Tamu Istimewa

1066 Words
“Kamu bohong, Ra. Kamu bohong.” Kalimat yang sekarang begitu sering Agis ucapkan. Sepanjang hari terkurung di kamar kosan. Tidak akan makan kalau Dara tidak memberinya makan. Bahkan hal yang paling dia inginkan sekarang adalah bisa menyusul sang ibu. Meninggalkan kefanaan dunia yang penuh kebohongan, tipu daya muslihat dan sangat samar membedakannya. Kakinya tertekuk, duduk di samping jendela dengan badan yang disandarkan di dinding. Sudah dua hari berlalu, tapi reka adegan malam itu masih terekam jelas. Kadang berputar kembali bak adegan film degan dinding sebagai layarnya. Entah apa yang harus Dara lakukan. Menghubungi orang tua Agis? Tidak mungkin hal itu dia lakukan sementara setiap hari ibu tiri Agis tak pernah lupa mengirim pesan yang berisi permintaan transfer sejumlah uang. Alasannya buat berobat bapak Agis, sebuah alasan klise karena Dara tahu seperti apa wanita yang menikah dengan bapak dari sahabatnya. Senja sudah datang, saat pekerja yang lain terlihat masuk gerbang kos putri dua puluh pintu. Dara malah sedang bersiap untuk memulai pekerjaannya. “Gis, aku berangkat.” “Kamu bohong, Ra.” Selalu seperti itu balasan dari apa pun yang Dara ucapkan. “Kamu baik-baik, Gis. Aku akan kembali secepat mungkin.” Dara mengusap pucuk kepala Agis. Tangannya ditepis kasar, sorot tajam yang justru dia dapatkan. “Kamu bohong, Ra.” “Maafkan aku,” balas Dara sebelum berbalik meninggalkan Agis. Tega tidak tega, dia harus tetap bekerja. Meninggalkan Agis sendirian yang terus menatap keluar jendela hingga kantuk mendera. Seandainya ada pilihan untuk menyudahi profesi yang selama ini sudah Dara jalani. Tentu dia tidak akan ragu keluar dari lubang yang penuh maksiat itu. Sayang seribu sayang, gadis muda sepertinya kini sudah jadi bahu keluarga, bukan sekedar bahu, punggungnya pun harus kuat menopang semua kebutuhan keluarganya di desa. “Mas.” Dara menepuk pundak pemuda yang sudah duduk di atas sepeda motor dengan jaket ojek online warna hitam kombinasi hijau. “Sendiri lagi?” tanya Teguh. Dia juga berasal dari desa yang sama dengan Dara. Teguh mengenal Agis dan Dara di bangku SMK. Dia bekerja di salah satu pabrik di pinggiran ibu kota, di sela waktunya dia menyambi jadi pengemudi ojek online. “Agis sudah tidak bekerja di sana.” “Alhamdulillah, semoga kamu juga menyusul,” harap Teguh dengan seulas senyum yang membuat Dara hanya bisa menggigit bibirnya. “Aku tidak suka kamu kerja di sana.” “Sayangnya aku butuh pekerjaan itu.” “Bukan butuh, kamu sudah terbiasa dengan gaya hidup mewah dan kemudahan mendapatkan uang.” “Terserah, ayo berangkat.” Dara merebut helm yang sudah dipegang Teguh sedari tadi. Lima belas menit waktu normal tanpa hambatan macet membawa Dara kembali dihadapkan pada bengunan mewah dengan kerlip lampu disko yang sudah mulai menyala. “Aku jemput?” “Tidak perlu, aku bisa naik angkutan umum.” “Aku besok masuk siang. Kamu pulang sama aku,” putus Teguh sedikit memaksa.” “Tidak usah terlalu mengkhawatirkan aku. Bukannya aku sudah bilang kalau aku ini bukan anak perawan yang harus kamu jaga. Aku terlalu liar untuk diperlakukan semanis itu.” Dara melepaskan helm, menyerahkan kembali pada Teguh. “Terima kasih.” Dara berlenggang masuk ke dalam gerbang klub tanpa menunggu Teguh membalas kalimatnya. Punggungnya terus bergerak menjauh. Ada rasa tak tega melihat wanita yang dia sayang sekarang terlalu liar. Dia yang mengajak Dara ke ibu kota, ada rasa bersalah kala Teguh malah tidak bisa membantu Dara mendapat pekerjaan di tempat yang lebih baik. Namun, semua sudah terlambat apa pun pilihan Dara, Teguh hanya berharap suatu saat nanti Dara bisa meninggalkan gemerlap dunia malam. “Itu Dara.” Dagu Dara terangkat ketika ada yang menyembut namanya. Satu pemuda tampan dengan pria yang ditafsir berusia tiga puluhan dengan pakaian formal. “Dara.” Temannya melambai, meminta Dara mendekat. Senyum Dara tersungging, sudah lama dia tidak mendapat tamu spesial. Siapa tahu tamu yang datang lebih awal ini meminta layanan plus-plus di luar klub. “Selamat sore, dengan Dara ada yang bisa aku bantu Om?” Mata Dara mengerling, melempar senyum termanis pada pria dewasa yang kini menjabat tangannya. “Ehm.” Sebuah deheman membuat tangan si pria terlepas. Dara menoleh pada pemuda seusia dirinya. Sangat tidak menarik buat Dara. Meski tampan, tapi dia lebih suka pria yang sudah matang. Semakin matang usia, biasanya disertai semakin tebal isi dompet yang bisa berpindah ke tangan Dara. “Perkenalkan, aku Mauris dan ini tuan muda Alvin,” ujar si pria sembari menunjuk dengan hormat pada Alvin. “Oh, Dara.” Dara seketika meralat penilaiannya pada Alvin saat pemuda rupawan itu dipanggil tuan muda. Harusnya meski masih berusia sama dengan dirinya, Alvin tentu anak orang kaya. “Ra, ini tuan Alvin sama pak Mauris sudah dari tadi tunggu kamu.” “Wah, sangat terkesan sekali. Tidak biasanya ada tamu spesial cari aku sesore ini. Tuan mau layanan kamar bareng aku?” tanya Dara. Namun, seketika kening Alvin mengernyit. “Berapa untuk satu kali main?” tanya Mauris. Alvin hendak melayangkan protes, tapi kode mata Mauris membuat dia mengalah menyerahkan semuanya pada Mauris. Toh, sekarag dia tidak bisa berkutik. Mauris di bawah komando langsung sang papa. Semua gerak-gerik Alvin tidak akan sebebas dulu. “Mari, Pak, Tuan, kita duduk dulu,” ajak Dara menunjuk sebuah sofa tidak jauh dari mereka. “Thanks ya, Beib.” Beralih Dara mengucapkan terima kasih pada rekannya. “Jangan lupa uang tutup mulut,” bisik sang kawan sebelum berlalu masuk menuju ruangan khusus para pekerja klub. “Tuan Muda mau dicarikan teman kencan yang enerjik,” ucap Mauris melirik Alvin. “Tentu saja Tuan, aku siap melayani tuan. Hanya saja aku harus izin dulu pada atasan. Uang pangkal izinnya cukup mahal, satu juta untuk membawaku. Itu di luar uang ....” Jari Dara bergerak membuat tanda kutip. “Tentu saja, uang satu juta tidak ada artinya untuk tuan muda.” Mauris merogoh saku jasnya. Dia mengeluarkan amplop cokelat dan menarik beberapa lembar uang. “Ini uang pangkal dan tips di muka,” ujarnya sembari menyerahkan uang pada Dara. Binar mata Dara mencerminkan kebahagiaan. Dua kali lipat uang yang diberikan Mauris. Segera dia berpamitan menuju ruang bos dan meninggalkan dua tamunya sebentar. “Gila! Paman mau bunuh aku!” “Tergantung, kamu mau main enak sama dia apa mau main aman?” Tangan Alvin melayang hendak menampar lengan Mauris, tapi sayang dapat ditangkis dengan mudah. “Bukannya robek perawan itu nikmat, Tuan. Sekali dayung, dua tujuan didapat,” bisik Mauris menambah raut kemarahan semakin kentara di wajah Alvin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD