Klinik itu sunyi, hanya suara langkah kaki dan detak jam dinding yang terdengar terlalu keras. Ayana duduk di kursi ruang tunggu, jemarinya saling bertaut erat. Setiap detik terasa seperti hukuman. Bayangan malam itu—malam di rumah Lucas, ketika batas-batas runtuh dan hasrat bercampur luka—melintas tanpa izin. “Tidak…” bisiknya. “Jangan.” Namun hatinya berdebar dengan irama yang aneh, seharusnya dia tak sepenuhnya takut. Nama Ayana dipanggil. Dia masuk ke ruang periksa dengan langkah kaku. Dokter wanita itu ramah, suaranya lembut, tangannya profesional. Beberapa menit terasa seperti selamanya. Lalu monitor dinyalakan. “Tiga belas minggu,” ujar dokter itu akhirnya. “Kau hamil.” Kalimat itu mengguncang dunia Ayana. Hamil. Air mata langsung mengalir tanpa bisa ditahan. Tangannya me

