23

1880 Words
Budayakan vote sebelum baca! Happy reading :* Ata membeku di tempat. Sedangkan tiga orang lain yang duduk di sekelilingnya terlihat kaku untuk sekedar memulai percakapan. Terlebih lelaki paruh baya yang sudah sangat lama tidak ia temui dalam jarak sedekat ini. Rasanya, bumi seperti kehabisan oksigen untuk Ata. Gadis itu menghela napas berat secara tak ketara beberapa kali. Mencoba membuang sesak yang tak kunjung pergi. Sudah hampir satu jam mereka duduk di sana dalam kebisuan. Kedatangan yang sangat tiba-tiba itu membuat Ata terpaksa menutup kafe lebih cepat daripada jam tutup pada biasanya. Kini di lantai bawah kafe Matahari itu, hanya diterangi lampu temaram, sengaja Ata lakukan untuk membuatnya tetap tenang. Sebab melihat wajah ayahnya saja sudah membuat Ata gemetar penuh kebencian. Tiga cangkir kopi dan satu cangkir cokelat yang disuguhkan Senja sebelum pergi sudah mendingan seperti suasana yang ada di sana. Membekukan hingga ke ulu hati terasa amat menggigil. "Kalau mau matiin aku langsung, aja, jangan kayak gini," kata Ata akhirnya bersuara. Sontak hal itu membyat Bayu, Aya juga ayah menatap Ata secara bersamaan. Gadis itu acuh menatap lurus ke depan, membiarkan Aya menatapnya penuh protes pun dengan Bayu yang terlihat kecewa. Sedetik itu, lelaki paruh baya yang seharusnya ia panggil ayah mengangkat tangan hendak meraih jemari Ata, tetapi gadis itu buru-buru menariknya ke bawah pangukan. Membiarkan kesepuluh jarinya saling meremas. Hati ayah mencelos melihat hal itu. Lidahnya mendadak kelu. Tangan yang sudah setengah keriput di atas meja itu pada akhirnya hanya menggenggam angin keputusasaan. Gadis yang menyelamatkan dompetnya dari copet saat ia membeli bunga ternyata adalah Ata. Putri yang selama ini jauh darinya, bahkan tak pernah ditemui. Rasa bersalah jelas menghantui ayah detik itu. Namun, saat ini semua rasa bersalah juga sesal seakan makin menghantui ayah. Saat tau bahwa salah satu putrinya yang sejak sepuluh tahun silam tidak pernah ia temui lagi. Ata telah tumbuh dengan baik tanpa dirinya. Menjadi sosok gadis cantik yang bahkan tak ia kenali rupanya. Akan teyapi, kenyataannya kini untuk sekedar memanggil nama pun, terasa amat menyakitkan untuk satu sama lain. "Kita pulang ya, Ta?" ucap lelaki itu pelan, "Ayah minta maaf, selama ini bukannya Ayah nggak cariin kamu. Bukan Ayah nggak kangen sama kamu. Ayah pengen ketemu Ata, tapi takut Ata makin terluka. Maafin Ayah, ya?" ayah berucap panjang lebar bahkan memutar tubuhnya agar saling berhadapan dengan Ata. Bayu dan Aya masih bungkam, menyimak dalam diam. Sedangkan Ata mati-matian mengendalikan diri untuk tetap tenang, menekan perasaan yang melilit kerongkongannya agar tetap diam di dasar hatinya yang paling gelap. Melihat Ata yang tidak nyaman di sebelahnya, cewek itu berulang kali menghela napas berat. Menyentuh lehernya sesekali. Bayu berdiri dari kursi lalu mengajak Aya untuk keluar. Memberikan waktu untuk ayah dan Ata berbicara dari hati ke hati. Gadis berambut panjang yang mulanya keberatan itu, pada akhirnya menuruti keinginan Bayu. Keduanya pergi menjauh ke meja yang lain. Membiarkan keduanya berbicara lebih dalam. Ayah masih menatap Ata penuh harap. Sedangkan gadis itu sekilas menatap lelaki di depannya dengan pandangan yang ia sendiri tak bisa menafsirkan. Bagaimana mungkin ayah mengatakan hal seperti demikian padanya, setelah selama bertahun-tahun meninggalkan dirinya sendirian. Saat Ata sudah terlanjur terbiasa hidup sendiri dalam kesepian, penawaran seperti ini bukannya hal yang membahagiakan. Justru amat sangat membuatnya merasa muak hingga ingin memuntahkan isi perut. Sebab bagi Ata tidak ada lagi ayah untuknya. Semua dari masa lalu sudah menjadi debu yang hilang di bawa angin dalam pikiran gadis itu. Meski hati menolak tegas hal tersebut. Ata hanya ingin meyakini bahwa ia tak pernah memiliki hubungan dengan orang-orang ini. Ata ingin menegaskan bahwa dirinya adalah seseorang yang baru saja dilahirkan kembali. "Ayahku udah meninggal sejak aku umur tujuh tahun." Seperti dihujani belati, ayah terpukul telak mendengar perkataan putrinya. Lelaki paruh baya itu menelan salivanya susah payah. Semua ini jelas bukan salah Ata, selama ini bahkan sejak kematian istrinya ia tidak pernah berusaha mencari Ata. "Ata!" seloroh Aya dari meja lain. Yang dengan jelas mendengar penuturan saudara kembarnya tersebut, Aya merasa tak terima ayahnya dilukai seperti demikian. Bayu menggenggam tangan Aya yang berusaha menyela ucapan Ata secepat mungkin. Cowok itu memberi isyarat pada Aya untuk tetap diam. Sedangkan Ata menatap saudaranya itu tajam. Penuh perasaan yang bahkan tak bisa ia definisikan lagi secara jelas. Saudara kembar itu tumbuh dengan baik dan semakin cantik. Berada dalam lingkungan keluarga yang harmonis tanpa dirinya. Mendapatkan kasih sayang yang cukup, bahkan lebih dari pada seharusnya. Aya tak tau apa pun tentang Ata selama ini. Tentang perasaan yang selama ini selalu menyiksa, tentang rasa takut yang selama ini menyiksa. Ata menyimpan semua sendirian. "Ayah, tau pasti berat buat kamu waktu itu. Ayah salah, maafin Ayah," lelaki paruh baya itu sungguh-sungguh. Sialan! Kali ini ucapan maaf itu tak lagi membuat Ata merasa lebih baik. Sebaliknya, Ata benar-benar tak ingin melanjutkan pembicaraan seperti ini. "Cukup. Semuanya udah nggak penting lagi. Ata yang dulu udah mati. Selesai," potong gadis itu mencoba menekan tangisnya. Ayah mendekat, ia berjalan mendekati Ata bahkan bersimpuh di sisi putrinya itu. Mencoba menggenggam tangan Ata, tetapi sudah lebih dulu dihindari. "Sekali ini aja, pernah nggak Ayah kangen sama aku? Ayah pernah cari aku ke mana setelah kematian mama? Ayah pernah mikir gimana nasib anak tujuh tahun yang baru ditinggal mamanya, tanpa sanak saudara? Bahkan, Ayah nggak datang waktu pemakaman mama!" ucap Ata dengan suara bergetar. Ayah menatung di tempat, menatap Ata nyalang penuh sesal dan rasa bersalah. Semua itu mendadak datang secara bersamaan dalam benak Ata. kenangan menyedihkan saat-saat ayah memukuli mama sedangkan ia hanya bersembunyi di balik dinding menutup mata dan telinga. Sialnya suara pertengkaran itu terlalu jelas. Tangis mama semakin menjadi, dalam ketakutannya yang bisa dilakukan Ata hanya bersembunyi dan menangis. Lelaki di depannya masih bungkam. Sosok yang sempat menjadi cinta pertama dalam hidup Ata itu, mendadak menjadi seseorang yang sangat ia benci di dunia ini. Namun, melihat sorot tua yang sendu itu Ata juga terlalu lemah. Berkali-kali ia mengalihkan pandangan dari ayah. "Setiap hari, setelah ayah bilang mau cerai. Mama nangis setiap malam, minum obat tidur dengan dosis tinggi. Mama masih berharap kalau Ayah balik bawa Aya pulang dan tinggal di rumah. Tapi ...," ucap Ata menghentikan kalimatnya. Ata berhenti. Jantungnya bergemuruh hebat. Ia menekan dadanya yang terasa sakit. Semua yang ia ungkapkan adalah luka yang sudah sekarat sejak sekian lama. Lelaki itu terdiam kaku, matanya berair. Ia bahkan tidak tahu bahwa selama ini Ata menyaksikan segala perbuatan bodohnya di masa lalu. "Ayah salah, Nak. Ayah menyesal. Apa pun yang kamu mau, bakal Ayah lakuin asal kamu maafin Ayah, hmm?" ucap lelaki itu menarik paksa tangan Ata. Digenggam kuat jemari dingin itu agar tidak terlepas lagi. Bahkan selamanya, ayah ingin menjaga Ata setelah apa yang terjadi. Setelah jauhnya jarak yang memisahkan, Ayah ingin Ata kembali. Egois bukan? "Balikin, mama." Ata mengatakan satu kalimat pendek itu dengan suara parau. Matanya berair, napasnya tersengal. Gadis itu memberanikan diri untuk menatap mata ayah. "Balikin mama, setelah itu aku akan lupain semuanya." Tepat, setelah selesai dengan kalimatnya. Ata berdiri dari kursi dan meninggalkan kafe malam itu. Di lantai bawah, hanya ada Aya dan Bayu yang menatapnya bersamaan. Gadis itu tak acuh, dan bergegas melewati kedua orang yang membuat hatinya semakin terluka. Sebenarnya Ata tidak ingin membenci, tetapi keadaan dan kenangan di masa silam benar-benar membuatnya ingin menghapus mereka semua tak bersisa. Tepat setelah melewati pintu keluar, Bayu menarik lengan Ata hingga gadis itu berbalik menghadapnya. Ata masih tidak peduli, ia kembali menyentak tangan Bayu dan pergi dari sana. Namun, lagi-lagi Bayu tidak menyerah. Ia menyentuh kedua bahu Ata dan memutar gadis itu ke hadapannya. "Apa lagi? Masih belum puas kalian?" "Ta?" "Bunuh aja aku sekarang!" sentak gadis itu mendorong Bayu agar menjauh darinya. Namun, Bayu tak kunjung menyerah. Ia masih berusaha merengkuh tubuh ringkih itu dalam dekapan. "Kalian semua itu tega tau nggak? Jahat b*****t!" teriak Ata mendorong Bayu hingga lelaki itu mundur selangkah. Bayu sadar ia keliru. Tidak akan ia lepaskan Ata begitu saja. Dalam sekejap tubuh kurus itu ia rengkuh dalam pelukan hangat. Ia biarkan Ata memberontak dan menangis, tapi Bayu tidak akan melepaskannya dengan mudah. "Kasih kami kesempatan buat memperbaiki semuanya. Please, Ta. Aku mohon! Aku juga sakit ngelihat kamu kayak gini, kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku janji, nggak akan bikin kamu nangis lagi," tutur Bayu mengusap lembut rambut sebahu Ata. "Atau seenggaknya, satu kesempatan lagi, Ta. Buat aku sendiri," imbuh cowok itu lirih. Lelaki itu benar-benar berharap Ata memberi kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Demi Ata yang terluka, Bayu rela memberikan apa pun asal Ata memaafkannya. Gadis yang dulu selalu berbagi keluh kesah dengannya, tetapi ia justru pergi saat Ata butuh pertolongan. Bayu pergi saat Ata sedang jatuh sendirian. *M a t a h a r i* Senja meraup segenggam keripik jagung dalam toples dan memasukkannya ke dalam mulut hingga penuh. TV yang menayangkan kartun Tom and Jerry tidak dihiraukan lagi, kini pandangan matanya kosong menatap langit-langit. Bunda yang sibuk berkutat di dapur menggelengkan kepala heran. "Mandi sana! Dari kemarin nggak mau pindah, liat coba sekarang. Model kamu udah kayak gelandangan gitu." lagi dan lagi bunda masih mengomeli anak perjakanya tersebut. Senja masih diam. Tangannya masuk lagi ke dalam toples, tetapi hanya tersisa angin di sana karena isi toples sudah berpindah ke perut Senja. Cowok itu berdecak malas. Meletakkan toples melamin dengan kesal di atas meja. "Mandi, Dit!" ucap Bunda memperingati. Cowok itu tak bergeming. Ia justru menambah volume TV menjadi semakin kencang, sebelah tangannya menggaruk rambut yang sudah kusut. "Tikus kampret! Emang dasar lu itu biang kerok. Harusnya yang jadi korban itu Tom bukan lu Jer! Tapi, kenapa malah Tom yang dibenci sama orang-orang, bego emang!" cerocosnya mengomentari kartun tersebut. Bunda menghela napas pendek. Ia mendekati Senja mematikan TV lalu memukul punggung Senja cukup keras sebanyak dua kali. Membuat cowok itu meraung keras. "Apaan, sih Nda? Sakit!" teriak Senja mengaduh. "Di suruh mandi doang susah banget, sih. Bunda nggak mau, ya ada bangkai hidup di Rumah. Buruan sana mandi!" protes Bunda sembari mengeplak lagi punggung Senja. "Iya! Mandi nih, Mandi! Pukul aja terus, biar aku lapor ke Kak Seto. Dari dulu aku terus yang dianiaya. Sebenernya aku ini anak Bunda apa bukan, sih?!" Senja balas mendumal sambil berdiri dari sofa. Ia berdiri dari kursi menatap wanita paruh baya yang masih mendelik di depannya. "Kurang ajar, ya? Kalau bukan Bunda yang ngelahirin kamu, kamu keluar dari mana? Lubang undur-undur, hah?" Bunda menabok b****g Senja sebanyak dua kali juga. "Buruan mandi. Abis itu makan." Meski kesal, Senja bergerak juga pergi dari sofa yang menjadi tempat tidurnya selama dua hari tanpa berpindah. Sedangkan Bunda lagi-lagi mengomel betapa joroknya anak lelakinya yang satu itu. "Nda?" panggil Senja melas. "Apa lagi? Nggak usah manja pakai air anget, udah siang ini, Dit." "Bukan itu, Ndaaa," rengeknya seperti bayi, "aku mau tanya serius, tapi Bunda harus jawab jujur." "Soal apa ini?" "Ata." Kedua tangan bunda yang tadinya sibuk membereskan sofa berhenti, wanita itu memutar tubuh menatap anak lelakinya heran. "Kenapa sama Ata?" bunda masih berdiri di sana menunggu jawaban Senja. Cowok itu menatap nanar pada bunda. Ia tau, tidak mungkin bunda tidak tahu apa pun tentang Ata. Senja nggak mau selamanya menjadi satu-satunya orang bodoh yang tidak tahu apa pun. "Ceritain semuanya tentang Ata, Nda." *M a t a h a r i* B e r s a m b u n g! Jangan lupa klik love, dan komen gess! Thank U :*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD