Dara keluar dari kamar mandi dengan baju haram yang selalu dia siapkan di dalam tasnya. Dia berjalan dan berlenggok sensual dengan wajah yang sudah disapu make up tipis. Alvin yang duduk di tepi ranjang menarik napas dalam-dalam.
Di otaknya sudah dipenuhi aneka makian untuk Mauris. Sengaja sekali Mauris seperti menjadikan dia umpan. Mata pria mana yang tahan dengan godaan yang tersaji di depan mata.
Tipisnya lingerie yang dipakai Dara mempertontonkan semua lekuk tubuhnya. d**a sintalnya menyembul keluar. Putingnya terlihat samar dari balik kain lingerie. Belum lagi area segitiga yang membuat detak jantung Alvin berdegup tak karuan.
Semakin Dara mendekat, semakin kepalanya berdenyut kencang.
"Tuan muda, " desah manja nan seksi diiringi sapuan lembut jemari Dara di wajah Alvin membuat aliran darahnya serasa menghangat.
Alvin menahan napas, menutup mata seraya mengucapkan aneka sumpah serapah yang dialamatkan buat Mauris.
'Sial, satu menit dia tidak datang. Jangan salahkan aku kalau gadis ini aku terkam,' batinnya dengan tangan terkepal meremas seprei.
Dara duduk di pangkuan Alvin. Tangan kirinya melingkari di leher Alvin. Sementara jemari kanannya menari di wajah sang tuan muda.
Baru kali ini Dara mendapatkan pelanggan tampan dan muda. Sungguh beruntung kalau nanti Alvin menjadi pelanggan tetapnya juga.
"Tuan muda grogi? Ini yang pertama?" tanya Dara berbisik dengan gaya sensual.
Sekujur badan Alvin merinding, bulu kuduknya meremang. Kebingungan kini melanda. Ingin rasanya dia menerkam Dara sekarang juga. Namun, tujuannya menemui Dara jelas bukan itu.
"Siapa nama kamu?" tanya Alvin menjauhkan satu tangan Dara. Matanya terbuka kembali. Netranya beradu dengan mata liar Dara yang seperti sedang menelanjanginya.
"Dara, Tuan. Dara muda yang siap memuaskan hasrat sang tuan muda." Senyum manis diakhiri dengan gerak bibir yang sensual semakin membakar gairah Alvin.
Sayang seribu sayang, dalam keadaan normal dan tanpa pengaruh obat, sebengal apa pun seorang Alvin. Dia tetap mengindahkan pesan sang papa untuk tidak menyentuh wanita yang bukan muhrim. Namun, kalau terjebak terlalu lama dalam keadaan seperti ini. Bisa jadi Alvin malah berubah bak serigala lapar karena terus melihat gerak badan sensual Dara yang menggoda jiwa lelakinya.
“Tuan muda, aku baru mendapat pelanggan setampan Anda.” Dara memajukan bibirnya, hendak mendaratkan kecupan di sudut bibir Alvin. Namun, pelan tangan sang tuan muda mendorong badan Dara.
“Maaf Dara, aku belum siap.” Gemetar suara Alvin terdengar, degupnya sungguh seperti genderang perang. Dara tersenyum melihat Alvin membuang wajah.
“Apa aku yang harus memulai terlebih dulu, Tuan,” tawar Dara. Tangannya merayap, membelai wajah Alvin dari atas, turun perlahan hingga ke lehernya.
Ya Tuhan, godaan macam apa ini. Terlalu naif kalau mengira Alvin tidak tergoda, tidak membara hasratnya disentuh jemari lembut dengan hembusan napas hangat yang menyapu wajahnya.
Beruntung tak lama setelahnya pintu hotel terbuka dan seringai senyum meledek ala Mauris membuat Alvin langsung melempar bantal ke arah tangan kanan sang papa.
“Sial! Dari mana saja kau! Dasar paman tua menyebalkan,” umpatnya.
Dara yang melihat hal itu malah bingung. Tiba-tiba Mauris masuk dengan menenteng dua kresek putih yang dipamerkan pada Alvin. Apa kali ini dia diminta melakukan threesome dengan tuan muda dan pengawalnya. Seketika badan Dara bergidik, dia belum pernah melakukan hal seekstrim itu. Melayani dua pria sekaligus dalam satu malam.
“Maaf tuan, ini –”
“Pakailah.” Alvin melepas jaket yang dia pakai, memberikannya pada Dara untuk membungkus tubuh seksinya dengan lingerie merah menyala.
“Aku masih pria normal, seandainya paman tua itu datang terlambat. Kamu aku makan bulat-bulat sampai hasratku mereda,” gumam Alvin. Terdengarlah, tawa renyah Mauris menimpali kalimatnya.
“Duduklah,” suruh Alvin menunjuk sofa yang ada di kamar hotel. Mauris sudah duduk terlebih dulu di sana. Ada beberapa minuman dingin dan makanan ringan yang akan jadi teman mereka saat menginterogasi Dara.
“Siapa namanya?” tanya Mauris begitu Dara duduk di salah satu sofa.
“Dara, Paman.”
“Alah, jangan ikutan panggil aku paman. Kamu bisa panggil aku om, biar lebih seksi dan menggoda.” Mata Mauris mengerling genit.
“Dara, Om,” balas Dara. Namun, dengan gaya bahasa biasa tidak seperti tadi saat dia menggoda sang tuan muda. Dara acuh tak acuh dengan keberadaan dua pria di kamar ini. Isi kepalanya mulai dipenuhi banyak tebak-tebakan. Jangan-jangan uang pangkal yang diberikan dua kali lipat pertanda kalau malam ini dia diminta melayani keduanya secara bersamaan.
“Nona Dara.”
“Iya, Om,” gagap Dara menjawab, terlihat dia meneguk saliva, menatap penuh takut pada Mauris. Ah, siapa pula yang tidak menganggap Mauris menyeramkan. Badan tinggi tegap dengan kulit gelap dan rambut hitam legam.
“Berapa tarifmu semalam, selain uang pangkal yang tadi?”
“Tiga juta untuk long time service dan dua juta untuk short time, Om.” Sangat kentara ekspresi takut di wajah Dara.
“Santai saja, dia tidak makan orang,” ujar Alvin. Dara menoleh, melempar senyum meski tetap saja kalimat Alvin tidak membuatnya tenang.
“Tenang saja. aku bayar lunas di muka.” Mauris merogoh saku jasnya. Mengeluarkan amplop cokelat dan mengambil uang seperti yang disebutkan Dara.
“Tiga juta rupiah.” Mauris meletakannya di atas meja.
“Tapi maaf Om, aku tidak biasa main threesome.” Dara menggigit bibirnya, melirik Mauris dan Alvin secara bergantian.
“Tuan muda mau main threesome sama paman tuamu ini,” ledek Mauris.
“Gila! Cepat lakukan tugasmu atau aku laporkan pada papa kalau kamu hampir membuat aku kembali berzina,” ancam Alvin dengan sorot mata tajamnya.
“Tugas? Tugas apa tuan,” cicit Dara bertanya.
“Tenang saja Nona Dara cantik, kami membayarmu tidak untuk main gulat di ranjang. Apalagi untuk main threesome, ogah aku main bertiga sama bocah ingusan macam dia.”
“Kurang ajar! Aku bosmu,” geram Alvin, tapi Mauris mana peduli. Dia malah tertawa cekikikan.
“Terus, untuk apa kalian membayarku?” Dara dilanda bingung.
“Silakan, Bos muda.” Mauris mempersilakan Alvin bicara.
“Kamu kenal Fitri Agisti?”
“Agis,” ralat Alvin cepat.
Ragu-ragu Dara mengangguk. Dia mulai memindai dua pria yang duduk di hadapannya. Apa salah satu dari mereka yang membuat hidup Agis hancur, dilanda trauma karena keperawanannya direnggut paksa.
“Kalian?”
“Tenang Nona Dara, kami tidak ada niat untuk menyakiti kamu atau Nona Agis,” jelas Mauris melihat raut waspada di wajah Dara.
“Kami hanya butuh jawaban jujurmu tentang Nona Fitri Agisti-teman SMK kamu, teman satu kampung kamu. Benar begitu?”
Dara diam, dia mulai menimbang apa tujuan dari kedua pria ini. Haruskah dia menjawab jujur? Namun, kebohongan dia saja sudah menyakiti Agis hingga kilat marah selalu terlihat dari sorot matanya. Apa kali ini dia lebih baik berbohong demi menyelamatkan sahabat baiknya.
Jujur atau bohong, kedua kata itu sekarang berputar di kepala Dara. Disertai kepalanya yang terus bergerak pelan, menatap Mauris dan Alvin bergantian.