Tentu saja tidak ada istri yang ingin dipoligami, termasuk Ara. Setiap ada sesuatu yang salah, selalu dia menjadi tersangka, mau salah atau benar Ara selalu salah di mata Sari. Sarapan pagi ini menjadi tegang, lantaran kehadiran mertuanya, tadinya Ara dan Pras Berencana ingin pergi ke Bandung untuk mengunjungi panti asuhan tempat Ara tinggal sejak kecil. Namun semua itu gagal, apalagi mami dari Pras seenak jidat membawa Dona datang kediaman mereka, tanpa bertanya lebih dahulu. Mau Ara terima atau tidak, tidak akan pernah penting bagi Sari.
“Pras, semalam kamu pulang begitu saja dan kita belum selesai bicara.” Sari bertanya dengan nada ketusnya. Pras saat ini tengah menikmati sarapan pagi yang sudah Ara siapkan untuknya, Pras ingin sekali menghabiskan waktu hari liburnya ini bersama Ara, dirinya sadar tidak pernah tepat janji, terkadang dia selalu lupa, apalagi dia selalu saja sibuk dengan urusan pekerjaannya.
“Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi Mi, semua sudah jelas. Sampai kapanpun istri aku hanya Ara, jadi tolong hentikan niat Mami untuk jodoh-jodohin aku dengan wanita lain.” Dona merasa kecewa mendengar perkataan Pras, pasalnya dia memang sangat menyukai Pras sejak lama, bahkan dia selalu mencari cara mendekati bosnya, tak peduli status laki-laki itu suami orang, dia rela kok menjadi madu,
“Dengerin Mami dulu Pras, semua yang Mami lakukan ini untuk keluarga kamu juga,” hardik Sari. Dia tidak bisa kehilangan kesempatan seperti ini, jarang sekali ada wanita ingin menjadi istri kedua seperti Dona.
“Keluarga aku?” Pras terkekeh tak percaya, dia tak pernah menyangka orang yang selalu dia percaya, tega menghancurkan kepercayaan itu, Pras tahu cara untuk membuat keluarga kecilnya selalu bahagia, nggak perlu pakai cara seperti ini. “Yakin bukan untuk kebahagiaan Mami? Aku nggak peduli kekurangan Ara dia tetap istriku, jadi tolong Mami jangan paksa aku.”
“Tapi istri kamu ini mandul Pras,” sergah Sari dengan nada tinggi.
“Ara nggak mandul!” bentak Pras seketika membuat mata Ara tak percaya, jika pria itu membela Ara sebegitunya.
“Kamu tahu apa tentang perempuan mandul ini,” ucap Sari sambil menatap sinis Ara. Mendapatkan tatapan sinis dari mertuanya, dia berharap tidak akan diterkam mak lampir satu ini.
“Mami datang ke sini hanya untuk menghina Ara, lebih baik Mami pergi dari rumahku, jangan lupa tolong bawa Dona bersama Mami.”
Berbakti kepada ibu itu memang wajib, namun jangan sampai rasa bakti itu membuat seorang wanita yang mungkin hingga tua akan menemaninya tersakiti. Pras termasuk anak patuh pada ibunya, apalagi dia anak tertua dan sebagai pengganti ayahnya sejak meninggal.
“Karena dia nggak pantas menjadi istrimu!" Tatapan Sari begitu tajam, apapun yang terjadi dia akan tetap menikahi Pras dengan Dona.
"Mami tahu jelas, aku sangat mencintai Ara, hanya Ara yang pantas menjadi istri aku, nggak yang lain." Sekarang Pras mengerti kenapa Ara sangat tidak menyukai Dona, bahkan terkesan memiliki firasat tidak baik, terjawab sudah pemikiran buruk Ara.
Plak!
Sari tidak terima dia menampar Pras, baru kali ini anak ini berani membantah ucapannya, Pras sepertinya lupa cara membahagiakan ibunya.
"Mami!"
"Jangan ikut campur!" Sari menunjuk wajah Ara.
Pras menggeleng menatap Ara, seolah isyarat pria itu berikan. Dia menelan semua ucapan Sari, dan menatapnya dengan berani. "Aku tidak mau menjadi b***k mami lagi. Seharusnya mami lebih waras, aku ini beristri, dimana otak mami ingin menikahi aku lagi? Lagi pula Dona nggak akan mungkin mau menjadi istri ke dua."
"Saya mau kok Pak," sambar Dona membuat Pras terkejut.
"Kamu dengar, Dona nggak keberatan sama sekali." Ara terdiam, matanya berkaca-kaca, rasa takut mendadak menghantamnya. Jika Pras setuju dia bisa apa? Masa iya dia harus rela melihat suami sendiri rela menikah dengan wanita lain.
Kemudian perlahan Ara meninggalkan tempat dia, dia meringkuk dalam tangis saat berada di kamar, rasa sakitnya luar biasa, Ara tahu bagaimana Pras bisa terpengaruh begitu saja dengan ibunya, sebagai istri dia sangat lemah.
***
Setelah berusaha mengusir Sari dan Dona keluar, Pras menghampiri Ara. Dia tahu hati Ara pasti sangat hancur, dengan langkah pelan dia membuka pintu kamarnya. Betapa pedih hati Pras melihat Ara menangis sejadi-jadinya. Ya Allah, apa yang harus dia lakukan.
Pras langsung memeluknya. "Sayang, ak—-"
"Apa salahku? Kenapa mami tega sama aku, Mas. Selama ini aku berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu, tapi mami kamu masih saja menganggap aku ini sampah." Pras masih memeluk erat istri, dia membiarkan amarah itu meluap.
Dadanya sakit sekali mengingat ucapan ibu sendiri pada Ara, sangat memalukan sebagai suami dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia selalu saja lemah dihadapan ibunya itu, dan lagi dia menyerah karena rasa takut durhaka.
"Sayang, maafin mami ya." Ara melepaskan pelukannya, bangkit dari duduknya.
Sekarang Ara mulai berpikir jika dia memang mandul, sampai kapan Ara bisa bertahan seperti.
"Mas, apa kamu akan menikah dengan Dona?"
"Pertanyaan seperti apa itu Ara?"
"Aku serius! Lebih baik kamu menikah denga Dona, mungkin saja kamu bisa memberikan cucu mami." Ucapan Ara sontak membuat Pras tak percaya, bagaimana bisa istrinya berpikir tidak waras seperti itu.
"Jangan sembangan kamu Ara, kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?" Ara mengangguk, dia seakan frustasi selalu diremehkan, mendapat hinaan, bukan ibu mertuanya saja, namun tetangga juga seringkali mencemohnya.
Ara benar-benar lelah dengan semua ini, kadang dia heran kenapa mulut tetangga wawasannya begitu luas, kenapa nggak urus rumah mereka saja. Kenapa selalu mencerca dirinya yang belum hamil juga? Apa anak prioritas utama menikah? Masalah rumah tangga Ara tidak akan selesai jika anak tidak ada di dalam hidup mereka.
"Terus? Kamu pengen aku nikah lagi, kamu jangan gila Ara, aku nggak bisa berbagi dengan siapapun, aku cuma cinta sama kamu." Ara semakin tersentak, dia justru merasa tidak bisa memberikan kebahagiaan pada Pras.
"Iya, iya, Mas. Kamu pernah nggak sih mikir kalau jadi aku nggak enak. Setiap hari aku harus ditanya orang-orang. Hei apa kabar, udah hamil belum? Pertanyaan itu selalu nyakitin aku, belum lagi mami kamu yang selalu ngatain aku mandul. Aku tuh capek dengarin omongan mereka. Hiks." Pras menghempaskan napas panjang.
"Kamu itu nggak perlu dengarin omongan mereka, kita yang jalani semua ini." Pras mengaut kedua jemari Ara, dia menatap mata istrinya penuh cinta, namun Ara tak peduli dia justru menghempaskan tangan pria itu.
"Nggak perlu kata kamu? Iya karena kamu nggak ngerasain jadi aku, coba aja kamu ngehadapi mereka. Bisa?"
"Bisa! Karena mereka bukan apa-apa. Hidup itu kita yang nentuin bukan mereka. Kenapa kamu harus pusingkan suatu yang nggak penting?!" Pras menyapu wajahnya frustasi. Seperti emosi Ara sedang meledak, lebih baik dia membiarkan Ara sendiri dulu. "Aku mau keluar, kamu tenangkan diri dulu, nanti kita bicara lagi. Maafin aku." Sebelum pergi Pras mengecup kening Ara, lalu keluar dari kamar.
"Mas, Mas, aku belum selesai bicara!