Sepanjang hari Alvin mengurung diri di kamar. Matanya rapat terpejam, dengan kedua telinga yang ditutup headphone. Rasa bersalah terus menyusup, merongrong hati dan pikiran Alvin. Pantas kalau Wengi begitu membencinya. Namun, apa daya, Alvin tetap tak rela kalau harus melepas dan jauh dari Salwa. Potongan kejadian malam naas itu bermunculan, bak slide yang terus berganti dan mengganggu ketenangan Alvin. Jerit dan tangis Agis terasa menempel di telinganya. Untuk itulah Alvin menyalakan musik, memasang headphone di telinga agar suara tangis pilu Agis berhenti menghantuinya. Ya Tuhan, dia punya kakak perempuan yang hampir menjadi korban pemerkosaan. Alvin melihat sendiri bagaimana Wengi melewati malam-malam mencekam penuh ketakutan dan seringnya dia menangis dan menjerit minta tolong. Per

