Cahaya Matahari Senja
Senja masih berusaha mengimbangi langkah cepat Ata. Ia tidak benar-benar tahu apa yang terjadi, namun ia mengerti ada hal besar yang bersifat melukai gadis berambut pendek itu. Langkah Ata masih panjang-panjang. Hampir dua puluh kali sudah ia berlari memutari lapangan bola yang luas. Derasnya air hujan tidak lagi dihiraukan, ia bahkan tidak mengenakan lagi jaket parasutnya. Gelegar petir tidak membuat Ata berhenti berlari, justru langkahnya semakin kencang tanpa ingin berhenti. Senja masih terus mengikuti dengan cemas, ia tahu menghentikan Ata di saat seperti ini sangat tidak berarti. Meski tertatih-tatih Senja berusaha mengikuti langkah cepat Ata yang sesekali membentaknya untuk tetap berlari.
Pasalnya bayangan yang hadir itu semakin jelas terlihat nyata. Tidak ada penyesalan dalam hati Ata, namun ketakutan itu menelannya sendirian. Percakapan berdarah yang sempat terjadi antara dirinya dengan Aya, benar-benar telah mengoyak seluruh sisa-sisa pertahanannya. Tanpa ada yang tahu, di bawah derasnya siraman air hujan itu Ata sesenggukan.
Kali ini petir menggelegar keras menampakkan kilatnya bak cambuk malaikat. Saat itu juga lutut Ata terasa tidak mampu lagi menopang berat badannya. Gadis itu bersimpuh di atas rerumputan. Kedua tangan meremas kuat rumput hijau yang basah karena air mata yang bercampur dengan hujan. Ata tertunduk dalam diam, tangisnya tidak lagi bersuara hanya air mata yang terus datang menjadi saksi bahwa luka yang dirasakan begitu nyata.
"Ata!" teriak Senja berlari cepat menghampirinya.
Lelaki itu menyentuh kedua bahu Ata penuh kekhawatiran.
"Udah cukup, Ta. Ayo pulang!"
Ata menggeleng, mengenyahkan tangan Senja yang berada di kedua bahunya secara paksa. Tetapi, lelaki itu menahannya kuat. Justru semakin mengeratkan cengkeraman pada bahu Ata. Hingga keduanya saling melempar pandangan dalam deras air hujan. Senja tahu Ata tidak baik-baik saja.
"Pergi sana, aku lagi pengen sendiri!" pinta Ata setengah membentak.
Senja tak beranjak. Yang diucapkan Ata adalah kebalikan dari apa yang sedang ia butuhkan. Bentakan itu semata-mata hanya untuk membuatnya terlihat tangguh.
"Kamu yang ngajak balap lari, hujan-hujanan kayak gini. Terus aku disuruh balik gitu aja? Nggak!" tolak Senja.
"Kalau gitu aku yang pergi."
Berdiri untuk melangkah pergi, namun pergelangan tangannya dicekal kuat oleh Senja membuatnya tidak dapat berkutik lagi.
"Bisma Yang Agung, aja bisa nangis di tengah medan peperangan, Ta." ucap Senja lembut. "Cuma karena kamu nangis, itu nggak bikin kamu kelihatan lemah. Karena kamu juga manusia biasa."
Ata terhenyak oleh ucapan Senja. Bisma Yang Agung, seseorang yang begitu tegas dan berwibawa. Setiap ucapannya adalah sumpah yang harus ia tanggung meski berat. Seseorang yang sejujurnya tidak ingin terjadinya peperangan, namun tetap melakukannya karena terikat sumpahnya sendiri. Pada akhirnya, Bisma tetap saja menangis pada saat-saat terakhirnya. Saat ratusan anak panah Arjuna melesat secepat kilat mengenai tubuhnya.
Lelaki itu mengulas satu senyum tipis di wajah yang basah diguyur hujan. Setetes demi setetes air mata yang turun kian deras membasahi pipi dibiaskan oleh air hujan.
Tanpa aba-aba Ata terjatuh lagi, melipat kedua lutut di atas rerumputan hijau. Kedua tangan yang meremas rumput itu adalah luapan emosi yang sulit untuk ia kendalikan. Nafsu yang membuatnya ingin berteriak kencang juga menghancurkan sesuatu.
"Nggak apa-apa. Nangis yang kenceng, Ta. Lepasin semuanya!"
"Aku di sini sama kamu, jangan takut."
Ditepuk pelan bahu Ata menyalurkan ketenangan untuk gadis yang terluka tanpa ia tahu sebabnya. Sejujurnya Senja tidak pernah tahu permasalahan yang dihadapi oleh Ata, ia hanya berusaha untuk selalu ada saat seseorang membutuhkannya terlebih untuk Ata. Seseorang yang bertetiak ingin sendiri, namun kenyataanya adalah sebaliknya. Ia membutuhkan seseorang untuk menemani.
***
"Kenapa kamu benci aku?"
"Aku nggak benci siapa pun, tapi bukan berarti aku suka sama kamu. Aku nggak dendam, tapi aku nggak bisa lupain semuanya gitu aja," ucap Ata tenang.
Kini giliran Aya yang tersenyum mengejek.
"Nggak bisa lupain?" Aya mengulang.
Keduanya bersipandang dalam bisu. Aya mengernyitkan dahi menatap kembarannya heran.
"Kamu bukan nggak bisa lupain, tapi kamu justru ngelupain semuanya Ata. Semua orang-orang yang sayang sama kamu."
Sepasang mata Ata memicing. Menatap saudara kembarnya yang hampir selama sepuluh tahun dijadikan asing oleh dirinya sendiri.
"Terserah, aku nggak peduli sama apa yang kamu pikirin," balas Ata melengos.
"Kenapa?"
Ata mendengus jengah. Ia tidak tahu bahwa kembarannya itu adalah gadis dungu.
"Udah aku jawab pertanyaanmu, sekarang giliran kamu untuk cari tahu kenapa aku kayak gini," Ata berucap datar. "Aku nggak tahu kalau ternyata kamu telmi banget."
"Maksud kamu apa sih, Ta. Aku nggak ngerti."
Jelas kamu nggak ngerti, karena kamu nggak pernah ada saat aku sendirian. Saat Ayah pukul mama!
Gadis di depannya itu misterius. Ata sangat abu-abu di mata Aya. Dari mata Ata, Aya juga tidak sanggup menemukan celah kecil untuk masuk lebih dalam dan membaca apa yang Ata rasakan.
"Kamu peduli, Ta. Kamu masih peduli sama Aku, sama Ayah. Kamu masih peduli sama keluarga kita, 'kan? Terus kenapa kamu begini? Aku pengen kita kumpul di Rumah lagi, sama-sama lagi, bahagia kayak dulu, seperti keluarga yang utuh!"
Ata hampir aja tergelak kencang jika ia tidak menahan bibirnya untuk tetap terkatup rapat. Hanya dengusan tawa kecil yang terdengar, gadis itu memainkan tusuk gigi di tangannya setelah mendengarkan ucapan Aya.
"Omong kosong apa lagi, sih?" tanya Ata menatap Aya. "Kamu bilang apa? Keluarga kita?" ulang Ata lagi-lagi mendengus. "Kita yang mana?"
Aya dibuat bingung dengan tingkah serta ucapan Ata. Namun, Aya masih memerhatikan apa yang kini tengah ata lakukan.
"Ini keluarga."
Ata mengangkat tusuk gigi di tangannya tepat di depan wajah Aya. Lalu mematahkannya dengan mudah menjadi dua bagian saat itu juga.
"Ini, Kamu sama Ayah," jelasnya meletakkan satu bagian tusuk gigi di depan Aya.
Satu bagian lagi yang ada padanya ia patahkan pula, lalu ia buang bagian ujung runcingnya. Kini tinggal satu bagian kecil berujung tumpul dikedua bagian tersebut. Lantas Ata mengangkatnya tepat di depan wajahnya sendiri.
"Ini aku, jangan tanya siapa yang barusan patah," jelas Ata dengan nada sarkas.
Aya mengerutkan dahi bingung. Ia mengerti siapa yang dimaksud Ata, namun ia tidak mengerti apa maksud Ata.
"Aku udah mati, Aya!"
Keduanya saling berpandangan lagi. Mengaburkan sekeliling dan mengunci sepasang iris yang sama itu tanpa berkedip. Seolah seluruh objek di belakang mereka terlempar jauh di alam lain. Hingga salah satu dari dua pasang mata itu mulai berkabut.
Aya mengedip membiarkan setetes air matanya jatuh seperti derai air hujan. Ini rumit, teramat sangat rumit untuk dimengerti seorang diri. Ia bertanya, meskipun Ata menjawab namun kenyataannya Aya masih tidak sanggup menyimpulkan apa pun.
"Pulang Ta. Mama pengen ketemu sama kamu," ucap Aya menyentuh tangan Ata yang berada di atas meja.
Menyadari hal itu Ata menarik paksa tangannya hingga terlepas dari genggaman Aya. "Nggak bisa."
"Kenapa nggak bisa? Jawab pertanyaanku."
Ata mengeram dalam hati, ia tatap Aya dengan lirikan tajam. Tidak tahukah Aya, bahwa ia menahan gejolak amarah dalam dirinya sendiri. Menahan kemarahan agar tidak mencuat keluar detik itu juga? Sayangnya Aya justru menantang, gadis itu terus menekan Ata untuk mengatakan alasan yang tidak sepenuhnya Aya mengerti.
"Jawab aku Ta!" pinta Aya menekan.
"Kamu minta aku pulang? Satu atap sama wanita yang udah bikin Ayah ninggalin Mama? Satu atap sama Ayah yang nggak pernah mau ngelihat kalau aku itu juga anaknya? Itu mau kamu? Iya, Cahaya?!" Ata berucap penuh penekanan.
Dalam ketenangan itu tersimpan ribuan belati yang siap menghunus hingga mati. Aya diam, namun sepasang matanya masih menantang untuk penjelasan yang sepenuhnya.
"Aku nggak gila. Aku lebih baik tidur sendirian dari pada harus satu atap sama kalian. Sama orang-orang yang udah bikin Mama meninggal! Aku nggak mungkin balik ke Rumah itu, Aya! Kamu tau kenapa?" tanya Ata mengadu rahang. "Karena aku bukan Ata yang dulu." sambungnya.
Aya menggeleng tak mengerti dengan ucapan kembarannya itu. "Maksud kamu apa sih Ta? Wanita mana yang kamu maksud? Siapa yang meninggal? Ayah masih setia nemenin Mama yang sekarat pengen ketemu kamu."
Mendengar penuturan Aya barusan. Membuat Ata terdiam bodoh. Setengah tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Aya. Apa mungkin Aya tidak pernah tahu bahwa mama yang melahirkan mereka berdua sudah sejak lama meninggalkan dunia? Lantas, Ayah juga tidak pernah menceritakan kisah yang sebenarnya pada Aya? Satu kenyataan yang membuat Ata benar-benar serasa di hantam gada tepat di kepala.
"Aku peduli sama kamu. Kita semua pengen kamu kembali ke sana Ta. Pengen kita kumpul kayak dulu lagi," balas Aya menangis.
"Lupain, Ya. Kita sama-sama udah dewasa. Buang harapan kamu tentang keluarga yang utuh. Anggap aja aku udah mati, kalau pun kamu ngelihat aku atau saat aku bantuin kamu anggap aja aku arwah yang gentayangan. Atau ... Seseorang yang nggak pernah kamu kenal." ujar Ata mencoba tenang. "Lagian, apa Ayah pernah peduli sama aku?" tanya Ata masih terlihat tenang.
Meski di dalam hati mati-matian ia berdoa agar ketakutan yang selama ini menghantui hanya sebatas pemikirannya sendiri. Namun, Aya membisu. Membuat Ata mau tidak mau menelan bulat-bulat kenyataan yang ditakutkan olehnya.
"Enggak pernah, 'kan?"
Aya menggeleng perlahan. Ia menolak mengikuti apa yang Ata ucapkan. Ata melemparkan jaket parasut yang ia kenakan. Jaket tersebut jatuh tepat di pangkuan Aya membuat gadis itu semakin terisak.
"Pulang. Jangan pernah ke sini lagi," ucap Ata mengakhiri.
Ata beranjak dari kursi. Hendak meninggalkan Aya untuk mencari pelarian demi melepaskan sesak yang melukai dadanya.
"Sampai kapan pun, kamu nggak akan bisa menghapus hubungan darah di antara kita, Matahari."
Lirih ucapan Aya itu terdengar jelas membuat kemarahan Ata semakin berada pada puncaknya. Akan tetapi sama sekali tidak menghentikan langkahnya. Ata menuruni satu persatu anak tangga dengan tangan terkepal sempurna. Di ujung tangga Senja yang melipat tangan di depan d**a berjalan menghampiri Ata. Belum sempat lelaki itu bertanya atau mengucap sepatah kata. Ata telah lebih dulu berbicara.
"Ikut aku!"
B e r s a m b u n g!