14

1417 Words
Ia pernah berkata padaku. Tentang indahnya awan di langit biru. Di sebuah padang rumput luas yang dipenuhi ribuan bunga yang mekar. Ia pernah berjanji padaku. Untuk berlari bersama di tengah hujan. Pergi bersama kala hujan reda. Saling menguatkan untuk mendengar elegi esok pagi. Juga berdiri di bibir dermaga menyaksikan indahnya lembayung senja. Ketika semburat jingga menghiasi angkasa. Saat matahari akan kembali ke singgasana. Tenggelam membiarkan gelap datang mengirimkan kesunyian. Lambat laun kusadari bahwa semua hanya delusi. Mempertahankan harapan yang entah tergenggam bersama atau sendirian. Yang mungkin kini tidak kamu sadari. Aku masih menanti seorang diri. - Matahari - Secarik nota yang penuh coretan tinta itu ia tempelkan pada dinding. Persis bersebelahan dengan secarik nota yang ia temukan di kafe lusa, tepat di bawah tempat tisu. Tulisan itu mati, tetap saja benda mati yang tidak akan pernah berlari bersamanya. Namun, dalam setiap tulisan yang Ata ciptakan adalah hal-hal yang mengisi tempurung kepalanya. Seseorang yang selalu berbisik di dalam kepala, bayangan yang ada, namun tidak sepenuhnya ia yakini semua itu adalah nyata. Ata melirik gitar berukuran sedang yang teronggok di ujung kamar. Di sudut kamar rapi tak tersentuh tangan. Napasnya berat, mengingat segelintir kenangan yang melintas secara bersamaan dengan menorehkan katana. Mendadak Ata merasa melayang, lalu jatuh di sebuah padang rumput dengan sinar matahari yang cerah. Burung-burung bercicit ceriwis di setiap dahan pohon yang rindang. Seperti berada di sebuah hutan, namun rumput yang ia pijaki begitu bersih. Ia terbang ke negeri dongeng, menemukan seorang anak perempuan yang menggenggam pita jingga di tangan kiri. Anak kecil itu mendadak menggandeng tangan Ata agar berlari mengikutinya. Langkah-langkah kaki kecil itu cepat dan riang. Di setiap sudut yang Ata lihat adalah kebahagiaan, di sana pula Ata mendengar gelegak tawa anak kecil yang saling bersahutan. Hingga langkahnya berhenti ketika anak kecil itu berhenti tepat di depan hamparan bunga dandelion yang bermekaran. Angin bertiup semilir sejuk, menggoyangkan tangkai juga kelopak bunga seirama tanpa menggugurkan kerapuhan dandelion. Bunga-bunga itu bergerak tenang, menciptakan seluas lekukan senyum indah di bibir Ata. Ia menoleh, mencari-cari keberadaan anak kecil yang membawanya ke sana, tetapi tidak ditemuinya di mana pun. Di tengah kebingungan yang mendera, kedua bahunya di tepuk pelan. Ata menoleh ke kanan, ia mendapati mama yang tersenyum seperti biasa. Lantas menoleh ke kiri, ia mendapati ayah yang juga tersenyum padanya. Mendadak elegi itu berputar lagi memenuhi pendengarannya. Diiringi tawa anak kecil yang bersahutan, mendadak ayah hilang bersama asap putih yang terbang ke angkasa. Satu kakinya melangkah mundur ke belakang saat mama bersimpuh menangis tertahan. Alunan biola menyayat itu terus terputar di telinga Ata. Iringan suara tawa anak kecil dan tangis mama turut membuat kepalanya berputar hebat. Langkah Ata semakin tidak terkendali mundur ke belakang. Hingga kakinya tersandung sesuatu yang membuatnya jatuh terbentang di hamparan bunga dandelion. Saat itu angin bertiup kencang, menerbangkan kelopak dandelion yang terlepas dari tangkai karena tindihan Ata. Elegi, tawa anak kecil, tangis mama, senyum ayah, kepulan asap putih, kelopak dandelion yang beterbangan serta hembusan angin yang datang secara bersamaan itu membawa Ata ke dalam lubang hitam tak berujung. Gadis itu memejamkan matanya erat, kedua tangannya menutup telinga rapat-rapat, berharap semuanya segera usai. Ata tersengal, napasnya sesak. Entah bagaimana kini tubuhnya tergeletak di atas kasur. Perlahan sambil memegangi d**a, ia beranjak dari kasur membuka laci nakas mencari sesuatu. Sebuah tabung kecil berisi beberapa pil kecil berwarna putih. Dua butir pil telah berada di tangan Ata, ia telan dua butir pil tersebut dengan bantuan satu gelas air yang selalu tersedia di dalam kamarnya. Ata memejamkan mata, menekan dadanya yang terasa sakit. Dalam hati juga lisannya ia menghitung mundur dari sepuluh. "Delapan ..." Kabut putih itu perlahan mendominasi gelap secara samar. "Enam." Elegi serta suara-suara dalam kepalanya lenyap meninggalkan dengung panjang. "Empat," bisiknya tersengal. Sesak di dadanya perlahan hilang secara berangsur. "Dua." Semuanya kembali normal dalam kekaburan. Di depannya sudah terlihat bahwa semuanya nyata, namun masih buram. "Satu ...." Kelopak mata Ata terbuka perlahan. Tumpukan buku, dinding yang penuh dengan tempelan kertas, serta bingkai foto menyapa pandangan pertamanya. Bingkai foto berukuran kecil yang menampakkan seorang anak lelaki yang mengikatkan pita jingga di tangan kanannya. Ata meremas kalung berbandul cincin yang menggantung di lehernya. Meminta kekuatan pada seseorang yang pernah memberikan kalung tersebut padanya. Tidak ada tangis, karena memang tidak ada lagi yang harus ditangisi. Semuanya telah terjadi, tidak ada pilihan lain selain menjalaninya dengan keberanian. Meski sejujurnya ia tidak pernah merasa takut, namun ilusi itu selalu datang membawanya melayang. Lantas menjatuhkannya secara tiba-tiba ke dasar jurang. Setelah sekian lama Ata baik-baik saja. Hal itu terjadi lagi hari itu. Ata seolah lupa bagaimana caranya bernapas dengan baik. Hari setelah ia berbicara dengan Aya. Ata berharap ini adalah untuk yang terakhir ia pergi ke dunia antah berantah. Ia tidak keberatan jika tertinggal di sana tanpa kembali lagi, yang menyakitkan justru ketika ia pergi ke dunia khayalan namun kembali di hempaskan ke dunia nyata yang menelannya dalam ketidak yakinan. "Kamu nggak datang, Bayu!" Ata berbisik lirih. Seseorang yang ia rindukan tidak datang. Namun hati berkelit untuk tidak peduli. Nalurinya terlalu kuat untuk mengelak bahwa seseorang yang ia rindukan kini berada di sekitar. Ata mengadah, menatap pintu yang diketuk perlahan. Suara panggilan dari seorang wanita membuatnya mengeram. Ia tahu siapa yang datang, tahu juga siapa yang membuatnya datang dengan kecemasan. Perlahan tangannya berpegangan pada pinggiran tempat tidur untuk berdiri. Meski menggigil kedinginan namun sisa-sisa keringat masih jelas di dahi. Tangan Ata berhasil meraih knop pintu. Ia berdiri sebentar di sana untuk mengambil napas sebanyak mungkin. Lalu membuka pintu menampakkan seorang wanita yang menyambutnya dengan tatapan cemas. Senja yang berdiri di belakang bunda melipat tangan di depan d**a. Wajah jenaka itu tidak lagi menghiasi, hanya raut kecemasan yang ada. "Ember banget, sih jadi orang," ucap Ata datar. Senja mencebikkan bibir kini dua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket parasut. Bunda menyentuh pipi Ata cemas, namun gadis itu masih tersenyum menggenggam tangan bunda yang berada di pipinya. "Aku nggak apa-apa, Nda." "Kamu pucat, Ata." "Cuma kedinginan nanti juga ilang," Ata melepaskan tangan bunda dan melangkah melewati wanita tersebut. "Aku bikin teh anget dulu buat Bunda." Melihat Ata yang sekarang, wanita paruh baya itu seperti kembali ke masa silam. Di mana ia menemukan Ata yang duduk menangis di pusara mamanya. Sorot mata Ata, bunda masih mengingatnya dengan jelas. Betapa takutnya seorang anak kecil yang menangis di tanah pemakaman seorang diri. "Ata!" Jeritan bunda menggerakkan Senja dengan sigap. Sebelum sempat tubuh Ata meluruh menyentuh dinginnya lantai, Senja berhasil menangkapnya. Lelaki itu mengumpat dalam hati sebanyak mungkin. Ia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya membuat Ata sampai sejatuh ini. *** Apa yang membuat kita begitu berbeda? Hal yang membuatmu enggan untuk datang bersamaku lagi. Mungkinkah karena kamu adalah Matahari yang menyinari bumi dengan kehangatannya. Sementara aku hanyalah Bulan yang menyinari gelapnya Bumi di malam hari. Jika memang begitu alasannya. Aku mengerti, mungkin kita tidak bisa bersama lagi. Setidaknya bisakah kita memiliki ikatan yang baik tanpa harus dipersatukan? Matahari dan Bulan, mereka menjalin hubungan yang baik untuk saling melengkapi. Meski perbedaan jelas terlihat di antara dua benda langit itu, mereka tidak pernah bermusuhan karena tujuan mereka adalah sama. Sama-sama memberikan cahaya. Untuk hati yang dingin. Untuk jiwa yang tersesat dalam kegelapan. - Cahaya Bulan - Sepasang mata cokelat yang ia sendiri tidak tahu diturunkan oleh siapa. Sepasang mata cokelat yang kini basah berderai air mata. Buku harian bersampul merah jambu dengan gambar angkasa itu ia dekap erat. Ucapan demi ucapan yang dituturkan Ata secara gamblang pagi tadi membuatnya benar-benar tersakiti. Aya berharap bahwa apa yang Ata ucapkan tadi hanyalah perkara kemarahan sementara. Dan apa yang Ata katakan tadi? Membuang harapannya untuk memiliki keluarga yang utuh lagi? Menganggapnya orang asing? Aya pikir Ata sedang tidak sadar saat mengucapkan kalimat tadi. Bagaimana bisa hubungan darah bisa diputuskan secara demikian? Ketukan pintu menggebu tidak membuat Aya bergerak mendekat untuk membukanya. Ia tahu siapa di sana, dan ia tidak ingin membuatnya terluka. Mama dan ayah pasti mencemaskannya karena mengetahui kepulangannya berderai air mata. Aya meletakkan buku dalam dekapannya di atas kasur. Gadis itu mendekati cermin rias di depannya hingga memantulkan bayangan dirinya dengan jelas di sana. Tepat di dalam iris cokelat yang serupa dengan Ata, Aya menyentuh bayangan itu seolah Ata lah yang kini ia sentuh tanpa berteriak. "Kenapa, Ta? Kenapa kamu benci sama aku? Kenapa?" ucapnya lirih. Aya tidak memedulikan ketukan pintu serta suara ayah yang cemas memanggil namanya. Saat ini saja Aya memohon untuk sendiri. Hatinya butuh ketenangan, tanpa ada sepatah kata yang bertanya kenapa ia seperti ini. Aya butuh sebuah pengertian bisu. B e r s a m b u n g!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD