TOWN
Siang itu, terlihat sebuah mobil mewah tengah berhenti di dekat pelabuhan. Para nelayan bahkan sampai berkumpul dan melihat-lihat mobil itu dari dekat.
Beberapa saat kemudian sang pemilik mobil turun dan melambaikan tangannya pada seorang remaja yang ada di atas kapal dan kian mendekati dermaga itu.
"Ayah!! Ibu!!"Teriaknya
"Aah...Jangan! Jangan melompat!!"Ujar sang ibu panik ketika putranya itu sudah mengambil ancang-ancang untuk melompat.
"Tidaaaaaakk!!"teriak sang ibu lagi.
Pemuda cantik berambut perak itu mendarat dengan sempurna di dermaga sebelum kapal itu sendiri bersandar.
Sang ayah hanya menggelengkan kepalanya sembari menunduk karena menurutnya kedua orang dihadapannya kini sangat memalukan.
"Yuuya...Apa kau terluka? Dimana yang sakit? Apa ini sakit? Oh...putraku sayang..."tanya Sang Ibu sembari mengusap pipinya sambil menciumi berulangkali.
"Aku baik-baik saja bu"Ujarnya dengan aksen khasnya. Ia terdengar seperti orang yang sedang bicara sembari memberi nada pada kata-katanya.
"Ayo kembali..."Ujar sang ayah pelan
"Uuwoooooo... Baa-chan benar. Ayah memiliki mobil"Ujarnya sembari mengelilingi mobil itu dengan kagumnya.
"Ayah...Putra kita sudah dewasa"Ujar Sang ibu sembari menangis.
"Bukankah ia agak sedikit kampungan ...Ia tidak ada bedanya dengan nelayan-nelayan ini"pikir Sang ayah yang kini langsung saja menarik Ibu dan anak itu masuk ke dalam mobil.
"Yuuya... bertingkahlah biasa saja. Ini hal yang biasa nak, lihatlah semua orang memilikinya"Ujar sang ayah yang kini menurunkan kaca mobilnya untuk menunjukkan pemandangan kota itu pada putra bungsunya itu.
Asahina Yuuya adalah putra bungsu Pemilik Asahina Grup. Salah satu konglomerat ternama di kota itu. Dari kecil ia sudah di asuh oleh sang nenek yang lebih memilih tinggal di pedesaan. Namun, karena beliau baru saja meninggal beberapa hari yang lalu, mau tidak mau Yuuya harus kembali hidup bersama kedua orangtuanya dan kedua kakak laki-lakinya.
"Yuuya?"tanya sang ayah.
Pria paruh baya itu tersenyum kecil karena ekspresi putranya saat ini benar-benar menggemaskan.
"Yuuya...apa hingga saat ini masih belum ada mobil di desa? Kau belum pernah naik sesuatu seperti ini?"tanya sang ayah
"Aku pernah, mengemudikan Truk"Ujar Yuuya.
Sang ayah kini menghembuskan nafasnya sejenak.
Kini ia sadar mengapa ibunya tiba-tiba saja menelpon dan mengatakan bahwa beliau butuh uang yang banyak.
"Ayah...Bukankah Yuuya-kun hebat"Ujar sang ibu sembari bertepuk tangan.
Sang ibu adalah mantan Aktris. Beliau sangat terkenal di masanya. Saat menikah dengan Asahina Soryu ia langsung saja berhenti dari dunia hiburan dan fokus pada rumah tangganya.
"Yuuya...apa yang terjadi pada truk itu?"tanya Sang ayah
"AH! aku lupa!"ujar Yuuya
Sang ayah lagi-lagi menghembuskan nafasnya dan kini hanya menundukkan kepalanya di stir mobilnya. Ia menunggu lampu merah itu dengan itu dengan gusar.
"Aku akan bekerja ekstra mulai saat ini...Ibu...sudah kubilang ingin membawanya saat ia berusia 5 tahun namun ibu bersikeras untuk tetap merawatnya...inilah yang terjadi, putraku seperti tarzan jepang. Hidup di desa, tidak mengerti apapun...tanpa komputer, tanpa ponsel, apalagi internet, ia hanya tahu cara berkirim surat...itu pun sebulan sekali..."Pikir sang ayah frustasi.
Ketika pria itu mengangkat kepalanya dan ingin menatap putranya itu ia terkejut karena Yuuya tak lagi disana.
"Yuuya?"tanya sang ayah panik
"Eh??"
"Hei! yuuya...masuklah!!"Ujar Sang ayah
"Ooh..."Yuuya yang sudah keluar itu kini kembali masuk kedalam mobil dengan tampang kebingungan.
"Aku pikir karena semua berhenti kita sudah tiba dirumah"Ujar Yuuya
"Yuuya...ini lampu merah...lihatlah...itu tandanya berhenti"Ujar sang ayah sembari menunjuk ke arah rambu lalu lintas itu.
"Ooh...kami tidak punya yang seperti ini di Koyama"Ujar Yuuya
"Tentu saja tidak akan ada... hampir jarang kendaraan yang lewat disana bukan?"tanya sang ayah.
"Haah?!!!"seru Yuuya terkejut.
"Yuuya...Jangan mengejutkan seperti ini nak.."Ujar sang Ibu pelan sembari mengelus-elus dadanya pelan
"Ayah tidak tahu??"tanya Yuuya
"Apa itu?"
"Disana banyak traktor. Namun kami tidak menggunakan lampu seperti itu"Ujar Yuuya menunjuk ke arah lampu merah yang sudah mereka lewati itu.
"Yuuya... Apa yang kau pelajari disekolah?"tanya sang ayah dengan nada pasrah
"Apa? Aku belajar bertani dan berhitung. Sensei bilang kita tidak akan dapat bertahan hidup dengan baik jika tidak tahu prinsip bertani"Ujar Yuuya dengan polosnya.
"Aku seperti mengajari bayi lagi"
"Yuuya hebat...anak ibu benar-benar hebat"Ujar Sang Ibu yang malah memujinya.
"Yang satu ini juga tidak dapat diandalkan..."Pikir Pria paruh baya itu lagi ketika menatap istrinya itu.
.
.
.
Sesampainya di rumah, Yuuya langsung saja menggelengkan kepalanya menatap bangunan megah itu.
"Ayo masuk Yuuya"Ujar Sang ayah
"Ng...Itu siapa?"tanya Yuuya yang melihat beberapa pelayan sedang berdiri di depan pintu
"Itu Pelayan...mereka akan mengurusi semua kebutuhanmu. Dengan kata lain, mereka pelayanmu"Ujar Sang ayah sambil tersenyum kecil.
"Oooooo"Ujar Yuuya
"Oh...mereka sudah datang. Selamat datang Yuu."Ujar Seorang pemuda yang usianya tidak jauh berbeda dengan Yuuya
"Yuuya, ini kakakmu yang kedua. Asahina Jun"Ujar sang ayah
"Yo!"Ujar Jun
"Hah? Namaku Yuuya bukan Yo!" Protes Yuuya
Jun sontak mengangkat kedua alisnya kemudian tersenyum jahat melihatnya.
"Ah... salahku...Ayo Brother...aku akan menunjukkan kamarmu"
"Brother itu apa?"tanya Yuuya dengan polosnya
"Ah...artinya Tampan"Ujar Jun sambil tersenyum lebar
"Ah...Aniki. Lihatlah si kecil sudah tiba"ujar Jun
"Aku sudah 17 tahun."protes Yuuya
"Maaf Yuuya...aku baru saja selesai mandi.."Ujar Hayato.
"Ini kakak tertua kita..."Ujar Jun sambil merangkul lehernya dan mengendus-endus aroma tubuhnya.
"Heee...Omega... Namun belum matang... Haha...bukankah ini akan menarik... Aku akan betah dirumah hanya untuk mengusilinya"pikir Jun
"Ayah...
"Hayato...carilah sekolah terbaik untuk adikmu itu. Dan tolong urusi kebutuhannya juga. Ajari ia juga jika kau sedang senggang"Ujar Sang Ayah yang sepertinya frustasi itu
"Ayah...Yuuya...sudah dewasa..."Ujar sang ibu sembari memeluknya
"Yura... Anak itu polos sekali. Bagaimana bisa bertahan hidup dikota seperti ini"
Sang ibu menunduk dengan sedih sembari menyeka air mata di sudut matanya
"A-aku akan membantu Yuuya...Ibu jangan menangis"Ujar Hayato
"Yeay...Haya-kun putra ibu yang paling baik"Ujar sang ibu sambil memeluknya
"Dasar tukang akting"pikir Hayato
Hayato yang baru akan naik menyusul Jun dan Yuuya itu kini terhenti menatap memar di wajah Jun.
"Jun! Ya ampun. Putra ibu...oh...nak mengapa wajah tampanmu jadi seperti ini?"tanya sang ibu gusar
"Ibu...biasa saja jangan terlalu melebih-lebihkan sesuatu seperti ini"ujar Jun
"Ada apa?"tanya Sang ayah
"Yuuya-chan memukuliku karena aku bilang ia omega yang manis"Ujar Jun
"Hmm?"sang ayah dan sang kakak kini menatapnya dengan penuh tanya.
"Omega kecil ibu ternyata sangat kuat... Syukurlah...jika begini ibu tidak akan khawatir"Ujar sang ibu sambil tersenyum lebar
Jun hanya tertawa sembari menggaruki kepalanya.
"Tenaganya luar biasa...Tangan seramping itu berhasil membuatku lebam"ujar Jun sembari mengelus-elus pipinya
Hayato yang kini penasaran akhirnya menyusul ke kamar Yuuya.
"Yuuya?"tanyanya pelan
"Ya!"Ujar Yuuya dengan penuh semangat.
"Apa itu?"tanya Hayato penasaran dengan sesuatu yang di keluarkan Yuuya dari tasnya
"Ini Komu-chan"Ujar Yuuya
Hayato langsung saja meraih kandang kecil itu dan membuangnya keluar lewat jendela.
"Mengapa harus memelihara kelelawar?! Yuuya bertingkahlah seperti seorang omega. Mereka selalu..
"Aku ini Alpha!!!"Teriak Yuuya
"...dan Nii-san... Komu-chan pergi..."Ujar Yuuya yang kini ingin melompat keluar lewat jendela lantai dua
"H-hei"Ujar Hayato sembari menariknya dan menutup jendela itu dengan panik.
"J-jangan c-coba-coba...ini lantai 2"
"Hah?!"tanya Yuuya.
"Apa?"tanya Hayato yang kini berdiri menghalangi jendela
"Apa lantainya benar-benar dua?"tanya Yuuya sembari mengetuk- ngetuk keramik itu.
Hayato kini paham mengapa sang ayah terlihat pucat.
"Yuuya... tidurlah saja"Ujar Hayato
"Namun aku baru bangun pagi tadi!!"Ujar Yuuya.
"Orang di kota tidur lagi di jam-jam seperti ini. Jika mereka bermimpi, mimpi mereka akan terwujud"Ujar Hayato sembari mendorongnya.
Yuuya pun tidak punya pilihan lain. Karena ia termakan kata-kata sang kakak. Saat ini, yang paling ia inginkan adalah menjadi seorang Alpha sejati.
"Aku bisa gila"Pikir Hayato yang kini duduk berjongkok di luar pintu kamar Yuuya
"Aniki. Ia menarik bukan...aku ingin terus mengganggunya"Ujar Jun
Hayato kini kembali menghembuskan nafasnya.
Beberapa saat kemudian ia dan Jun kembali menatap satu sama lain, karena ada suara-suara seperti benda baru saja dipukul di dalam sana.
"Yuu- ya..
"Apa yang kau lakukan?"tanya Hayato
"Nii-san. Aku mendengar bunyi sesuatu dan tiba-tiba benda ini mengeluarkan angin kencang!!"Seru Yuuya yang kini berdiri di atas meja belajarnya sembari memegangi screen cover AC itu.
Jun kini memegangi perutnya sambil memukul-mukul pintu dan tertawa terbahak-bahak.
"Ia benar-benar sesuatu aniki!"seru Jun
Yuuya menatapnya dengan kebingungan. Sementara Hayato kini hanya bisa menariknya untuk segera turun.
"Yuuya...benda ini bernama AC. Kau akan tidur dengan nyaman jika kau menyalakannya"Ujar Hayato sembari meraih penutup itu.
"Haaahh...ayo...lebih baik kita mencari seragammu dan buku-bukumu"Ujar Hayato
"Aku Ikut!!"Ujar Jun yang sebenarnya hanya ingin ikut untuk membullynya
.
.
.
.
Keesokan harinya, Yuuya pun sudah bersiap-siap dalam balutan seragamnya.
Ia didaftarkan disebuah sekolah elit. Awalnya mereka sulit untuk menerimanya, namun dengan sejumlah uang, Yuuya tentu saja disambut dengan senang hati.
"Yuuya-chan~"
"Jangan panggil Aku Chan!"Ujar Ju sembari meninjunya lagi, namun kali ini ia berhasil menghindar
"Jangan seperti ini brother!!"Ujar Jun
"Bagaimana jika kita naik kereta? Universitasku disamping sekolahmu"Ujar Jun
Yuuya kini menatapnya dengan tatapan berbinar-binar.
"Namun sebelumnya ini hadiah untukmu karena langsung duduk di bangku kelas 3"Ujar Jun sembari memberikan bungkusan kecil itu untuknya.
"Apa ini nii-san?"tanya Yuuya
"Kondom"Ujar Jun
Yuuya menatapnya sejenak dengan kebingungan.
"Apa itu kondom?"tanyanya
Jun terlihat Shock sejenak, namun kemudian ia kembali tersenyum.
"Itu tempat pensil"Ujar Jun sambil tersenyum lebar
"Ooh..aku baru tahu jika orang kota memiliki tempat pensil semacam ini... benar-benar canggih!"Ujar Yuuya sambil mengangguk-angguk dan menyobek bungkusan kecil itu
"Ughhh...mengapa tempat pensilnya seperti ini nii-san?"tanya Yuuya yang geli sendiri melihat benda yang agak licin itu.
"Ah...itu untuk menjaga agar alat tulismu tetap bagus."Ujar Jun
"Ooh.."
Tanpa pikir panjang Yuuya menaruh semua pensilnya ke dalam sana dan tersenyum menatap Jun.
"Terima kasih nii-san"Ujarnya dengan sopan
"Sama-sama brother"Ujar Jun sambil tersenyum
"Ayo...kita akan terlambat"Ujar Jun
"Nii-san benar-benar akan membuat Debutmu dikota sukses besar Yuuya-chan"Pikir Jun sambil terkekeh
Setelah selesai sarapan, Sang ayah dan putra sulungnya itu menatap kedua pemuda itu pergi dengann sangat gelisah. Sementara sang ibu kini melambaikan tangannya dengan girang didepan gerbang.
"Ayah takut ia hilang... Ia omega ayah dan ibu satu-satunya... Ia juga pria kecil yang cantik...ayah takut"Ujar Sang ayah.
"Aku sudah menaruh kartu di tasnya ayah. Jika ia hilang, orang-orang pasti akan menghubungi ayah, ibu, aku, atau Jun"Ujar Hayato
Sang ayah kini kembali menghembuskan nafasnya.
"Sebaiknya...aku meminta Pelayan mengawasinya saja"pikir sang ayah
.
.
.
.
Begitu mereka tiba di stasiun, pandangan mata beberapa orang langsung saja tertuju pada Yuuya.
Namun tentu saja Yuuya tidak peduli karena ia sibuk mengaggumi kereta.
"Yuuya...ayo"Ujar Jun
Yuuya kini terlihat melepaskan sepatunya dan mengangkatnya sembari menyusul sang kakak.
Kini Jun baru saja sadar, Karma karena telah mengerjai adiknya itu datang lebih awal.
Ia malu sekali karena Yuuya terus menempel padanya, sambil memegangi sepatunya.
"Nii-san! Wow ini cepat!!"Seru Yuuya
"T-tentu saja ...ini kereta"Ujar Jun sambil menggaruk-garuk pipinya.
"Pria cantik yang lucu...apa kau murid baru? Kita mengenakan seragam yang sama"Ujar beberapa gadis yang kini mengerumuninya.
"Ya!! Aku Yuuya!"Ujarnya
"Mengapa ia yang harus jadi kerumunan para gadis...huhu ...hanya karena mewarisi rambut perak dan mata kecil ibu...Omega kecil ini merebut dunia dariku juga"pikir Jun frustasi
Begitu tiba di stasiun terdekat kini para gadis masih saja menunggunya bahkan hanya untuk mengenakan sepatu. Sementara sang kakak kini hanya mengikuti gerombolan itu dari belakang.
Yuuya kini tertegun menatap sepasang sepatu mengkilap di hadapannya saat ia sedang mengikat tali sepatu kirinya.
Ia mengangkat wajahnya sejenak menatap sosok itu.
Ia tersenyum kecil menatapnya namun tentu saja sosok dihadapannya itu malah menatapnya dengan sinis.
"Minggir...
"Hah?"
"Minggir Kau Omega"Ujar Pria itu
Jun tersenyum lebar saat mendengar kata-kata itu karena ia yakin sesuatu yang menarik akan terjadi.
"Aku...ini ...Alpha"Ujar Yuuya sembari menampar keras pria itu dengan sepatu kanannya kemudian pergi begitu saja.
"Oohohohoho...aku suka ini... Namun...pria ini...entah aku pernah melihatnya dimana? Ah... persetan! Yang terpenting aku akan bersenang-senang dengan menonton kelakuan adik kecilku itu."Pikir Jun sembari berlari menyusul Yuuya.
Bersambung....