Buah Salah

1143 Words

Semua tampak menurut, diam menutup mulut mendengar teriakan lantang Bramantyo. Habislah Dara, begitu yang ada dipikir gadis muda yang kini mematung, badannya bergetar mendapat hadiah tatapan tajam dari sang tuan besar. Ah, sangat disayangkan mulutnya sama sekali tidak bisa dijaga. Bagaimana mungkin pemikiran sepicik itu tiba-tiba hadir? Atau semua terjadi karena iri, tidak rela melihat Agis yang sama-sama kerja di klub, sama-sama dari Bulang Karang ke ibu kota, tapi nasibnya lebih mujur. Keperawanannya hilang, tapi sebagai gantinya Agis jadi menantu keluarga kaya. “Mas, boleh aku yang bicara?” Wati berbisik sembari jemarinya mengusap lengan Bram. Berusaha sedikit menenangkan emosi sang suami. “Silakan.” “Dara.” “Iya, Bi,” jawab Dara. Andai Alvin yang mendengar panggilan Bi pada Wati,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD