Jangan lupa tap love ^^
Selamat membaca!
Ata duduk meringkuk di lantai. Bersandar pada dipan memeluk tubuh yang basah. Setetes demi setetes air jatuh dari rambutnya yang kuyup. Wajahnya pucat, matanya bengkak. Ata menangis lagi.
Setelah terdiam selama lima menit dengan pikiran yang melayang pada kejadian di kafe barusan. Yang pada kenyataannya semua sama saja melukai gadis itu semakin dalam. Bayangan-bayang kematian mama jelas terekam dalam benak Ata. Tawa ayah dan Aya semakin mendominasi tangis mama waktu itu. Di saat yang bersamaan, suara Bayu turut mengisi pendengarannya. Tentang janji-janji yang diciptakan hanya untuk diingkari kemudian.
Bayangan penuh tawa bersama Bayu nembuat rasa sesak di dadanya semakin menekan tanpa henti. Ata kehabisan napas. Ia memejamkan mata, meremas rambutnya kuat. Saat semuanya muncul dan memaksa Ata untuk mengingat kenangan menyakitkan tersebut. Entah itu masa lalu atau pun saat ini ia sudah semakin dewasa.
Kenapa kedatangan ayah terlalu lama untuk menjemputnya? Kenapa bukan ayah yang sepuluh tahun silam datang mengulurkan tangan dan memeluknya di depan nisan mama? Kenapa, kata maaf dari ayah terlalu melukainya? Kenapa di saat Ata sudah terbiasa tumbuh dalam kesendirian, saat ia terbiasa dengan kenyamanan yang ia ciptakan bersama bunda dan senja. Orang-orang dari masa lalunya justru datang membuat perasaan Ata semakin tak keruan.
Ata menjerit hebat. Sendirian dalam kamar yang sunyi. Ia lelah terlihat baik-baik saja. Ata lelah dengan segala problematika yang membuat seluruh hatinya luluh lantak. Toh, saat ini pun tak ada satu orang pun yang akan melihatnya dalam keadaan jatuh.
Dingin itu menggigilkan
Menelan tawa bahagia menampakkan luka lama
Kata maaf ibarat sebilah pedang yang siap dihunuskan pada lawan
Itu aku yang berdiri di ujung kematian
Tanpa teman dan sekecap pembelaan
Bagi Ata, dunianya telah benar-benar berakhir. Tak ada lagi yang perlu diperjuangkan. Tak ada lagi yang butuh ia pertahankan. Semuanya selesai setelah hari itu.
Cahaya Matahari, telah mati diguyur hujan air mata.
*M a t a h a r i*
Gadis berambut panjang sepunggung masih termangu di bibir dermaga. Matanya nanar menatap lurus ke depan. Hamparan laut membentang seluas harapan yang selalu ia genggam. Dalam genggaman kelima jari yang tak lagi mungil itu masih sama, sebuah pita jingga tergenggam erat sekencang keinginannya untuk melepas rindu pada seseorang yang pernah mengucapkan janji padanya. Sejak fajar menyingsing ia bertahan meski ketakutan terus memaksanya untuk mundur. Hingga senja menyapa, Ata tetap di sana. Bertahun-tahun dan terus berulang hingga Ata merasa bahwa sudah seharusnya ia berhenti. Bahwa seseorang yang ia nanti memang tak akan pernah mungkin kembali.
Toh, kini ia tak lagi sendiri. Ada Senja baru yang setia menemani dan tak pernah pergi meski malam mulai menelan tawanya.
Saat itu juga Ata paham bahwa di dunia ini, tak seorang pun mengharapkannya untuk kembali. Entah itu Lembayung Senja yang selalu berjanji untuk menemaninya, juga ayah yang tak pernah melihatnya. Malam itu adalah hari terakhir ia mendatangi dermaga demi menunggu Bayu. Lelaki yang berjanji akan selalu melindungi tawanya, dan mengajaknya menikmati pelangi setelah hujan.
"Dia nggak datang."
Di depan cermin ia bermonolog. Matanya berkaca-kaca dan sudah bisa dipastikan hanya dalam sekedip saja air mata akan meleleh dari sana. Namun, Ata telah menghapusnya bahkan sebelum air mata itu jatuh. Menyembunyikan kepedihannya. Membiasakan kekecewaannya. Ata tersenyum di depan cermin. Kemudian ia memangkas rambut panjangnya hingga sebatas bawah telinga. Berharap ia bisa melakukan hal serupa pada kenangan-kenangan yang ada. Ata telah memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri di masa silam. Hari itu, Ata hanya ingin hidup sebagi orang baru dengan kehidupan yang lebih baik.
Setidaknya.
Karena Matahari, tak akan lagi menunggu Lembayung Senja yang telah pergi. Mulai hari itu, Ata adalah seseorang yang terlahir kembali di bumi. Menjadi orang baru, meski di dalam hati ia masih tetap menyimpan kenangan yang menikam.
*M a t a h a r i*
Sekali lagi Senja menekan kepalanya sendiri, sesekali meremas rambut hitam yang mulai memanjang. Helaan napas berat jelas terdengar dari bibir tipisnya. Senja menyesal, teramat sangat saat cowok itu teringat kejadian di malam saat ia meninggalkan Ata sendirian. Saat ia membentak gadis itu, dan sempat menaruh kekecewaan pada Ata. Selepas mendengar semua cerita dari bunda, perasaan bersalah itu semakin membuat Senja merasa tak keruan.
Seharusnya ia sadar bahwa Ata terlalu berbeda. Cewek itu telah dibentuk dengan banyak kerasnya jalan hidup penuh liku dan kerikil tajam. Kesendirian sejak usianya tujuh tahun, kesepian, kehilangan, dan dan perasaan tak diinginkan. Bukankah semua itu terlalu kejam untuk sosok gadis berusia tujuh tahun?
Bunda mengelus punggung Ata dengan hangat, lalu berkata, "kamu lagi berantem sama Ata? Ada masalah apa?"
Senja tak menjawab, melainkan cowok itu langsung bangkit dari posisi duduk dan berlari ke kamar membuat bunda menatap heran anak lelakinya tersebut.
"Senja pergi dulu, Nda," pamit Senja tanpa menoleh pada wanita paruh baya yang masih menatap punggung Senja dengan penuh tanya.
"Ke mana, Dit?"
Selangkah kakinya berhenti tepat di depan pintu, cowok itu menoleh sekilas menatap bunda. "Ke rumah Ata."
Kemudian ia bergegas menstater motir matik yang selalu mengantarkan ke mana ia pergi. Entah kenapa kini perasaan khawatir menyergap seluruh hati Senja. Terlebih saat cowok itu ingat bahwa Bayu, Aya, dan lelaki paruh baya yang tak ia kenali datang ke kafe menemui Ata.
Seharusnya, Senja tak meninggalkan Ata sendirian di sana. Harusnya pula, Senja tak mengizinkan orang-orang itu datang menemui Ata. Tidak untuk melukai cewek itu lebih dalam lagi. Di tengah padatnya lalu lintas malam kota Surabaya yang diguyur hujan deras itu, Senja merdup mengabaikan dingin yang menggigilkan tubuhnya hingga menusuk tulang. Ia menarik gas motor sekuat tenaga, melajukan pacu kuda besinya agar lebih cepat sampai ke rumah gadis yang saat ini sangat ingin ia temui.
Sekitar setengah jam menempuh perjalanan dari rumahnya ke tempat Ata, cowok itu sampai juga. Senja memarkirkan motor matiknya di depan rumah Ata secara sembarangan. Berulang kali cowok itu mengetuk pintu rumah dengan menggebu. Seluruh lampu padam, kebiasaan Ata saat gadis itu sedang tak ingin diganggu.
"Berengsek!" umpat Senja tak ada jawaban.
Cowok itu masih menggedor pintu dengan brutal. Berharap Ata membuka pintu dan mengeplak atau menamparnya seperti kemarin lusa.
"Ta, buka pintunya!" teriak Senja.
Nihil. Tak ada sahutan, cowok itu tak ingin membuang banyak waktu. Ia mundur selangkah lalu berlari menerjang pintu hingga berhasil pada percobaan ketiga. Pintu berhasil dibuka secara paksa.
"Ata?!" panggil Senja memasuki rumah yang gelap itu.
Cowok itu berjalan dengan cepat melewati ruang tamu dan menuju ke kamar Ata. Ia menyalakan ponsel sebagi alat penerangan. Sedetik kemudian cowok itu membatu di tempat melihat sosok Ata sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai rumah yang dingin.
B e r s a m b u n g!
Jangan pelit love. Saling support yaa.
Terima kasih.