Bab 3 - Keputusan Mami

1171 Words
Pras datang ke sebuah hotel tempat dia janjian dengan Sari, dia merasa heran tak biasanya Sari mengajak makan malam di hotel. Paling mewah biasa juga di restoran, namun malam ini di hotel bintang lima seperti sekarang ini. "Pras, Mami kangen banget sama kamu." Sari memeluk Pras dengan erat, sudah dari tadi dia menunggu kedatangan putra pertamanya ini. "Mami sendiri?" tanya Pras. Sari menggelengkan kepala dengan tegas. "Mami dengan Rahma? Mana Rahmanya?" tebak Pras berpikir Sari bersama adiknya Rahma. Sari tidak menjawab dia justru meminta Pras duduk anteng. Pras duduk tak jauh dari Sari, dia merasa curiga pada ibu yang telah melahirkan dirinya ini, apalagi tidak ada Rahma bersama Sari, tidak biasa ibu yang telah melahirkannya ini tidak mengajak Rahma seolah ada sesuatu. “Kata Ara tadi pagi bertemu Mami?” tanya Pras basa-basi sembari melirik ponselnya, tumben sekali Ara tidak mengirimi dia pesan, padahal biasanya selalu saja sibuk menyuruh dia pulang, apalagi tidak pergi dengan dia, pasti Ara selalu melakukan panggilan video untuk bicara dengan Rahma. “Iya. Ara cerita apa aja sama kamu,” jawab Sari dengan raut muka tak senang mengucapkan nama Ara. “Mi, aku mohon jangan bersikap berlebihan gitu sama Ara, kasihan Ara.” “Oh, jadi istri kamu itu ngadu, Mami hanya bicara soal fakta kok, Ara itu emang nggak bisa punya anak, kamu itu jangan bodoh jadi laki-laki, kamu bisa kok cari lebih dari Ara.” “Mami, cukup! Walau bagaimanapun Ara itu istri aku,” tukas Pras kesal, dia memang tidak bisa berbuat apapun atas masalah dalam hidupnya ini, apalagi akhir-akhir ini hubungan dia dan Ara sangat tidak baik. Namun tidak ada hari untuk berhenti mencintai Ara, apalagi sampai mencari pengganti. “Pras, buka mata kamu lebar-lebar, Ara itu nggak bisa hamil, kamu nggak bisa selamanya se—-” “Mami mengajak aku makan malam hanya untuk ini?” Sari mulai merasa Pras marah. “Lebih baik aku pulang!” “Pak Pras?” Dahi Pras mengerut bingung, bagaimana bisa Dona juga ada di sini, ini kebetulan yang tidak dia inginkan. “Nggak nyangka Pak Pras anak tante Sari," tambah Dona Dona adalah putri dari sahabat Sari, kebetulan Dona dan Pras mereka dulunya teman bermain masih kecil, mungkin Pras memang lupa, tapi Sari ingat betul dulu mereka sering sekali bermain nikah-nikahan, namanya juga anak kecil kehaluannya banyak “Dona? Kamu kok bisa kenal mami?" "Tante Sari dan ibu saya berteman baik. Saya juga baru tahu jika Pak Pras anak tante Sari." Pras menyungging senyum kecil dari sudut bibirnya, dia tak menyangka akan bertemu seperti ini, tapi jika Ara tahu pasti akan mengamuk padanya. “Pras, Dona ini anak tante Imel loh teman Mami di desa kakek kamu, ingat dong dengan tante Imel?” ucap Sari antusias. Pras mengangguk pelan, ck sekarang dia paham maksud Sari, pantas saja mami meminta bertemu di sini, ternyata ada rencana. Pras menyesal, dia tidak menyangka maminya akan merencanakan pertemuan dengan sengaja agar bisa menjodohkan dia dan Dona. Sebelum pergi dia bertengkar dengan Ara, dan mengira ini hanya dinner keluarga, perasaan Ara pasti hancur, dia yakin Ara diminta maminya agar tidak ikut dinner. Jujur saja tidak pernah terlintas di pikiran Pras untuk mengkhianati Ara. *** Sementara Ara terus merasa gelisah sejak Pras pergi, pikirannya terus melayang bagaimana pertemuan Pras dan wanita yang akan mami jodohkan. d**a Ara terasa terbakar, menangis tidak ada gunanya, air mata dia seakan habis, seperti tombak terus menerus menerkam jantungnya. Tidak ada yang mengerti dirinya, selain ia sendiri. “Maaf.” Ara yang berbaring di ranjang terjenggit mendapatkan suaminya sudah pulang dan mendadak memeluknya dari belakang. Pras sungguh merasa bersalah, apalagi saat mendengar ide gila maminya yang akan menjodohkan dia dengan Dona. Ara menghapus air matanya, lalu berbalik menghadap Pras. Hatinya lelah, kadang dia ingin sekali menghentikan rasa sakit, namun faktanya dia masih terus bertahan, terus mencintai, Ara percaya laki-laki yang dicintai tidak akan melukai hati terlalu perih. Saat ini hanya ingin Pras memahami perasaannya. “Maaf untuk apa?” Pras terkekeh kecil, meski tahu Ara menyembunyikan rasa sakit, namun tetap saja istrinya bersikap seolah tidak mengetahui apapun. “Apanya lucu Mas? Kok kamu ketawa?” “Kamu yang lucu sayang, maafin aku ya,” ucap Pras dengan memasang muka melas. Ara menaikkan satu alisnya tak percaya, seperti bukan Pras, suaminya itu kan cuek, boro-boro minta maaf, omelan dia saja dikalikan nol melulu. “Serius aku tanya maaf untuk apa? Kamu punya salah?” “Soal mami. Ehmmm ….” Kruuk … mendadak suara perut Pras berbunyi membuat Ara tertawa. “Hehe. Maaf aku laper,” lanjut Pras cengengesan. “Kamu nggak makan Mas? Bukannya dari dinner dengan mami?” Pras mendesah lelah, dia bangkit dari ranjang, setelah itu menggendong tubuh Ara menuju kitchen rumah mereka. “Astagfirullah! Mas, lepasin aku, kamu apa-apaan sih? Mas, aku mau turun.” Ara menjerit dengan nada manjanya, seakan sudah lama sekali hubungan dia dan Pras tidak seperti sekarang. “Aku nggak mau turunkan kamu, sebelum kamu maafin aku.” Sebenarnya masih sangat kesal, banyak sekali kesalahan Pras membuatnya marah, bahkan kemarin saja Pras lupa hari pernikahan mereka, padahal Ara berharap di hari pernikahan mereka hubungan mereka bisa membaik, tapi yang terjadi tidak sesuai rencana Ara. “Iya, iya, aku maafin tapi turunkan Mas.” Pras terkekeh melihat muka kesal istrinya itu, kemudian dengan gemas dia mencubit hidung mancung Ara, seandainya mereka sudah memiliki anak pasti lucu, apalagi perempuan akan cantik seperti Ara, tapi itu tidak mungkin karena kesalahan bukan dari Ara, tetapi dirinya. Sebenarnya Pras sudah lebih dulu check up tentang kesehatan dirinya, dia tahu akan sulit memiliki seorang anak, lantaran dia terkena oligospermia atau kondisi ketika jumlah s****a yang terkandung dalam a******i berjumlah sedikit. Jika ada orang harus disalahkan adalah dirinya, dia merasa gagal menjadi seorang anak yang tak bisa memberikan cucu untuk maminya, lebih buruknya sekarang maminya berusaha mencari wanita lain untuk menggantikan posisi Ara, sampai kini dia hanya dapat membisu dengan kenyataan yang tak dapat diterima, dia takut Ara akan meninggalkannya, jika mengetahui kebenaran yang sangat pahit dalam diri Pras. “Sekarang kamu masak ya sayang, aku lapar banget, atau aku makan pipi kamu ya.” Ara merasa geli-geli gimana gitu mendengar gombalan suaminya, sejak kapan coba Pras pandai bergombal. “Kamu kok nggak makan sih Mas, bukan makannya lebih enak ditemani kenalan mami,” ucap Ara sambil membuka kulkas, hari ini Ara memang tidak memasak, dia sendiri belum makan sejak pagi, gimana dia mau makan kalau pikiran ke Pras melulu, apalagi setelah mami pulang dari rumahnya, lama-lama bisa depresi Ara menghadapi mertua seperti Sari. “Tadi aku berdebat dengan mami,” ucap Pras mendesah malas, dia sangat jengkel dengan Sari yang ingin menikahi dia bersama Dona, padahal Sari itu tahu betul bagaimana perasaan Pras pada Ara yang tidak akan mungkin berhenti Ara menghela napas sembari melirik suaminya itu, lalu ia mulai memotong bahan makanan, Ara berpikir akan memasakan nasi goreng untuk Pras, hanya itu yang simple bisa dimasak malam-malam begini. “Terus itu sebabnya kamu nggak makan?” “Mau gimana lagi, masa mami minta aku nikah lagi.” “Kamu mau?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD