11

1632 Words
Matahari dan Bulan Di bibir dermaga dua bocah kecil mengharapkan datangnya hujan dari sebuah awan mendung yang menyembunyikan cahaya matahari. Bocah lelaki berusia dua belas tahun itu mengikatkan sebuah pita jingga di tangan kanan teman perempuannya. Ia seorang bocah perempuan berusia tujuh tahun. Belum mengerti apa itu cinta, tapi mengerti di mana dan siapa saja yang membuatnya merasa nyaman juga aman. "Buat apa? Bukannya pita harusnya dipasang di kepala?" tanyanya menatap temannya itu polos. "Nanti, ya. Kalau kamu udah gede." balasnya tersenyum. "Kenapa nggak sekarang, aja? Biar aku jadi cantik kayak Aya. Kalau aku cantik, Ayah pasti sayang sama aku," ucapnya. Lembayung Senja bungkam. Menatap sedih pada wajah polos di depannya. "Nggak perlu kayak Aya, Ata udah cantik, kok." "Tapi, Ayah nggak pernah mau main sama aku, apa Ayah nggak sayang sama aku?" tanyanya murung. Penjepit rambut berwarna merah muda berbentuk bunga mawar mekar menghiasi rambut panjangnya. Ia matahari kecil, Cahaya Matahari kecil yang kehilangan kekuatannya untuk kembali bersinar. "Cerai itu apa?" "Kenapa kamu tanya itu?" "Apa cerai itu hal yang menyakitkan?" "Dari mana kamu dengar kata itu?" "Kenapa kamu nggak jawab pertanyaanku?" Gadis belia yang belum tau menahu banyak hal itu menatap temannya dengan penuh harapan. Mama tidak menjelaskan apa pun saat ia bertanya. Hanya tangis dan kecupan dahi yang ia terima berkali-kali. Ata ingin tahu, ingin Senja di depannya menjelaskan apa itu cerai. Sebuah kata yang asing di telinganya. Sebuah kata yang diucapkan ayah sampai membuat mamanya menangis. "Kenapa semua orang diam waktu aku tanyain kata itu?" ucap Ata menangis. "Kamu bukan temanku lagi," imbuh Ata. Gadis kecil itu berdiri di depan Senja yang bungkam. Ia melepaskan pita jingga di tangan kanannya lalu menyerahkannya pada Senja. Meletakkan pita tersebut di pangkuan senja sebelum sempat berlari sambil menangis memanggil mama. Buru-buru Senja mengejar temannya. Tepat saat itu juga hujan datang. Kuyup pakaian karena siraman air mata langit itu menggigilkan tubuh kedua bocah yang masih berlarian di sekitar dermaga. Matahari sudah hilang di balik kelokan, langkah Senja semakin lebar untuk mengejar akan tetapi tangan mama menghentikan. Sentuhan lembut di lengan kiri itu membuat Senja berhenti untuk mengejar. Terpaksa ia berbalik arah tujuan. Bukan mengejar mataharinya lagi, namun untuk pulang bersama mama yang melindunginya dari derasnya air hujan. Semuanya mendadak gelap. Tetapi suara tangis Ata terdengar makin jelas. Ekspresi takut itu terus menghantui Bayu, bahkan saat lelaki itu berjengit dari atas kasur. Keringat dingin membasahi dahi dan pelipisnya. Kini Bayu tidak lagi terlelap, namun memilih untuk duduk menatap langit malam. Bintang-bintang masih tampak indah, tapi tetap saja satu bintang raksasa masih menghantui dirinya. Bayu mengeram pelan, meremas rambut hitamnya untuk mengusir bayangan yang menyakitinya. *** Surabaya diguyur hujan sejak subuh tadi. Jalanan yang biasanya ramai di hari Minggu terlihat lenggang. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang memeluk diri sambil memegang payung. Rintik gerimis tipis itu bagaikan air mata dewa yang sedang murka. Meski hanya setitik kecil, namun dinginnya menusuk tulang. Sejak tadi Ata berdiri di dekat tiang lampu jalan yang dicat warna hitam. Pandangannya terbagi pada dua orang yang berbeda, yang posisinya tidak jauh darinya. Jaket parasut hitam melekat di tubuhnya, tudung jaket yang ia kenakan sampai menutupi sebagian wajah. Mata cokelat muda itu semakin terlihat tajam di bawah alis tebal yang indah. Kini fokus Ata tertuju pada seorang pria paruh baya yang membawa paper bag, pria itu sedang memilih bunga di sebuah kios bunga yang letaknya di pinggir trotoar. Pria setengah tua itu tampak senang mengamati macam-macam bunga yang dipajang untuk dijual. Sesekali ia berbincang dengan nenek berkebaya jadul untuk bertanya. Fokus pandangan Ata terbagi lagi dengan seorang gadis kecil yang mungkin masih berusia sepuluh tahun membawa koran di dekat kios bunga. Bajunya compang-camping, dekil, dan matanya sayu. Ata yakin gadis kecil itu adalah salah satu dari banyaknya gelandangan di kota besar. Saat itu juga mata Ata menangkap pelototan tajam dari lelaki botak berwajah sangar yang berdiri di sebrang jalan tepat di depan gadis kecil itu. Langkah Ata cepat menghampiri pria setengah tua yang menyadari bahwa gadis kecil di sebelah kios itu merampas paper bag dari tangannya. Sebelum sempat pria itu menyentuh gadis kecil, Ata sudah lebih dulu meraih lengannya dan menyembunyikan gadis itu di balik tubuh. Pria paruh baya itu menatap Ata yang menunduk tanpa ingin menunjukkan wajah. Pelan, Ata meraih paper bag yang digenggam erat oleh si gadis kecil. Awalnya gadis itu menolak untuk memberikan, namun kemudian ia menyerahkannya pada Ata setelah melihat segaris senyum bersahabat. "Masih kecil udah berani nyopet. Besar nanti mau jadi apa kamu?" ucap pria paruh baya itu berteriak. Ata masih menunduk seolah meminta maaf, namun sebenarnya tidak. Ia menyerahkan paper bag yang entah isinya apa pada pemiliknya. Pria itu tidak segera menerima barang yang diserahkan Ata. Hingga kemudian Ata memberikannya secara paksa dengan menekan paper bag tersebut dengan pelan di d**a pria paruh baya itu. "Kamu siapa lagi? Jangan ikut campur, dia salah harus dikasih pelajaran biar nggak keterusan!" bentak pria tersebut. Namun, Ata justru sibuk mengamati lelaki botak yang mendekati pria paruh baya tersebut dari belakang. Gerakan Ata secepat kilat menendang lutut belakang lelaki botak berwajah sangar yang mengambil dompet pria paruh baya itu saat sedang memaki dirinya. Sejak awal Ata tau, gadis kecil itu hanyalah umpan untuk mendapatkan seekor hiu. Sebuah kepalan tangan terarah pada perut, tetapi masih bisa dihindari. Gadis kecil, nenek penjual bunga dan pria paruh baya itu menyaksikan pergulatan Ata dan juga lelaki botak dengan ekspresi kaget. Telak satu tendangan melayang atas mengenai kepala botak dan membuat lelaki itu tersungkur ke jalan. Dengan napas memburu Ata merampas dompet dari saku celana jins kumal lelaki itu dan menyerahkannya pada pria paruh baya yang terkesima dengan apa yang baru saja dilihatnya. "Lain kali anda harus lebih berhati-hati," pesan Ata meletakkan dompet tersebut di tangan kanan pria itu. "Ka..., kamu?" Meninggalkan ketercengangan pria paruh baya tersebut, Ata meraih lengan gadis kecil yang ketakutan melihatnya. Niat Ata untuk membawanya pergi dari sana tertahan karena gadis kecil itu justru menangis tidak mau melangkah bak sejengkal. "Kamu bisa sakit kalau keras kepala buat berdiri di sini terus," ucap Ata berjongkok di depan gadis kecil. "Ayo ikut aku, nanti kubelikan s**u cokelat yang enak," sambungnya tersenyum. Gadis kecil itu luluh karena ucapan lembut Ata. Ia berjalan mengikuti Ata yang masih menggandeng tangannya erat. Rasa takutnya hilang, ketika sebuah senyum diberikan. Rasa takutnya lenyap saat tangan hangat bersedia menggenggam tangannya. Di balik tudung jaket hitam, mata cokelat yang menyusuri jalanan itu dihiasi setitik air mata. Pria paruh baya yang ia tolong barusan adalah ayahnya. Ayahnya dulu, sekarang..., entahlah. Ata bahkan tetap tidak mengerti setelah berkali-kali berusaha untuk memahami. Bahkan lelaki itu, mungkin tidak mengenali Ata. *** Sebuah lagu dari band indie jenis pop jaz menyapa indera pendengaran Ata juga gadis kecil yang kini sudah berada di dalam kafe. Musik itu terdengar di seantero kafe, Ata melemparkan senyum pada gadis kecil yang tidak ia ketahui namanya itu lalu kembali menggandengnya untuk mencari tempat duduk. Seperti biasa tempat favorit Ata adalah sebuah meja di dekat jendela. Dengan begitu ia bisa melihat titik-titik air hujan yang mengenai jendela kaca. "Ma, s**u cokelat anget dong, satu!" ucap Ata melambaikan tangan pada Rahma. Gadis berkucir kuda itu mengangguk lantas bergerak cepat untuk membuatkan pesanan bosnya. Sementara itu lima karyawan yang pagi itu sudah berada di kafe menatap Ata serta gadis kumal dengan heran. "s**u cokelat hangatnya, Kak. Selamat menikmati," ucap Rahma sopan meletakkan sebuah mug putih besar berisikan s**u cokelat. "Ada lagi, Kak?" "Tolong bawain makanan dong, apa aja." "Oke siap, Kak." Hening tercipta Ata sibuk memerhatikan gadis kecil tersebut sambil berkelana ke masa lalu. Tatapan memelas itu membuatnya teringat akan dirinya dulu yang begitu menyedihkan. "Diminum gih, jangan dilihatin aja." ucap Ata. "Aku nggak akan gigit kamu, kok!" sambung Ata tersenyum manis. Dengan gerakan malu-malu gadis kecil itu menyentuh mug tersebut. Menciptakan senyum tipis di bibir Ata. Ia tidak akan bertanya mengapa anak itu berani melakukan hal seperti tadi. Padahal jelas sangat membahayakan diri. Karena Ata mengerti, gadis kecil itu melakukannya hanya karena ingin semua baik-baik saja. Meski tidak mendapatkan upah, setidaknya ia tidak menerima satu pukulan yang menyakitkan. Tak lama kemudian Rahma datang membawa nampan berisi chese cake juga singkong mentega. Dua makanan favorit Ata. "Makasih ya, Ma." Gadis itu mengangguk lalu beranjak setelah permisi. Ata mendorong dua jenis makanan yang berbeda itu hingga berada di dekat anak kecil di depannya. Memperintahkannya untuk makan lalu ia sendiri kembali sibuk dengan segudang pikiran yang menikam. "Di habisin, abis itu aku anterin kamu pulang." Tanpa sengaja sepasang mata cokelat muda milik Ata menangkap seseorang yang berdiri di sebrang jalan bersama wanita paruh baya. Orang yang menatapnya tanpa ekspresi, namun di balik manik mata sehitam jelaga itu Ata tahu. Ada banyak hal yang tersembunyi. Gadis berkaca mata itu melengos setelah lama saling bicara lewat pandangan mata, tanpa payung melewati rinai hujan yang hanya berupa titik-titik kecil. Ata tak berniat mengejar, tidak seperti biasanya. Karena ia tau, setelah sepasang mata hitam itu mengatakan bahwa ia sedang ingin sendirian. Sungguh-sungguh sendirian. Di belakang Ata, Aya terus memperhatikan Ata. Sejak tadi, sejak kejadian di mana ia menolong pria yang hampir kecopetan di kios bunga. Yang tak lain adalah ayah dari mereka berdua. Satu cangkir cokelat hangat menemani Aya yang sibuk dengan sederet pernyataan yang memenuhi kepala. Ata selalu keras, bersikap seolah tidak peduli tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Ata peduli, lebih dari siapa, pun, namun ia enggan menunjukkan. Lantas untuk apa Ata bersikap demikian padanya? Kasar, dingin dan kaku. Tetapi ia bisa menjadi orang yang lembut, hangat dan bersahabat saat bersama orang lain. Aya benci kenyataan itu. Seseorang yang dulu pernah berbagi tempat di rahim mama. Seseorang yang dulu menjadi teman untuk melihat indahnya dunia bersama-sama. Bahkan kedua kembar tidak identik itu memiliki kesamaan meski tidak ketara. Sepasang mata cokelat Aya dan Ata mirip seperti mama. B e r s a m b u n g!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD