“Kamu korban,” desis Salwa mencoba mencerna perngakuan Alvin.
Alvin menengok ke arah Ibra, dia seolah meminta bantuan dari sahabatnya untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi semalam gara-gara tertukarnya gelas minuman yang dipesan Salwa dan Alvin.
“Maaf Salwa, semalam kamu duduk di meja nomor sepuluh lantai satu?” tanya Ibra yang langsung dijawab Salwa dengan sebuah anggukan.
“Kami duduk di meja nomor sepuluh lantai dua.”
“Uhuk, uhuk, uhuk.” Salwa yang sedang minum pun tersedak saat mendengar apa yang barusan dikatakan Ibra.
“Itu berarti minuman buat aku itu ketuker ke meja kalian?” tebak Salwa setelah batuknya mereda.
“Alvin yang meminumnya.” Ibra menyempurnakan kalimat Salwa.
“Apa?” Salwa terbelalak, matanya membulat dengan mulut yang terbuka.
Apa yang dikatakan Ibra barusan bukan hanya sekedar membuatnya kaget, tapi juga menjawab pertanyaan Salwa kenapa semalam Alvin menghilang tanpa bisa dihubungi sama sekali. Ponselnya aktif, hanya saja Alvin tidak mengangkat satu pun panggilan darinya.
“Jadi semalam mas Alvin juga di klub yang sama denganku?”
“Mas Alvin yang meminum itu?”
“Terus Mas Alvin….” Salwa menutup mulut, terbayang sudah apa yang dilakukan sang tuan muda semalam.
Jadi cinta yang selama ini sering diucapkan Alvin. Perhatian yang setiap hari membanjirinya, semua sudah koyak dan tidak akan pernah sama setelah kejadian semalam.
“Alvin.” Panggilan terdengar dari ambang pintu. Ketiganya memutar kepala bersamaan dan kaget melihat Wengi sudah berdiri di sana dengan tatapan menyelidik.
“Apa yang terjadi? Kamu ke klub lagi?”
Sekarang Alvin tidak bisa berkutik. “Sejak kapan kakak berdiri di sana.”
“Sejak kalian membahas petanzol.” Sorot mata Wengi menandakan ada kilat kecewa pada sang adik.
“Jadi semalam kamu ke klub lagi, tidak pulang dan malah hal seperti ini yang terjadi. Katakan apa yang kamu lakukan semalam?” seberondong pertanyaan tidak bisa Alvin jawab.
Dia berdiri, menghampiri Wengi, menuntunnya untuk duduk di sofa bersama dirinya. “Bisa kalau ini hanya kita saja yang tahu,” pinta Alvin dengan tatapan memohon.
“Sudah berapa kali Papa melarang kamu untuk tidak lagi ke klub. Kamu ... ah, menyebalkan! Sekarang apa yang kita takutkan terjadi. Kamu ke klub bukan hanya untuk kongkow bareng temanmu,” geram Wengi dengan meremas lengan Alvin hingga meringis.
“Salwa!” Berganti Wengi mengarahkan tatapan penuh intimidasi pada Salwa.
Salwa menunduk.
“Kamu bilang semalam mau ke kafe untuk menghadiri pesta ulang tahun. Ternyata kamu bohong dan pergi ke klub.”
“Bukan begitu kak,” elak Salwa dengan gagap. Suaranya bergetar, sungguh dia merasa bersalah meski sepenuhnya bukan kesalahan dia.
“Kak, Salwa dikerjai teman-temannya. Dia tidak tahu kalau tempat ulang tahunnya di klub,” bela Alvin seperti apa yang dijelaskan Salwa sebelumnya.
“Diam kamu! Aku sedang bertanya pada Salwa, bukan kamu!” gertak Wengi.
“Kalian berdua benar-benar mengecewakan.”
“Kakak marah sama aku saja ya. Salwa, kamu balik ke dapur sekarang,” suruh Alvin sembari memberi kode lewat mata agar Salwa cepat kabur dari hadapan Wengi.
“Apa yang sebenarnya terjadi Ibra, Alvin, Salwa. Kenapa bisa seperti ini?”
“Salwa!” Alvin menekan suaranya, menyuruh Salwa segera hengkang dari sana.
“Kak, aku buat minum ke dapur dulu.”
“Tidak perlu,” tanggap Wengi cepat. Namun, Alvin tetap menyuruh Salwa pergi dari sana dengan gesture tubuhnya.
Salwa masuk ke dalam rumah, hanya tingga Wengi, Ibra dan Alvin saja di sofa teras samping rumah. Alvin meraih tangan Wengi, menggenggamnya untuk melancarkan rayuan maut pada sang kakak.
“Aku kecewa sama kamu.” Wengi menepis tangan Alvin. Tatapan mereka beradu, ada kemarahan yang tersirat dari sorot mata Wengi.
“Oke, aku salah.”
“Sangat-sangat bersalah.”
“Boleh aku tanya sesuatu?” Nada Alvin masih melemah, tidak ingin menyamai suara tinggi dan tegas sang kakak.
“Apa?”
“Kakak punya kontak Fitri Agisti, teman kakak yang pernah mecahin I phone aku di mall waktu itu?” tanya Alvin dengan perasaan campur aduk saat melayangkan pertanyaan itu.
Dia ingin melupakan kejadian semalam dan tidak mencari Agis sesuai dengan surat yang Agis tulis untuknya. Namun, nuraninya berkata kalau itu tidak benar. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Entah bagaimana caranya bisa bertanggung jawab tanpa menikahi Agis.
“Aku enggak tahu, memangnya kenapa? Kamu mau nagih Agis buat gantiin hape kamu? Papa kan sudah kasih hape baru buat kamu –” Tiba-tiba kalimat Wengi terhenti. Mulut Wengi melebar bersama dengan kedua bola matanya yang juga terbuka lebar.
“Jangan bilang kalau kejadian semalam ada hubungannya dengan Agis ya,” tebaknya.
Nyali Ibra menciut, rasanya kali ini dia memang sudah harus kabur tanpa berpamitan. Tangan Ibra menepuk satu paha Alvin sebelum dia beranjak bangun, pelan-pelan atur strategi mundur dan menjauh dari amukan Wengi.
Sekarang Wengi, bisa saja sebentar lagi yang muncul malah Bramantyo dan Wati, Bisa mati kutu kalau dia terlibat urusan rumit keluarhga bos papanya.
“Kamu ketemu Agis di klub semalam?” Wengi menutup mulutnya usai menebak kenapa Alvin bertanya soal Agis padanya.
“Agis bekerja di klub itu. Semalam dia yang mengantarkan minuman itu ke mejaku.”
“Ya Allah Alvin, Agis yang bawa minuman setan itu terus kamu ....” Wengi memijat kepalanya.
“Katakan kalau kamu tidak memaksa Agis untuk menuntaskan napsumu itu?” Kedua mata Wengi menyorot Alvin penuh selidik.
“Atau kamu melakukan hal itu dengan Agis?”
“Tidak … itu tidak mungkin. Jangan sampai hal itu terjadi. Kasihan Agis. Katakan kalau tebakan kakakmu ini salah.” Sorot mata Wengi begitu tajam menindai Alvin di depannya.
“Ibra, katakan kalau tebakan kakak salah?” tanyanya berganti mencari Ibra yang sudah tidak ada bersama mereka.
“Mana Ibra?”
Alvin mengangkat kedua bahunya.
“Kalau begitu kamu jawab apa yang terjadi antara kamu dan Agis semalam? Kenapa kamu tanya nomor Agis sekarang. Alvin jawab!” teriak Wengi saat melihat Alvin di hadapannya tidak juga mengeluarkan sepatah kata pun.
Dia tidak sadar kalau teriakannya terdengar hingga ke ruang keluarga dimana papa dan ibunya sedang menemani Linda.
“Pengaruh dua puluh tetes obat perangsang itu membuat aku tidak sadar dan melakukan hal yang tidak bisa aku kontrol,” jelas Alvin dengan suara pelan.
“Terus kamu apakan Agis?” teriak Wengi yang sudah dilanda kesal tak tertahankan.
Menunduknya Alvin membuat Wengi menyimpulkan kalau tebakannya tidak salah. Tangannya terkepal saking kesalnya pada sang adik.
“Kenapa Agis, Alvin!”
“Kenapa Agis!” teriak Wengi lagi. “Bukannya kamu bisa mencari satu dari wanita malam di sana, bukannya Agis, Alvin!”
“Aku –”
“Ada apa ini Wengi, Alvin?”
Alvin mendesah pasrah. Matilah dia sekarang tidak bisa lari dari kerumitan ini.