru berbicara entah pada siapa. Namun gadis yang sudah Takeru beri gelar sebagai gadis chunibyo itu hanya bisa berdecak pelan. “Hah … mau sampai kapan berpikir bahwa ini mimpi?” tanya gadis itu dengan nada jengah. Tanpa berbicara terlebih dahulu, gadis itu melepaskan satu pegangannya pada pakaian Takeru membuat Takeru oleng dan terombang-ambing di udara karena hanya ada satu tangan yang menahan tubuhnya. “Apa yang akan kau lakukan?!” pekik Takeru di tengah gerakan yang terbatas dan sakit karena kerah baju yang ditarik gadis menyebalkan di belakangnya membuatnya tercekik, belu lagi rasa ngilu karena luka tusukan dari Bu Miyokichi—Bu Miyokichi palsu. Sempurna sudah kesialan yang ia alami. Di buli, mendapatkan mimpi buruk orang-orang di sekolahnya termasuk Bu Miyo menjadi orang zombie tanpa ekspresi, bertemu gadis chunibyo—Takeru baru tersadar sesuatu, kenapa sedari tadi gadis itu terus menolongnya? Apakah justru sebenarnya dia adalah juru kunci dari mimpi ini? Takeru menoleh menatap gadis yang juga melayang di angkasa sepertinya, bedanya ia bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik, bahkan bisa dibilang ia seperti sedang terbang dengan posisi yang sangat indah—seperti peri dalam dongeng. Takeru terbelalak, jika gadis ini bisa melayang, bukankah harusnya di dalam mimpi ini Takeru bisa melakukan hal yang sama, bukan? “Mungkin membuatmu terbentur akhirnya akan membuatmu percaya bahwa kau tidak sedang bermimpi. Jika ini mimpi, kau harusnya terbangun saat merasa akan terjatuh, bukan?” tanya gadis itu dengan nada tenang, tak merasa bersalah sedikit pun. Sementara Takeru yang bahkan kesulitan untuk membuka mata dan bibir karena cepat laju hanya bisa memukul-mukul wajahnya untuk membuat dirinya terbangun. Namun sekuat apa pun ia menampari dirinya hingga terasa panas dan perih ia tetap tidka tersadar dari mimpi. Takeru mulai panik sekarang, jadi sedari tadi, ini bukan mimpi? Tentang anak-anak sekolah dan Bu Miyo yang menyerangnya? “Wuaaaaaa!” Takeru mengambang di udara, kembali terjatuh di atas dunia berwarna putih itu ia terjatuh dengan kecepatan yang luar biasa seperti roket yang melesat, jatuh dari angkasa yang luas. “T-toolooongg!” Takeru berbicara dengan susah payah di sela laju jatuhnya yang begitu cepat. Untungnya meskipun ia berbicara dengan artikulasi yang tidka jelas, sepertinya gadis itu bisa mendengarnya karena gadis itu melesat di udara dengan cepat ke arah Takeru, terbang menukik dengan kecepatan yang luar biasa, seperti burung falcon paregrin, burung yang harus Takeru teliti untuk tugas biologi di bab Aves. Burung dengan kemampuan terbang paling cepat bahkan dalam keadaan menukik sekali pun. Takeru merasakan tubuhnya terpelanting ke arah belakang dengan cukup keras. Takeru memekik sakit di area pinggang karena ia yang semula terjatuh dengan kecepatan yang luar biasa, tiba-tiba terhenti dengan begitu mendadak. Ia hanya bisa berdoa semoga saja tulang pingangnya baik-baik saja setelah terjadinya gerakan ekstrim itu. Takeru tidak bisa membuka matanya untuk sesaat, tubuhnya terasa sakit di banyak tempat dan itu membuatnya hanya bisa memejamkan mata seraya menahan ringisan sakit. Setelah gadis chunibyo tadi menahan tubuhnya, kini Takeru dapat merasakan bahwa tubuh mereka bergerak turun dengan kecepatan yang lebih tenang dan manusiawi. “Sudah percaya bahwa ini bukan mimpi?” tanya gadis itu seraya memegangi Takeru, kali ini mereka terbang dengan rendah, menukik lamban hingga pada akhirnya Takeru dapat melihat dengan jelas permukaan putih yang menyilaukan netranya tadi. Saat mereka berada di jarak yang dekat dengan permukaan itu, cahaya silau yang tadi teras abegitub menyiksa sudah hilang. Tidka ada cahaya menyilaukan. Tapi pemandangan yang Takeru lihat tetaplah tidak berubah. Hanya dinding putih namun juga benar-benar bukan dinding putih. Takeru sedikit kebingungan mendeskripsikannya. Semuanya putih, seperti ruang persegi yang berwarna putih namun dalam ukuran besar, Saat Takeru melangkahkan kakinya, Ia membawa tatapannya turun untuk memeriksa apakah pijakan putih ini mungkin menempel di alas kakinya. Dan seperti dugaannya ia melihat serbuk itu menempel di kakinya. “Apakah ini salju?” tanya Takeru saat ia melihat telapak kakinya yang ditempeli serbuk putih. Gadis itu terlihat memicingkan netranya bingung, “Serbuk putih?” ulang gadis itu seolah memastikan ia tidak salah mendnegar ucapan Takeru. “Ya, serbuk putih, seperti salju. Tapi ini tidak dingin dan tidak mencair. Aneh sekali.” Tambah Takeru yang membuat gadis itu semakin bingung. Gadis itu terlihat diam dan menatap ke arah bawah, memperthatikan apa yang sedang menjadi pijakan mereka. Takeru mendongakkan kepala lalu mengedarkan kepalanya melihat sekeliling. Tapi ia tidka menemukan atau melihat apa pun. Ia bahkan baru menyadari bahwa meskipun tempat ini, atau ruangan putih ini—Takeru masih tidak tahu apa dan di mana ia sekarang, tapi yang jelas tempat ini tidak memantulkan suara mereka. Jika mereka berada di dalam ruangan, seharusnya saat berbicara suara mereka akan menggema, tapi ini tidak sama sekali. Ruangan ini sangat hening dan sunyi sampai Takeru merasa merinding karena ia merasa bahwa tempat ini tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Takeru memicingkan netranya saat ia melihat ada sesuatu yang berkilauan di antara tumpukan salju—menurut Takeru. Takeru membawa langkahnya sedikit maju menuju asal di mana benda berkilauan itu terlihat. Karena bend aitu berada di antara serbuk putih bertekstur seperti pasir yang dipijaki mereka, Takeru harus berjongkok kembali. Matanya menyipit tajam memperhatikan benda apa sebenarnya yang berkilauan itu, sampai akhirnya ia membawa tangannya untuk menyentuh benda asing namun menarik perhatiannya itu. “Ah, apakah kau melihat suatu benda seperti pola?” Takeru nyaris meloncat dari tempatnya berjongkok saat menolehkan kepala dan ia mendapati gadis tadi tahu-tahu sudah berada di belakangnya tanpa sedikit pun ia dengar sebelumnya. “Itu adalah Oculus Path. Oculus pasti sudah menemukanmu, dan ia ingin menuntunmu untuk bertemu dengannya.” Jelas gadis itu  membuat alis Takeru bertaut bingung. Oculus? Apa itu? Apakah itu sejenis nama gurita? Terdengar sangat asing di telinganya. “O-Oculus?” Takeru mengulang sekaligus berusaha mengingat nama aneh itu. Gadis yang menyelamatkan Takeru tadi menganggukan kepala, “Seperti yang aku bilang, kita akan pergi ke Oculus untuk meminta berkah Reverie. Aku akan bertanggung jawab karena telah membawamu ke sini. Tapi ada satu hal yang akan kuberi tahu padamu, kau mungkin tidak akan bisa kembali ke bumi dan akan hidup di sini selamanya.” Takeru yang semula sedang memperhatikan sesuatu bernama Oculus Path itu terbelalak, sontak menoleh ke arah si gadis, “Tidak akan bisa kembali ke bumi dan hidup selamanya di sini?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD