Seperti biasa Alice bersiap berangkat kekantor, ia menuju parkiran dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hari ini hujan deras mengguyur kota Jakarta terlihat lampu merah di depan Alice pun ngerem pelan dan menghentikan mobil nya.
"Brukkkk" terdengar suara hantaman yang sangat keras, mobil Alice terdorong kedepan dan menabrak mobil yang berada di depan mobilnya, terlihat di belakang sebuah mobil telat ngerem karena lampu merah dan jalanan yang licin lalu menabrak mobil Alice jadi lah kecelakaan beruntun.
Dahi Alice terbentur setir darah mulai mengalir kepala nya terasa sangat pusing, ia sereasa mau pingsan tapi masih ada sedikit kesadaran. Tok tok, seseorang mengetuk kaca mobilnya, Alice menurunkan kaca mobilnya.
"Apa kau baik-baik saja nona?" tanya seorang pria, pria itu terdengar sangat panik dan khawatir, "aku akan membawamu kerumah sakit". Pria membuka pintu mobil Alice, Alice keluar dari mobilnya kakinya sangat lemas dan gemetar, tak kuat menopang tubuhnya ketika ia hampir jatuh, pria itu segera memegang tubuh alice dan menggendong nya ala bride style menuju mobil yang sudah di siapkan anak buah pria itu, dalam perjalanan kerumah sakit terdengar pria itu sedang berbicara di tlp dengan entah siapa "bereskan semuanya dan beri uang minta maaf atas kelalaian ku mengemudi, lakukan apa yang harus di lakukan". Alice hanya mendengar itu tak lama semu menjadi gelap.
Di kantor.
Terlihat rianty mencoba berkali-kali menghubungi Alice tapi tak di angkat, ia sangat cemas tak biasanya Alice telat masuk kantor dan tak memberi kabar. Ia bingung lalu mencoba menghubungi Raka.
"Halo sayang " ucap Raka di sambungan tlp
"Apakah Alice menghubungimu? Aku sudah menghubungi nya berkali-kali tapi tak ada respon" Tanya rianty tergesa-gesa terdengar khawatir.
"Pagi ini kami tidak saling menghubungi, ada apa?" Raka balik bertanya.
"Aku dan Alice juga tidak saling memberi kabar pagi ini! Alice tidak masuk kantor dan dia tidak memberi kabar aku takut terjadi sesuatu, kau tau dia tidak pernah menyembunyikan apapun dariku, apa lagi sampai sulit di hubungi itu tidak mungkin, kecuali..." Rianty enggan meneruskan kata-katanya ia mondar mandir memegang dahinya.
"Aku akan keruangan Calvin, jangan panik tunggu kabar dari ku" Raka langsung memutuskan sambungan tlp nya. Raka yang baru sampai parkiran bergegas masuk menuju ruangan, sialnya ia tak mendapati Calvin disana, ini masih pagi tentu saja Calvin belum Datang.
Di rumah sakit.
Ponsel Alice terus bergetar kadang terlihat nama "Raka" kadang terlihat nama "rianty". Alice sudah masuk ruang IGD dan dalam penanganan dokter terbaik di rumah sakit itu, pria itu menyuruh dokter paling bagus untuk mengobati Alice. Ponsel Alice masih terus bergetar akhirnya pria itu memutuskan untuk mengangkatnya.
"Alice, kau kemana saja? aku sangat khawatir" teriak rianty marah karena Alice baru mengangkat tlp nya.
"Apa kau teman Alice" jawab pria itu.
Rianty terkaget bukan suara Alice yang ia dengar melainkan suara pria.
"Kau siapa?" Tanya rianty tegas.
"Aku Jason aku yang bertanggung jawab atas keadaan Alice, aku tak sengaja menabrak mobilnya tadi" ucap Jason.
"What?" Rianty makin di buat kaget otaknya sudah tak bisa berfikir, yang dia inginkan sekarang adalah melihat keadaan sahabatnya itu. "Di rumah sakit mana? Aku akan kesana! " Ucap rianty tergesa-gesa.
"Tidak usah kesini, kau lanjutkan saja pekerjaanmu, aku sudah menjamin keamanannya dan aku sudah menyewa lantai paling atas untuk perawatan Alice, tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Oia bilang juga dengan pria yang bernama Raka untuk berhenti menghubungi Alice aku pusing melihat ponselnya terus bergetar" pria itu langsung memutuskan sambungan tlp nya.
"Ghost! Pria macam apa yang di jumpai Alice, mungkinkah seorang billioner? Alice kau nampak sial tapi juga beruntung." Gumam rianty.
ceklek Raka masuk keruangan rianty.
"apa Alice sudah memberi kabar" Raka terlihat gelisah dan panik.
"sudah! tapi seorang pria yang memberi kabar" jawab rianty lesu.
"apa maksudmu?" raka penasaran
"Alice mengalami kecelakaan dan pria itu mengantarnya kerumah sakit"
"rumah sakit mana?" tanya Raka memastikan.
"itu dia, aku tidak tau, aku sudah bertanya, tapi pria itu tak memberitahu, dia bahkan menyuruh mu untuk berhenti menghubungi Alice, Alice baik-baik saja bersama pria itu"
"aku akan menghubungi Calvin, tidak mungkin Alice akan baik-baik saja bersama pria asing, dia terluka" Raka mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Calvin.
~~~~~~~~~~~
pria itu menatap Alice yang tertidur pulas, kulit putih nan mulus, bibir merah yang sexy saat sedang terluka dan shyok pun Alice masih terlihat cantik, "Alice! nama yang cantik untuk wanita cantik." batin pria itu. Alice pun membuka matanya tercium bau obat sangat kental.
"kau sudah sadar?" suara itu terdengar lagi, ya suara yang Alice dengar saat sebelum dia pingsan.
"apa ada yang sakit di bagian lainnya? katakan saja aku akan menyuruh dokter segera memeriksanya" ucap pria itu posesif
"tidak ada, terimakasih sudah menolongku" ucap Alice dengan suara yang sangat lemah.
"ini sudah kewajiban ku, namaku Jason Himawan, aku orang yang tak sengaja menabrak mobilmu dari belakang, saat itu aku sedang menerima panggilan dari ibuku, dan tak menyadari ada lampu merah, aku sudah berusaha mengerem karena jalan yang licin pula aku tak bisa menghentikan mobilnya tepat waktu, maafkan aku." Jason memberi penjelasan sambil menatap alice dan pandangan mereka bertemu.
"tak apa ini sudah terjadi" jawab Alice dan mengalihkan pandangannya.
"ya Tuhan pria tampan lainnya." batin Alice.
"ini ponselmu, cepat hubungi temanmu kurasa mereka akan segera murka karena panik dan khawatir" Jason memberikan ponsel Alice.
"kenapa pria tampan selalu dingin seperti itu huft, tapi tidak untuk Raka dia berbeda." batin Alice.
"Astaga, begitu banyak panggilan tak terjawab" gumam Alice melihat-lihat ponselnya. Baru saja ia akan menghubungi rianty tiba-tiba ponselnya bergetar.
Drrrrttttt "bos dingin calling". Rianty mengangkat panggilan Calvin tapi tidak mengeluarkan suara.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Calvin khawatir.
"Aku baik-baik saja" jawab Alice dengan sedikit gugup.
"Tunggulah aku akan segera sampai" calvin memutuskan sambungan tlp nya.
Alice menoleh ke arah Jason yang sedang sibuk dengan laptopnya sesekali mengangkat tlp entah dari siapa tapi terlihat sangat penting, bahkan lebih dari 3 panggilan yang menghubunginya, terlihat seorang wanita juga begitu sibuk mungkin dia asistennya.
"Aku sudah baik-baik saja, kau boleh pergi melanjutkan aktivitasmu" ucap Alice memiringkan tubuhnya dan menatap Jason.
"Apa kau mengusirku?" jason menghentikan jari-jari nya yang dari tadi sibuk di atas keyboard.
"Tidak, maksudku, hmmm sepertinya kau orang yang sibuk, aku tak ingin mengganggu pekerjaanmu karena menemaniku disini, lagipula sebentar lagi temanku akan datang, jadi tak apa jika kau ingin pergi." Alice menjelaskan dan masih menatap jason.
"Ya, kalau saja kau Tidak harus dirawat tidak mungkin bos ku akan tetap disini untuk mengurus wanita lemah sepertimu, dia mengorbankan 5milyar dan membatalkan proyek besar di new York, hanya untuk menemanimu disini dan sekarang kau malah mengusirnya, dasar wanita tidak tau... " Belum sempat wanita itu melanjutkan ucapannya Jason sudah mengehentikan nya, "hentikan Lisa" bentak Jason.
"biarkan saja wanita ini tau semua Jason, kau tak harus terus jadi pahlawannya, kau tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya". ucap Lisa dengan nada meninggi.
"cukup! Apa kau tuli" Lisa sangat kaget tak pernah sekalipun Jason membentaknya penuh emosi, meskipun dia melakukan banyak kesalahan, tapi tidak kali ini Jason sangat marah hanya demi wanita yang baru ia temui.
"Kau keterlaluan" Lisa pergi meninggalkan ruangan