Bab 6 - Pilihan Tersulit

1101 Words
Dalam hidup Ara harus memilih mundur, atau maju dengan syarat harus rela berbagi. Setelah Sari dan Dona pulang, ia langsung menelpon Pras. Dan kini dia harus menyiapkan kata-kata untuk memujuk kemauan mertuanya. Sungguh hatinya berat, namun dia sendiri tidak bisa menghentikan kemauan Sari, apalagi Sari sudah sangat membencinya. Ketika Pras sudah pulang, semua makanan yang Ara masak kesukaan pria itu. Pras tersenyum, dia berpikir Ara pasti tidak memikirkan yang aneh-aneh lagi, dan sekarang fokus ingin memperbaiki hubungan mereka. "Mas, kamu makan dulu ya." Pras duduk di ruang makan sambil tersenyum, mungkin setelah ini dia akan mengatakan yang sebenarnya. "Iya sayang, kamu temenin aku dong." Ara pun duduk di samping suaminya. "Kamu aja yang makan, aku tadi udah," bohong Ara. Dia sama sekali tidak nafsu menyentuh nasi, Ara tahu jika dia mengatakan tidak selera makan, suaminya itu akan memaksa makan. "Beneran?" Ara mengangguk cepat. Kemudian Ara mengambilkan nasi, lauk untuk suaminya untuk makan. Dia menampilkan senyum tipis, entah bagaimana reaksi Pras setelah nanti mendengar permintaannya. "Mas, kamu tadi dari tempat Arsan." Pras tampak makan dengan lahap, dia mengangguk sembari mengunyah. "O iya, gimana kabar Arsan? Udah lama aku nggak ketemu dia." "Sekali-kali kamu main ke klinik dia, ntar deh aku cari waktu buat kita ke sana." Ara kembali menyunggingkan senyumnya. Setelah beberapa menit, akhirnya Pras selesai makan, Ara membereskan piring, lalu mencucinya. Rasa deg degan menghantam Ara, dia berjalan menuju taman belakang, usai dari makan Pras memang sering bersantai di sana. "Mas, aku bikin jus buat kamu." Ara menyodorkan jus pada suaminya. Pras tersenyum, sepertinya Ara tampak lebih membaik emosinya, dia senang. "Sayang, aku senang lihat kamu nggak sedih lagi." Lagi-lagi Ara hanya memasang senyum tipis dari sudut bibirnya. "Ada yang ingin aku bicarakan." Dahi Pras mengernyit. Tampaknya Ara serius, dia jadi penasaran apa yang akan istrinya bicarakan. "Bicara apa? Ngomong aja." Ara menelan saliva kasarnya, dia berharap tidak ada perang rumah tangga setelah ini. "Mas, ak— aku …." Mendadak lidah Ara terasa kaku. "Ak— ck, aku mau kamu nikah sama Dona." Akhirnya kalimat yang menyakitkan keluar dari mulut Ara. Tanpa menoleh Ara memalingkan wajah dengan rasa takutnya. "Ara! Kamu mulai lagi? Harus berapa kali sih aku bilang nggak mau!" Tatapan marah tampak jelas dari raut wajahnya, kali ini Pras benar-benar kesal. Ara benar-benar keterlaluan, masa malah nyuruh dia nikah dengan Dona, jelas saja dia nggak mau. "Mas, kamu harus nikah sama Dona, aku nggak bisa kasih kamu anak, paling tidak Dona bisa." "Hah? Yakin Dona bisa? Kamu itu nggak mikir panjang apa? Pokoknya aku nggak mau!" Pras meninggikan nada suaranya satu oktaf, dia tidak bisa dipaksa seperti ini, dia bingung bagaimana Ara berpikir tidak waras seperti ini, dulu aja cemburu setengah mati dengan Dona, sekarang enteng suruh nikah dengan Dona. Ya Allah, perempuan selalu saja bikin kepala pening. "Mas, aku mohon. Kamu harus mau nikah sama Dona, aku nggak hiks." Ara tak bisa membendung rasa sakit, hingga butiran kecil menetes dari matanya. "Kamu sadar nggak sih, Ra? Kamu mengundang racun ke rumah tangga kita!" Pras benar-benar emosi, dia sampai membentak Ara. 'Bukan aku, tapi mami kamu.' Ara membatin. "Aku lakukan ini juga untuk rumah tangga kita, Mas." "Nggak! Kamu itu egois, kamu selalu merasa paling tahu, pernah nggak tanya gimana mau aku? Apa aku mau menikah lagi? Kamu melakukan seolah-olah ini yang terbaik." "Mas, aku minta kamu paham. Kamu itu nggak pernah kan jadi aku, aku yang selalu direndahkan orang-orang, kamu nggak tahu rasanya dikatain mandul, aku selalu menahan hinaan dari mami kamu, dan sekarang aku hanya berusaha menjadi istri pengertian buat kamu," ucap Ara dengan emosi yang meledak. "Bukannya dulu kamu selalu membela Dona, kenapa sekarang kamu berubah? Ini kesempatan kamu nikahin dia!" ucap Ara lagi. "Cukup Ara!" Pras berkata dengan suara cukup keras, membuat Ara semakin menangis tak tertahan. "Kenapa Mas? Ini kenyataan kamu nikahin aku pasti karena pengen punya anak kan? Cinta itu nggak penting, yang penting itu anak." Suara Ara tidak kalah kerasnya dari Ara. "Jaga ucapan kamu Ara!" bentak Pras. Dari tadi dia terus menahan emosi menyala-nyala, hingga semua tak terbendung, dan nyaris dia melayangkan tangannya mendarat di pipi Ara. Ara kaget dan takut, dalam sejarah dia tak pernah melihat Pras hampir melayangkan tamparan kepadanya, dia tahu Pras pasti sangat marah. Dia pun berjalan, rasa sesal menghantui Ara, seharusnya dia tidak bicara seperti itu pada Pras. Belakangan ini rumah tangga mereka sering kali ada masalah, berawal dari kehadiran Dona menjadi sekretaris Pras, ditambah lagi memiliki ibu mertua yang selalu menekannya. Ara belum pernah melihat Pras semarah ini padanya, padahal biasanya Pras selalu cuek, dan tidak ambil pusing tapi kali ini berbeda. Melihat Ara pergi begitu saja membuat Pras terduduk, lalu menyesap jus hingga habis, tersorot kemarahan dan rasa sedih dari matanya. Dia benar-benar frustasi dengan sikap Ara, sungguh Pras ingin hubungan mereka membaik, bukan memburuk. Pras sampai heran entah bagaimana jalan pikiran istrinya itu. Pras pun mengejar Ara yang meninggalkannya, dia pergi menuju kamar mereka, betapa terkejutnya Pras, istrinya itu membereskan barang-barang untuk dimasuki ke koper. "Ara kamu mau kemana?" Pras menghentikan tangan Ara memasukan barang ke dalam koper. "Bukan urusan kamu Mas, aku mau pergi dari rumah ini." Pras kembali menahan amarah, karena Ara saat ini tidak bisa dikeraskan, dia harus bicara baik-baik dengan Ara. "Ini rumah kamu, jangan pergi kemana-mana sayang," ucap Pras lembut, tapi Ara tampak masih membereskan barangnya. "Aku nggak akan pergi kalau kamu bersedia menikah dengan Dona." "Kamu mengancamku? Ara, aku ini suamimu, dan aku berhak melarang kamu pergi. Kamu tahu kan dosa pergi tanpa izin suami." Pras benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Ara, kali ini istrinya sangat berlebihan. "Aku lebih baik pergi dari rumah ini, nggak ada gunanya aku disini, karena kamu sendiri nggak peduli dengan permintaan aku," ucap Ara membuat Pras menghelakan napas panjang. "Ara, istighfar kamu! Kenapa kamu jadi gini? Tolong Ara, kamu harus berpikir panjang dengan permintaanmu." Pras tidak ingin ada penyesalan nantinya, apalagi sampai Ara malah meninggalkannya. "Sekarang aku masih menunggu jawaban kamu!" "Aku nggak mau menikah dengan Dona!" Mendengar itu, Ara pun mulai menyeret kopernya, dia hendak meninggalkan rumah itu, meski ia sendiri tidak tahu harus pergi kemana. "Ara, tunggu! Kamu nggak boleh pergi." Pras menghadang Ara. "Minggir Mas, aku harus pergi." "Pikirkan lagi, Ra." Pras mengusap mukanya frustasi, dia tak tahu harus bagaimana menyakinkan Ara, kali ini Ara benar-benar keras kepala, dia tahu sih Ara memang keras kepala, tapi nggak sekeras ini. "Nggak! Keputusanku sudah bulat!" Ara tidak peduli, dia tetap ingin meninggalkan rumah ini, ia pun mendorong tubuh Pras yang menghalangi dirinya. "Ara, aku mohon jangan pergi. Aku nggak bisa tanpa kamu." Pras memohon, namun Ara terus berjalan tanpa mempedulikannya. "ARA, BAIK JIKA ITU MAU KAMU! AKU AKAN MENIKAHI DONA!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD