Aku Korbannya

1067 Words
Sedari tadi Salwa hanya duduk terpaku sembari manautkan jemarinya. Terkadang dia juga memainkan ujung kerudung yang dia pakai untuk mengurangi kegugupan berada di depan dua orang yang bak polisi yang sedang menginterogasinya dengan berbagai pertanyaan. Salwa lupa meminta Ibra berjanji untuk tidak menceritakan kejadian semalam di klub pada Alvin. Mestinya dia sudah memprediksi hal ini pasti akan terjadi. Alvin tidak akan diam begitu saja kalau ada seseorang yang berniat jahat padanya. Dia juga merasa bersalah karena sudah pergi sendiri tanpa ditemani siapa pun. Apalagi Salwa pergi tanpa izin dari Alvin dan tanpa meminta Alvin menemaninya. Niatnya untuk lebih mandiri dan tidak lagi menyusahkan sang tuan muda malah berujung petaka yang hampir membuatnya jadi bahan olokan kalau saja minuman laknat itu dia teguk. “Jadi menurut kamu siapa yang sudah mencampurkan obat perangsang itu ke minuman yang kamu pesan?” Pertanyaan itu sebenarnya sudah Alvin tanyakan sejak tadi, tapi Salwa menutup rapat nama si pelaku hingga Alvin pun merasa gemas sendiri. Salwa menutupi kejahatan seseorang yang sudah tidak bisa ditolerir. Untung semalam minuman itu tertukar dan dia yang meminumnya. Bagaimana kalau minuman itu ditenggak oleh Salwa. Alvin tidak bisa membayangkan seperti apa Salwa di bawah pengaruh minuman laknat dengan dosisi begitu tinggi. “Kalau kamu tidak mau menyebutkan siapa pelakunya. Maka Senin besok aku akan datangi sekolahmu dengan membawa polisi agar mengusut semuanya,” gertak Alvin. Ancaman yang sudah jelas tidak mungkin dia lakukan karena membawa aparat berwajib harus menyertakan bukti dan saksi yang jelas dan itu akan membuat keluarganya tercoreng karena mau tidak mau nantinya orang akan tahu kalau malam itu anak dari Bramnatyo Megantra berada di klub malam begitu pula dengan salah satu ART yang bekerja bersama mereka. “Jangan, dong mas. Aku bisa semakin dibully kalau mas Alvin lakuin itu. Lagian aku juga enggak tahu siapa pelakunya. Aku hanya mendengar bisik-bisik mereka yang merasa aneh karena aku tidak memperlihatkan efek apapun setelah meminumnya. Memangnya minuman itu efeknya apa sih Mas?” tanya Salwa dengan wajah yang yang tampak begitu polos. “Kamu tidak tahu obat perangsang fungsinya untuk apa?” Salwa menggeleng dengan ragu. Bohong kalau dia tidak tahu karena semalaman dia tidak tidur hanya karena mencari tahu semua hal tentang obat perangsang. Jadi Salwa cukuplah tahu kalau sebenarnya mengonsumsi obat perangsang bisa membangkitkan gairah seksual. Namun, efek lebih jauhnya jelas dia tidak paham. “Obat itu bisa bikin kamu agresif dan mengajak pria manapun untuk berhubungan badan dengan kamu, Wa. Parahnya dua puluh tetes itu bisa bikin kamu kepanasan dan lepas baju di depan mereka. Kamu enggak bakalan sadar ngelakuin itu, mulut kamu juga yang selalu berkata sopan pun akan mengeluarkan kalimat vulgar dengan sendirinya. Jadi, nanti kamu bakal jadi tontonan teman-teman kamu yang b*****t dan tidak bertanggung jawab itu. Kamu mungkin akan toples alias bugil di depan mereka dan pengunjung lainnya dan bisa jadi kamu malah ngajakin pria yang berada di sekitar kamu buat ons-” “Cukup, tidak usah diteruskan. Aku paham,” potong Salwa. Dia menutup kedua telinganya dan mukanya pun terlihat merah padam membayangkan dia dalam pengaruh obat tersebut. Salwa bergidik, merasa ngeri mendengar penjelasan panjang Alvin. Sungguh memalukan kalau saja hal itu terjadi padanya. Dia merasa Tuhan semalam benar-benar menyayanginya karena sudah menyelamatkan dia dari hal memalukan seperti yang dikatakan Alvin barusan. Sesuatu yang akan membuat urat malunya sementara putus hingga dia bisa saja melakukan hal-hal di luar batas yang merugikan dirinya sendiri. “Misya dan Laila yang jemput aku di rumah dan ngajak aku buat datang ke acara ulang tahun Satria,” cicit Salwa membuat pengakuan dengan wajah tertunduk. Tidak berani dia menatap Alvin yang sedang berang dan marah padanya. “Sumpah, aku enggak tahu kalau acaranya itu di klub, Mas.” Salwa mengangkat kedua jarinya saat berkata sumpah di depan Ibra dan Alvin. “Awal masuk tempat itu aku pikir hanya sebuah kafé yang sengaja di desain untuk acaranya Satria. Eh, ternyata itu klub tempat orang joget-joget dan mabuk. Aku berasa alien di sana, semua yang datang pakaiannya kurang bahan sehingga mereka menatap aku seolah makhluk asing dengan gamis yang aku kenakan,” sambung Salwa menceritakan apa yang terjadi semalam. “Semua terlihat berbisik-bisik saat melihat aku masuk ke sana. Hanya saja kata Laila dan Misya, aku tidak perlu mempedulikan tatapan aneh dari para pengunjung yang lain. Padahal saat itu aku sudah berniat untuk keluar lagi dari tempat itu.” “Kalau begitu kamu jauhi Misya dan Laila, apalagi pria bernama Satria yang bisa jadi malah punya niatan jahat sama kamu,” tegas Alvin dengan rahang mengeras. Salwa diam, dia menatap Alvin penuh keraguan. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tapi jelas itu akan membuat Alvin semakin menyuruhnya menjauhi Satria. Sementara menurut Salwa, Satria adalah pria paling tampan di kelasnya yang kini terlihat begitu memperlakukannya dengan manis. Tidak seperti pria lain di kelasnya yang tampak acuh saja saat Misya dan Laila mengerjainya dengan lelucon yang kadang membuat Salwa jadi bahan tertawaan teman lainnya. Namun, bercerita tentang Satria tentu akan mendatangkan cemburu Alvin. Salwa memilih rapat menutup mulut sembari mengangguk. Lebih baik dia mengiyakan saja perintah Alvin dari pada masalah akan semakin melebar. “Kamu kenapa? Atau kamu suka sama Satria,” tebak Alvin dengan tatapan sengit. Salwa menggeleng dengan cepat untuk menepis tebakan Alvin meskipun nyatanya apa yang dikatakan Alvin itu tidak sepenuhnya salah. Dia menyukai Satria meskipun hanya sebatas mengagumi wajah tampan Satria yang bak artis Korea yang dipujanya. Hanya saja kalau dia mengangguk sama dengan membangkitkan auman Alvin. Salwa tidak tahu apa arti dia di mata Alvin. Pacar bukan, tidak pernah ada kata pengikat hubungan mereka. Namun, Salwa tidak bisa berpura abai akan semua perhatian dan sikap posesif Alvin. Mencinta pada sang tuan muda bukan pilihan bijak. Hanya saja menolak Alvin pun dia tidak mampu melakukannya. “Aku bakal bikin perhitungan dengan Satria, Lela dan Misya!” “Jangan!” “Kenapa? Kamu tidak rela aku menyakiti Satria?” “Bukan begitu mas. Aku hanya ingin masalah ini dianggap selesai saja, tidak perlu diperpanjang.” “Tidak bisa! Kamu tidak tahu kalau ada korban tidak bersalah dari perbuatan mereka.” “Siapa?” Ah, bodoh. Alvin kelepasan bicara. Dia kini melirik Ibra yang sedari tadi diam. Mana mungkin Alvin mengaku kalau semalam dia yang meneguk minuman yang ditujukan buat Salwa. “Siapa mas?” ulang Salwa bertanya lagi. “Aku.” Sebuah pengakuan yang membuat Salwa terbelalak. Begitu pula dengan Wengi yang ternyata sedari tadi sudah berdiri di ambang pintu. Tidak sengaja menguping pembicaraan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD