bab 5

1858 Words
selang sepuluh menit lauk dan sambal sudah siap semua. Deolinda dan Rio membawa ke ruang tamu beserta nasi. " Hem . . . . . . . lezat. Coba ada ikan asin tambah syahdu, De. Ha . . . . . . Ha . . . . . . ." kata Rio " Kamu doyan ikan asin ? " Tanya Deolinda " Doyan. Emang kenapa ? " Tanya Rio balik " Enggak sih. Aku pikir kamu enggak suka. " Kata Deolinda " Owh . . . . . . . . " Kata Rio kemudian mengambil tempe goreng dan mencoleknya di sambal dan mencobanya " Hem . . . . . . . nikmat mana lagi yang kau dustakan. " Kata Rio " Ha . . . . . . . ha . . . . . . Lebay soh, Yo kamu. " Kata Deolinda dengan tawa " Seriusan enak kok. " Kata Rio. Kemudian rio dan Deolinda melanjutkan makan malamnya. " De, " panggil Rio pelan sambil meneguk teh hangatnya " Ya, kenapa yo. Teh nya enggak manis ya ? " Kata Deolinda " Enggak, sudah pas. Aku boleh tanya enggak, De ? " Kata Rio sangat hati - hati " Apa itu ? " Tanya Deolinda " Kami enggak kesepian, atau kangen keluarga ? " Tanya Rio " kalau kesepian sudah biasa, Yo. Kalau kangen keluarga itu sudah pastilah. Memangnya kenapa kamu tanya seperti itu ? " Kata Deolinda dan tanya balik ke Rio " Ah enggak, cuma ingin tahu saja. " Kata Rio " Aku bawa ke belakang dulu piringnya ? " Kata Deolinda sambil membereskan piring " Eh ak saja yang bawa. Kamu yang cuci piringnya. " Kata Rio dengan gerak cepat " ya ampun, Yo. kamu ini, malah menyibukkan diri. Aku jadi enggak enak. Ak ikhlas kok undang kamu makan. " Kata Deolinda " aku juga ikhlas melakukannya. He . . . . . . . . . He . . . . . . . . " Kata Rio. Kemudian Deolinda mencuci piring. Dan Rio berdiri bersandar pada tembok belakang Deolinda " Makasih ya, De. Makan malamnya. Kenyang banget. " Kata Rio " Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. " Kata Deolinda membalikkan badan dan berjalan ke ruang tamu karena acara cuci piring sudah selesai. " De, sebaiknya aku pulang sekarang. Sudah malam. Sudah bau keringat. He . . . . . . . . He . . . . . . . eh . . . . . . . . Besok pagi aku jemput ya. Berangkat sama - sama. " Kata Rio " Terima kasih, Yo. Ak berangkat sendiri saja. " kata Deolinda menolak dengan halus " Kenapa De ? Aku enggak keberatan. Aku ada teman bicara di jalan. " Alasan Rio " Aku lebih nyaman berangkat sendiri. bukan karena apa - apa. " Kata Deolinda " Baiklah. Tapi lain kali mau ya kita berangkat atau pulang kerja sama - sama. Atau kalau enggak aku naik bus saja sama kamu. " Kata Rio " he . . . . . . . He . . . . . . . Kamu ini aneh - aneh saja. enggak usah, Yo. " Kata Deolinda " Oke. Aku pulang dulu ya. Thank makan malamnya. See you. " Kata Rio dan melajukan motor sportnya Tak lama Rio pergi, ada mobil mewah yang berhenti di depan kos Deolinda. Deolinda yang akan menginjakkan kakinya masuk, berhenti dan menoleh melihat pada mobil mewah yang berhenti. Deolinda sangat terkejut saat yang keluar dari mobil mewah itu adalah bosnya, yaitu Abian. " pak Bian ? " Kata Deolinda pelan dengan wajah terkejut " Malam, De. " Sapa Abian pada Deolinda " Ma . . . . . . . . malam pak. " Jawab Deolinda gugup " maaf aku mengejutkanmu malam - malam begini. " Kata Abian " O . . . . . . . . . . . em. Maaf ada apa ya pak ? " Tanya Deolinda pada Abian dengan sopan " aku hanya mau mengantarkan sesuatu untuk kamu sebagai