18

2687 Words
Senja Meredup di Atas Kasur Kupesankan Bahagia Hujan datang lagi membawa kenangan Gemercik kecil berbobot ringan berjatuhan di tanah yang sudah basah Seperti aku yang sudah berkali-kali jatuh dalam kubangan yang sama Kubangan bernama masa lalu Aku bangkit, namun masih sama Tenggelam lagi, bangkit kembali Tak seorang pun dari masa kelam datang padaku Tiada marah kuutarakan Hanya amarah yang terpendam Kekecewaan atas rasa sakit Aku memesan bahagia Namun, yang datang adalah luka Aku ingin dia Tapi, aku mungkin tiada dalam takdirnya *** "Gue benci hujan." Ata menoleh, menatap gadis berkaca mata yang melipat tangan di depan d**a. Duduk di emperan toko yang sudah tutup siang itu, mereka setengah basah karena kehujanan. Ata melepaskan jaket berwarna tosca yang membungkus tubuhnya, lalu meletakkan jaket itu di tangan Keke. "Gue suka hujan, tapi gue paling benci kalau mereka datangnya pagi-pagi," ucap Ata menimpali. Keke melirik Ata dan jaket yang kini berada di tangan. Ia berniat mengembalikan jaket Ata, namun pemiliknya menolak. "Pakai aja, gue tahu lo kedinginan." "Nggak usah." Ata tersenyum. Ia menerima uluran jaket dari Keke. Menatap Keke yang terlihat begitu kesal. Rencananya mereka ingin pergi ke Kafe, memulai salah satu dari banyak hal yang akan dilakukan untuk bahagia. Namun, hujan turun deras tanpa aba-aba. Membuat keduanya terpaksa harus berteduh lebih dulu. "Dulu gue sama kayak elo. Selalu nolak pertolongan orang lain. Tapi, gue buru-buru sadar, kalau gue nggak bisa hidup tanpa orang lain. Satu lagi, menerima bantuan dari sesama itu salah satu kunci buat bahagia," kata Ata. Ata tidak menunggu Keke bersuara. Karena memang ia berniat untuk memberi tahu bukan bertanya. Ia memasangkan jaket miliknya di kedua bahu Keke. Membiarkan Keke terpaku dengan apa yang dilakukan Ata, kini Ata sudah duduk di lantai. Menopang kedua tangan dengan lutut yang terlipat di depan d**a. "Hidup ini emang keras, Ke. Nggak banyak orang yang menyadari hal itu. Mungkin gue, lo dan segelintir anak jalanan yang tahu seberapa sukar rasanya buat bertahan dengan rasa sakit." ucap Ata mendadak berdialog sendiri. "Elo? Elo baik-baik, aja. Bahkan lo masih bisa ketawa," sambung Keke mendekat di sebelah Ata. Ata tertawa hiperbolis menatap Keke yang kini sudah duduk di dekatnya. Dalam hati ia memuji diri sendiri, betapa hebat topeng-topeng yang ia gunakan untuk berkamuflase selama ini. "Apa yang lucu?" Keke mengernyit heran. "Nggak selamanya yang kelihatan baik-baik aja itu bener-bener baik. Nggak selamanya juga yang bisa ketawa ngakak itu bener-bener ketawa. Siapa yang tahu kalau tawanya itu cuma sekedar penutup tangis darah?" "Tapi, lo beda." "Apa yang bikin gue beda?" "Semuanya." Keke menatap mata cokelat Ata. "Mata lo, senyum lo, ketenangan lo. Elo, tuh, orang yang seolah-olah nggak pernah kenal rasa sakit." Ata tertawa lagi, bahkan kali ini lebih kencang. Membuat kening Keke berlipat-lipat keheranan. "Oke, cukup buat menganalisis gue. Sekarang giliran lo." ujar Ata menghentikan tawanya. "Sebenarnya, apa, sih, yang bikin lo ketakutan sampai lo jadi pribadi yang tertutup gini?" Keke tertawa pelan. Ia mengeratkan jaket Ata di tubuhnya. "Gue takut?" ulang Keke. "Sok tahu banget lo," Keke melanjutkan. Dan Ata menimpali ucapan Keke dengan gelengan kepala. "Lo bisa bohong sama orang lain. Tapi, nggak sama gue. Semuanya terlalu jelas buat lo tutupi." "Emangnya siapa lo?" "Ke, nggak masalah kalau lo ngikutin jalan pikiran lo, tapi jangan abaikan yang di sini," ucap Ata menunjuk dadanya sendiri. Keke bungkam. Sejauh ini tidak ada seorang pun yang bertanya seperti Ata. Tidak ada yang begitu mengerti dirinya seperti Ata yang baru ia kenal, namun begitu peka dengan perasaanya. "Gue cuma minta lo buat ajari gue caranya ketawa bahagia. Bukan buat cari tahu apa yang nggak lo tahu." Ata berdesis kesal. Keke rupanya adalah seseorang yang begitu keras kepala. "Curang!" desis Ata. Dalam hati ia sangat yakin, sejujurnya Keke ingin berbagi. Tapi, gadis itu bingung harus memulainya dari mana. Sama seperti dirinya sendiri yang ingin menceritakan duka-dukanya pada dunia. Namun, semesta selalu tahu lebih dulu tanpa sebuah kata yang terucap. Ata senang, bahwa setidaknya Tuhan masih memberikan keadilan untuknya yang begitu rapuh untuk membagi cerita. "Lo beneran pengen bahagia?!" Ata berdiri menarik tangan Keke. Membuat gadis itu ikut berdiri. Keduanya berlari ke jalan raya menembus derasnya hujan siang itu. Keadaan jalan sempit yang lenggang membuat Ata lebih leluasa mengajak Keke untuk hujan-hujanan. "GILA LO!" teriak Keke berusaha melepaskan tangannya dari Ata. Tapi, salah jika ia pikir Ata akan melepasnya begitu saja. Gadis berambut pendek menggenggam tangannya begitu erat. Enggan melepaskan momen membahagiakan ini. Berlari sambil tertawa di tengah derasnya hujan. "Nikmati, aja, Ke." "Lo beneran gila! Lepasin, gue mau balik." Bukannya melepaskan tangan Keke, Ata malah mempererat pegangannya. Ia melompat, memainkan genangan air dengan sepatu kets yang sudah basah. Keduanya sudah kuyup di tengah guyuran air mata langit. Dingin memang tidak lagi menggigilkan karena sejujurnya dua gadis remaja yang tengah saling menyembunyikan itu sama-sama diserang kebekuan. "Gue udah janji buat ngajarin lo caranya menikmati hidup," kata Ata tenang. "Salah satunya lo harus belajar menari di tengah hujan badai!" Samar dalam deras hujan, Ata memejamkan mata, menajamkan pendengarannya. Gemericik air ramai berjatuhan tidak teratur menghantam bumi. Suara angin berdesir pelan, di antara gesekan ranting pepohonan. Ia menatap Keke yang masih berusaha melepaskan diri dengan tawa. Namun, angannya menahan pedih teringat seseorang di masa silam. "Aku pasti pulang. Kan, kita mau hujan-hujanan bareng. Ata jangan pergi, nanti aku jemput lagi." Ucapan itu sekedar angin lewat. Seseorang yang pernah memintanya untuk tetap tinggal, dengan jelas sejak dulu telah meninggalkannya. Ata masih menanti, tetapi tidak saat ini. Hatinya lelah menunggu seseorang yang ia pikir tidak peduli. Bahkan sekarang pun Ata tidak ingin peduli jika orang dari masa lalunya datang kembali. Ata benar-benar tidak peduli. *** Malam terasa dingin oleh sisa-sisa hujan yang turun ke bumi sejak siang tadi. Langit malam tampak cerah, ribuan bintang bertaburan, juga rembulan yang senantiasa menawan di antara banyaknya kerlip bintang. Malam itu dingin, sekali lagi sangat dingin, namun terlalu indah untuk dilewatkan. Ata berdiri di depan jendela kamar yang sengaja ia buka lebar-lebar. Kedua tangan menopang dagu matanya terpejam erat. Ia menyukai aroma semacam ini. Tanah yang basah, hawa dingin, dan sepi. Secangkir kopi sedang berada di dekatnya masih mengepulkan asap. Bayangan demi-bayangan siang tadi muncul satu-persatu. Tentang Keke yang begitu kaku. Aya yang keras kepala. Dan dua senja yang berdebat di pinggir jalan raya. Ata menyaksikan semuanya. Ia sesap kopi hitam yang tidak terlalu manis juga tidak terlalu pahit, yang ia racik sendiri. Dulu waktu kecil, mama kerap mengajarkan Ata untuk membuat kopi yang enak. Racikan yang pas membuat pahitnya kopi bisa dinikmati. Bahkan mengusir kemelut yang sedang menaungi hati. Ata tersenyum lagi karena hanya itu satu-satunya yang ia miliki. Senyum yang membuatnya menjadi manusia tegar sampai detik ini. Mengaburkan semua kesedihan yang ia miliki. Langit masih saja sama di malam yang cerah ini. Indah nan begitu menawan. Keke menyeruput teh hijau dengan mata tertutup. Meninggalkan kabut pada kaca mata yang bertengger di pangkal hidung mancung. Sebelumnya Keke tidak pernah melakukan hal semacam ini. Semacam..., berdiri di balkon kamar, menatap langit malam, menikmati minuman hangat kesukaannya. Entah kenapa ia merasa geli telah menuruti apa yang dikatakan Ata sebelum berpisah di depan gerbang rumahnya tadi. Sore menjelang magrib, Ata mengantarkannya pulang dengan wajah yang selalu tenang. Keke masih ingat, Ata berlari lebih dulu hingga berjarak tiga meter dari Keke lalu berhenti menunggu Keke sampai di tempatnya. Begitu seterusnya. Awalnya, Ata mengajak Keke untuk balap lari, namun Keke menolak. Selain dingin, kakinya cukup lelah bermain setengah hari dengan Ata. Ia masih nggak menyangka, bahwa ternyata Ata sehangat ini. Ia juga masih ingat bagaimana konyolnya Ata yang salah jalan karena mendahuluinya. Yang membuat Keke begitu bersyukur, mama tidak di rumah sore ini. Satpam di rumahnya bilang bahwa mama pergi menghadiri rapat penting untuk bisnisnya. Sehingga membuat Keke tenang tanpa takut mamanya marah. Mendadak ia tersenyum teringat sekilas kejadian singkat tersebut. Bahkan hampir mengeluarkan tawa ketika ia tidak segera menyadari keanehan yang ada pada dirinya detik itu juga. Keke berlari mendekati kasur, ia raih ponsel dan berlari mendekati cermin di kamar. Pukul tujuh lebih dua puluh tiga menit. Ia tersenyum. Keke tersenyum tanpa sengaja untuk yang pertama kali setelah sekian lama. Gadis berkaca mata itu menatap pantulan dirinya di cermin. Lantas menemukan sesuatu yang berbeda pada dirinya. Dan semua ini karena Ata. Angannya teringat ucapan Ata di roof top sekolah. "Lo nggak bisa berkedip sebanyak tiga kali waktu lo tersenyum." Ia kembali menatap pantulan diri di depan cermin. Perlahan kedua sudut bibirnya terangkat ke atas menciptakan lengkungan tipis yang manis. Matanya berkedip pelan sebanyak tiga kali. Kemudian senyumnya melebar menyadari satu hal. "Pembohong!" ucapnya tersenyum lagi. Membiarkan Keke terlena dengan senyum pertama dan perasaan hangat yang kini menemani. Gadis berambut hitam panjang itu menenggelamkan diri di bawah selimut tebal. Membiarkan bulan dan bintang tetap terjaga menemani malamnya. Tentu saja dengan mataharinya pula. Matahari yang masih berdiam diri ditemani kopi yang isinya tinggal setengah kosong. Melihat Keke yang bungkam dalam ketakutan yang tidak disuarakan, membuat Ata seperti melihat dirinya di masa lalu. Yang ketakutan namun tidak tau harus mengatakannya pada siapa. Bocah tujuh tahun yang baru saja kehilangan mama, yang membutuhkan uluran tangan dengan mohon bantuan. Ponsel Ata berdenting pendek, benda pipih yang sangat jarang ia sentuh itu terletak di sofa mini tak jauh darinya. Nama Senja tertera di sana, membuat ukiran senyum di bibir Ata. Tidak biasanya Senja mengiriminya pesan singkat Senja Praditya : Nggak bisa bobok ): Senja Praditya : ATA??? Senja Praditya : Gue galau, Ta. Senja Praditya : Bacain puisi! Ata tersenyum tipis, menghempaskan tubuh ke atas sofa menatap layar ponsel membaca pesan Senja. Senja Praditya : Dibaca doang? Oke! Senja Praditya : Hape lo dijual aja, gih, buat beli koran! Senja Praditya : Ta ??? Ata : Alay! Senja Praditya : Dibales? Yeah, dari tadi kenapa sih, non. ? Ata : Males, Dit. Senja Praditya : Gue mau curhat. Ata : telepon, aja. Senja Praditya : Lagi nggak ada pulsa. Ata : miskin! Ia membenarkan letak guling yang di peluknya. Senja mengulas senyum tipis melihat balasan pesan Ata. Ata calling .... Ata : Angkat Mas! Senja Praditya typing .... Gadis itu membetulkan posisi rebahannya agar lebih nyaman. Ata : lama! Senja Praditya typing .... Ata : Lo sakit? Senja Praditya : Gue suka sama cewek. (': Ata tertawa kecil, lalu mengetikkan balasannya. Ata : terus? Senja Praditya : Nggak tahu, Ata : Lah pekok,- Senja Praditya : Kurang asem! Senja Praditya : Masalahnya gue udah kenal lama sama cewek ini. Dan udah deket banget, lagian ceweknya anti mainstream lagi. Senja Praditya : Ceweknya spesial, Senja Praditya : gue takut malah kehilangan. Ata typing .... Senja Praditya : Lama!!! Ata typing .... Senja Praditya : ngetik apaan sih, Ta? ??? Ata typing .... Ata : Oh Senja melonjak dari kasur. Membanting guling dalam dekapan sambil mengumpat. Senja Praditya : gitu doang? Ata : terus? Senja Praditya : jahat bgst! Senja Praditya : ???? Ata : bodo ? Senja Praditya : bacaain puisi pliss ? Ata : No! Ata : gue ngantuk Ata : bye! Dalam kamar yang sudah gelap itu Senja meredup di atas kasur. Perasaanya terpatah-patah karena Ata. Matanya belum terpejam, masih tertancap pada layar yang menunjukkan percakapannya dengan Ata. Lelaki itu mengacak rambut kesal setelah membanting ponsel ke sisi tubuh. "Kenapa harus elo sih, Ta?" Senja meraih lagi ponselnya, lalu mengetikkan sesuatu di sana. Lantas ia kembali berbaring setelah mengirimkan pesan kepada seseorang. "Lembayung Senja ..., siapa lo, anjrit?" gumam Senja menatap langit-langit kamar yang gelap. Percakapan singkat tadi membuat Senja terus kepikiran akan ucapan Bayu. Lelaki yang memiliki nama serupa dengannya. Dan, Senja yakin ini semua bukanlah kebetulan biasa. Mungkin apa yang dikatakan Bayu adalah benar bahwa ada kisah di antara Bayu, Aya dan Ata. Membuang napas pendek lalu memejamkan mata erat. Senja ingin terlelap menenggelamkan sinarnya. Melupakan sejenak permasalahan hati dan hal yang tidak diketahuinya. *** Empat kursi telah diduduki oleh setiap pemiliknya. Tidak merubah posisi yang sejak dulu sudah ditata dengan apik. Beberapa menu sarapan ringan tersaji di atas meja. Nasi goreng, roti, s**u, dan kopi. Sangat sederhana, namun kesederhanaan yang begitu mewah ketika satu keluarga berkumpul di meja makan dengan tawa menikmati hidangan pagi. Aya yang baru kembali mengambil dua gelas s**u dari dapur mencium pipi mama setelah meletakkan minuman berwarna putih tersebut di atas meja. Wanita yang duduk menggunakan syal jingga di leher tersenyum menyentuh lengan putrinya. "Mama mau roti atau nasi?" tanya Aya. "Mama bisa sendiri, sayang. Kamu buruan makan, nanti telat masuk sekolah." Aya menggeleng lalu meraih roti tawar dan mengolesinya dengan mentega. "Nggak akan. Ini masih jam berapa sih, Ma. Lagian, Mama tuh lebih penting dari apa pun," sambungnya membuat wanita berwajah kalem itu tersenyum tipis. Ia mendekatkan segelas s**u di dekat Mama. Di seberang meja berhadapan dengan ayah, pria paruh baya itu tersenyum melihat Aya yang selalu antusias menyiapkan sarapan untuk mama. Ayah menyeruput kopi cokelat di cangkirnya. Selesai menyiapkan sarapan untuk mama. Aya duduk di kursinya, berhadapan dengan Bayu yang sibuk menghabiskan rotinya. Di sebelahnya kopi hitam masih mengepulkan asap. Bayu menyentuh cangkir kopinya, menghirup aromanya sebentar kemudian menyesapnya perlahan. Lantas seseorang hadir dengan tawa dalam bayangannya. "Gimana, Yu. Kamu udah siap Gantiin posisi Ayah di perusahaan, 'kan?" Bayu meletakkan cangkirnya melirik ayah sebentar lalu menatap mama yang tersneyum padanya. "Aku mau mulai dari bawah. Yang sesuai sama kemampuanku dulu." "Ayah udah tua, kamu mau nunggu berapa lama lagi? Kamu satu-satunya anak laki-laki di keluarga ini." "Kenapa harus tanya kalau akhirnya aku nggak punya pilihan lain?" ucapnya tersenyum tipis. Ia teguk lagi kopi hitam hingga tandas. Berdiri dari kursi dan meraih jaket yang tersampir di punggung kursi. "Buruan, Ay! Mas ada janji sama temen," serunya berlalu meninggalkan meja makan. Di meja makan, Aya buru-buru memasukkan suapan terkahir di piring nasi goreng. Ia menyambar tas sekolah lalu mencium tangan ayah dan mama bergantian. "Aya berangkat!" teriaknya berlari kecil mengejar Bayu. Di meja makan ayah tersenyum menatap mama yang tersenyum pula. Keduanya melanjutkan sesi sarapan berdua dengan manis seperti biasa. Ayah yang begitu mencintai mama, bahkan saat wanita cantik itu benar-benar berada dalam kerapuhan hidupnya yang ditemani kecemasan. Jantung lemah yang di derita mama Semakin kronis, mama membutuhkan donor, namun sampai saat ini belum menemukan yang tepat. Di teras Bayu membetulkan jaket yang ia kenakan. Lalu membantu Aya memasang helm, dan menepuknya pelan membuat Aya melayangkan tinjuan pada Bayu. "Mas Bayu mau ketemu siapa?" Lelaki itu menaiki motornya diiringi senyum yang ditujukan untuk Aya. "Yang jelas bukan ketemu setan," jawabnya bergurau. "Serius, ih!" "Ada, deh!" kekeh Bayu yang kini sudah menyalakan motor. "Yuk, nanti telat." Motor hitam melenggang pergi menjauh dari rumah. Aya mengeratkan pegangan pada pinggang Bayu karena udara yang cukup dingin pagi itu. Tidak ada gerimis juga awan mendung, namun sisa hujan semalam nyatanya masih meninggalkan jejak dingin yang menenangkan. "Nggak usah jemput." "Yaelah, cuma gara-gara kemarin nggak dijemput, ngambeknya sampai sekarang." balasnya menerima uluran helm. "Gue jemput, jangan pergi sama siapa pun. Ngerti?" "Nggak usah." tekan Ata membetulkan tatanan rambut di spion motor. "Gue ada janji sama temen." Senja tertawa menepuk lengan Ata cukup kencang. Gadis itu mengaduh lantas membalas perbuatan Senja padanya. "Temen? Temen yang mana? Ngaco, ah!" "Terserah lah." Ata mengakhiri. "Salam buat Bunda!" Seperti biasa Senja masih duduk di atas motor memastikan Ata memasuki pintu gerbang sekolah. Ata pun seperti biasa, tanpa menoleh ke belakang ia memasukkan tangan ke dalam saku jaket. Langkahnya santai melewati banyak siswa berseragam serupa namun menganggapnya berbeda. Ata terbiasa dengan hal semacam itu. Malah, ia sangat menyukainya. Menyukai untuk menjadi yang berbeda. Di depan gerbang sekolah, Senja tersenyum bahkan setelah punggung Ata lenyap dari koridor utama. Lelaki itu siap memutar kunci dan kembali ke kafe seperti biasanya. Tetapi, Bayu dengan sengaja menghentikan motor di depan Senja. "Pembicaraan kita kemarin belum kelar." Bayu tersenyum tipis di balik helem full face yang dikenakan. Sedangkan senja yang terlanjur kesal memukul spidometer menyalurkan emosinya. *** Sekali lagi Ata menekan flus handle. Ia keluar dari bilik kamar mandi. Merapikan seragam di depan cermin lalu mencuci tangan dengan sabun yang sudah di siapkan. Dengan santai ia berjalan meninggalkan toilet. Namun, seseorang dari belakang menyenggol lengannya kencang, membuat Ata hampir saja jatuh. Masih Ata perhatikan sekumpulan siswi yang baru saja melintas. Jumlahnya tiga orang, lengkap dengan wajah yang dirias layaknya badut ulang tahun. Seseorang berambut keriting gantung yang berdiri paling depan masih menatapnya bahkan sampai keluar dari kamar mandi. Ata pun melakukan hal yang sama, ia tidak akan berpaling lebih dulu sebelum orang yang memulainya pergi lebih dulu. Begitu cara mainnya. B e r s a m b u n g!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD