Nulis itu nggak segampang cari upil, dibulet-bulet abis itu dibuang, ya.
Jadi, kalau kamu manusia jangan lupa komen. Atau ... Minimal tekan love ^^
Selamat membaca!
Berdiri menjadi seseorang yang begitu kaku bukanlah pilihannya. Jika saja ia dihadapkan dengan pilihan lain, ia juga ingin hidup sebagai diri sendiri. Melupakan kesedihan meski harus menjalani kehidupan masa kini tanpa sosok ibu, ayah, bahkan keluarga.
Ata akan baik-baik saja jika di masa silam ia tidak pernah melihat ayahnya memukuli ibu setiap hari. Ata tidak akan sekaku itu jika tidak mendengar semua perdebatan kedua orang tuanya. Ata tidak akan menghindar dari siapa pun, jika saja ayah menyayanginya seperti Aya. Akan tetapi, semuanya hanya perandaian. Sementara kenyataannya adalah Ata telah menjadi seseorang yang berbeda. Gadis itu sudah terlampau lama menelusuri lorong gelap tanpa cahaya.
Meski sejujurnya ia pun ingin membagi segala perasaan yang meracau pada rasa sakit, tetapi segalanya terlalu sulit untuk diucapkan secara lisan. Meski diam bahkan seringkali tersenyum, bukan berarti Ata baik-baik saja dengan segalanya. Bisa dikatakan bahwa Ata hanyalah manusia munafik yang menyembunyikan segalanya dari semua orang. Sebab tak banyak orang yang tahu bagaimana kisah yang pernah terjadi di masa lalu selain Ata, ayah juga mendiang ibunya. Itu pun hanya sebagian kisah sendu yang kerap mereka lewatkan bersama. Selain itu Ata hanya mengenal kegelapan tepat setelah ibunya menunjukkan bagaimana caranya mengakhiri hidup tepat di depan mata gadis berusia tujuh tahun tersebut.
Klunting ...
Denting pendek pertanda sebuah pesan singkat yang singgah di ponsel Ata telah berbunyi untuk yang kesekian kalinya. Begitupun dengan panggilan suara yang sama sekali tidak digubris oleh Ata. Gadis berambut pendek itu terdiam kaku bagai patung tak bernyawa duduk di jendela kamar menatap langit mendung tanpa bintang.
Mata beningnya berkedip sesekali kala angin berhembus pelan. Membawa serta angan yang berantakan melayang seperti daun kering yang terbang ditiup angin. Ata menghela napas berat. Percakapan singkat dengan Senja dari masa silam nyatanya sangat melelahkan. Seseorang yang dulunya sangat ingin ia temui untuk berbagi, tetapi tidak lagi untuk saat ini. Sebab bukan hanya sekedar jarak yang terbentang di antara mereka berdua. Ata dan Batu sudah sama-sama tersesat dalam dua kurun masa yang berbeda. Bukan hanya karena keadaan yang telah berbeda melainkan keduanya juga telah menjadi orang yang tak sama. Sebab kadang jarak bukan sekedar menciptakan rindu, tetapi juga membunuh harapan.
Suara gedubrak membuat Ata menoleh ke arah pintu kamar yang di dorong secara paksa. Ditatap seorang cowok yang berdiri di ambang pintu dengan napas terendah. Cukup lama saling bersipandang, Ata memutuskan untuk membuang muka lebih dulu. Raut khawatir di wajah Senja tergurat jelas. Cowok itu masih mengatur napas, kemudian berjalan mendekati Ata yang tak bergeming dari posisinya.
"Bisa nggak angkat kalau aku telepon? Atau seenggaknya bales SMS-ku," protes Senja meraup wajah cemasnya dengan kesal.
Ata tak merespon. Ia hanya melirik cowok itu sekilas lalu kembali membuang pandangan ke langit malam. Tempat yang sangat amat luas, juga gelap. Sama seperti dirinya yang saat ini diliputi kegelapan murni. Hal yang membuat Senja ingin sekali mengumpati Ata adalah, gadis itu tak pernah sadar bahwa ia sangat mengkhawatirkan keadaannya.
"Pergi. Aku lagi pengen sendiri." Suara itu terdengar pelan, tetapi sangat menusuk di telinga Senja. Sayangnya, Senja sudah terlalu kebal dengan ucapan jahat dari cewek galak tersebut. Bukannya pergi, kini Senja justru berjalan mendekati Ata.
"Jauh-jauh aku ke sini cuma buat mastiin kalau kamu baik-baik aja. Terus kamu ngusir aku seenaknya gitu? Nggak berperasaan banget sih jadi cewek!" komentarnya panjang, "ayo makan, aku yakin kamu pasti belum makan dari tadi."
Di saat Senja berniat meraih tangan Ata untuk digenggam. Meski tak banyak tau, tetapi Senja mengerti bahwa Ata sedang dalam keadaan terluka. Untuk saat ini ia tak ingin bertanya kenapa pada cewek itu, tetapi setidaknya Ata harus makan. Karena bagi Senja kesehatan Ata lebih dari segalanya. Lagi pula ia tau betul karakter keras milik Ata. Cewek itu tak akan mudah mengatakan apa yang sedang ia rasakan.
Namun, baru saja tangannya menggenggam pergelangan tangan Ata, gadis itu sudah menyentak dengan keras. Ia melompat dari jendela lalu bersipandang dengan cowok yang lebih tinggi darinya itu.
"Aku bilang pergi ya, pergi!" bentak Ata mengusir.
Pandangannya tajam, seperti biasa dibalas dengan hangat oleh Senja.
"Kamu tuh, kenapa sih? Kalau ada masalah cerita jangan kayak gini. Aku siap dengerin apa pun dari kamu." Cowok itu masih berucap dengan nada bicara yang hangat. Ia kembali meraih pergelangan tangan Ata dan mengusap tangan dingin itu dengan ibu jari.
"Ngomong apa si berengsek itu sama kamu?" tanya Senja menatap Ata intens.
Gadis itu membalas tatapannya, tetapi masih belum juga bersuara. "Nggak mau kasih tau juga?"
"Bukan urusan kamu!" suara Ata membuat Senja mengangguk mengerti.
"Nggak masalah, kalau kamu masih nggak mau cerita. Seenggaknya makan dulu, aku nggak mau kamu sakit."
Mendengar ucapan dari Senja yang begitu hangat, nyatanya tidak berhasil meluluhkan hati Ata. Justru rasa perih itu semakin muncul dengan jelas ke atas permukaan. Merobek segala kanvas pertahanan Ata untuk tetap diam dan menjadi baik-baik saja. Kehangatan yang diberikan cowok bernama Senja itu adalah luka sekaligus bahagia yang tak pernah ia terima sejak sepuluh tahun silam. Ata terdiam di tempat, mematung membuat Senja kembali menoleh saat Ata tak juga mengikuti langkahnya untuk keluar dari kamar. Cowok itu menatap Ata penuh tanya.
"Nggak usah sok care, Dit. Aku udah biasa nggak dipeduliin sejak kecil. Percuma juga kalau aku cerita tapi nggak ada yang bisa ngerti. Buang-buang tenaga," balas Ata datar.
Tak ada jawaban dari Senja, meski ia cukup kecewa dengan ucapan Ata barusan. Akan tetapi, Senja masih diam tak berkata-kata. Gadis di depannya ini sangat rumit, ia bahkan tak tau apa yang begitu sakit dan membuat Ata menjadi pribadi yang begitu tertutup.
"Pergi. Aku nggak butuh kepedulian palsu kamu!"
Seulas senyum tercetak jelas di bibir Senja. Cowok itu menatap Ata tidak percaya. Senja tahu betul bahwa Ata bukan tipikal cewek kalem. Akan tetapi, senja tidak benar-benar tahu bahwa nyatanya Ata benar-benar keras kepala dan sangat egois.
"Sok care kamu bilang? Kepedulian palsu, Ta?" ulang Senja tak percaya, "bisa, ya kamu ngomong kayak gitu, Ta?" tanya Senja skeptis.
"Selama ini aku bener-bener peduli sama kamu. Dan kamu bilang aku sok peduli?" ucapnya masih terperangah dengan sosok di depannya itu.
Bagaimana bisa cewek itu berpikir bahwa semua yang ia berikan adalah sebuah kepalsuan? Sedangkan selama ini Senja selalu mendahulukan Ata ketimbang diri sendiri. Luka milik Senja? Semua itu tak berarti, sebab bagi Senja, Ata adalah segalanya yang terpenting. Cewek itu masih bergeming tanpa menatap Senja yang kini menatapnya nyalang.
"Karena punya kenangan yang buruk enggak berarti semua orang yang ada di dunia ini jahat. Sebaliknya, dunia ini luas. Masih banyak orang yang punya hati nurani dan bener-bener peduli. Nggak masalah kamu bilang aku sok, tapi tolong inget. Bunda yang dari dulu lebih sayang sama kamu dari pada anaknya sendiri ...
Aku nggak pernah ngilang waktu kamu jatuh sendirian. Justru kamu yang selalu pergi dan sembunyi buat lari. Jadi, kamu nggak berhak bilang aku nggak bisa ngertiin kamu," ujar Senja panjang.
Sedetik itu terasa lambat bagi Ata saat Senja melangkah untuk pergi. Ia masih memandangi punggung Senja berharap cowok itu kembali tanpa ia minta. Akan tetapi, kali ini Senja benar-benar pergi meninggalkan Matahari sendiri malam itu. Hatinya kelu, seperti diremas tanpa ampun. Ia tau ucapannya sangat keliru, tetapi bisakan Senja memaafkannya seperti yang dulu-dulu. Seperti biasa untuk selalu memaafkan segala ucapan jahatnya tanpa diminta.
Kedua lutut Ata ditarik oleh gravitasi. Matanya sudah berair. Di lantai yang dingin, Ata meringkuk seperti janin dengan tangis terisak. Sendirian yang membekukannya dalam kepedihan.
*M a t a h a r i*
Matahari bersinar sangat terik, di tengah lapangan upacara Ata berlari memutari lapangan untuk yang ke lima kalinya. Datang ke sekolah pukul delapan, membuat Bu Yuli menjatuhkan hukuman nggak tanggung-tanggung pada Ata. Lari memutari lapangan sebanyak sepuluh kali. Namun, bukannya kesal Ata malah dengan senang hati melakukan hukumannya tersebut. Cewek itu terus berlari tanpa memedulikan keadaan sekitar. Ini bahkan sudah lebih dari sepuluh putran.
Pemandangan itu tak luput dari pengamatan seorang guru. Di pinggir lapangan Pak Salim tersenyum melihat Ata yang bermandikan keringat. Telinganya disumpal headset, agar tak mendengar gunjingan dari anak-anak seangkatannya yang sedang melaksanakan pelajaran olahraga sambil sesekali berbisik menatap Ata. Sudah pasti mereka sedang membicarakan keburukan gadis yang lebih senang menyendiri itu.
Setelah menyelesaikan lima belas putaran. Ata duduk selonjoran tepat di sebelah Pak Salim berdiri. Guru BK yang selalu memberikan cokelat pada Ata saat kenaikan kelas. Cewek itu melepaskan earphone sambil mengatur napasnya yang belum stabil. Tak ada suara di antara keduanya selain gemersik daun trembesi yang saling bergesekan menciptakan udara sejuk untuk Ata. Diam-diam Pak Salim melirik Ata sekilas. Gadis itu masih tetap sama seperti pertama kali ia lihat. Dingin dan kesepian.
"Udah reda marahnya?" tanya Pak Salim tanpa menatap Ata. Justru cewek itu kini mendongak menatap guru yang begitu memedulikannya. Ata tak berniat menjawab sedikit pun.
"Kamu tau pekerjaan yang paling enak itu apa?" tanya Pak Salim untuk yang kedua kalinya. Pria paruh baya itu tersenyum tanpa menatap Ata.
Cewek itu masih bunga. , mengatur napas seraya memainkan earphone di tangan. Ia mendongak menatap Pak Salim penuh tanya.
"Hobi yang dibayar," jawabnya kemudian.
"Mau disuruh lari lima puluh putaran juga, kamu pasti akan datang terlambat lagi 'kan, besoknya?" terang beliau.
Ata berkedip beberapa kali. Menatap Pak Salim yang sering menebaknya tepat sasaran. Ia masih tidak bersuara. Hanya menopang tubuh dengan tangan yang berada di belakang punggung sambil menetralkan napas. Matanya terpejam sebentar untuk menikmati embusan angin yang menyegarkan.
"Ata, ingat satu hal. Kemarahan tidak akan pernah memberikan akhir yang bahagia. Dendam tidak akan pernah menyuguhkan kenyamanan untuk kita. Dan, menjadi kuat bukan berarti kamu harus melewati semuanya sendirian," tutur beliau kemudian.
Ata mengerti maksud Pak Salim, meski ia masih belum merespon. Akan tetapi, apa boleh jika ia menarik seseorang untuk menemaninya saat tersesat di hutan belantara nan gelap yang mengurungnya selama ini. Dan bahkan meminta orang itu untuk menuntunnya menemukan jalan pulang?
"Apa nggak masalah, kalau saya menarik orang lain untuk menemani saya yang tersesat?" akhirnya Ata bersuara.
Pak Salim tersenyum kemudian duduk berjongkok di sebelah Ata.
"Nggak masalah, selama orang yang kamu ajak itu bersedia. Selama kamu nggak akan ninggalin dia begitu kamu keluar dari belantara."
Ata menatap sosok pria hangat di depannya. Hatinya seperti disembuhkan dengan obat yang paling mujarap setiap berbicara dengan sosok Pak Salim. Atau mungkin hal ini terjadi karena Ata tak pernah memiliki sosok ayah dalam hidupnya? Gadis itu menoleh ke arah lain, menghindari pandangan dari Pak Guru.
"Di dunia ini, manusia nggak hidup sendirian. Kita akan butuh dan membutuhkan untuk saling menyembuhkan, Ata."
- b e r s a m b u n g!
Hayo, jangan lupa tap love :)
Btw, aku lama nggak up. Nggak ada yang nungguin juga kan ya? ?