i love you

1531 Words
"Ada apa dengan wanita itu, bukan aku yang ingin di rawat disini, dia pikir aku sengaja membuat diriku terluka, salahkan saja bosnya, kenapa menabrak mobilku" batin alice. "Tak usah hiraukan ucapannya" ucap Jason datar. "Kau tak harus membentaknya, dia terlihat sangat kecewa" Alice menatap Jason. "Biarkan saja, dan jangan mengusirku, aku akan disini sampai kau di ijinkan pulang." Jason menatap Alice. Lisa menangis dia berjalan begitu cepat menuju toilet, tiba-tiba saja "Bugh" Lisa menabrak seseorang dan jatuh ke lantai. "Apa kau tidak punya mata?" Bentak Lisa tanpa tau orang yang menabraknya. "Kau yang tak punya mata, menabrak bos ku" bentak Raka. "Dasar pria sialan" Lisa merapihkan roknya dan sepatunya yang terlepas. "Apa yang kau katakan" suara berat yang begitu mengintimidasi membuat, Lisa mendongakan kepalanya, di liatnya Calvin dan Raka dengan aura yang menyeramkan. Alice dan Jason yang di dalam ruangpun mendengar kebisingan itu. "Berisik sekali, apa terjadi sesuatu" gumam Alice, Jason tak memperdulikan dia masih fokus dengan laptopnya. "Mr. Calvin?" Lisa begitu kaget karena yang dia umpat adalah seorang Calvin Radiawan. "Apa begini cara CEO Himawan crop mendidik asistennya" ucap Calvin tegas. "Maafkan saya! Saya salah" Lisa membungkuk kan sedikit tubuhnya. Ia tak berani melawan, jika jason mengetahui kejadian ini tamat lah sudah dirinya. Radiawan corp dan Himawan crop sudah menjalin kerja sama cukup lama, bisa di bilang puluhan tahun, sejauh ini kedua belah pihak selalu menunjukan yang terbaik dari segi perusahan atau pun sikap masing-masing pemimpin. Lisa masih diam membungkukkan badannya tak tau harus berbuat apa lagi, dia hanya bingung untuk apa Calvin kerumah sakit ini. "Antar aku keruangan Alice!" Tegas calvin "Baik, silahkan ikut saya" Lisa mengarahkan Calvin dan Raka menuju ruangan Alice, "lagi-lagi wanita itu" gumam Lisa kesal. Tok tok tok. Ceklek, Calvin langsung masuk dan menghampiri Alice, tidak memperdulikan Jason yang duduk di sofa, Jason menatap Calvin yang menghampiri Alice dengan wajah datarnya. "Kau baik-baik saja" ucap Calvin "Astaga, kau terluka beautiful" ucap Raka khawatir dengan nada yang meledek. "Sudah ku katakan aku baik-baik saja" ucap Alice malas dia berfikir semua orang lebay karena terlalu menghawatirkan ya. "Kau bahkan tidak menyapaku" Jason mengalihkan perhatian Calvin. "Kau bahkan telah menabrak sekertaris ku" jawab Calvin seraya menghampiri Jason. "Apa kabar?" Calvin mengulurkan tangan. "Never better!" jason menanggapi uluran tangan Calvin. "Jadi dia sekertaris mu?" Jason bertanya lagi. "Benar, dan kau membuatnya terluka" "Ayolah, aku tak sengaja" Jason membela diri " Aku tau, dan itu sebanding dengan kau kehilangan proyek di new York" ledek calvin, membuat Raka dan alice terkekeh "Kau benar! demi dia itu tak masalah" Jason menatap Alice, Alice langsung membuang pandangannya ke atas. Raka yang di sampingnya hanya menggaruk kepala yang tak gatal Raka tau suasana hati bosnya saat ini. "Cih, apa bagusnya wanita itu" batin Lisa. "Aku sangat terkesan" ucap Calvin santai. "Ku kira ini sudah cukup, mulai sekarang aku yang bertanggung jawab atas sekertaris ku". "Sayang sekali, padahal aku masih ingin menemaninya" ucap Jason santai, seketika ruang itu menjadi sangat mencekam di sadari atau tidak, Calvin dan Jason sedang menatap Alice dengan raut wajah yang tak bisa di artikan. Calvin berjalan mendekati Alice. "Aku akan memindahkan mu kerumah sakit lain" ucap calvin lembut "Nikmati saja rumah sakit ini Mr. Calvin aku sudah menyewa lantai paling atas untuk Alice, kau tidak usah khawatir" "Tidak, aku ingin pulang saja" spontan Alice memecahkan suasana. "Baiklah, kita akan segera pulang" Calvin mengikuti keinginan Alice, bagi nya pergi dari sini adalah pilihan terbaik daripada harus melihat Alice bersama Jason, terlihat sekali kalau Jason mulai menyukai kekasihnya itu. Alice sudah bersiap meninggalkan rumah sakit bersama Calvin dan Raka. "Terimakasih untuk semua pertolongan anda Mr. Jason, maaf untuk kegagalan proyek mu, aku sangat menyesal" ucap Alice lembut dan sopan. "Nope! kau layak mendapatkan yang terbaik" ucap Jason penuh perasaan. "Apa tidak ada yang tertinggal?" Tanya Calvin pada Raka. "Tidak ada" jawab Raka singkat. "Apa tidak ada yang ingin kau ucapkan?" Jason menatap Lisa penuh tekanan. "Maaf atas keslahan saya tadi Mr calvin, pak Raka," Lisa membungkukkan badannya lalu berdiri tegap lagi. "What else?" Lagi ucap Jason penuh tekanan. "I'm sorry Alice" Lisa dengan wajah ketusnya. "Tak masalah, perlu kau ketahui aku tak pernah menginginkan kejadian ini, jadi jangan terus menyalahkan ku" ucap Alice tegas. "Ayo pergi" ajak Calvin mereka meninggalkan Lisa dan Jason yang masih di dalam ruangan. "See you soon Alice" itu kata terkahir yang di ucapkan Jason sebelum mereka benar-benar meninggalkan ruangan. Dalam perjalan. "Yakin ingin pulang? Atau kita kerumah sakit saja, aku tak ingin luka mu memburuk!" Calvin khawatir. "Iya, aku akan ke klinik saja nanti untuk mengganti perban, ini luka ringan kau tak usah khawatir" Alice meyakinkan Calvin. Setibanya di apartemen Calvin langsung merebahkan tubuh alice di kasur, Alice masih merasa sedikit pusing, ia akan tidur sebentar untuk menghilangkan sakitnya. Calvin menatap Alice yang baru saja tertidur pulas lalu, "cup" mengecup bibir Alice singkat sebelum pergi dari kamar Alice menuju sofa di ruang depan. ~~~~~~~~~~~~~ Di kantor. Ceklek... Raka membuka pintu ruangan rianty. "Bagaimana keadaan Alice?" "Dia baik-baik saja, hanya luka ringan di kepala" Raka duduk di meja rianty. "Syukurlah aku sangat khawatir, tapi tidak juga, setelah mendengar posesif nya pria dingin itu menjaga Alice, aku pikir Alice akan baik-baik saja" "Ya kau benar." "Siapa pria itu." Rianty menatap Raka. "Jason Himawan." Jawab Raka santai "Alice, pria tampan selalu mengelilingi mu" ucap rianty lalu berfokus pada komputernya. "Apa kau iri?" "Tentu saja, wanita mana yang akan menolak pria tampan." Rianty masih berfokus pada komputernya, tiba-tiba Raka memutar kursi yang di duduki rianty mengarah ke hadapannya, mereka saling menatap. "Apa kau saja tidak cukup bagimu?" Pertanyaan Raka mulai tak masuk akal. Rianty mengangkat sebelah alis nya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Raka. "Seperti nya kau tidak mengerti maksud dari kata-kata ku" suara lembut rianty menerpa wajah Raka hembusan nafasnya sangat terasa, membuat Raka memajukan wajahnya dan mencium rianty lembut, rianty pun membalas ciuman kekasihnya itu. "Kapan keberangkatan mu ke jepang?" Rianty melepas ciumannya. "Lusa" jawab Raka membelai pipi kekasihnya itu. "Aku akan ikut mengantar mu ke bandara" rianty mengalungkan tangannya di leher Raka. "Itu yang ku harapkan" jawab Raka lalu mencium lagi rianty, kali ini ciuman yang begitu menggebu, membuat keduanya sangat b*******h, tangan Raka mulai melepas satu persatu kancing kemeja yang rianty kenakan, terlihat bra berwana hitam lalu Raka membuka sedikit bra rianty hingga memperlihatkan niple nya tak menunggu lama Raka langsung menjilat memainkan meremas bukit kembar rianty dengan penuh gairah. "Ahh...Raka" desahan rianty membuat gairah kekasihnya itu makin memuncak. Tangan Raka mulai turun kebawah menyelinap kedalam rok rianty, Raka menggeser sedikit kain yang menutupi surga dunia itu lalu memasukan jarinya kedalam. "Ahhhhhh" rianty mendesah nikmat tak lama ia menutup mulutnya takut ada yang mendengar. " Apa kau sudah mengunci pintunya?" Tanya Raka sambil memaju mundurkan jarinya." Hmmm" rianty mengangguk begitu menikmati jari-jari Raka yang keluar masuk di dalam inti kewanitaan nya. Sungguh rianty tak kuasa menahan desahannya. "Ahh aku ingin...". Rianty tak melanjutkan ucapannya. "Keluarkan lah sayang" Raka mencium rianty rakus semakin mempercepat gerakan jari-jarinya, hingga rianty mengerang nikmat saat pelepasannya. Raka mengeluarkan jarinya yang basah, rianty masih mengatur nafasnya. "Kau sangat menikmatinya". Raka menatap rianty. " aku mencintaimu" ucap rianty "aku lebih mencintaimu" jawab Raka. " Apa kita akan melakukannya disini?" Tanya rianty dengan nafas yang belum stabil. "Tidak sayang, ini di kantor!" Raka membelai rambut rianty. "Lalu bagaimana dengan dia" mata rianty mengarah ke junior Raka yang tentu saja sudah mengeras sempurna. "Aku akan ke kamar mandi, rapikan lah pakaianmu" Raka mengecup rianty lalu pergi ke kamar mandi. "Apa perlu bantuan" tawar rianty. "Tidak, ini hanya sebentar" Raka memasuki kamar mandi. rianty tersipu malu dengan kelakuannya, sejujurnya dia tidak benar-benar menawarkan bantuan, itu hanya spontan saja keluar dari mulutnya, untunglah Raka mengerti dan paham rianty tidak pernah melakukan itu, kalau tidak pasti akan sangat canggung. ~~~~~~~~~~ Apartemen Alice. Alice membuka matanya, ia tidur sangat nyenyak, sampai melupakan Calvin. Ia bangkit dari kasur lalu mencari Calvin, ternyata sedang duduk si sofa di temani laptopnya. "Kau sudah bangun?" Calvin menutup laptopnya dan menghampiri Alice yang berdiri di depan kamar. "Apa ada yang sakit" Calvin bertanya lagi dan mencium bibir Alice singkat. "Ini mulai terasa sakit, mungkin karena jahitannya." Alice memegang perban luka di kepalanya. "Ayo kerumah sakit" Calvin menarik tangan Alice. "Tidak usah, aku akan minum obat pereda sakitnya" jawab Alice dan menarik tangannya kembali. "Ya sudah, aku sudah memesankan bubur, tunggulah mungkin sebentar lagi tiba" Sambil menunggu makanan tiba, Calvin mengajak Alice untuk duduk bersama di sofa, ia membuka laptopnya lagi, Alice mencium pipi Calvin dan menyandarkan kepala di bahu kekasihnya itu. tiba-tiba Alice mengangkat kepalanya kaget karena teringat sesuatu, "bagaimana dengan mobilku". "ah bagaimana aku bisa melupakan itu". Calvin menoleh menatap Alice keduanya heran kenapa bisa melupakan mobilnya. "akan ku belikan yang baru" ucap Jason santai. "tidak, itu hasil kerja kerasku" keluh Alice. "mungkin mobilnya sudah rusak, kau tau kendaraan yang sudah terlibat kecelakaan tidak baik masih di pakai, lebih baik di jual" "aku akan memperbaikinya, lalu menjualnya, paling tidak, aku tak mencampakkan hasil kerja kerasku begitu saja" rengek Alice manja. "aku akan hubungi Jason" calvin menghembuskan nafas nya kasar. menghubungi Jason adalah hal yang paling ingin ia hindari kecuali tentang perusahaan. "i love you" Alice mengecup pipi Calvin dan menyandarkan Kembali kepalanya di bahu Calvin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD