9

762 Words
Matahari Senja Apa yang akan terjadi dalam suatu kehidupan manusia masih tetap menjadi rahasia sampai detik ini dan kapan pun. Entah itu sebuah sandiwara yang menceritakan tentang kisah mahabrata yang melegenda di tanah Jawa, juga tentang Pandawa yang penuh dengan kisah heroik juga keharu biruan. Atau mungkin menyangkut kisah pewayangan lain yang begitu populer tentang Raja Ramayana. Tentang Hanoman yang dengan berani menghampiri Rahwana untuk menyelamatkan Dewi Sita. Sebuah lika-liku cerita yang tidak bisa ditebak oleh manusia biasa seperti Ata. Ia masih tidak yakin dengan apa yang ia lakukan. Dengan apa yang telah ia jadikan pilihan. Tentang satu hal yang salah atau mungkin menyangkut kebenaran. Suatu hal dari masa lalu yang menyakitkan ingin ia lupakan. Tetapi, nyatanya semua itu semakin tampak nyata menjadi bayangan di setiap langkahnya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan kejadian menyakitkan yang ia lewati sendirian. Sebuah luka dari masa silam yang sakitnya teramat-sangat menenggelamkan. Sampai pada detik ini ia memiliki satu ketakutan nyata akan kegelapan. Kegelapan yang tidak sepenuhnya menelan, namun saat esok datang bersama cahaya yang menelan kegelapan.  Ata beku di tempat. Di atas tanah yang kini di tumbuhi rumput hiasi. Ia berdiri mematung, menggenggam pita jingga di tangan kanan dengan erat. Bayangan-bayangan dari masa lalu itu terekam jelas dalam tempurung kepalanya. Luka, sayatan yang tidak nampak di atas kulit namun begitu nyata terasa sakit. Gadis itu maju selangkah, lalu duduk sambil tersenyum menatap pusara mamanya.  Cukup lama terdiam Ata mengikatkan pita berwarna jingga tersebut di batu nisan mama. Lantas pergi tanpa sepatah kata. Bukan karena tidak ada yang ingin disampaikan, namun terlalu banyak hal yang ingin ia ungkapkan. Tetapi, semuanya terlalu sulit untuk digambarkan menjadi satu kalimat panjang. Ata selalu mengungkapkannya lewat hati yang bicara. Di balik pohon kamboja berusia puluhan tahun seseorang berdiri mengamati kepergian Ata. Begitu Ata menghilang, gadis berambut panjang itu mendekat menggantikan posisi Ata barusan.  Ia Cahaya, gadis itu yakin, Ata tidak akan membiarkannya untuk sekedar bernapas jika tahu bahwa ia mengikutinya. Kini giliran Aya yang berdiri di sana. Di atas makam yang ia sendiri tidak tahu milik siapa, sebuah nama yang terbaca asing, namun tampaknya begitu istimewa bagi Ata. Tanpa Aya sadari, sepasang mata cokelat milik Ata masih mengintip tajam dari balik pohon. Sepasang tangan itu terkepal hingga menampakkan buku tangannya. Sesaat kemudian Ata berlalu membiarkan sejenak gadis itu melakukan apa yang diinginkan termasuk membuntutinya. Anggap saja ini adalah pengampunan terakhir.   Dengan langkahnya yang tegas Ata berlalu dari area tanah kuburan. Meninggalkan kenangan yang tidak pernah enyah dari setiap deru napas. Hingga seseorang menepuk pundaknya pelan, gadis itu menoleh ke belakang. Ia mendapati seorang lelaki yang pernah membantunya melawan preman-preman yang mengganggu Keke. Lelaki tinggi yang kini tersenyum tipis tanpa mengenyahkan tangan dari pundaknya. Bahkan tanpa Ata sadari lelaki itu memeluknya dengan erat tepat di depan gerbang kuburan.  Gadis itu seperti tersengat arus listrik. Pelukan itu menghempaskannya kembali ke masa silam dalam tawa menyenangkan. Ia mengerjap beberapa kali, hingga ia sadar dalam sekejap dan mendorong paksa d**a bidang yang berada di depannya. Sepasang lengan kokoh itu tidak bergerak, justru mempererat. "b******k!" teriak Ata menendang tulang kering lelaki itu kuat. Tak berkilah sakitnya naudzubilah. Lelaki itu membungkuk menyentuh tulang keringnya yang terasa amat sangat ngilu. Lalu bergantian menatap Ata yang berdiri di depannya. "Dasar b******n tengik! Main peluk-peluk orang sembarangan! Mau mati apa gimana?" kata Ata galak.  "Dasar psikopat!" Maki Ata hampir saja melayangkan satu bogem, namun keburu di tahan oleh lelaki barusan. "Kamu nggak inget aku?" tanya lelaki itu sudah berdiri tegak kembali. Gadis itu mengerutkan dahi. Dalam hati ia berharap seseorang di depannya bukanlah satu kenyataan yang tidak bisa ia terima untuk saat ini.  "Aku yang mau telepon Polisi waktu itu," katanya. "Yang, kamu berantem sama preman-preman itu, lho." kejarnya. Ata hanya mengangguk, bibirnya membulat membentuk huruf O tanpa suara. Membuat senyum mengembang sempurna di bibir lelaki itu. "Ya, terus apa hubungannya sama pelukan? Yang kamu lakuin barusan itu sama, aja pelecehan!" ucap Ata kembali sengit. "Hehe..., maaf reflek. Soalnya kamu mirip banget sama orang yang kukenal," begitu jelasnya. Kening Ata berkerut heran. Ia menatap sepasang mata hitam yang meneduhkan. Seolah benar-benar harus menerima apa yang ia takutkan. Lelaki di depannya terlalu familiar dengan pandangan mata seteduh itu. "Udah lama aku ninggalin dia. Menurutmu, kalau aku balik, dia mau nerima aku nggak?" Ata diam, masih mengamati lelaki di depannya. "Terus apa hubungannya sama aku? Tanya, lah sama orangnya sendiri." Melihat Ata yang melipat kedua tangan di depan d**a. Lelaki itu mengulurkan tangan sambil tersenyum ramah. "Bayu." Lelaki tinggi mulai memperkenalkan diri, Ata bukannya ingin mengabaikan tangan yang menggantung di udara itu. Tetapi, nama itu seolah semakin memperjelas bahwa kenyataan yang ingin ia pungkiri itu semakin dekat dengan kebenaran. Ata tidak mungkin salah, 'kan? Instingnya selalu benar. B e r s a m b u n g! 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD