Hampir tiga bulan Ara kembali ke Jakarta, kini dia sudah memiliki bisnis coffee shop, dan tak pernah disangka ia bertemu Nadia membuatnya berkutat dengan bisnis kopi.
Nadia adalah teman Ara di Kalimantan, mereka tanpa sengaja bertemu, saat itu Ara bertemu Nadia yang telah menjadi barista salah coffee shop ternama di Jakarta, melihat Nadia ditekan oleh bosnya Ara langsung terpikirkan untuk buka usaha coffee shop, dan ia melibatkan Nadia sebagai salah satu pengurus coffee shop, karena Ara tidak bisa memantau coffee shop miliknya setiap saat, ia pun mempercayai Nadia sebagai manager, apalagi Nadia tentu saja sudah berpengalaman.
"Ra, kamu hari ini jadi masukkan El sekolah?" Ara mengangguk pelan, ada rasa ragu di hatinya, ternyata mengurus anak sekolah itu susah, apalagi harus menggunakan kartu keluarga, sedangkan kartu keluarga dia ada di rumah Pras, masa dia harus ke sana sih? Gimana kalau ketemu Dona, ahh nggak sanggup Ara melihat kebahagiaan suaminya.
"Jadi, tapi aku bingung mau masukkan El kemana? Ada gak ya sekolah tanpa kartu keluarga?" Nadia menyatukan alisnya bingung.
"Gimana ceritanya? Jangan bilang kamu sama Reno nggak punya kartu keluarga." Astaganaga, Ara sampai lupa jika Nadia tahu Reno itu suaminya, padahal kenyataannya bukan.
"Pu–punya, tapi ya itu ketinggalan di Kalimantan, mau ngambil lagi repot, nunggu Reno ke sana aja," ucap Ara terbata-bata, ia nampak tak berani menatap Nadia, jelas saja Ara tengah berbohong.
"Suami kamu itu nggak becus, selalu nggak ingat yang penting," cecar Nadia.
"Gak becus? Siapa? Aku? Ngaca kamu Nad, mending aku nggak becus, daripada kamu sampai detik ini ngejomblo. Mau jadi perawan tua kamu!" balas Reno yang baru saja datang membawa El, hari ini kerjaan Reno hanya sedikit, ia bisa pulang lebih awal, dan bisa membawa El jalan-jalan ke mall.
"Yang jadi perawan tua aku, kok kamu yang repot sih!"
"Ih berisik! Kalian itu ketemu berantem melulu." Ara heran mereka selalu saja begitu, bahkan kadang ia curiga jika Reno dan Nadia saling kenal sebelumnya.
"Dia duluan!" Ara tertawa karena mereka kompak saling tunjuk satu sama lain.
"Tante Nad, jangan salahin Ayah!" Ara tambah terkekeh melihat muka kesal Nadia, belum lagi El malah sinis memarahinya.
"El, tante nggak salahin ayah kamu kok, tapi ayah kamu suka seenaknya. Maaf ya." Nadia jongkok dengan muka melas, namun El menatap tajam padanya seolah Nadia musuh.
"Tante salah!"
"Udahlah Nad, percuma El nggak akan pernah mau Ayahnya disalahkan." Nadia menghelakan napas. Benar juga, El memang sangat menyayangi Reno.
"Gimana jalan-jalannya?" tanya Ara pada El.
"Menyenangkan sekali!" jawab anak itu sumringah. "Tadi ayah ajak El ke sekolah baru Ma."
"O ya? Gimana kamu suka?"
"Hemmm." El tampak berpikir. "Suka dong, tapi El belum punya teman Ma," lanjut El memajukan bibirnya. Ara mendengus, mulai lagi deh drama bocah kecil ini.
"Nanti juga punya teman sayang, besok kita daftar ya, hari ini Mama masih sibuk urus coffee shop baru kita."
Ara sampai lupa dia harus mengambil belanjaan untuk coffee hari ini, karena salah satu karyawan yang bertugas lagi sakit, sedangkan Nadia sibuk di coffee mana mungkin menyuruhnya, kasihan juga dari tadi Nadia belum istirahat.
"Ren, aku titip El dulu ya. Aku harus ambil belanjaan," ucap Ara hendak bergegas.
"Biar akh temani?"
"Nggak usah! El siapa yang jaga kalau kamu temani aku?" Nadia mengerucut tidak suka kelakuan Reno sok baik.
"Nad, aku pergi dulu, tolong jangan berantem terus." Nadia tertawa.
"Iya, iya, maaf."
Ara menuju parkiran mobil, ia merogoh tasnya mencari kunci mobil, namun tanpa sengaja ia menabrak seseorang pria hingga terjatuh. Ia pun menatap pria yang sedang membereskan berkas-berkas terjatuh.
'Mas Pras?' Ara membatin
Langkah kaki Ara berburu meninggalkan tempat itu, ia dengan cepat masuk mobil setelah mendapatkan kuncinya, bahkan dia sama sekali tidak meminta maaf.
Jantung Ara berdebar-debar, setelah sekian lama ia bertemu Pras, meskipun Pras tidak melihatnya.
"Mbak, astagfirullah dia yang nabrak kok malah dia kabur." Pras menggelengkan kepala melihat sekilas wanita itu masuk ke dalam mobil.
***
Siang itu Pras pulang dari meeting dari Pt. Mekar Sejahtera, kebetulan ia ingin sekali ngopi, apalagi dia dengar coffe shop yang baru buka beberapa minggu lalu mendadak viral, ia pun mengajak asistennya untuk ngopi sebelum kembali ke kantor.
Namun malah ditabrak seorang wanita, hingga beberapa berkasnya penting terjatuh, Pras kesal lantaran wanita itu malah kabur.
"Bapak tidak pa-pa?" tanya Wahyu asisten pribadi Pras.
"Nggak pa-pa! Ya sudah kita ngopi dulu, setelah itu kembali ke kantor." Pekerjaan Pras sebenarnya sudah kelar, tapi jika dia pulang pasti yang bertengkar dengan Dona, hal itu sangat membuatnya bosan.
"Baik Pak! Pak Pras tidak langsung pulang? Semua pekerjaan bisa saya handel," kata Wahyu, ia tahu beberapa hari bosnya itu lembur hingga malam, padahal kerjaan mereka masih dalam situasi aman.
"Selamat siang, Pak! Ini menunya." Nadia menyodorkan menu pada mereka, karena siang ini cukup ramai beberapa waiters sibuk mengurus pelanggan lain.
"Terima kasih! Saya pesan kopi spesial di sini," ucap Pras. Dia rasa kopi spesial hanya racikan tangan Ara bisa membuat, setiap kopi yang dia rasakan selalu berbeda rasanya.
"Kalau temannya?" tanya Nadia lagi.
"Samakan saja."
"Ba—--"
"Tante, El laper!" Astanaga bocah ini buat jantungan, ia celingukan tidak menemukan bapak bocah ini.
"El, kamu bikin kaget aja, ayah kamu kemana, tante lagi sibuk nih." El menyengir. "Sana gih!"
"Om udah punya istri belum?" El bertanya pada Pras membuat pria ini terkekeh. "Kalau belum punya, nikah sama tante Nadia, kasihan belum nikah juga, kata ayah El ntar perawan tua." Pras semakin terkekeh geli, ia gemes ini anak siapa kok bisa selucu ini.
"Maaf ya Pak, ini keponakan saya, dia asal bicara." Nadia menangkup mulut El, lama-lama El bikin malu juga nih. Pras tersenyum tipis padanya.
"El, sini kamu!" Nadia menekan suaranya. Astaga dia benar-benar dibuat El, masa pakai acara dirinya dipromosi segala, ini pasti ajaran bapaknya yang nggak benar, heran deh kok Ara mau sih nikah dengan Reno yang super nyebelin itu.
"Ih Tante, lepasin tangan aku, ntar aku aduin mama ya." Nadia mengerucut bibir kesal, ia pun geram dengan mengepal kedua tangannya.
"Aduin aja, biar Tante aduin juga kelakuan kamu ya." Kalau tidak ingat El anak dari Ara sudah ia memelintir telinga ini anak.
Pras melangkah mendekati anak itu, entah kenapa ia merasa iba hanya karena omelan tante pada keponakannya.
"Maaf tidak maksud ikut campur, dia masih kecil, mungkin dia sayang dengan anda, makanya dia ingin anda segera menikah." Mendengar ucapan Pras Nadia melepaskan El.
"Nama kamu siapa?" tanya Pras pada El.
"El om."
"Nama yang bagus, mau duduk bareng Om nggak kamu pasti bosan ya?" El mengangguk, ia memang jenuh setelah pulang harus berada di coffee shop bersama Nadia, sedangkan Reno mendadak dapat telepon dari kantor, dan harus pergi. El merasa bosan tidak ada teman. Nadia sendiri sibuk dengan pelanggan di coffee shop.
"Om namanya siapa?" tanya El balik.
"Pras, panggil Om …." El mengedipkan matanya tanda setuju.
"Om baik hati." Pras tersenyum sambil mengelus lembut rambut anak yang baru kenal, namun terasa dekat.