Bab 8 - Hamil

1404 Words
Qiara memilih hidup di desa sekitaran daerah kalimantan, tempat ini sangat tenang. Namun kali ini dia harus berjuang sendiri, mencari pekerjaan ternyata cukup sulit, namun tak menyerah Ara akhirnya mendapatkan pekerjaan di perkebunan juragan desa ini. Alhamdulillah, meski tinggal sendiri di rumah kontrakan, tapi dia memiliki tetangga baik hati, bahkan sekarang ia sudah memiliki sahabat dari desa ini. Tempat ini adalah desa ibu panti, saat pertama kali pergi dari rumah, Ara langsung menemui ibu panti, bahkan saat Pras mencarinya, ia terpaksa bersembunyi di gudang bahan makanan saat itu. Ara sudah terbiasa hidup susah sejak di panti, sekarang dia berusaha berjuang sendiri untuk dirinya. Berpisah dengan Pras bukanlah keinginan Ara, tapi dia harus melakukan itu semua demi kebahagiaan Pras. Setelah pulang dari perkebunan, Ara merasa lelah sekali, tiba-tiba ia merasa mual dan ingin muntah. Tubuhnya mendadak lemas, ia pun rebahan sejenak, seperti dia masuk angin. Ara teringat jika dirinya sejak pagi belum mengisi perutnya. "Ra, kamu nggak pa-pa? Maaf aku langsung masuk, soal dengar kamu muntah tadi." Reno adalah keponakan ibu panti, kebetulan tinggal bersebelahan dengan Ara. "Paling masuk angin, Ren. Baru pulang kerja?" Reno mengangguk, lalu mendekati Ara. Ia pun mencari obat yang ada di rumah Ara. "Kamu minum ini dulu, kalau masih nggak enak badan besok aku antar ke dokter." "Tapi kamu kan kerja, aku pergi sendiri aja." Ara merasa tidak enak, karena sering kali merepotkan Reno, apalagi sejak pertama tinggal Reno lah yang mencarikan tempat tinggal, bahkan sampai pekerjaan. "Besok aku bisa izin kok, lihat deh muka kamu pucat, kamu itu tanggung jawabku, ntar tante aku tanya, harus jawab apa coba?" Ara tersenyum tipis, ia pun sudah meminum, namun kenapa perutnya masih terasa mual sekali, tidak biasa seperti ini. "Aku sendiri nggak pa-pa kok, Ren." "Puskesmas di sini jauh, Ra." Itu juga obat-obatannya nggak lengkap, ya kalau mau lengkap harus ke dokter itu juga adanya di kota. "Maaf ya Ren, semenjak aku tinggal di desa ini sering merepotkan kamu." Reno sama sekali tidak merasa direpotkan, apalagi mereka kenal sejak kecil. Reno dari kecil sering main ke panti, orang tua Reno tinggal di Jakarta, namun ia memilih tinggal di desa karena tidak ingin dijodohkan. Ya, sama Reno juga melarikan dari keluarga besar, hanya bedanya Ara melarikan diri dari suami, sedangkan Reno perjodohan. "Nggak masalah. Kalau butuh sesuatu kamu ketuk dari sini aja, kedengaran kok dari kontrakanku." Setelah Reno pulang, Ara tidak henti-hentinya muntah, belum pernah dia merasakan masuk angin seperti ini, tubuhnya pun terasa lemah. Karena tidak mampu lagi, Ara minta tolong Reno untuk mengantarnya ke dokter. Reno pun subuh-subuh minta tolong juragan meminjam mobilnya. "Ra, kamu tahan ya." Ara merasa aneh dengan tubuhnya ini, dia bahkan tidak bisa mencium aroma mobil juragan. Ara dan Reno akhirnya sampai ke klinik 24 jam di kota, ia segera mendaftarkan diri, lantaran masih sepi, ia tidak perlu menunggu giliran. "Apa keluhan ibu?" tanya bidan itu. "Saya merasa mual, pusing," jelas Ara. Dia pun diminta untuk berbaring untuk diperiksa. "Kapan terakhir datang haid?" Haid? Ara baru teringat jika dia sudah telat nyaris dua minggu, seharusnya Ara sudah datang bulan. Ara bingung dengan keanehan ini, apakah dia hamil? Ah, mana mungkin, selama ini dia juga selalu kecewa, lantaran harapannya selalu pupus. "Saya tidak ingat pasti, sepertinya sudah telat hampir dua minggu." Lalu ibu bidan memberikannya sebuah test pack untuk memastikan dia hamil atau tidak. Ara mengambil tes kehamilan, lalu ia pergi kamar mandi yang sudah tersedia, dari bangun tidur Ara sama sekali buang air kecil, apalagi dia terus menerus muntah. Ia keluar dan memberikan pada dokter, sambil menunggu hasilnya Ara mulai gelisah. "Selamat Ibu Qiara sedang mengandung sekitar enam minggu." Apa? Hamil? Apakah semua ini mimpi? Sesuatu yang selalu ditunggu dalam pernikahannya, tapi saat semua telah hancur, ia justru hamil. Apa ini ya Allah? Sekarang apa yang harus Ara lakukan. Ia tidak mungkin bisa merawat anak ini sendiri tanpa Pras disisinya. Apakah Ara harus kembali? Atau dia harus memberitahu Pras saja tentang kehamilannya ini. 'Apa yang harus aku lakukan?' Ara keluar dari ruangan bidan itu, dia meminta Reno menunggu di mobil. Kemudian ia mengaktifkan kembali ponselnya, mumpung berapa di kota, dia mencoba menghubungi Pras. "Tenang ya nak, mama akan minta papa jemput kita," gumam Ara sendiri. Ara pun segera menghubungi Pras, ia menunggu jawaban dari seberang sana. "Ngapain lagi lo telpon Pras?" Ara terjenggit mendengar suara Dona, wanita itu sepertinya tidak puas menghabiskan waktu bersama Pras selama ini. "Dimana mas Pras? Aku ingin bicara." "Pras tidak bisa diganggu, kami habis …." "Cukup!" Ara tidak sanggup mendengarnya, secepat itukah Pras dan Dona. "Maaf sudah mengganggu, aku tidak akan menghubungi kalian lagi." "Itu lebih baik." Ara memutuskan sepihak telepon itu. Sambil mengelus perut ia berkata, "Maafin Mama ya sayang, Mama belum bisa mempertemukan kamu dan papa." Ara berharap dia bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik, jika bekerja di perkebunan Ara yakin dia akan kesulitan karena dirinya yang hamil. Ara berjalan menuju parkiran klinik, Reno sudah menunggu dengan wajah khawatir, tidak bisa sembunyikan kesedihan di wajahnya. "Ra, kamu nggak pa-pa? Apa kata bidan?" tanya Reno khawatir. Ara langsung masuk ke dalam mobil tanpa menjawab. Reno menyusul Ara, dan hendak bergegas kembali ke desa, hari sudah pagi, juragan pasti sudah menunggu mobilnya. "Ra, kamu kok malah nangis?" Reno merasa heran dengan kesedihan wanita ini. "Ada yang salah?" lanjut pria itu. Ara memberikan laporan dari klinik pada Reno, ia pun terkejut jika ternyata Ara hamil. Melihat wajah Ara bersimbah air mata, ia merasa iba sontak memeluk wanita ini. "Aku hamil, Ren. Hiks, aku harus gimana?" Reno sejenak terdiam, ia tahu jika Ara memang sudah menikah, tantenya hanya meminta menjaga Ara. "Kamu mau pulang ke Jakarta?" Ara menggeleng, tidak mungkin dia harus bertemu Pras lagi setelah apa yang terjadi. "Kenapa? Suami kamu harus tahu tentang ini." Ara semakin terisak. "Nggak perlu, dia sekarang udah bahagia dengan istri barunya," ucap Ara dengan sesegukan membuat Reno mengusap punggungnya pelan. "Sekarang apa rencana kamu? Nggak mungkin orang desa terima kamu hamil tanpa suami, mereka akan mencerca kamu." Reno benar, lebih baik dia cari kontrakan kecil di kota, daripada harus kembali ke desa, lagi pula dia masih memiliki tabungan. "Aku cari kontrakan dekat sini, kalau kamu nggak keberatan bantu aku cari kontrakan yang murah." Meski uangnya cukup untuk beberapa tahun, tapi Ara harus hemat, apalagi sekarang dia hamil. "Siap. Gimana kalau sekarang cari sarapan dulu, kamu itu kan lagi hamil harus banyak makan yang bergizi." Ara merasa senang karena Reno selalu ada untuknya, dalam keadaan seperti ini Ara memang butuh dukungan seseorang, Reno memang sahabat yang baik. *** Akhirnya Ara mendapat tempat tinggal yang layak dan sesuai dengan kemauannya, ia rasa Pras tidak berpikir mencarinya sampai ke Kalimantan. "Ren, kamu ngapain pake ngaku suamiku?" tanya Ara kesal. "Maaf ya Ra, aku lakukan ini buat kebaikan kamu, lihat keadaanmu yang hamil, mereka pasti mengira kamu perempuan nggak benar," jelas Reno. Mau bagaimanapun mereka bukan di Jakarta, tapi di Kalimantan, pemikiran orang-orang di sini kadang masih terlalu sempit. "Tapi kita nggak mungkin tinggal satu rumah Ren, aku ini masih punya suami, aku nggak mau khianati dia." "Walaupun dia udah nyakitin kamu, nggak mikir perasaan kamu. Seharusnya dia nggak perlu menikah dengan perempuan itu." "Bukan mas Pras yang salah, aku yang udah maksa mas Pras," ucap Ara dengan rasa sesalnya, seandainya dia tidak menurut Pras untuk menikah lagi, hubungan mereka pasti masih baik-baik saja, ya mungkin sekarang Pras suaminya itu akan memanjakan dia, seperti suami-suami pada umumnya saat istri tengah hamil. "Apa sekarang kamu menyesal?" Ara mengangguk, tentu ia sangat menyesal, kesadaran telah membodohi dirinya sendiri, mungkin dia bersabar sedikit saja, semua ini tidak akan pernah terjadi, kenyataan terburuk dia harus kehilangan Pras dalam hidupnya. "Masih ada waktu untuk memperbaiki semua." "Aku tidak ingin mengganggu rumah tangga mas Pras dan Dona." "Tapi Pras harus tanggung jawab dengan anak dan istri, Pras harus tahu istrinya sedang hamil. Mau sampai kapan kamu bersembunyi, Ra?" Ara sendiri tidak tahu sampai kapan dia harus menghilang dari hidup Pras, suatu hari anak di dalam perutnya akan membawa Pras dan dirinya bertemu kembali. "Nggak tahu Ren, aku bingung harus bagaimana? Yang pasti aku harus mencari pekerjaan lebih baik, tapi apa ada yang bisa menerima wanita hamil." "Aku ada kenalan manager di supermarket dekat sini, jika kamu mau aku akan minta bantuannya." "Aku mau kerja apa saja Ren, yang penting pekerjaannya halal," ucap Ara sambil membereskan rumah kontrakan sederhana itu. "Nanti aku akan bertemu dengannya dulu, apapun keputusanmu soal bayi dalam perut itu, aku akan dukung, aku akan bantu membesarkan keponakan." Ara tersenyum. "Terimakasih Ren," ucap Ara pada Reno.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD