Gelisah

1027 Words
Badan Agis meringkuk di bawah selimut, sekujur tubuhnya dibalut selimut tebal dan hanya bagian muka saja yang terlihat. Sepanjang malam dia terus menangisi kesialan yang menimpanya. Pusat tubuhnya terasa sakit, menyisakan rasa perih yang tidak terkira. Ditambah lagi luka menganga dalam hati yang jelas tidak akan bisa diobati hanya dengan hitungan jari. Subuh sudah terlewat, mentari pagi sinarnya malu-malu menembus jendela kamar yang tertutup ordeng. Pelan-pelan Dara memasukan anak kunci ke lubang, memutarnya tanpa menimbulkan suara. Begitu pun saat dia masuk ke dalam kamar kos, sebisa mungkin langkah kakinya tidak mengganggu tidur Agis. Beginilah pekerja di klub malam. Subuh jam kerja mereka baru berakhir dan pagi seperti ini Dara baru sampai ke kosan. Dilihatnya Agis masih terbaring di kasur, Dara duduk di sampingnya. Namun, sedikit pergerakan kasur langsung membuat Agis terjingkat kaget. “Jangan, aku mohon jangan,” iba Agis dengan suara yang terdengar miris di telinga Dara. Selimutnya dieratkan hingga ke leher. Kepala Agis terus menggeleng sambil menyuarakan permohonan agar Dara tidak mendekat. “Agis, ini aku. Aku Dara.” Tangan Dara mencoba menggapai wajah Agis, tapi ditepis dengan kasar. Dara menghela napas sebelum bangun dari duduknya. Disibak tirai jendela hingga nuansa kamar remang-remang segera menghilang berganti terang. “Ini aku, Dara,” ulang Dara sembari duduk lagi di tepian kasur. Agis merangsek, berangsur mendekat dan langsung memeluk Dara. Tangisnya kembali pecah, tanpa kata, hanya suara menyayat yang terdengar di telinga Dara. Ingin bertanya kenapa? Namun, bukankah dia sudah tahu jawabannya. Dara pun bukan gadis suci, bekerja di klub, pergaulan malam yang bebas, ditambah dengan dekatnya dia dengan para pecinta alkohol yang berdompet tebal menjadi godaan yang sangat sulit ditepisnya. Bedanya puluhan juta yang dia raup saat menyerahkan kesuciannya pada pria muda yang menjadi pelanggan tetapnya. Hanya pada dia saja Dara menerima layanan kamar, sedang pada yang lainnya dia menolak dengan alasan bekerja lurus alias tidak memberikan layanan plus. Lama badan Agis bergetar, lama tangisnya terdengar, berangsur suasana kamar kembali sunyi. Pelukan pun terlepas saat dirasa Dara badan Agis tidak lagi bertenaga. Benar saja, matanya terpejam, Dara membaringkan lagi Agis. S “Panas,” desis Dara saat punggung tangannya ditempelkan di kening Agis. Dia membuka kotak P3K, selaly ada bye-bye fever di sana. Meski tidak ada balita, tapi Agis yang terbiasa menggunakan itu saat demam selalu memastikan ada pleseter penurun demam di kotak obat. Satu plester tertempel di kening Agis. Dara menaikkan selimut hingga ke leher Agis sebelum masuk ke kamar mandi membersihkan diri dan tidur mengganti waktu malam yang dipakai untuk bekerja. *** Kasur terus bergoyang, Dara berusaha abai. Namun, tidak juga berhenti pergerakan Agis mengganggunya. “Ampun, tolong, sakit, lepaskan aku.” Terus saja Agis bergerak gelisah meski matanya tertutup. Keringat dingin mengalir hampir di sekujur tubuh Agis. Dara yang masih menahan ngantuk pun terpaksa bangun. Bukan hanya karena terganggu gerakan Agis, tapi juga karena semakin lama igauan Agis semakin terdengar memilukan. Kaki Agis terus menendang ke sembarang arah, mulutnya menceracau tiada henti. “Agis, bangun.” Dara menepuk kening Agis beberapa kali. Suhu tubuhnya sudah normal seiring banyaknya keringat yang keluar dari tubuhnya. “Agis, bangun, Gis.” Tepukan Dara semakin kencang, tapi itu tidak juga membuat mata Agis terbuka. Agis terus menerus berkata ampun, memohon agar dia dilepaskan seseorang. Dari sini saja Dara bisa menyimpulkan kalau semalam apa yang Agis alami tentu sangat berat. Menyerahkan kesucian dengan sukarela saja rasanya sakit. Apalagi dipaksa, diperkosa atau bahkan apa yang dilakukan pria bernama Alvin itu sudah melebihi batas wajar hingga tampak jelas ketakutan di wajah sahabatnya. “Alvin, lepaskan aku, Alvin aku mohon lepaskan.” Belum berhenti juga ceracauan Agis. Terpaksa Dara turun dari kasur lagi, dia ke kamar mandi mengambil sedikit air dari keran dengan menggunakan gelas plastik. “Maaf ya, Gis,” ujarnya sebelum mencipratkan air dari gelas dengan menggunakan tangan. Wajah Agis basah, pelan-pelan matanya terbuka. Agis langsung duduk begitu bangun dari tidurnya. “Maaf ya, Gis. Aku terpaksa melakukan ini, kamu tidak bangun-bangun, tapi malah terus mengigau.” Dara meringis, dia tinggalkan Agis sejenak ke kamar mandi untuk membuang sisa air dalam gelas dan menaruh gelas di tempat semula. “Astagfirullah al adzim.” Berulang-ulang Agis melafalkan istigfar seraya telapak tangannya terus menggusar wajah. “Ini berat, Ra. Berat,” keluhnya memamerkan wajah sendu. “Aku sudah seperti sampah. Aku tidak lagi berguna. Rasanya lebih baik aku mati menyusul ibu dari pada hidup seperti sampah yang kotor dan hina.” “Ssssttt, jangan berkata seperti itu, Gis. Tidak baik, mati itu urusan Tuhan, selagi kita masih hidup tidak baik berharap kematian sedangkan dosa kita saja masih menumpuk. Khususnya dosaku,” aku Dara sedikit memelankan ucapannya di bagian akhir. “Dosa, Tuhan, apa hal seperti itu ada Ra?” Agis melirik tajam ke arah Dara. “Aku seperti tidak yakin Tuhan ada di dekatku. Kenapa bertubi-tubi cobaan yang terus dia berikan. Ibu meninggal, ayahku nikah lagi dengan ibu tiri yang kecanduan judi online dan belanja online. Aku dijadikan sapi perah, utang ayahku menumpuk. Harta dia habis tak bersisa dan sekarang aku malah seperti ini, Ra. Aku hancur, Ra. Hidupku sudah tidak ada artinya lagi. Buat apa aku berjuang sendiri saat tidak ada lagi yang menganggapku ada.” Agis kembali terisak, roda kehidupan yang terus berjalan kini membawanya jatuh ke dasaran. Putri tunggal yang dimanja kedua orang tuanya, semua keinginannya akan mudah terpenuhi tanpa harus bekerja keras. Semua keindahan yang pernah dia dapatkan semasa hidup sang ibu hanya tinggal kenangan. “Sabar, Gis. Kamu kuat, ada aku di sini. Kita berjuang sama-sama, aku yakin akan ada hari esok yang cerah untuk kita berdua.” “Tapi aku enggak yakin, Ra. Setelah apa yang aku alami ini, aku malah semakin yakin sisa hidupku hanya sebuah kemalangan. Aku ingin segera mengakhirinya saja, lelah seperti ini terus, Ra. Lelah.” “Jangan putus asa, Gis. Kehilangan keperawanan bukan akhir dari segalanya. Aku pun sudah menjualnya demi membangun rumah untuk ibu dan bapak di desa.” “Apa? Jadi kamu ....” Agis menggeleng sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan, sungguh tidak disangka Dara membohonginya. Agis memang tertarik ikut bekerja di kota bersama Dara saat melihat Dara mampu merenovasi rumah kedua orang tuanya. “Kamu bohong Ra.” Tatapan Agis meneliksik, sepertinya dia tertipu sahabatnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD