Bab 7 - Kepergian

1024 Words
Kembalinya Pras ke rumah, dia langsung menghampiri istrinya di kamar, namun tampaknya Ara tidak berada di kamar. Dirinya kembali mencari ke ruangan lain. Hasilnya masih sama Ara tidak ada, dia mulai panik karena tidak dapat menemukan Ara dimanapun. "Pras, sudahlah mungkin Ara sedang menenangkan diri," komentar Sari yang nampak biasa-biasa saja. Wajar sih, Sari sama sekali tidak menyukai Ara. "Aku nggak bisa tenang sebelum bertemu Ara!" kata Pras dengan kesal. Pras pun menghampiri satpam depan dan beberapa orang pelayan yang ditugaskan untuk membantu pekerjaan Ara hari ini. Kekhawatiran Pras mulai memuncak, entah kenapa perasaannya tidak karuan. "Di Antara kalian apa ada yang melihat Ara." Semuanya terdiam, termasuk satpam rumahnya yang tampak menunduk takut. Kenapa kalian diam? JAWAB!" Pras tidak bisa menahan emosinya, ketakutan mulai bercampur menjadi rasa gelisah. "Maaf Pak, Bu bos Ara sekitar setengah jam yang lalu meninggalkan rumah ini, awalnya saya pikir pergi menyusul bapak," jelas Anwar Satpam rumahnya. Mendengar hal itu Pras sontak berlari menuju kamarnya, ia berharap apa yang ditakutinya tidak akan terjadi. Saat berada di kamar Pras membuka lemari milik Ara, ia pun terduduk lemas, tidak ada satu pakaian milik Ara tersisa "Ara!" Pras berteriak, dia bukan laki-laki cengeng, namun kepergian Ara membuat air mata seorang pria seperti Pras terjatuh. Pras berharap ini bukan nyata, Ara tidak mungkin meninggalkannya. Ia pun berjalan perlahan melekat ke ranjang mereka, Pras mengelus bantal yang selalu Ara gunakan saat tidur, dia bahkan masih bisa merasakan aroma tubuh Ara, lalu ia memeluk bantal tersebut. "Ara, kenapa kamu pergi?" lirih Pras sendiri. Saat Pras kembali meletakan bantal itu, dia melihat sebuah kertas terletak. Ia mengambil lalu membacanya. Mas, aku minta maaf harus pergi. Aku harap kamu akan selalu bahagia dengan pernikahanmu bersama Dona. Aku belum siap dimadu Mas, biarkan aku pergi untuk sementara waktu. Terima kasih untuk hari-hari indah kita bersama. Selamat tinggal, Mas. Aku mencintaimu. Dear Ara. Pras meremuk kertas itu, dan membuang sembarang di lantai, ia kemudian melempar jas, Pras tidak tinggal diam, ia yakin Ara belum pergi jauh. Laki-laki itu bergegas menuju ke panti asuhan tempat Ara tinggal sejak kecil, bahkan ia tidak memperdulikan sosok Dona yang menghampirinya. "Pras, kamu mau kemana?" Dona menarik lengan gagah Pras. "Bukan urusanmu!" "Tapi aku ini istrimu." Pras tertawa miris. Istri? Ya, wanita ini sudah menjadi istrinya, namun hatinya belum bisa terima. "Aku ingin mencari Ara, jangan menungguku pulang!" ucap pria itu, lalu pergi begitu saja. Sesampai Pras di panti asuhan, dia langsung bertemu ibu panti yang merupakan ibu angkat dari Ara. "Pras, kamu sendiri? Kok nggak bersama Ara, dia baik-baik aja kan?" Astaga, ternyata belum bertanya, ia sudah menemukan jawabannya. Itu artinya Ara tidak ke panti, lalu kemana istrinya pergi. "Iya Bu, sebenarnya kebetulan lewat." Tidak ingin membuat ibu panti khawatir, Pras terpaksa berbohong. "Ibu apa kabar?" tanya Pras. *** Sebulan setelah kepergian Ara, hidup Pras terasa hampa, rasa hening selalu dia rasakan di hatinya. Sampai detik ini Ara belum juga kembali. Pagi itu Pras hendak pergi ke kantor, seperti biasa Dona tidak memasak, tidak seperti Ara yang selalu sudah siap saat dia hendak pergi. Pras selalu merindukan Ara, bahkan apapun yang dia lakukan selalu mengingat istrinya itu. "Kamu nggak masak?" tanya Pras dengan nada ketus. Dona melirik, lalu menghampiri pria itu. "Masak? Kamu sendiri nggak pernah melakukan kewajiban sebagai suami." Pras terdiam sejenak. Ya, benar. Sejak menikah hingga hari ini Pras tidak pernah menyentuh Dona sama sekali, bahkan mereka tidak sekamar. "Berapa kali aku bilang, kasih aku waktu biat nerima kamu," ucap pria itu. "Waktu, waktu, waktu, sampai kapan? Gimana aku bisa hamil kalau kamu sendiri nggak pernah nyentuh aku," protes Dona. Kadang dia berpikir, apa lebihnya Ara dibandingkan dia, sampai-sampai Pras susah untuk mencintainya. "Sampai Ara ketemu," ucap pria itu enteng. Pras sama sekali tidak menyerah mencari Ara, bahkan beberapa kali dia memasang iklan wajah Ara di surat kabar. Namun usahanya tidak ada hasil sama sekali. "Aku juga istri kamu, bukan Ara doang." "Kalau bukan paksaan Ara, aku nggak pernah nikahin kamu!" balas Pras. Setelah berkata dengan kemarahannya, dia pun pergi ke kantor, seperti biasa beberapa karyawan selalu menyapa, kerjaan selalu menumpuk membuat Pras kadang harus lembur. "Rahma?" Pras mengernyit dengan kedatangan adik perempuannya ini. Tidak biasanya Rahma ke kantor. "Tumben kamu ke kantor Mas." "Mas, kenapa masih bertahan dengan mbak lampir itu?" Pras menatap Rahma bingung, mbak lampir siapa maksudnya, datang-datang mulai nggak jelas. "Siapa yang kamu maksud?" "Dona siapa lagi. Dia itu jahat, nggak baik buat Mas Pras, gara-gara dia Kak Ara meninggalkan Mas." Pras menghelakan napas panjang, ia sama sekali tidak memikirkan bagaimana pernikahan dia dan Dona ujungnya. "Mas lagi malas bicarakan dia, lebih baik kita ganti topik." Rahma tampak mulai kesal. "Masih belum ada kabar dari kak Ara?" Pras menggeleng, ia mendarat duduk di sofa samping adiknya. "Kemarin aku ke panti." "Terus?" "Salah satu anak panti bilang kalau seminggu ada kak Ara mengunjungi mereka untuk berpamitan." "Kamu yakin?" Kalau nggak yakin, ngapain Rahma pake cerita segala, dasar abang oon ih. "Iya Mas, mereka sendiri kok cerita." Rahma memang kemarin pergi ke panti tanpa sepengetahuan Pras, apalagi mbak lampir, bisa gawat jika dia tahu. Entah kenapa sejak menikah dengan Pras, feelingnya selalu tidak baik tentang Dona. "Apa mereka cerita Ara pamit kemana?" Rahma menggeleng sedih, ia juga merasa rindu dengan kakak ipar kesayangannya. "Aku udah berusaha mencari tahu dengan mereka, tapi nggak ada yang tahu, termasuk ibu panti." Pras mulai merasa heran saat sebulan lalu dia menemui ibu panti, beliau tidak bicara apapun, apa mungkin saat itu Ara di panti? Tapi kenapa ibu panti berbohong dengannya. "Saran aku Mas pergi ke panti lagi, mencari tahu, tapi jangan sampai mami atau istri Mas tahu." "Kenapa?" "Jangan banyak tanya, pokoknya jangan sampai mereka tahu." Rahma yakin mami dan kakak iparnya terlibat atas kepergian Ara, jelas-jelas Ara yang minta Pras menikahi Dona dengan syarat dia tidak akan pergi meninggalkan Pras, lalu kenapa setelah akad justru malah menghilang, semua ini tidak masuk akal bagi Rahma, ia kasihan dengan Pras yang harus menderita karena keegoisan orang lain. Pras berharap titik terang agar dapat menemui istrinya, sungguh hidup tanpa Ara terasa hambar, tidak ada tempat untuk dia bercerita keluh kesah, apalagi Ara seringkali ngoceh nggak jelas, belum lagi sifat cemburunya. 'Ara, aku kangen banget sama kamu.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD