Senja yang Lama
Sajak-sajak yang berjejer rapi di setiap lembaran kertas berwarna cokelat kusam itu membawanya melayang ke negeri dongeng. Sesuai dengan setiap tulisan yang menceritakan keindahan, kadang kesedihan, kadang juga keharuan. Di perpustakaan sekolah Ata duduk di kursi paling ujung. Bersama beberapa buku yang tidak begitu tebal. Buku-buku milik Ws Rendra yang entah sejak kapan ia begitu kecanduan akan puisinya. Sajaknya ringan, namun artinya dalam. Keasikan Ata membaca puisi terhenti begitu ia teringat satu hal. Tasnya masih tertinggal di kelas sedangkan jam pulang sekolah sudah berlalu sejak tadi. Ata memilih untuk tinggal di sekolah dan pulang bersama siswa-siswa yang masih sibuk dengan ekstra kurikuler yang masih sibuk di sekolah.
Buru-buru ia kemasi buku-buku yang sudah menjadi pilihannya menemani sepi sesaat untuk di bawa pulang. Sialnya, Ata harus meninggalkan tiga buku keren yang sukses membuatnya terpana karena baris tulisan. Ata memilih sebuah buku yang belum sempat ia baca isinya, dalam cover tersebut tercetak judul yang menarik. Puisi abadi Sapardi. Matanya mengamati lapangan yang masih menyisakan beberapa siswa yang mengikuti ekstra pramuka. Di salah satu kelas ruang organisasi juga terlihat anak-anak osis yang berkerumun menyusun entah apa.
Dulu saat kecil, Ata pernah memimpikan ingin menjadi bagian dari mereka. Memiliki banyak teman dari perkumpulan yang membuatnya terlihat sebagai sosok pintar. Namun, entah mengapa semakin ia dewasa. Yang Ata inginkan hanya menikmati hidupnya dengan orang-orang yang mengenalnya saja. Tanpa orang-orang baru yang mungkin akan merusaknya lewat kenangan masa lalu.
Di lorong sepi, dekat toilet yang sudah lama tidak terpakai Ata melambatkan langkah. Telinganya menangkap suara ramai cekikik tawa. Alhasil ia memutuskan untuk menengok lebih dulu apa yang terjadi di lorong sepi tersebut. Di balik bilik yang sudah usang, Ata tersenyum melihat siapa yang ada di sana. Ia menyandarkan tubuh pada salah satu dinding, sementara tangannya merogoh ponsel dalam saku rok abu. Diam-diam meski geram Ata merekam tiga orang siswi yang melakukan aksi bullying pada seorang siswi berkaca mata.
"Makannya jadi orang jangan belagu! Sok-sokan mau ikut olimpiade, sadar diri dong!"
Suara lantang itu milik Vela. Siswi yang notabenenya anak pemilik yayasan, siswi kesayangan guru meski sering membuat onar. Kembali Vela menjambak rambut panjang Keke dangan kasar.
"Ini peringatan pertama dan terakhir buat kamu. Awas, aja, kalau aku lihat namamu jadi perwakilan sekolah buat olimpiade. Aku bisa ngelakuin lebih dari ini," Vela mengacungkan jari telunjuk tepat di depan wajah Keke.
Masih berjarak tiga senti kuku panjang menawan Vela hampir menyentuh ujung hidung Keke. Ata berdehem sambil sengaja memutar vidio yang ia anggap lucu. Volumenya sengaja ia keraskan supaya Vela dan dua anteknya tahu apa yang baru saja Ata lakukan.
Gadis cantik berambut ikal itu menatap Ata tidak suka. Sama dengan dua orang gadis yang memegangi Keke.
"Kok berhenti, sih? Lanjutin, aja."
Ata sengaja memainkan ponsel di tangannya. Dan, tentu saja Vela nggak bisa diam melihat Ata yang mulai mengusik dirinya. Dari dulu ia paling benci dengan Ata. Siswi yang tidak pernah dianggap di sekolah, sisi yang terkenal memiliki dampak buruk bagi siapa, pun, yang berdekatan dengannya. Tangan Vela sudah terangkat ke atas siap merampas ponsel di tangan Ata. Tetapi, nggak semudah yang ia bayangkan. Ata justru mengangkat ponselnya tinggi, membuat Vela yang berbodi semampai berjinjit untuk meraihnya.
"Sialan kamu! Ngapain, sih ikut campur? Hapus nggak?!" Teriaknya geram.
Senyum miring di bibir Ata makin merekah. "Jaminannya apa kalau vidio ini lenyap?" Ata kembali menunjukkan ponsel tepat di depan wajah Vela.
Sebab ia tahu, berurusan dengan gadis macam Vela bukan sesepele memberikan hal yang sama. Akan tetapi, selalu ada buntutnya. Tanpa sadar kesepuluh jari Vela terkepal sempurna. Kembali ia mencoba merebut ponsel Ata untuk melenyapkan hal yang bisa menghancurkan nama baiknya.
"Setinggi apa, pun, posisi kamu di sini. Inget, dunia ini luas. Selalu ada yang lebih tinggi dari kamu." tegas Ata menonyor jidat Vela dengan jari telunjuknya.
Gadis itu mengeram marah, siap melayangkan tanparan. Tapi, keburu ciut melihat Ata yang menatapnya datar.
"Aku nggak ada urusan sama kamu. Hapus vidio itu, dan nggak usah ikut campur. Ngerti?!"
"Oh, sorry! Nggak segampang itu, Vela. Masalahnya kamu udah berani nyentuh orang yang ada dalam teritoriku. Jadi, aku nggak bisa diam gitu, aja."
Untuk sesaat terjadilah adu pandang. Ata masih santai membiarkan mata berlapis softlens cokelat tua itu menatapnya tajam dengan kemarahan memuncak.
"Apa mau kamu?"
"Nah, gitu dong dari tadi!" senyum Ata kembali merekah mendengar pertanyaan Vela. "Suruh antek-antek kamu lepasin dia."
Tanpa melawan lagi, Vela melirik dua temannya yang hanya diam menatapnya.
"Denger nggak dia bilang apa?!"
Secara bersamaan kedua gadis itu melepaskan tangan Keke setelah mendapatkan bentakan dari Vela.
"Thanks. Sekarang kamu boleh pergi."
"Nggak sebelum kamu hapus vidionya!"
"Ini nggak akan jadi masalah selama kamu nggak bikin masalah sama orang-orang di sekitarku. Kamu cuma perlu jadi anak baik selayaknya anak pemilik yayasan." Ata berucap kalem. "Ngerti maksudku, 'kan?"
Vela masih diam tak berkutik. Matanya nyalang menatap Ata yang masih terlihat tenang.
"Sorry! Tapi, kali ini aku beneran harus ngancam kamu. Vidio ini bukan cuma akan kesebar di lingkungan sekolah, karena itu nggak akan berefek apa, pun, buat seorang Cavela. Mungkin lebih tepat kalau vidio ini ditonton sama Komnas Perlindungan Anak." Ata memasukkan ponsel ke dalam saku rok. Bersamaan dengan dua tangan yang ikut bersembunyi di sana.
Sementara Vela sudah semakin nggak karuan. Ia ingin marah, tapi melampiaskannya detik itu juga pada Ata bukan solusi. Apalagi ia tahu bahwa Ata memegang kartu as-nya.
"Ide bagus, 'kan?" bisik Ata tepat di telinga Vela.
Setelah selesai dengan pidato singkatnya Ata mendekati Keke yang diam mengelus pergelangan tangannya. Mungkin perih karena cengkeraman kedua antek Vela terlalu kelewatan. Sedangkan Vela sendiri sudah pergi dari sana bersama buntut-buntutnya.
"Pengecut!"
Gumaman itu dilontarkan Keke. Di sebelahnya Ata tersenyum berjalan mendampingi.
"Mau ke UKS? Masih ada orang kayaknya," Ata menawarkan.
"Nggak usah. Nggak apa, kok."
Gadis berambut pendek itu mengangguk paham. Ia mengikuti Keke yang berjalan menuju gerbang utama sekolah. Mungkin Keke akan pulang juga. Lihat saja tas dan beberapa buku paket sudah berada dalam gendongan serta pelukannya. Melihat hal itu Ata teringat akan tujuan awal. Namun, Ata tetap melanjutkan langkah tanpa ingin kembali ke kelas. Lagi pula ia yakin bahwa kelasnya pasti sudah dikunci oleh penjaga sekolah.
Dalam perjalanan melewati lapangan upacara hanya ada kebisuan di antara keduanya. Ata nggak menyukai pendatang baru dalam hidupnya, karena takut jika orang baru yang datang bisa saja mengungkit masa lalu kelamnya. Tetapi, Keke berbeda. Gadis pendiam itu hanya bermain lewat mata. Mengutarakan perasaan yang tidak tersampaikan lewat kata melalui pandangan mata. Yang membuat Ata tertarik untuk mengenal Keke lebih dekat adalah sepasang mata yang berbicara. Lewat mata, Keke seolah menarik Ata untuk lebih dekat dengannya. Padahal Ata sendiri adalah tipikal orang yang sulit berteman dengan sembarang orang.
"Aku belajar banyak hal," celetuk Keke memecah hening.
Keduanya berhenti di depan gerbang yang sudah sepi. Ata masih diam menunggu kelanjutan ucapan Keke yang masih berusaha menyusun kata-kata.
"Setiap hari aku selalu belajar. Banyak hal yang ngebosenin. Yah, kamu pasti paham, lah. Matematika, IPA, Biologi..., buatku nggak ada yang menarik, tapi aku harus ngelakuin itu."
"Kenapa gitu?"
"Karena aku harus. Seseorang ngasih aku harapan juga kematian di waktu yang bersamaan, Ata."
"Kalau itu nyakitin diri sendiri, kenapa dilanjutin? Lepasin, kamu berhak hidup sesuai keinginan kamu," balas Ata.
Matanya yang sayu menatap Ata sendu. "Tapi, baru sebentar aku kenal kamu, rasanya aku punya harapan baru. Jadi, aku minta ajari aku buat bahagia. Jangan tanya banyak hal tentang hidup aku." ucap Keke. "Setuju?" Ia mengangkat jari kelingking tepat di hadapan Ata.
"Nggak adil, sih. Tapi ..., oke!" Kelingking Ata menyambut kelingking Keke.
Ata tersenyum kecil menatap Keke yang menatapnya tanpa ekspresi. Di situ, dalam tatapan itu ada rahasia yang sedikit lagi ia ketahui.
"Curang!" cicit Ata.
"Satu lagi," ucap Keke.
Ata mengangguk pelan seraya menaikkan sebelah alisnya menatap Keke penuh tanya.
"Jangan tinggalin aku!"
Di situ juga, saat itu. Seseorang berdiri dengan sepasang tangan yang meremas rok abu erat. Sampai menampakkan buku jarinya yang memutih. Setitik air mata jatuh membentuk sungai kecil pada kedua pipinya. Dia Cahaya Bulan yang malang.
B e r s a m b u n g!