]Wengi, Wati dan Halimah langsung berhambur mendekati Agis untuk menenangkannya. Mereka membawa dan menuntun Agis masuk ke kamar yang dulu di tempati almarhumah Linda-Nenek Alvin. Jangan sampai Agis kembali histeris. Suster Ina juga turut ikut masuk ke dalam kamar. “Mbak, tenang mbak. Lihat!” Suster Ina mengangkat dagu Agis. “Semua yang di kamar ini sayang sama mbak Agis. Ibu Wati, Ibu Halimah dan mbak Wengi semua sayang sama mbak Agis. Coba mbak tatap satu persatu wajah mereka.” Suster ini menunjuk ketiga orang yang ada di hadapan mereka dengan ibu jarinya. “Tatap mbak Ibu Wati, Wengi, Ibu Halimah. Coba mbak selami perasaan mereka, semua yang di sini sayang sama mbak Agis.” Agis menurut matanya bergerak perlahan, memindai satu wajah ke wajah lainnya. Berurutan dari Wati, dia selami