permintaan maafku tadi pagi. Karena kamu tidak mau menerima uang dari saya. " Kata Bian. Kemudian supirnya keluar dengan membawa beberapa barang rumah tangga dan sayuran juga makanan. " Bapak tidak perlu melakukan ini. Saya sudah memaafkan bapak. " Kata Deolinda " Kamu tidak mempersilahkan aku masuk ? " Kata Abian " oh maaf. Mari pak silahkan masuk. Maaf tempatnya kecil. " Kata Deolinda membukakan pintu kosnya " Letakkan itu di dalam sana. " Kata Abian pada supirnya " Maaf pak enggak usah. Sebaiknya bapak bawa kembali saja. Saya tidak me . . . . . . . . . " Kata Deolinda terpotong " aku yang menginginkannya untuk memberi. Dan aku tidak mau kamu menolak pemberianku yang kedua kali. " Kata Biann dengan wajah dan mata yang tajam. Membuat Deolinda bergidik " Kamu tinggal di ruangan kecil seperti gudang ini ? " Kata Abian. Membuat hati Deolinda kesal karena tempat kosnya di hina. " Iya. Memang kenapa pak ? " Kata Deoli da halus walau di dalam hati jengkel " Kamu betah di sini ? tidak a kipas angin, tidak ada AC, tidak ada Tv dan sofa. Kalau ada tamu mereka duduk di mana ? " Tanya Abian " Puji Tuhan pak, sejauh ini saya nyaman. Kalau afa tamu biasanya duduk di sini pak. " Kata Deolinda sambil menunjukkan lesehan di depannya " Kenapa kamu kembalikan uang saya ? Kamu kan bisa pakai buat beli perabotan yang kami perlukan di tempat ini. Atau bisa pindah dari gudang ini. " Kata Abian " maaf pak kan saya sudah jelaskan waktu itu di kantor. Dan saya tidak terlalu membutuhkan barang - barang yang bapak sebutkan tadi. Karena itu akan menambah biaya hidup saya setiap bulannya. " Kata Deolinda " saya lapar. Bisakah kamu memasakkan sesuatu untukku ? " Kata Abian " Maksud bapak ? Bapak mau makan di sini ? saya tidak ada bahan makanan yang bapak suka. " Kata Deolinda menolak secara halus. Dalam hati Deolinda bingung dengan sikap bosnya. " Memangnya kamu tahu apa makanan kesukaanku ? " Kata Abian datar. Dan Deolinda menjawabnya dengan menggelengkan kepala " Cepatlah masak. Jangan berdiri di sini. Perutku sudah tidak tahan lagi. " Kata Abian " Huh dasar bos aneh. Katanya kaya, tapi makan minta karyawannya. kan dia bisa tinggal telpon pesan atau pergi ke restoran. Arghbnb capek banget badanku. Ada - ada saja hari ini. " Gumam Deolinda di dapur " Ngomong apa kamu ? " Tanya Abian " Eh enggak ngomong apa - apa, pak. Bapak tunggu saja di sana. " Kata Deolinda sopan namun hatinya jengkel " Terserah saya mau di mana. " Jawab Abian " Ya sudah terserah bapak. " Kata Deolinda sepuluh menit kemudian masakan Deolinda sudah siap. Deolinda hanya memasak mie goreng dan telur ala Deolinda. " Ini pak silahkan. " Kata Deolinda menyodorkan sepiring mie goreng pada Abian " Apa ini ? " Tanya Abian " Mie goreng pak. " Jawab Deolinda " iya saya tahu kalau ini mie goreng. Maksud saya, dari tadi di dapur hanya masak ini ? " Kata Abian " Iya pak. Saya hanya bisa masak itu. Kalau bapak enggak suka biar saya makan. " Kata Deolinda " Enak saja. Saya lapar, jadi tetap saya makan. " Kata Abian menarik piringnya dan memegang sendok garpu yang di hadapannya. " Hem . . . . . . . . . . lumayan enak. " Kata Abian namun dalam hati Bian. Mie goreng yang di masak Deolinda sangat lezat baginya. " Terima kasih. Ini minumnya hanya ada air putih pak. " Kata Deolinda yang melettakan gelas dan duduk di depan abian yang sedang menyantap mie goreng. " Apa kegiatan kamu seelah bekerja dan weekend ? " Tanya Abian " Ya di kos saja pak. " Jawab Deolinda singkat " Setiap hari seperti itu ? Kamu tidak bosan ? Apa kamu tidak ada keinginan jalan - jalan menggunakan waktu luang kamu. " Kata Abian " Enggak pak. " Jawab Deo singkat lagi " Aneh. Bisa ya hidup seperti itu. " Kata Bian sambil menyendokkan mie gorengnya sendok terakhir " Thank ya. Mie nya. Enak banget lain kali masakan lagi. " Kata Bian dengan percaya diri " Maaf pak, bukan saya bermaksud mengusir bapak. Tapi ini sudah malam. Dan saya tidak enak dengan teman kos saya yang lain. Selain itu saya ingin beristirahat karena lelah. " Kata Deolinda memberanikan diri berbicara agar Abian pulang " Ah kamu mengusirku ? Baiklah. Besok aku akan ke sini lagi sepulang kerja. " Kata Abian bangkit berdiri dan memaki sepatu. " Ada apa pak ? " Tanya Deolinda " Lihat saja besok. Enggak perlu tanya. " Kata Abian. Deolinda diam mematung dengan hati yang sangat kesal. " Husft bos aneh ! " Kata Deolinda kemudian menutup pintunya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Keesokan harinya Deolinda bangun pagi seperti biasa menyiapkan bekal makan siangnya untuk di bawa ke kantor. Setelah selesai sarapan dan semua siap. Deolinda pun keluar kos. Betapa terkejutnya ketika Rio sudah nangkring di atas motornya. dengan senyum termanisnya. " Rio ? Sejak kapan kamu di sini ? " tanya Deolinda " barusan kok. Ya sudah ayo kita berangkat. Ke buru macet nanti. " Kata Rio langsung memberikan helm pada Deolinda " huft . . . . . . . . . . lain kali jangan seperti ini lagi ya. Aku enggak suka. " Kata deolinda " Oke. Eh kami bawa bekal makan siang ya ? " Tanya Rio " Iya. " Jawab Deolinda " Aku juga bawa. Nanti kita makan siang sama - sama ya. Kita tukar bekal kita. He . . . . . . . . He . . . . . . . " kata Rio " Hem ." Jawab Deolinda Rio mengendari motornya sedang. pagi ini jalanan lumayan sedikit macet karena bertepatan hari ulang tahun kota. " Dasar wanita. " Gumam Abian di dalam mobil saat melihat Deolinda berboncengan dengan Rio di lampu merah. " Eh itu kan mobil pak Bian. " Kata Rio " Iya. Kenapa ? " Tanya Deolinda " kok ngebut banget. Ada apa ya ? " Tanya Rio penasaran " Mungkin ada meeting atau yang lain. " Kata Deolinda " Kita punya bos yang sangat aneh ya, De. " Kata Rio " Luar biasa anehnya. " Jawab Deolinda. Membuat Rio menoleh ke belakang karena jawaban Deolinda " Ada apa ? " Tanya Deolinda yang melihat Rio tiba - tiba menoleh dan melihat dirinya " Ah enggak. Pegangan erat De " Jawab Rio Rio langsung melajukan motornya dengan kecepatan di atas sedang. karena Rio penasaran dengan bosnya. dan ingin segera sampai di kantor. " Rio ! pelan - pelan saja. " teriak Deolinda sambil berpegangan pinggang Rio " ini sudah pelan, De. tenang saja. " jawab Rio " please jangan ngebut. aku takut. " kata Deolinda " oke. kamu pegangan saja. " kata Rio dan ketika Deolinda semakin memegang erat pinggangnya. Rio sengaja menambah kecepatn maotornya agar Deolinda memeluknya. kalian tahu kan ide kreatif para lelaki kalau suka pada cewek ? he . . . . . . . he . . . . . . . . tetap enjoy ya bacanya follow dank omen
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD