10

2393 Words
"Udah lama aku ninggalin dia. Menurutmu, kalau aku balik, dia mau nerima aku nggak?" Ata diam, masih mengamati lelaki di depannya. "Terus apa hubungannya sama aku? Tanya, lah sama orangnya sendiri." Melihat Ata yang melipat kedua tangan di depan d**a. Lelaki itu mengulurkan tangan sambil tersenyum ramah. "Bayu." Lelaki tinggi mulai memperkenalkan diri, Ata bukannya ingin mengabaikan tangan yang menggantung di udara itu. Tetapi, nama itu seolah semakin memperjelas bahwa kenyataan yang ingin ia pungkiri itu semakin dekat dengan kebenaran. Ata tidak mungkin salah, 'kan? Instingnya selalu benar. "Hei!" ucap Bayu melambaikan tangan di depan wajah Ata. "Kamu kenapa? Mukamu pucat gitu, sakit kah?" tanyanya menatap Ata seksama. Ata sendiri tersadar dari lamunan. Lelaki itu masih tersenyum mengulurkan tangan berharap disambut olehnya. Dengan ragu, ia mengangkat tangan ingin menyambut. Tetapi, nyatanya Bayu terlalu tidak sabaran menunggu. Ia menarik tangan Ata lebih dulu untuk berjabat dengannya. "Aku Bayu. Kamu?" tanyanya mengulang. "Ata." Setelah mengeluarkan satu nama itu Ata berbalik melepas secara paksa tangan yang masih digenggam erat oleh Bayu. Ia berjalan cepat meninggalkan lelaki itu dengan banyaknya pernyataan-pernyataan yang muncul secara mendadak di kepala. Bayu pun masih di sana. Menatap dengan senyum lalu berbalik melirik Aya yang ternyata sudah berjalan ke arahnya dengan senyum manis. Keduanya segera bergegas untuk pergi meninggalkan rumah masa depan itu. *** Bintang tidak selalu bersinar terang. Ada kalanya salah satu dari mereka yang paling kuat memancarkan cahaya. Dialah yang akan menghilang lebih dulu. Langit pun sama, tidak selalu akan berwarna biru. Kadang kelabu datang bersama gemuruh menciptakan kegelapan. Mendatangkan hujan juga pelangi pada akhirnya. Sama halnya dengan senja yang tidak selamanya indah. Semburat jingga penghias langit sore yang menorehkan lukisan menawan di atas kanvas cakrawala. Yany senantiasa mendampingi saat-saat si bintang raksasa akan kembali bersembunyi ke singgasana. Manusia pun sama, tidak selamanya bahagia juga terluka. Kadang hati terlalu mudah untuk menangisi yang telah terjadi, sering kali pula logika tertawa menatap mimpi yang belum terjadi. Seperti Aya yang masih menggenggam harapannya sekuat hati. Mengabaikan lelah juga sakit hati. Ketika ia harus mengejar seseorang tanpa dilihat pengorbanannya. Terkadang Aya berpikir untuk menyerah saja. Beberapa hal itu berputar di kepala Aya seperti burung-burung kecil dalam film animasi. Sampai sebuah sentuhan lembut membuatnya menoleh. Kepala yang tadinya ia topang dengan tangan bertumpu meja belajar terangkat menatap seseorang yang datang menghangatkan suasana dingin dalam rumahnya. "Ngapain sih? Ngelamunin siapa hayo?" ucap Bayu menggoda. Aya hanya tersenyum memainkan pulpen di tangan sesekali diketukkan pada meja pelan. Ia membiarkan Bayu merebahkan diri di atas kasur bermotif bintang tersebut. "Kamu udah punya pacar?" tanya Bayu memecah hening. Hembusan napas panjang terdengar jelas di telinga Bayu. Perlahan, cowok tinggi berparas menawan itu menyandarkan diri pada sandaran tempat tidur tanpa mengalihkan pandangan dari Aya yang belum ingin bercerita. "Aku kangen Matahari," Tiga kata dalam satu kalimat pendek itu membuat hati Bayu melengos ke dalam. Seperti melesak jauh dari tempatnya, begitu satu nama terucap. Pandangan Bayu menyisir ruangan sederhana bercat soft pink. Melihat Aya tumbuh menjadi gadis cantik, ia teringat pula pada gadis cantik yang selalu membawa pita jingga. Gadis kecil yang dulu sering berbagi kesedihan dengannya, gadis kecil yang dulu pernah ia ikat dengan janji yang sempat terlupakan. "Mas Bayu!" sentak Aya keras. "Bener, Mas Bayu nggak kenal sama Ata yang aku maksud?" Lamunan singkat Bayu buyar seketika. Pandangannya tertuju pada Aya yang entah sejak kapan sudah duduk di depannya. Untuk sesaat sepasang mata cokelat tua milik Bayu terpaku pada sepasang iris cokelat muda di depannya. Tetapi, ia tau sepasang mata yang sama ini bukanlah orang yang sama. "Kok nanyanya gitu." Aya mengulum bibir tanpa menatap Bayu. "Mas punya kenalan, namanya juga Ata. Tapi, nggak tau apa Ata yang kita kenal sama," sambungnya. "Besok anterin aku samperin dia, ya?" "Mataharimu itu?" Aya mengangguk kuat beberapa kali. "Iya." singkatnya menjawab. "Emang kamu tau dia di mana?" tanya Bayu. "Lebih tepatnya, aku punya koneksi buat ketemu sama dia." Bayu mengerutkan dahi berpikir sebentar. Ia bahkan menegakkan posisi duduknya dan serius menatap Aya. "Pacar?" Aya mengangkat bahu tidak tahu, lalu memutar tubuh hingga berhadap-hadapan dengan Bayu. "Mungkin iya, mungkin juga bukan." "Lah, kok?" Lelaki di atas kasur aya itu semakin tidak mengerti dengan ucapan adiknya. "Mereka deket banget. Tapi, aku nggak tahu mereka itu ada hubungan apa," jelas Aya menutup buku yang sejak tadi ia abaikan. "Ya berarti mereka pacaran." Bayu berucap sambil beranjak dari kasur. "Nggak selamanya yang deket itu berarti pacaran, bisa aja cuma temenan, Mas!" Aya menegaskan dengan semangat. "Iya, deh..., Iya." "Tapi, ada yang unik sama dia." ucap Aya. Bayu yang sudah berdiri di depan pintu kembali berbalik menatap adiknya. "Dia punya buntut?" Tawa Aya menyembur. Ia melempar bantal berbentuk bintang ke arah Bayu. "Bukan ih!" "Terus?" "Namanya Senja Praditya." Mendengar sebuah nama itu, Bayu kaku di tempat. Segala praduga mulai melintasi kepalanya berderet seperti jalanan yang padat. Jika selama ini kepergiannya terlalu lama, mungkinkah Mataharinya menemukan Senja yang baru? Sedangkan di balik itu semua banyak rasa syukur Aya panjatkan atas hadirnya Bayu dan kembali mengisi rumah yang hampa. Aya menyentuh bingkai foto yang terpajang di atas meja belajar. Membelainya lembut foto dua anak perempuan yang tersenyum lebar memegangi lolipop berukuran besar. Meninggalkan Aya yang dilanda dilema antara terluka dan bahagia. Lelaki tinggi berparas tampan yang menjadi penghangat rumah besar itu duduk tak berekspresi. Di depannya, mama dan ayah duduk bersebelahan menatap anak lelaki yang kini telah semakin dewasa. Bayu masih diam mengumpulkan semua ketenangan setajam katana. Dalam kepalanya ada dua pikiran yang berkecamuk saling menghantam agar menang. Satu di antaranya ada kemarahan yang ingin ia tujukan pada kedua orang tuanya namun tidak pernah bisa ia ungkapkan. Terlebih kini, perempuan tercinta yang membuatnya setengah mati menahan pedih duduk pucat di atas kursi roda. Jantung lemah yang diderita mama sejak kecil semakin kronis. Bayu tidak lagi berharap agar mamanya sehat, ia hanya ingin mamanya tetap hidup meskipun terkadang kesakitan. Karena Bayu paham, bahwa penyakit yang di derita mama bukan hal sepele. Terlebih ia tau kondisi mama memburuk akhir-akhir ini. "Mama mau ketemu sama Ata," ucap wanita itu menatap anak lelakinya. Di sebelah mama, ayah menunduk dalam-dalam. Meremas tangan mama entah untuk memberikan kekuatan atau meminta kekuatan. Bayu menatap mama nanar. Wanita itu tidak tau seberapa jauh Ata berlari. Mama tidak tau seberapa banyak Ata berubah seiring berjalannya waktu yang lama. "Bayu lagi usahain itu. Mama jangan khawatir." "Jangan lama, Yu. Mama takut pergi lebih dulu sebelum ketemu Ata," pinta mama. "Dengan kondisi Mama yang kayak gini, apa Mama siap buat ketemu sama Ata setelah semua yang terjadi?" ucap Bayu pelan. "Ayah yang salah. Ayah yang akan jelasin semuanya sama Ata. Ayah harus selesaiin semuanya dengan baik, biar Ata nggak terluka lebih jauh lagi." "Tapi, kenyataannya Ata sudah sekarat di dalam hati." "Bayu ngerti. Bayu usahain secepat mungkin. Mama istirahat ya, Bayu mau ke kamar dulu." Lelaki itu berdiri meninggalkan kursi setelah mengangguk tanpa sepatah kata lagi. *** Setelah lusa, dan kemarin, hari ini kembali ia temukan hal yang sama. Gadis itu duduk tenang menatap buku dengan pandangan kosong. Mungkin kalimat yang lebih tepat untuk mendeskripsikan kegiatan gadis berkacamata itu adalah, berpura-pura tenang di balik buku bacaan yang sebenarnya tidak pernah dibaca. Di roof top, tempat favorit Ata ketika berada di sekolah kini ternyata telah di huni oleh orang lain. Tenang sambil mengunyah permen karet mint yang Senja berikan padanya, Ata mengamati setiap gerak-gerik Keke yang bagaikan patung manekin di terpa angin. Ia menyandarkan punggung pada pagar pembatas, lalu mengangkat sebelah kakinya hingga menyentuh pagar tersebut. Kedua tangan terlipat sempurna di depan d**a, sesekali Ata meletupkan permen karet rasa mint tersebut. Kali ini gadis berambut hitam sepinggang itu berjalan. Buku yang tadi berada dalam genggaman tangan terjatuh begitu saja di atas lantai. Langkahnya pelan mendekati beton pembatas di roof top yang tingginya sebatas pinggang orang dewasa. Melihat raut wajah tanpa ekspresi serta gestur tubuh Keke yang semakin ke pinggir, Ata siaga. Gadis itu menegakkan tubuh, melepeh permen karet ke sembarang arah dan berjalan pelan membuntuti Keke. Kini jarak antara Keke hanya satu meter, namun gadis berkaca mata itu masih belum menyadari adanya Ata di belakang. Benar saja apa yang menghantui pikiran Ata seolah nyata. Gadis itu gemetar, seolah terlempar ke masa lalu tepat sepuluh tahun silam. Keke sudah memanjat, Ata juga melihat Keke yang menangis tanpa suara. "Stop! Berhenti!" teriak Ata panik. Mendengar teriakan mendadak seperti itu Keke menoleh cepat. Guratan luka jelas terpancar dari wajah cantik itu, entah luka pasal apa yang Ata tau hanyalah hal menyakitkan yang menyesakkan d**a. "Pergi!" balas Keke datar. "Aku minta, kamu turun sekarang!" ucap Ata setengah berteriak. "Pergi, anggap, aja, nggak liat apa-apa," ucap Keke membuang pandangannya ke depan. Di atap gedung sekolah setinggi lima belas meter itu hembusan angin pagi terasa hangat. Matahari pun memancarkan cahayanya dengan terik meski awan mendung menghiasi angkasa. "Turun sekarang! Please!" ucap Ata membujuk. "Aku bilang pergi!" Di dalam gemuruh akan nostalgia ke masa lalu, Ata menelan ketakutannya. Hal semacam ini tidak seharusnya terjadi. Tidak semestinya dilakukan pula. Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah apa pun. Tangan serta kakinya gemetar, dadanya terasa sesak, namun sebisa mungkin Ata menekan ketakutannya. "Oke, kalau emang itu yang kamu mau. Kita terjun berdua aja, gimana?" Tak ada sahutan, Ata yakin bel masuk sudah berbunyi sejak tadi. Keke sendiri bungkam memejamkan mata. Anak rambut hitamnya terbang bebas dimainkan angin. "Kita terjun bareng. Tapi, kamu harus siap sama konsekuensinya, ya." imbuhnya meski tak mendapat respon. "Bisa?" tanya Ata masih berteriak. Cukup lama saling diam. Keke yang tadinya menegakkan kepala menatap lurus ke depan dengan mata yang sesekali terpejam, kini tertunduk. "Tenang, aja kita nggak bakalan mati. Minimal pincang seumur hidup atau mungkin gegar otak. Siap, kan, jadi bahan bullying?" ucap Ata masih melanjutkan. Punggung itu masih naik turun seiring tangis tanpa suara yang hilang di bawa angin. Melihat hal itu Ata melangkah cepat, membunuh jarak di antara dirinya dan Keke lantas menarik tangan gadis berkaca mata itu hingga terjatuh dari pagar pembatas. Tidak ada perlawanan, keduanya pun sama-sama diam terduduk di bawah. Ata sibuk menenangkan diri yang sejujurnya setengah mati menahan luka hati. Ia menyandarkan diri pada pembatas gedung dengan napas berat. Tangannya sibuk menekan d**a perlahan hingga semuanya kembali normal. Sementara Keke yang tersedu dengan gelegak yang menekan d**a setiap harinya. Ia lelah, dan ingin mengakhiri semuanya. Gadis itu melepas kacamatanya ke sembarang arah. Menutupi wajah manisnya dengan kedua telapak tangan. "Nggak ada otak kamu, ya?" tanya Ata akhirnya bersuara. "Lain kali kalau mau bunuh diri coba cari tempat yang lebih cocok!" sambungnya dengan suara yang naik beberapa oktav. Keke masih tak merespon makian Ata. "Di jembatan misalnya, sekalian kalau jatuh biar di makan buaya, jadi nggak ada jejaknya." Kali ini Keke menatap Ata ragu-ragu. Ia tau gadis itu aneh, sangat aneh. Tapi kenapa ia harus menyelamatkan Keke hari ini. "Kalau bisa jangan di depan mataku." "Nggak ada yang minta kamu buat selalu ngikutin aku!" Ata tersenyum mendengar ucapan Keke. "Iya sih. Tapi tempat ini udah jadi teritoriku sebelum ada penyusup yang nggak tau kenapa mau bunuh diri di sini," balasnya. "Aku tuh bener-bener nggak ngerti ya sama pikiran orang-orang kayak kamu gini. Apa sih yang bikin kamu sampai mau bunuh diri segala? Apa nyawa dari Tuhan sama sekali nggak ada artinya buat kamu?" "Bukan nyawa yang nggak berarti. Tapi, memang aku yang nggak ada artinya." Ata tertawa miris. Menatap gadis terpintar di sekolahnya tersebut dengan pandangan tak percaya. "Setiap manusia pasti berarti buat diri mereka masing-masing. Nggak ada manusia yang merendahkan dirinya sendiri kecuali mereka gila atau psikopat." Untuk sejenak saja, ucapan Ata membius Keke dalam kebungkaman. "Tau apa sih kamu? Kamu nggak tau apa-apa tentangku," ujar Keke tertawa sarkas. Pandangan Ata ikut menajam. Menusuk iris hazel yang sudah membuatnya ketar-ketir tidak keruan. "Emang kamu tau apa yang aku rasain?" tanya Ata balik dengan tenang. "Kita nggak akan tau apa yang orang lain rasain kalau mereka sendiri nggak mau berbagi. Kecuali aku paranormal yang bisa nebak perasaan orang dengan gampang," kata Ata. Ia membetulkan duduknya dengan melipat kedua kaki hingga menyentuh lantai beton. Sepasang mata yang tertancap pada Keke sepenuhnya, ia menyodorkan sapu tangan yang ia ambil dari salah satu kantung tas lalu melemparkannya ke pangkuan Keke. "Setiap manusia lahir dengan takdir mereka masing-masing. Udah sepaket. Ada bahagia ada sedihnya. Ada seneng ada dukanya. Tuhan ngasih kita jalan yang rumit bukan karena Tuhan benci, bukan karena Tugan nggak sayang. Tapi, karena Tuhan maha tau, kalau kita mampu buat jalanin. Gitu aja." Keke membisu mendengar penuturan Ata. Lama keduanya terlibat keheningan. Keke mengangkat dagunya menatap Ata. "Apa hal yang paling kamu suka?" tanya Keke tiba-tiba. Ata menautkan kedua alis bingung. Kemarahannya menguap hilang diterpa angin. Melihat wajah sekuyu di depannya, ia teringat bagaimana wajah mama sebelum mengakhiri hidup tepat di depan matanya. Ata bukan bingung untuk menjawab, tetapi lebih pada pertanyaan yang dilontarkan oleh Keke. Namun, pada akhirnya ia memutuskan untuk menjawab. "Lari." "Dan apa hal yang paling kamu benci di dunia ini?" Spontan karena ketidak tahuan, Ata mengendikkan bahu tidak tahu. "Aku belum tau semua isi dunia, jadi nggak tau apa yang paling aku benci," jawabnya. Jawaban itu jauh dari ekspetasi Keke. Ata diam menatapnya seksama, dan Keke melakukan hal yang serupa. Gadis berkaca mata itu menelisik iris cokelat terang di depannya dengan kagum. Ini adalah kali pertama ia menatap seseorang dengan intens dan dengan jarak sedekat ini. Dari mata Ata, detik itu juga Keke serasa melihat angkasa dengan benda langitnya yang indah. Keke tersihir dalam pandangan yang berlangsung cukup lama itu. "Kamu selalu baik-baik aja," ucap Keke seperti cicitan burung kecil. Nyatanya cicitan kecil itu telah sampai di telinga Ata. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lekungan tipis. "Ayo, aku antar pulang. Kamu kacau banget!" ucap Ata tertawa kecil. "Oh, iya. Jangan sampai ngelakuin hal bodoh kayak gitu lagi di sini. Kalau di tempat lain, sih, terserah." Ia membantu Keke untuk berdiri. Ata memang bukan gadis tinggi, namun tidak juga pendek. Ia memiliki tinggi tubuh ideal sebagai seorang gadis. Bahkan ia baru menyadari Keke ternyata lebih kecil darinya. Selang beberapa langkah keduanya berjalan, Keke melepaskan rangkulan tangan Ata yang berada di pundaknya. Ia berdiri tegak lagi, berjalan seolah tidak ada yang terjadi. Dalam langkahnya Ata melihat Keke mengusap matanya yang basah nan sembab. Di tangan kanan Ata sebuah buku sejarah tergenggam. Buku milik Keke yang barusan tanpa sengaja dijatuhkan oleh pemiliknya. Buru-buru Ata berlari, mengejar ketinggalannya oleh Keke yang mulai menuruni anak tangga. "Bukumu," Ata menyodorkan buku sejarah tersebut pada pemiliknya. Diterima buku tersebut tanpa menatap si penolong yang menggagalkan tujuannya mengakhiri hidup. Yang telah mengembalikan benda kepunyaannya dalam genggamnya lagi. "Mau ngikutin aku terus? Aku mau balik ke kelas." "Silahkan. Aku juga mau masuk kelas," jawabnya santai. Keduanya kembali berjalan beriringan menuruni undakan-undakan anak tangga hingga menyusuri koridor sekolah yang sepi bersama. Keke melenggang begitu saja memasuki kelas setelah menganggukkan kepala dan mengatakan alasan mengapa ia terlambat masuk. Yang tentu saja hanya sebuah alibi semata. Sama halnya dengan Ata. Ia memutuskan untuk kembali ke kelas. Mendengarkan ceramah pak Dhono tentang sejarah perjuangan para pahlawan. Ata paling menyukai pelajaran ini, karena suara pak Dhono yang merdu saat menerangkan selalu mengantarkannya ke alam mimpi.  B e r s a m b u n g! 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD