Setelah enam tahun berlalu Ara memutuskan kembali ke Jakarta bersama Reno. Kehidupan Ara dan Reno kini sudah lebih baik dari sebelumnya, ia bahkan sudah memiliki ruko sendiri atas usaha kecilnya. Dulu Ara bekerja di supermarket hanya setahun, tapi karena memiliki bayi Ara memutuskan berhenti, namun ia membutuhkan. Dengan tekad dan uang tabungan tersisa Ara membuka usaha kecil-kecilan, seperti menjual sembako, peralatan rumah, dan lain-lain. Kini usaha Ara semakin berkembang.
Ara dan Reno memutuskan menyewa apartemen bersama, mereka tinggal satu atap, namun tidak sekamar. Bagi Ara, Reno sahabat yang terbaik yang dia punya, ia bersyukur sampai detik ini Reno masih menemaninya.
Usaha Ara di Kalimantan telah diteruskan mantan bos Ara, ia pun harus memulai usaha dari nol, dia harus mencari tempat untuk usaha lagi, atau lebih baik dia bekerja, sekarang anaknya juga sudah berumur lima tahun, Ara rasa tidak masalah jika dia tinggal bekerja.
"Ma, El laper. Mama masih sibuk ya?" rengek El Fatih Dewantara, putra dari Ara dan Pras, wajah El lebih dominan mirip dirinya, hanya mata dan senyum El terlihat persis seperti Pras.
"Tunggu sebentar ya sayang, mama masih beres-beres, kita baru kan baru pindahan," ucap Ara menoleh ke Ara putranya.
"Tapi El lapernya sekarang!" Ara menggeleng, lalu menghembuskan napas panjang.
"Ya sudah tapi makan seadanya ya, mama belum belanja keperluan dapur."
Ara menghentikan aktivitasnya, ia pergi menuju dapur apartemen, tidak ada bahan apapun di dapur, nasi juga tidak ada, apa yang harus Ara masak.
"Kenapa Ma?" tanya El membuat Ara memasang senyum tidak enak, sedangkan El terus mengamati Ara dengan tatapan curiga.
"Maaf ya sayang, bahan-bahannya sama sekali gak ada. Mama pikir tadi ayah Reno ada membawa bahan dari rumah lama kita."
"Ih Ma, aku laper. Pokoknya mau makan sekarang!" Ketika melihat sikap keras kepala El, seperti cermin pada dirinya sendiri, ternyata benar kata orang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
"Ini kenapa kok ribut-ribut?" Reno datang menghampiri mereka, ternyata Reno baru pulang dari belanja keperluan dapur.
"Ren, kamu belanja? Kok nggak ajak aku?" Reno sengaja pergi tanpa Ara, dia melihat wanita itu masih repot membereskan baju dia dan El.
"Aku belanja untuk beberapa doang, lagi pula aku lihat kamu masih sibuk. Kasihan El kalau harus nunggu kamu selesai beres-beres."
"Makasih ya Ren, kamu udah banyak bantuin aku." Ara tidak harus membayar kebaikan Reno seperti apa, bahkan sampai detik Reno belum menikah. Bagaimana mau nikah kalau El nempelin Reno melulu, apalagi El memanggil Reno ayah. Padahal sejak lahir El selalu diajari memanggil Reno dengan sebutan uncle, tapi saat umur Reno dua tahun, bocah itu mendadak memanggil Reno ayah, dan sampai detik ini.
"Sama-sama Ra, aku senang kok bantuin kamu. Gimana kalau weekend kita ke panti, sekalian ajak El." Ara mengangguk setuju, ia juga sudah lama tidak bertemu ibu panti. "Tante pasti senang melihat kita mengunjunginya." Apalagi ibu panti semakin tua, sekarang yang mengurus panti bukan ibu Devi lagi, melainkan Adel anak dari ibu Devi.
"Jadi kapan mau masakin El?" celetuk El membuat Ara dan Reno terkekeh geli.
"Ma syaa Allah anak mama ini nggak sabaran banget, mama masakan omelet aja ya. Kamu main dulu sana dengan ayah Reno."
"Oke ditunggu omeletnya!" Ara kembali terkekeh dengan tingkah polos El.
Setiap memandangi El, Ara selalu merasa bersalah, harusnya El bisa mendapatkan kasih sayang penuh dari Pras. Ia sadar telah memisahkan ayah kandung dan anak sejak di dalam perut. Namun Ara yakin kini Pras sudah hidup bahagia bersama Dona, mungkin mereka sudah memiliki anak.
Ara memasak nasi terlebih dahulu, kemudian sambil menunggu nasi masak, dia memasak omelet sayur ala Ara, El sangat menyukai omelet sayur buatan Ara.
***
El memang anak usia lima tahun, tapi dia kadang heran kok ayah dan mamanya tidak pernah tidur sekamar, tidak seperti cerita teman-temannya di Kalimantan, mereka mengatakan jika orang tua mereka tidur selalu sekamar, dan ibu, ayah mereka sering berpelukan, juga ciuman depan mereka. El heran kenapa ayah dan mama tidak pernah melakukan itu.
"Yah, ayah sayang nggak dengan mama?" Reno melotot tak percaya menatap El, mulai suka ngadi-ngadi ini El.
"Ngapain nanya seperti itu?"
"El penasaran." Reno mengernyit. Ia langsung menarik El, lalu memangku bocah itu.
"Menurut kamu ayah nggak sayang mama? Selama ini kan ayah nggak pernah buat mama nangis." El memeluk Reno lalu mencium pipi pria itu.
"El sayang Ayah."
Ara yang baru saja selesai masak terharu melihat kehangatan mereka yang seolah seperti ayah dan anak, entah bagaimana reaksi El mengetahui Reno bukan ayah kandungnya, bahkan Reno bukan suami Ara. Ia memejamkan matanya sejenak membayangkan wajah Pras yang teduh, namun berwibawa, selalu berusaha menjadi suami terbaik untuknya.
"Kalian berdua lagi ngobrol apa? Keliatan serius. Mama ikutan ya?" ucap Ara menghampiri mereka.
"Gak boleh! Ini rahasia laki-laki." Ara tertawa geli. Ada saja kelakuan El membuatnya gemes.
"Ya sudah makan sekarang, setelah makan minum susunya ya." Ucapan Ara membuat bibir El mengerucut, dia memang paling tidak suka, jika disuruh minum s**u, bagi El s**u rasanya tidak enak.
"Kenapa sih harus minum s**u?"
"Kenapa sih harus banyak tanya? s**u itu bagus buat kesehatan kamu, jangan cari alasan nggak minum susu." Reno yang menyimak perdebatan anak dan ibu itu hanya tertawa kecil.
"Jangan ketawa!" Reno sontak mendengar jeritan kedua orang ini.
"Iya maaf, kalian berdua mau terus berdebat, jadi kapan mulai makannya?" Gara-gara mengomeli putranya, Ara sampai lupa.
"Salahin Mama nih Yah, El jadi nggak lapar lagi." Ara ternganga tak percaya dengan kelakuan putra kecilnya itu, dia udah masak malah bilang nggak lapar.
"Mama udah masak El, ayo makan!" Ara menarik El untuk ke ruang makan, enak saja bocah ini tadi merengek, lalu tiba-tiba bilang nggak lapar.
"Ma, El udah nggak laper!" ucap El.
"El, mau jadi anak baik?" El mengangguk pasrah. "Terus kok nggak mau makan? Ini Mama udah masakan El loh, malah nggak dimakan, kasihan nasi dan lauknya ntar nangis," ujar Ara menasehati sang putra.
"Dengerin Mama kamu El, makan sini. Mau Ayah suapin?" ucap Reno mendekati El, anak itu kontan langsung memeluk pria itu yang dia pikir ayahnya.
"Mau Ayah suapin," lirih El polos membuat Ara menghela napas dengan kasar.
"Setelah makan jangan lupa minum susunya!"
"Nggak mau!"
"El!"
"Ayah, lihat tuh Mama udah kayak ibu tiri di film-film." Reno terkekeh geli mendengar ucapan El yang polos tanpa beban.
"Reno, kamu jangan belain anak kecil nyebelin, ntar dia makin besar kepala!" Ara menatap putranya yang tampak kesal padanya, ia pun teringat bagaimana dirinya menjaga dan melindungi El, bahkan Reno ikut membantunya, itu kenapa Reno selalu sayang pada El, terlebih lagi pria itu kadang memanjakan putra satu-satunya.