“Seperti yang aku bilang, kita akan pergi ke Oculus untuk meminta berkah Reverie. Aku akan bertanggung jawab karena telah membawamu ke sini. Tapi ada satu hal yang akan kuberi tahu padamu, kau mungkin tidak akan bisa kembali ke bumi dan akan hidup di sini selamanya.”
Takeru yang semula sedang memperhatikan sesuatu bernama Oculus Path itu terbelalak, sontak menoleh ke arah si gadis, “Tidak akan bisa kembali ke bumi dan hidup selamanya di sini?!”
“Apakah kau tuli atau otakmu itu bergerak lambat? Sedari tadi kau terus mengulangi ucapanku.” Gerutu gadis itu dengan tatapan kesal juga bercampur miris membuat Takeru jadi merasa kesal. Takeru terperangan hingga mulutnya terbuka, dagunya terjatuh ke bawah seolah akan lepas dari wajahnya terlihat menggelikan bagi siswi yang berada di hadapannya itu.
Gadis itu menatap sinis Takeru, “Jangan mengataiku gadis chunibyo atau mengatakan bahwa ini mimpi. Kau pikir kau tidak lelah terus menjelaskan padamu bahwa ini bukan mimpi? Aku bahkan sudah dua kali membuktikannya padamu. Kalau sampai kau masih tidak percaya bahwa ini bukan mimpi—” gadis itu melipat tangan di perut masih menatap Takeru dengan tatapan yang sinis, “Mati saja.” Ungkapnya seraya begitu saja mengacungkan tongkat hockey andalannya ke arah Takeru dalam gerakan yang begitu cepat hingga Takeru tak bisa berkata-kata selain bertanya di dalam hati, kapan gadis itu mengambil tongkat hockey itu?!
“Sekarang, jalan saja ikuti Oculus Path itu, agar urusan kita bisa selesai.” Titah gadis itu dengan nada bicara yang ketus. Takeru menatap gadis itu dengan tatapan memelas, meskipun ia memang sudah beberapa kali diberi tahu gadis di hadapannya itu bahwa ini bukan mimpi, tapi tetap saja ini terasa tidak nyata, siapa yang akan percaya dengan semua yang terjadi padanya ini bukan mimpi? Jika ini kenyataan pun, otak Takeru tak bisa menerima dan mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi, di mana ia sekarang, siapa gadis yang berdiri di hadapannya sekarang? Apakah justru ia sendiri yang sekarang sedang mengalami fase chunibyo akut dan sekarang ia sedang berhalusinasi sangat parah?
Helaan napas terdengar dari gadis yang sednag mengacungkan tongkat hockeynya pada Takeru, “Aku beri tahu secara singkat agar kau mengerti keadaan yang sedang terjadi. Jadi, di dunia mu sedang terjadi perpindahan dimensi. Dan kau—” gadis itu menusukkan tongkat hockey-nya pada Takeru lebih dekat, “Sedang s**l karena saat perpindahan dimensi itu terjadi kau tidak kehilangan kesadaran, akhirnya dalam perpindahan dimensi kau malah ikut berpindah.” Jelas gadis itu memberi tahu keadaan yang terjadi pada Takeru,
“Perpindahan dimensi?” ulang Takeru lagi masih tidak percaya dan tidak mengerti.
Gadis itu menganggukkan kepala, “Setiap beberapa waktu sekali, portal Reverie dan mungkin portal dunia lain akan terbuka, pernah mendengar dunia paralel?”
Takeru terlihat memutar bola matanya berpikir, ia jadi teringat beberapa novel dan buku science fiction yang pernah ia baca di perpustakaan atau buku yang sengaja ia beli dengan uang kerja paruh waktunya.
“Nah sekarang kau sedang berada di salah satu dunia paralel itu. Dunia ini disebut Reverie.” Tambah gadis itu membuat Takeru terperangah. “Reverie?” ulang Takeru yang lama-lama membuat gadis di hadapannya itu benar-benar jengkel karena Takeru selalu mengulang ucapannya.
“Bisakah kau memberi respon lain penjelasanku selain dengan mengulang kata-kataku?” gerutu gadis itu, namun Takeru tidak terlalu menghiraukannya, ia memilih membawa netranya untuk kembali mengedarkan tatapan, melihat dunia ini dari sisi yang lebih jelas dan pikiran yang sudah lebih fokus.
“Saat portal terbuka, kadang ia bisa membawa suatu asing dari dunia lain, dan di situasi sekarang, kau adalah benda asing yang dibawanya.” Jelas gadis itu kali ini sudah menurunkan tongkat hockeynya, memasukkna kembali tongkat hockey itu ke dalam sarung tongkat yang berada di punggungnya.
Takeru tertunduk memandangi kedua tangannya, “Jadi, aku berpindah dimensi? Berpindha dunia?” tanya Takeru menyimpulkan penjelasan gadis dengan tongkat hockey itu. Gadis itu menatap Takeru lalu mengangguk.
“Aku hampir frustasi memikirkan bagaimana selanjutnya aku menjelaskan situasi ini karena kau terlihat seperti pemikir yang lambat.” Ia menghela napas sejenak, “Baguslah jika sekarang kau mengerti. Aku jadi tidak perlu capek-capek menjelaskan.” Ungkapnya lalu melangkah mendahului Takeru, meninggalkan Takeru yang masih tercenung memandangi pasir putih di bawah kakinya. Takeru tidak tahu apa yang membuatnya begitu tertarik memandangi benda itu, tapi yang jelas Takeru merasakan bahwa tekstur benda yang mirip pasir itu memiliki warna putih yang aneh namun juga menarik. Benda ini berwarna putih tanpa pantulan cahaya matahari, mereka tidak berbayang dan justru mereka seolah menyerap cahaya yang berada di sekitarnya. Seumur hidup Takeru baru melihat warna putih yang terlihat catik karena terlihat tidak nyata, namun pada saat bersamaan ia merasakan ada perasaan tidak nyaman melihat warna putih itu. Rasanya Takeru merasakan kepalanya sakit jika ia terlalu lama melihat benda dengan warna putih itu.
Takeru merasakan pandangannya dipenuhi cahaya putih seperti saat ia pertama kali melihat portal, bedanya kali ini ia merasakan kepalanya terutama di bagian belakang, terasa berdenyut-denyut. Takeru tidak tahu bagian-bagian dari isi kepala atau otak, namun ia merasakan denyutan itu berpusat di pembuluh darah dalam otaknya. Takeru meringis kesakitan, ah ini mengingatkannya pada kejadian di mana dulu ia pernah hampir akan pingsan karena sakit kepala yang luar biasa. Takeru merasa seolah ia de ja vu, ini adalah rasa sakit dan rasa berdenyut-denyut yang sama seperti yang pernah ia rasakan di sekolah menengah pertama.
“Hei benda asing? Kau baik-baik saja?”
Takeru merasakan ada sesuatu yang menyentuh punggungnya. Takeru menolehkan kepalanya, dan ia melihat siluet gadis berambut pendek yang Takeru tahu dengan jelas bahwa itu gadis yang tadi.
“Ya aku baik-baik saja, aku hanya memiliki sedikit masalah dengan anemia. Beberapa kali aku suka merasa pusing kalau melihat sesuatu yang terlalu berkilau atau menyengat.” Ungkap Takeru di sela usaha untuk membuat kepalanya menjadi lebih baik dengan memijat bagian kepalanya yang sakit.
“Anemia? Padahal aku mengira kau merasa kesakaitan karena perbedaan atmosfir dan suasana. Bagaimana pun kau benda asing di sini. Kau memerlukan waktu untuk beradaptasi. Aku belum pernah mendengar lelaki anemia, ditambah badanmu cukup tinggi, dan atletis rasanya agak aneh jika kau memiliki anemia,” ujar gadis itu lalu kembalimenodongkan tongkat Hockey-nya kali ini tepat di depan wajah Takeru membuat Takeru terkesiap, bingung dengan kesalahan apa yang dilakukannya hingga membuat gadis itu lagi-lagi mengacungkan tongkatnya pada Takeru. Apakah ia tidak suka melihat Takeru terlihat lemah karena anemianya?
Takeru semakin meringis ketakutan melihat masih ada noda merah seperti darah yang menempel di ujung tongkat hockey gadis di hadapannya, membuatnya teringat gerakan lincah dan kuat gadis berambut pendek dengan tatapan tajam itu saat menyabit kepala beberapa siswa dan guru yang mengerumuni Takeru tadi.
“Kenapa memandangku seperti itu?” tanya gadis itu menajamkan tatapannya pada Takeru, Takeru tercekat seraya sedikit memundurkan tubuhnya,
“Maaf jika aku merepotkanmu, tapi tolong jangan pecahkan kepalaku seperti yang kau lakukan di lorong sekolah, jika ingin membunuhku bisakah aku memilih kematianku sendiri?” ungkap Takeru memilih mengucapkan kata maaf meskipun sebenarnya ia masih belum tahu dengan jelas kesalahan apa yang telah dilakukannya, atau memang sebenarnya tanpa melakukan kesalahan pun, ia memang sudah ditakdirkan untuk mati di sini dengan kepala yang pecah karena tongkat Hockey?
Alis gadis itu terlihat berkedut dnegan ekspresi yang tak bisa Takeru jelaskan, ada ekspresi kesal, sinis dan miris yang ditujukan di sana, “Apakah kau berpikir aku akan membunuhmu?” gadis itu berdecak pelan, “Jika aku ingin membunuh mu, pasti sudah aku lakukan dari tadi. Dan tanpa perlu mengotori tongkat hockey ku yang berharga.” Ucapnya dengan tatapan menatap Takeru rendah.
Takeru menelan ludah, “Misalnya aku membiarkan zombie, zombie tadi menyerangmu, mencacahmu mu lalu memakan otak kenyalmu itu, dan aku akan menontonmu sebelum aku pergi, pasti menyenangkan.” Ungkap gadis itu dengan tatapan dan senyum tipis yang anehnya membuat Takerumerasa merinding juga ngeri dalam waktu bersamaan.
“Siswi psikopat,” gumam Takeru menatap gadis itu ngeri. Namun gadis itu tidak bereaksi apa-apa. Ia hanya melirik Takeru sekilas dengan tatapan yang mengatakan bahwa ia mendengar apa yang dikatakan Takeru tapi ia tidak peduli.
“Jadi aku tidak perlu ada di sini lagi,” kali ini gadis itu mengalihkan tatapannya dari Takeru dengan tatapan menerawang ke arah langit. Membuat Takeru terhipnotis dengan pemandangan itu. Namun bukan tatapan hipnotis karena kecantikan seperto film romantis, lebih tepatnya Takeru merasa bahwa seolah ia ikut merasakan tatapan itu, meskipun Takeru tak tahu apa yang sedang dirasakan gadis itu.
lalu menatap tongkat hockey-nya. “Yah, tapi masih lebih baik dari pada terdampar di dimensi lain yang tidak dikenali. Katanya sebaik-baiknya medan perang itu, adalah medan yang paling kenali, bukan.” Gadis itu tidak sedang berbicara pada Takeru, Takeru jelas tahu dari gestur berbicaranya yang berbicara tanpa menatap Takeru.
“Yang jelas, aku bukan mau membunuhmu. Belum minat.” Ujarnya lalu melirik tongkatnya yang masih tersisa noda merah seperti darah.
“Ah kau takut dengan darah ini, ya?” tanyanya membawa tangannya untuk merogoh tas kecil yang berada di pinggangnya, namun sepertinya ia tidak bisa menemukan apa yang ia cari, terlihat dari alisnya yang mengerut. “Ah aku tidak memiliki tisu atau sapu tangan untuk mengelap ini. padahal tadinya maksudku, aku menawarkan untuk meminjamkan tongkatku pada mu jika kau merasa pusing dan membutuhkan alat bantu untuk berjalan.” Gadis itu terdiam seraya menatap ke arah baju Takeru, Takeru ikut membawa tatapannya ke arah bajunya, lalu seketika menggelengkan kepala seraya menutup bajunya, seolah ia dapat melihat dnegan jelas niat gadis itu tanpa perlu gadis itu berbicara.
“Tidak, tidak, tidak! Kau tidak boleh mengelap tongkat hockey-mu dengan bajuku. Aku tidak mau.” Tolak Takeru.
Gadis itu berdecih, “Bajumu sudah kotor jadi kenapa tidak sekalian saja? ah, jangan bilang kau takut darah?” tuding gadis itu membuat Takeru merasa alisnya berkedut begitupun hati dan otaknya yang ikut berdenyut-denyut karena mulai merasa kesal dengan tingkah gadis itu yang entah hanya perasaan Takeru, namun gadis ini sedari awal pertemuan mereka, terus menatap Takeru dengan tatapan merendahkan atau miris, membuat Takeru merasa jengkel.
“Ya aku memang takut dnegan darah itu, tapi bukan karena aku takut karena mereka berwarna merah dan membuat kepalaku pusing, tapi karena, bagaimana jika kau ingin mengalihkan barang bukti dan membuatku menjadi pembunuh? Kau sudah memecahkan kepala Pak Murayama, lalu aiba, lalu teman-teman—mantan teman-temanku. Di tongkatmu ada banyak darah mereka yang akan meninggalkan bukti pembunuhan. Lalu kau ingin aku mengelapnya dengan bajuku? Itu sama saja artinya aku memasukkan diriku sendiri ke penjara! Dan kau pikir aku sebodoh itu untuk langsung menuruti dan mengikuti rencanamu?”
Gadis itu lagi-lagi menatap Takeru dnegan tatapan miris, “Itu justru membuatku merasa miris, tapi ya sudahlah, terserah dirimu. Jadi, berarti kau tidak membutuhkan tongkat untuk berjalan ya? dan melihat otakmu bisa berpikir sampai sejauh itu, sepertinya kau sudah baik-baik saja. Jadi sekarang ayo kita menemui Oculus,” ungkap gadis itu mendongakkan wajahnya kembali menatap langit. Takeru mengikuti arah pandang gadis itu, namun lagi-lagi ia tidak bisa melihat apa pun, selain pemandangan berwarna putih yang akan membuat kepalanya terasa sakit jika ia melihatnya lama-lama.
“Semoga saja kita masih sempat, biasanya sore hari kerajaan menolak ada tamu apalagi benda asing sepertimu.”
Takeru merasakan perasaan jengkel semakin mencocoki hatinya, “Namaku Takeru Kugisaki—”
“Aku tidak bertanya, ah Oculus Path masih terlihat, bukan? Kita harus mengikuti Oculus Path untuk mengetahui dnegan jelas di mana Oculus.” Gadis itu lagi-lagi tidak menghiraukan Takeru dan menunggu Takeru memimpin perjalanan mereka. “Kenapa kau masih diam di sana? Kita harus bergegas,”
“Jangan panggil aku dengan benda asing. Sudah aku bilang namaku Takeru Kugisaki.” Ujar Takeru seraya berjalan menyusul siswi dengan tongkat hockey itu.
“Apakah itu penting? Dengar, sekarang tujuan utama kita adalah membawamu pada Oculus untuk meminta berkah Reverie. Dan misiku selesai. Jadi cepat lihat dan ikuti Oculus Pathnya!” jelas gadis itu dengan nada sedikit terburu-buru.
“Oculus, berkah Reverie? Apa itu? Aku smepat berpikir bahwa Oculus ada spesies binatang seperti gurita—akh!” ucapan Takeru digantikan pekikan kesakitan saat ia merasakan wajahnya dipukul benda tumpul yang keras.
“Ternyata kau benar-benar bodoh.” Gadis itu menatap Takeru miris, Takeru mendesis dengan tangan yang sudah mengepal, ia sudah berusaha bersabar menghadapi gadis ini, tapi gadis ini semakin melunjak dan membuatnya kesal.
“Untuk bertahan hidup di sini, kau membutuhkan kekuatan Reverie, dan kau hanya bisa mendapatkan kekuatan itu dari Oculus, sang maha kuasa yang memimpin di dunia ini. Jika kau tidak memiliki kekuatan Reverie, maka kau tidak akan bisa bertahan hidup di sini, atau jelasnya kau akan mati. Karena di sini Reverie lah yang menentukan status kehidupan juga nyawamu.”