Salwa dan Agis

1075 Words
Ah, Tuhan. Pada Mu saja kuserahkan semua masalah ini. Aku pastikan kalau aku benar-benar menyesal dan sangat menyesal. Aku tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Dosa besar yang tidak pernah sedikit pun terlintas dalam pikiranku. Apalagi kini aku memiliki kakak perempuan. Aku tidak ingin kelakuanku berimbas pada kak Wengi nantinya. Empat sujud dan dua salam pun sudah kuselesaikan dengan ditambah istighfar panjang yang memohon kemurahan hati Tuhan untuk mengampuni apa yang sudah aku lakukan. Aku mengakhiri ritual penyampaian rasa sesalku saat ponsel berdering dan menampilkan nama Ibra di layarnya. “Alhamdulillah.” Aku berseru syukur, setidaknya ini tanda aku bisa keluar dari tempat ini. “Bos, gue sudah di pos jaga,” lapor Ibra begitu aku mengangkat teleponnya. “Ya masuk, terus lo ngapain di sana?” “Lo pikir bodyguard yang jaga ini kerja apa bos! Kalau semudah itu melewati pos jaga, dari semalam gue sudah menyusul lo biar kagak ada cerita ini ono yang bikin kepala gue pening,” oceh Ibra. Ah, aku lupa ini bukan sembarang hotel. “Ya sudah, cepat berikan ponselnya sama mereka.” Sesaat kemudian Ibra terdengar bercakap-cakap dengan bodyguard yang berjaga di sana dan meminta salah satu mereka mengantarkan Ibra ke kamarku karena memang aku yang menyuruhnya datang. “Bos, ini penjaga minta ngomong.” “Halah, susah benar. Kasih cepat.” “Halo.” Suara tegas terdengar. Terbayang badan kekar dan muka sangar di seberang sana. Bukankan tidak sembarang orang yang dipekerjakan di tempat seperti ini. “Halo, pak, aku butuh pakaian dan temanku bawa pakaian. Bisa antar dia masuk ke kamar ....” Aku menyebut nomor kamar sesuai yang tertera di pintu akses. “Oh siap, siap bos. Kami antar segera.” “Ok bos, wait a minute. I’m coming.” Belum juga aku membalas kalimat Ibra, ponsel sudah terputus. Tidak butuh waktu lama, terdengar suara bel terdengar. Aku segera membuka pintu tanpa menampakkan wajahku. Semalam aku memang tidak sadar masuk ke kamar ini. Namun, sekarang, dalam kondisi sadar aku tidak mungkin membiarkan mereka melihat wajahku. Aku tidak mau kesalahan yang kuperbuat nantinya berimbas juga pada nama baik keluarga. “Masuk, Bro,” suruhku hanya membuka pintu secukupnya. “Terima kasih bapak e, aku masuk dulu ketemu bos,” pamit Ibra pada orang yang mengantarnya. Ibra langsung masuk setelah megucapkan terima kasih. Mata Ibra terbelalak dengan bibirnya yang menyunggingkan senyum saat melihat kain sprei yang melilit di badanku layaknya kain ihram. “Lo kayak naik haji, pakai beginian,” celetuknya sambil menyerahkan paper bag. “Terserah lo, Bro. gue ganti baju dulu.” Aku langsung masuk ke kamar mandi untuk memakai pakaian yang sudah dibawakan Ibra. Dia memang sangat bisa diandalkan, Ibra juga membawakan jaket dengan penutup kepala dan topi untuk menyamarkan tampilanku. Maaf, bukannya aku sombong dan takabur. Hanya saja, mukaku memang sering masuk siaran berita televisi swasta di negeri ini saat perusahaan papa mengadakan acara-acara penting dan tentu saja aku sebagai anak laki-lakinya pasti hadir di samping papa. Jangan sampai mereka tahu kalau tuan muda dari keluarga Bramantyo keluar dari tempat seperti ini. Bisa murka papa, jangan sampai juga aku dicert dari silsilah ahli waris keluarga. Bahaya. “Cabut, Bro,” ajakku pada Ibra setelah memasukan dompetku yang kosong tanpa ada selembar uang pun karena Agis mengambilnya sesuai dengan apa yang dia tulis di surat. Oh iya, surat. Aku hampir saja melupakannya, aku kembali ke nakas dan mengambil selembar surat dari Agis untuk aku tekuk dan masukan ke dalam dompet. Setidaknya ini akan selalu membuatku ingat kesalahan apa yang sudah aku perbuat pada gadis bernama Fitri Agisti. Dia memang berharap tidak pernah lagi bertemu denganku, tapi aku justru berharap agar bisa segera bertemu dengannya dan mempertanggung jawabkan kelakuanku semalam. Jangan tanya bagaimana cara aku bertanggung jawab. Karena aku tidak mungkin menikahinya dan melukai hati Salwa. “Surat apa, Bos?” tanya Ibra dengan mata yang memindai surat yang baru saja masuk ke dalam dompetku. “Surat pengingat kejahatan dan dosa yang sudah gue perbuat semalam,” jawabku asal sebelum mengenakan kaca mata hitam dan menarik Ibra untuk segera meninggalkan tempat ini. “Apaan si bos?” “Tidak usah banyak tanya, ayo cepat pulang sebelum papa lo ngamuk.” Aku setengah menyeret Ibra yang masih kepo akan surat yang aku bawa. Saat melewati pos penjagaan, Aku dan Ibra pun sedikit membungkukan badan menyapa tiga bodyguard berbadan kekar yang duduk di pos jaga. Kami segera masuk ke dalam lift dan aku baru bisa bernapas lega saat kami berdua sudah masuk ke dalam mobil. Ibra duduk di belakang kemudi, dia ke club ini dengan menggunakan ojek online agar lebih cepat sampai. Aku membuka topi, jaket dan kacamata hitam yang tadi kukenakan. “Lo tahu apa yang lo minum semalam?” tanya Ibra. “Obat perangsang. Gila itu siapa sih b*****h yang masih saja pakai cara licik buat naklukin wanita.” “Yang perlu digaris bawahi, dua puluh tetes yang dicampur ke minuman lo.” Uhuk. Aku terbatuk saking kagetnya mendengar apa yang barusan Ibra katakan, dua puluh tetes. Pantas saja kesadaranku benar-benar hilang dan semua logika dan nuraniku seakan sirna sehingga tidak bisa berbelas kasihan sedikitpun pada Agis. “Gila! Kalau gue tahu pelakunya, gue seret dia ke penjara sekaligus. Untung gue enggak mokat karena OD. Lo tahu enggak sih siapa loser yang sudah ngelakuin hal cemen macam itu.” Ibra meringis, dia tidak langsung menjawab, tapi aku bisa menebak ada sesuatu yang dia sembunyikan. “Lo tahu sesuatu?” tebakku. “Dan yang lebih tahu adalah cewek lo/.” “Apa?” aku reflek melayangkan bogeman tangan pada lengan Ibra hingga dia pun menginjak rem dadakan. Untung kondisi jalan cukup lengang hingga hal semacam ini tidak merugikan pengguna jalan lain dan menyebabkan sesuatu yang mungkin membahayakan. “Lo yang jelas. Masa iya Salwa ke klub.” “Kenyataannya seperti itu.” “Lo ketemu dia?” Ibra mengangguk lagi “Fix, gue telepon Om Burhan dulu,” putusku mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Om Burhan dan kembali meminta izin membawa Ibra ke rumahku. “Tapi Salwa semalam baik-baik saja?” “Baiklah, kan itu pelayan nyelamati dia. Lo yang minum dan malah nasib dia yang berakhir di tangan lo.” “Astagfirullah al adzim. Jadi Agis semalam menyelamatkan Salwa.” “Yup.” Kepalaku seketika pening. Pokoknya hari ini semuanya harus jelas. Aku harus tahu apa hubungannya Salwa dengan obat yang aku minum. Kenapa juga dia berada di klub semalam. Ditambah lagi Ibra yang begitu yakin kalau Salwa tahu pelaku yang membubuhkan obat laknat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD