17

1972 Words
"Maksudnya?" tanya Ata kalem. "Kalau dengan lari kamu bisa bahagia, ajari aku buat lari." Ata tertawa sejenak, sebelum kemudian duduk di salah satu beton yang tergeletak di atap. "Kebahagiaan seseorang itu beda-beda kelasnya, Ke." Ata memainkan kakinya yang menggantung. "Aku suka lari, karena hal itu bisa bikin aku seneng. Tapi, belum tentu kamu bisa ngerasain hal yang sama kayak gitu." Keke menghela napas pendek. Tanpa sadar melangkah mendekati Ata dan duduk di sebelahnya. "Kamu cuma perlu ngelakuin apa yang kamu suka, dengan gitu kebahagiaan juga bakal datang sendiri. Sesimpel itu," Ata masih berdialog sendiri. "Lagian kenapa mesti minta tolongnya sama aku?" "Karena aku bisa ketawa, sedangkan aku enggak." "Kenapa gitu?" "Kamu nggak punya masalah yang bikin kamu lupa caranya buat ketawa." Ata paham sedikit hal dari ucapan gadis di depannya. Keke membutuhkan tempat untuk melampiaskan kemarahannya. "Cuma itu?" pancing Ata tenang. Gelengan kepala Keke membuat seulas senyum tipis mengembang di bibir Ata. "Tolong, ajari aku buat bahagia." Senyum Ata merekah sempurna. Sedikitnya kini Ata cukup tau kerumitan yang mendera gadis kacau di hadapannya. Sebab sejak pertama melihat sepasang mata tanpa nyawa, Ata mengerti ada banyak hal menyakitkan yang sengaja disimpan rapat sendirian. "Pertama-tama kamu harus cari tau, kenapa orang nggak bisa ngedipin mata sebanyak tiga kali, waktu lagi senyum," ucap Ata. Keke mengerutkan alis. Ia baru pertama kali mendengar hal itu. "Nggak percaya?" tanya Ata. "Cari tau dulu, kalau udah ketemu dan yakin sama jawabannya, berarti kamu lolos ke soal yang berikutnya." Selesai dengan ucapannya barusan Ata mengulurkan tangan berharap kali ini Keke sudi menyambutnya. Tidak seperti dulu saat dengan gamblang Ata diabaikan begitu saja. "Kita belum kenalan, loh. Gye penasaran namamu siapa." "Keke..., Lintang Kejora," jawab Keke menjabat tangan Ata. Mengangguk paham Ata tersenyum lagi lalu meneguk sisa s**u dalam kaleng. "Gue harus panggil lo siapa?" "Ata." *** Kebencian yang hadir bukan tanpa alasan. Seringkali Tuhan berkehendak tanpa memberikan petunjuk terlebih dulu pada umat untuk sekedar memperingati diri sendiri. Namun, semuanya tidak pernah terjadi. Semua kejadian nyatanya berlalu tanpa peringatan. Kejadian yang melukai tanpa disengaja, akan tetapi terlihat sengaja dilakukan. Aya membanting pulpen di tangannya dengan gemas setelah mencoreti buku tulis secara abstrak. Di depannya Vivi yang mengunyah risol memerhatikan dengan dahi berkerut. "Eh, kamu tahu nggak, sih? Kalau Keke nolak buat gantiin posisi Vela jadi perwakilan sekolah buat olimpiade MIPA?" ucap Vivi girang karena teman sekelasnya hampir menjadi perwakilan lomba yang cukup besar. "Oh, iya, Ay! Kamu tau, kan, Ata? Sebenernya dia kandidat pertama yang bakal jadi perwakilan sekolah kita, tapi karena, tuh, anak nggak jelas kelakuannya jadi, Kepala sekolah lengserin dia dan milih anak pemilik yayasan buat maju. Picik banget nggak, sih?" ocehnya. "Lagian Keke kenapa mesti nolak segala, sih? Coba aja aku yang disuruh gantiin posisi Vela, aku pasti nggak akan nolak." Aya tak menanggapi. Lagi-lagi Keke. Sudah cukup ia dibuat kesal oleh kedekatan gadis berkaca mata juga saudaranya. Kini Vivi malah membahas sesuatu yang sangat tidak membuatnya lebih baik. "Kenapa sih, Ay?" Hanya