Agis tak kunjung menjawab, Alvin mengalah mendekat. Dia menekuk kaki, menjadikan kedua lutut sebagai penopang badannya. Tangannya terkatup di depan wajah yang menunduk. Tidak Alvin tahu kalau Salwa terpaku melihat aksi kekasih hatinya. Nampan di tangannya bergetar, tapi Salwa berusaha tegar. Tidak mau merusak momen mengharukan yang ada di hadapannya. “Maafkan aku Agis. Semua yang aku lakukan malam itu tanpa didasari kesadaran. Aku mabuk, bukan karena mabuk alkohol, tapi mabuk karena minuman yang kamu berikan. Tapi itu bukan salahmu, itu murni salahku.” Alvin mengangkat wajah usia mengucapkannya. Pandangannya beradu dengan kedua netra Agis yang berembun. Entah sudah berapa banyak air mata yang dia keluarkan sejak kejadian naas yang menimpanya. Hari ini di depan matanya sang pelaku berlu

