Sari tidak menyerah, dia menunggu Pras pergi dari rumah itu untuk berbicara dengan Ara. Tak peduli seperti apa, Ara harus setuju pernikahan Pras dan Dona, atau lebih baik mereka bercerai.
"Tante yakin Ara akan setuju?" Sari menyungging senyum nanarnya, dia mengenal betul bagaimana Ara.
"Kamu tenang saja Dona, Tante bisa mengatur semuanya." Dona tersenyum mendengar semua itu, dia tidak sabar untuk menjadi istri dari Pras, tidak sia-sia dia ke Jakarta, bahkan menyusup bekerja di kantor pria itu.
Tidak lama dari itu, Sari melihat mobil Pras keluar dari rumah, lalu dia bergegas kembali memasuki rumah itu, tentu saja ditemani Dona.
Rumah itu mendadak menjadi hening, Ara bahkan sama sekali tidak terlihat. Entah dimana perempuan tidak berguna itu.
"Ara!" teriak Sari. "Ara dimana kamu?" Sari menelusuri rumah itu, namun tidak menemui menantunya, seperti Ara berada di kamar.
Ara mengusap air matanya dengan kasar saat mendengar teriakan Sari. Entah apalagi sekarang, ia pun keluar dari kamar.
"Mami? Ada yang tinggal?" Sari tidak pernah kehabisan cara menyakiti Ara. Dia selalu saja memperlakukan Ara sesuka hatinya.
"Nggak ada! Mami mau bicara sama kamu."
"Soal Pras dan dia," ucap Ara sambil melihat ke arah Dona, meski kenyataan hati Ara tidak siap menerima Dona, ia tidak membagi suami pada siapapun.
"Ternyata tebakan kamu boleh juga, tebakan kamu benar." Ara hanya diam. "Mami mau kamu bujuk Pras untuk menerima Dona." Dia benar-benar tidak dihargai sebagai menantu, Sari sama sekali tidak memikirkan perasaan Ara saat ini.
"Kenapa harus aku, Mi?" Selalu saja Ara merelakan rasa sakitnya, dia menatap Dona miris. Yang Ara heran kok ada wanita mau aja menjadi madu dengan suka rela.
"Karena Pras hanya mau dengerin kamu. Mami yakin kalau kamu yang minta Pras mau mengikuti kemauan kamu." Dona menghembuskan napas panjang, menahan rasa jantung terhimpit, rasa sesak menghinggap.
"Aku nggak bisa," tolak Ara.
"Kamu nggak bisa terima Pras nikah sama aku, seharusnya kamu ngaca, emangnya kamu udah bisa ngebahagiain Pras, kamu bahkan nggak bisa kasih Pras anak. Lihat kamu sekarang menyedihkan, nggak punya anak, seumuran kamu itu paling tidak sudah punya anak satu." Sekarang malah giliran Dona mencacinya. Ucapan Dona tidak salah semua itu benar, dia sampai hari ini tidak bisa hamil, kebahagiaannya, cinta yang mungkin selalu dia dan Pras banggain akan runtuh seketika, anak memang sangat penting ternyata untuk mereka.
"Ya, kamu benar, aku belum bisa memberikan Pras anak, tapi apa kamu sendiri bisa buat Mas Pras bahagia? Pernah tanya perasaan Pras bagaimana?"
"Aku yakin Pras itu ingin sekali punya anak, dia hanya nggak bisa ninggalin kamu aja. Laki-laki mana sih yang rela hidupnya sepi sampai tua." Ara menatap sekeliling rumah mereka, iya benar, rumah ini terasa sepi, sunyi, hening tidak ada suara tangisan bergema di dalamnya. Mungkin jika ada suara peri kecil dari Allah hidup mereka tidak hambar seperti sekarang, bahkan mereka sering kali bertengkar masalah kecil hingga berhari-hari.
"Ara, kamu cukup buat Pras mau menikahi Dona."
Ara tidak bisa berbuat apa-apa lagi, apa pada akhirnya dia harus rela berbagi Pras yang seutuh miliknya. Dari awal kedatangan Dona menjadi sekretaris Pras membuat Ara tidak nyaman, entah firasat hati selalu curiga pada wanita itu, fakta sesungguhnya Dona tampak tergila-gila pada Pras, sampai rela menjadi madu. Ara mulai berpikir apa si Dona nggak takut dengan sebutan pada dirinya, yaitu pelakor.
***
Pras memukul kemudinya dengan kesal, dia ingin sekali meluapkan emosi menjalar di dadanya. Dia berharap Ara tidak akan pernah meninggalkannya, karena rasa kecewa pada dirinya sendiri sangat menyiksa. Dirinya seolah menjadi pengecut yang telah menjadikan Ara sebagai kambing hitam atas kesalahannya.
Meski kadang Pras berharap jika kemungkinan itu ada. Ya, secerca harapan selalu dia inginkan. Dokter pernah mengatakan walau jarang tapi harapan kecil pasti selalu ada, apalagi jaman sekarang kedokteran semakin canggih, tentu saja sudah banyak pengobatan.
Laki-laki itu memasuki sebuah klinik sederhana milik sahabatnya, Pras selalu ke tempat ini jika memiliki masalah, apapun itu, lagi pula sahabatnya itu psikolog anak, ya walau bukan anak-anak siapa tahu lebih paham dengan semua kegalauannya.
"Kenapa lagi lo? Berantem lagi dengan Ara? Hobi banget sih?!" ucap Arsan pada Pras sembari membaca buku catatan tentang beberapa pasiennya.
"Menurut lo aja gimana? Tapi sekarang lebih banyak karena nyokap."
"Kenapa lagi?"
"Nyokap gue selalu nuntut Ara buat hamil."
"Jadi lo belum cerita dengan mereka?" Pras menggeleng pelan. Boro-boro mau cerita, adanya masalah selalu datang, waktunya selalu tidak tepat. "Harusnya lo cerita, paling tidak dengan Ara. Gue kasih tahu ya Ara itu manusia biasa, ada batas kesabaran, apalagi masalah kayak gini sangat sensitif bagi perempuan," lanjut pria itu.
"Tapi masalah gue nggak segampang bayangan lo!" Arsan terkekeh, sepertinya Pras lupa jika dia psikolog, meski dia sering pasien anak-anak, tapi dia juga lebih paham hal beginian.
"Masalah lo itu rumit, tapi kalau lo cerita dari awal gue yakin Ara mau ngerti kok." Namun Pras memilih karena rasa takut kehilangan Ara.
"Gimana kalau Ara ninggalin gue?" Arsan tertawa receh. "Sinting lo! Malah ketawa lagi, gue ini lagi serius."
"Eh, lo itu otaknya cerdas tapi akal lo gak pernah dipake. Ara itu cinta sama lo, mana mungkin sih Ara ninggalin lo, gue rasa lo jatuh miskin juga dia nggak akan pernah ninggalin lo," balas Arsan membuat Pras mendesah, namanya juga bisa berubahkan termasuk Ara, apalagi akhir-akhir ini wanita itu sering meminta cerai, untungnya Pras tidak pernah terpancing dengan ucapan istrinya itu.
"Berisik lo ah!" Pras pun merasa lebih tenang dari sebelumnya, ucapan Arsan ada benarnya juga, mungkin ini saatnya Pras harus jujur tentang dia penyebab sulit mereka memiliki keturunan.
Pras tahu kehadiran Dona justru membuat hubungannya dan Ara semakin tak karuan, ia tahu istrinya sangat pencemburu, Ara tidak akan membiarkan Pras bersama wanita lain, apalagi sampai mendekati, dua taring Ara akan keluar seketika. Pertengkaran sering terjadi kadang membuat Pras frustasi, apalagi belakangan ini pekerjaan di kantor menumpuk.
"Sekarang lo udah lebih tenang?"
"Menurut lo? Intinya lo itu tempat penyelamat beban gue."
"Idih, gila lo!"
Tidak lama kemudian ponsel Pras bergetar dari saku jas miliknya. Dia tersenyum melihat nama tertera di layar ponselnya.
"San, bentar ya gue angkat telpon Ara dulu." Pras menjauh lalu mengangkat telpon tersebut.
"Hallo assalamualaikum, sayang."
"Wa'alaikumsalam. Kamu lagi dimana, Mas?" Pras senang mendengar suara Ara, sepertinya wanita ini sudah lebih tenang.
"Aku lagi di klinik Arsan."
"Kamu bisa pulang?" tanya Ara.
"Bisa dong. Bentar lagi aku pulang," jawab Pras antusias. "Kamu kangen ya sama aku," lanjutnya dengan sedikit menggoda.
"Ada yang ingin aku bicarakan."