tatapan sinis yang di dapat Vivi. Selanjutnya Aya beranjak dari kursi dengan langkah disentak. Membuat Vivi geleng-geleng kepala dengan tingkah aneh teman sekelasnya itu. Bahkan di ambang pintu Aya seperti sengaja menyenggol lengan siapa pun yang sedang melintas secara sengaja. Termasuk Damar. Biang rusuh di kelas 11-IPA3. "a*u! Jalan pakai mata!" teriak cowok jangkung berkulit cokelat itu galak. "Untung cewek," ucap Damar membanting tubuh di kursinya. "Kalau cowok lu apain Mar?" tanya Boim memancing "Cium sampai engap!" sahut suara milik Prambudi. Damar melemparkan tas sekolahnya ke arah Prambudi. "Bacotnya dijaga." Sebuah cengiran dari Pram membuat Damar kembali sibuk dengan ponsel. Yang lainnya ikut berkumpul di satu meja mengerumuni Damar yang duduk di tengah-tengah. Tahulah penghuni kelas apa yang tengah dilakukan sekerumunan cowok-cowok tersebut. Sedangkan Aya tidak memedulikan, ia berlalu cepat meninggalkan kelas diiringi tepukan tangan dari anak lelaki sebangsa Damar CS. Karena tidak biasa cewek anggun macam Aya melakukan hal semacam itu. Aya sendiri kalut tidak karuan di dalam hati. Padahal niatnya hari ini tidak ingin pergi ke sekolah, tapi ia memaksa berangkat demi melihat kembarannya apakah Ata baik-baik saja? Bukan ... maksud Aya, apakah setelah berucap demikian Ata tidak merasakan hal yang serupa dengannya? Pada akhirnya jawaban atas rasa penasarannya malah melukai diri sendiri. Sejak pagi ia sudah melihat Ata tertawa dengan Senja. Berbincang hangat dengan Keke, bahkan minum s**u berdua di atap gedung sekolah. Kenyataannya sungguh menyakitkan. Ata dekat dengan orang lain, tapi tidak dengannya. Kenapa keadilan tidak pernah berpihak padanya. Aya membanting pintu toilet dengan kasar hingga menimbulkan bunyi bedebum. Gadis berambut panjang mengamati dirinya di cermin, pucat, dengan mata sembab. Dan semua ini karena Senja. Semua ini karena Keke. Semua ini karena Ata. Aya membasuh wajahnya yang kacau. Lalu mengerjap beberapa kali untuk meredamkan emosi. Sekiranya cukup ia berniat keluar, tangannya sudah menyentuh knop pintu namun suara bantingan pintu lain membuat Aya mengurungkan niat untuk segera keluar. "b******k banget tuh, anak. Berani-beraninya ngambil kesempatanku buat ikut Olimpiade. Dia pikir dia itu siapa sih?!" "Bu Fatma bilang nilainya lebih baik di atas kamu Ve. Aku denger dari anak-anak gitu," ucap suara yang lain. "Ya, tetap aja. Aku, kan, anak ketua yayasan. Harusnya aku yang pantas buat ikut lomba besar kayak gitu! Biar semua orang ngerti, sebanyak apa pengaruhku di sekolah ini." Aya tau sekarang siapa yang berada di dalam toilet. Mereka gerombolan Vela dari kelas 11-IPA 1. Yang terkenal sebagai murid paling disegani karena kepandaiannya. Eum..., ralat! Karena posisinya sebagai anak pemilik sekolah. "Cari tahu siapa bocah yang berani gantiin posisiku!" pinta Vela membentak. "Tenang, aja, sih Ve. Orang anaknya juga udah nolak secara langsung di depan Bu Fatma." "Tenang kamu bilang?" ulang Vela menatap temannya barusan. "Secara nggak langsung dia itu udah berani menyaingi aku! Pokoknya cari siapa dia." Aya memutar knop pintu, lantas melangkah keluar dari sana. "Lintang Kejora alias Keke, kelas sebelas IPA tiga. Tercatat sebagai siswa paling pintar di kelas, selalu mendapat peringkat pertama dengan catatan nilai yang selalu memuaskan," ucap Aya keluar dari bilik kamar mandi. Vela menatap Aya dengan senyum skeptis. Cewek yang lebih tinggi dari Aya itu mendekat. Membuat keduanya saling berhadap-hadapan. "Nggak usah ikut campur, Penguntit!" ucap Vela menekan. "Dasar tukang nguping?!" Aya tertawa mendengus mendengar ucapan Vela. "Nggak ada yang ngijinin kamu buat ketawa!" "Penguntit kamu bilang?" ulang Aya. "Ini kamar mandi, bisa dibilang sebagai tempat umum nggak, sih? Oh..., pantas aja Bu Fatma lebih milih Keke dari pada kamu . Buat cari tempat ngobrol hal kayak gini aja nggak becus," kata Aya mengejek. "b*****t! Siapa kamu berani ngomong kayak gitu?!" bentak Vela mendorong Aya hingga membentur tembok di belakangnya. Kedua tangan Vela juga mencengkeram kerah seragam Aya dengan kuat. Hingga senyum sinis yang sejak tadi menghiasi wajah pucat Aya lenyap digantikan kemarahan. Ia tangkis tangan Vela hingga terlepas dari kerah bajunya. "Aku cuma berusaha buat kasih info yang kamu butuhin. Dan ini balasan lo?" Aya maju selangkah menepuk pelan bahu Vela. "Semoga berhasil." Selesai dengan dua kata terakhir, Aya melangkah pergi meninggalkan Vela dan kedua temannya yang mengekori kepergian Aya dengan pandangan mata. "Lintang Kejora, awas kamu!" *** Bayu menggenggam erat pita jingga di tangan kanannya. Tidak lagi di dalam kafe beradu pandang dengan Senja, namun kini keduanya tengah berada di trotoar. Saling pandang di tengah bisingnya kota Surabaya dengan udara sejuk di siang yang mendung. Senja memasukkan kedua tangan dalam saku jaket, bersandar pada pembatas jalan yang terbuat dari besi pipih. Matanya jengah menatap Bayu yang bungkam, ia edarkan pandangan ke jalan raya yang padat akan kendaraan. Sudah berjam-jam keduanya saling mengawasi di kafe, hingga akhirnya Bayu mendekati Senja dan meminta lelaki itu untuk ikut dengannya. Sampai detik ini, saat matahari yang bersinar terik ditutupi awan kelabu Bayu tidak kunjung bicara. Ia bingung harus memulai dari mana meski dalam hati telah yakin bahwa Senja bisa membantunya. "Masih nggak mau ngomong? Kerjaanku masih banyak, wey!" ucapnya mengetuk-ngetuk jam yang melingkari tangan. Bayu mendesah lagi. Lalu ia serahkan pita jingga tersebut pada Senja. "Titip buat Ata." Kalimat pendek itu membuat Senja mengangkat kedua alis bersamaan. Lalu tertawa kecil. Ia pandangi lagi Bayu yang tertunduk lesu. Dalam hati Senja mengutuk diri sendiri, kenapa ia berkenan pergi dengan seseorang yang bahkan tidak dikenal? "Nggak! Aku nggak mau, lagian aku tuh nggak kenal kamu ini siapa," ucap Senja mendorong tangan Bayu yang menyodorkan pita padanya. "Aku minta tolong," lelaki itu memohon. "Aku nggak bisa, kalau ada perlu sama Ata. Silakan cari dia sendiri." Lelaki berjaket denim itu berbalik. Bibirnya mengumpat pelan, tahulah Senja siapa lelaki berkulit putih layaknya artis korea yang mengajaknya keluar untuk bicara itu. Siapa lagi jika bukan orang suruhan Aya. Di langkah ketiga, Senja berbalik menghampiri Bayu. "Bilangin sama Aya. Gue bukan perantara buat ketemu sama Ata." Bayu memicingkan mata mendengar ucapan Senja. Sebelum Senja melangkah pergi lagi, Bayu menarik bahunya sampai keduanya kembali bersipandang. "Lembayung Senja," Bayu bersuara sambil mengulurkan tangan. Senja masih tidak mengerti. Ia menaikkan sebelah alis menatap lelaki yang berdiri di depannya. "Aku Lembayung Senja, Senja Praditya." ulang Bayu menyebutkan nama lengkapnya sekaligus nama lengkap Senja yang ia ketahui dari seorang pelayan di Kafe barusan. Seperti mendengar hal yang tidak wajar, Senja Praditya masih terpaku diterpa kebisuan. Mendadak ia merasa geli setelah mendengar pengakuan lelaki di depannya. Meski kesamaan nama mungkin bukan hal yang tabu, namun Senja merasa bahwa hal ini bukan hanya kebetulan semata. Senja merasa bahwa dibalik sebuah kesamaan nama ini, mungkin ada suatu hal yang membuat ia dan Bayu harus bertemu. Mungkin, kesamaan nama mereka sudah tercatat dalam buku takdir mereka masing-masing. "Sama kayak kamu, aku juga kaget waktu dengar cerita Aya soal kamu dan Ata. Apalagi setelah tahu siapa namamu, aku pikir ini bukan kebetulan, Dit." "Ada hubungan apa kamu sama Aya? Kalian berdua sama-sama nguntit Ata?" ucap Senja mencurigai Bayu. Lelaki itu menggeleng cepat. "Ada kisah yang pernah hilang di antara aku, Aya dan Ata. Dan kami butuh kamu buat memperbaiki kisah itu," ucap Bayu masih tenang. "Kamu harus bantuin aku buat deketin Ata," imbuhnya. Senja menggeleng antara keterkejutannya dan juga ketidak percayaannya terhadap yang ia hadapi saat ini. Leluconkan ini semua? Ia menggaruk kepala dengan kedua tangan dan mundur selangkah. Tertawa mendengus melepaskan kegelian yang melandanya sejak tadi. "Heh, denger ya! Aku bukan siapa-siapa, kalau kamu ada keperluan sama Ata. Temui Ata bukan aku." tegasnya. "Satu lagi, aku bukan siapa-siapa. Bukan orang yang berhak buat memperbaiki kisah kampret atau apa pun itu!" Senja melangkah pergi, mengabaikan teriakan Bayu yang masih meneriaki namanya di belakang. Ia tidak sudi membantu siapa pun. Siapa pun yang berkemungkinan menyakiti Ata juga ... mengambil Ata darinya. Tidak akan pernah Senja biarkan. Ata merasakan tepukan pelan di bahunya, lalu menoleh mendapati Keke yang berdiri di belakangnya. "Udah pipisnya?" tanya Ata. Gadis itu hanya mengangguk sambil menaikkan kaca mata yang melorot ke pangkal hidung. "Ayo!" Ata menggandeng tangan Keke dan menariknya pelan. Namun Keke tidak kunjung bergerak, matanya masih ragu menatap Ata yang sudah mengulas senyum. "Kenapa?" "Kamu yakin nggak apa-apa keluar dari Sekolah sebelum bel?" tanya Keke ragu. "Kalau masih ragu kenapa tadi ikut , sih?" "Aku cuma ... nggak biasa dengan hal kayak gini," ucap Keke bimbang. "Kalau gitu, mulai sekarang kamu harus terbiasa." Ata tersenyum hingga kedua matanya menyipit. Memberikan keyakinan pada Keke untuk mengusir bimbang juga takut yang menaungi hati. "Tenang, semuanya pasti baik-baik, aja selama kamu percaya sama aku." Lantas Ata kembali menarik tangan Keke untuk pergi dari sana. Kembali berlari menuju tempat yang sudah di rencanakan sejak di atap sekolah tadi saat istirahat. Setelah Keke meminta Ata untuk mengajarinya bahagia. Meski masih merasa takut jika nanti mamanya tahu dan akan memarahinya, segenap hati Keke ingin mempercayai Ata. Menyerahkan hatinya yang hampir mati kepada Ata yang bersedia menghidupkannya kembali. Gadis berambut pendek bermata cokelat muda. Sepasang mata yang tersenyum menyimpan rahasia. Seulas senyum indah yang menyimpan ribuan makna. Ata melihat semua yang berusaha disembunyikan oleh siapa pun. Ata melihat semuanya. B e r s a m b u n g!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD