Ara baru selesai berbelanja keperluan coffee shopnya, ia masih tak menyangka bertemu kembali Pras, hatinya mendadak gelisah, ia harus bagaimana sekarang, bagaimana jika Pras tahu tentang El. Pria itu pasti tidak akan tinggal diam.
Wanita ini tidak langsung pulang ke rumah, ia mencoba mencari tahu syarat masuk sekolah baru untuk El, mungkin ia bisa bernegosiasi.
Reno memilih sekolah ternama untuk El, sekolah ini selain fasilitas bagus, terkenal pembelajarannya bagus sekali, bisa dibilang akreditas A.
"Siang Bu, ada yang bisa saya bantu?" Ara langsung ke bagian administrasi untuk mendaftarkan El di sekolah ini.
"Perkenalkan saya Qiara, saya ingin mendaftarkan anak saya masuk sekolah di sini. Bisa?"
"Mari Bu, ikut saya ke ruang guru, kebetulan bagian administras sedang izin, saya Anita guru di sini sekaligus bendahara." Ara mengekori wanita yang hampir sebayanya ke ruang guru.
"Silahkan duduk Bu," ucap Nita. Ara langsung duduk, ini bukan pertama kalinya Ara mendaftarkan El sekolah. Di Kalimantan El sempat sekolah, tapi karena harus pindah El pun hanya belajar pertengahan semester berhenti, dua bulan belakang ini Ara homeschooling untuk El, namun sepertinya El bosan, dan dia harus mencarikan El sekolah, tidak mungkin juga putranya terus menerus belajar di rumah, anak itu juga butuh bergaul.
"Terima kasih."
"Anak ibu sebelumnya sekolah di mana?"
"Di Kalimantan, tapi dua bulan ini anak saya melakukan homeschooling, tapi saya rasa anak saya mulai bosan, dan ingin dia daftar sekolah seperti anak-anak lain." Ara yakin El juga mudah beradaptasi. "Kalau boleh tahu persyaratannya apa ya?" lanjut Ara.
"Seperti pada umumnya Bu, akte lahir, kartu keluarga dan data kedua orang tua. Di sini juga ada tes kemampuan anak." Ara mendengus lelah, sekarang bagaimana dia harus mencari kartu keluarganya, bahkan sampai saat ini El belum masuk di kartu keluarganya dan Pras.
"Begini Bu, saya baru pindah beberapa bulan, ada dokumen seperti kartu keluarga tertinggal di Kalimantan. Apa bisa menggunakan jalur lain, tanpa ada harus dokumen tersebut."
"Sebelum saya minta maaf, semuanya sudah menjadi ketentuan sekolah." Mendengar itu pikiran Ara kembali tak karuan, sekarang bagaimana sekarang dia bisa menuruti kemauan El, jika dia mengatakan tidak bisa masuk sekolah, pasti dia akan ngambek habis-habisan, apalagi sekarang dia sudah menunda El masuk sekolah sejak dua bulan yang lalu, sekarang alasan apa lagi coba.
Bab 11 - Pras
Ara berada di depan rumah Pras, kini dia tidak pernah tahu apakah masih pantas menemui Pras, tidak mungkin Ara menjelaskan tentang El, yang ada Pras akan merebut El darinya.
Dia masih merenung di dalam mobil, jika saja mereka bercerai akan lebih mudah El masuk sekolah lantaran kartu keluarga mereka terpisah. Ah pikir apa dia, selama ini Ara tidak pernah memikirkan untuk bercerai dengan Pras, dirinya sama sekali tidak sanggup.
Dari cahaya berlawanan tampak sebuah mobil melaju ke arahnya, ternyata itu mobil Pras. Mata Ara berkaca-kaca melihat pria itu, laki-laki yang selama ini dia rindukan.
Ara enggan menemui pria itu, ia pun pergi dari tempat itu. Seharusnya dia sadar jika Pras sudah bahagia bersama Dona. Dirinya pun kembali pulang dengan rasa kecewa.
Saat tiba di apartemen, dia melihat Reno beres-beres, pria ini memang sangat rajin, sedangkan El malah tertidur di sofa.
"Maaf ya Ren, aku perginya sampai malam begini," ujar Ara terduduk di samping El yang tertidur.
"Tidak masalah! Sepertinya kamu lelah, mau aku bikinin teh jahe." Ara mendengus lelah, situasinya saat ini membuat kepala Ara ingin pecah.
Pikiran Ara terus menerus pada Pras, sepertinya dia harus menerobos masuk rumah Pras diam-diam, ia yakin Dona sering keluar saat Pras bekerja, tidak seperti dirinya hanya di rumah. Atau Dona masih bekerja sebagai sekretaris Pras, mungkin.
"Ara, kamu mikirin apa?" tanya Reno sambil menyodorkan teh jahe padanya. Wanita itu meneguknya sesekali.
"Sebenar aku butuh kartu keluarga bersama Pras untuk pendaftaran sekolah El," lirih Ara tampak sedih.
"Kamu ingin bertemu dengan Pras." Ara menggelengkan kepalanya, sungguh dia merasa takut jika harus bertemu Pras, memang Pras selalu dalam keadaan tenang menghadapi Ara, tapi apa Pras masih tenang, bila mengetahui tentang El. "Lalu apa rencanamu?"
"Aku akan ke rumah itu saat Pras dan Dona tidak ada."
***
Pras pulang dengan rasa muka melas, ia melihat tidak ada makanan saat dirinya pulang. Dona memang berbeda dengan Ara yang selalu menyiapkan segala keperluannya, dari makan, baju, dan lainnya Ara selalu siap siaga.
Tidak ada kebahagiaan dalam rumah seperti dia bersama istrinya Ara, meski wanita itu sering mengomel tidak jelas, namun Pras tidak peduli dia sangat membutuhkan Ara.
Drrrtt!
Ponsel Pras berdering sebelum dia masuk kamar, melihat nama tertera Pras buru-buru ke ruang kerjanya. Dia harap ada kabar baik tentang istrinya.
"Selamat malam, Pak."
"Malam! Bagaimana ada perkembangan?" tanya Pras pada detektif yang dia sewa beberapa bulan lalu, entah ini sudah berapa kali Pras mengganti detektif hanya untuk mencari istrinya Ara.
"Terakhir saya mendengar istri bapak ada di Kalimantan." Pantas dia tidak pernah menemui Ara dimana pun, ternyata istrinya sangat pintar bersembunyi.
"Lalu?"
"Tapi informasi yang saya dapat dari tetangganya jika istri bapak sudah kembali ke Jakarta," ucap detektif bernama Bayu itu.
"Bay, saya tidak mau tahu kamu harus menemui Ara secepatnya!" ucap Pras tegas.
"Ada berita yang tidak menyenangkan untuk bapak," ucap Bayu terdengar ragu.
"Katakan! Apapun itu saya siap!"
"Saya dengar dari beberapa tetangga, jika istri bapak sudah memiliki suami, dan anak. Ucapan Bayu benar-benar membuat Pras syok, mana mungkin Ara mengkhianatinya, lagi pula mereka belum bercerai mana mungkin Ara menikah begitu saja.
"Kamu jangan bercanda Bayu!"
"Saya serius Pak!"
Ceklek!
Pras menutup telepon menyadari kehadiran Dona, mudahan wanita ini tidak mendengar percakapannya. Entah kenapa Pras memiliki firasat kepergian Ara ada sangkut paut dengan Dona.
"Ngapain kamu ke sini? Bisa kan ketuk pintu dulu!" cecar Pras marah. Dona menatap pria ini curiga, tak biasanya Pras pulang langsung ke ruang kerjanya.
"Kamu sendiri kok nggak langsung ke kamar," balas Dona lebih sinis.
"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Dona tidak bodoh, ia tidak semudah itu percaya.
Sepertinya Pras lupa jika Dona dulu sekretarisnya, kebohongan apa yang pria ini lakukan. Ia tahu betul pekerjaan Pras bagaimana, suaminya ini memang sibuk, namun tidak anti membawa pulang pekerjaan.
"Yakin?" tanya Dona tak percaya.
"Kamu bisa tanya ke Akbar."
"Baiklah," ucap wanita itu. "Jadi kapan kamu ada waktu untuk ke rumah sakit?" lanjut Dona.
Atas permintaan Sari, Dona harus mengajak Pras ke rumah sakit, mertuanya itu meminta mereka melakukan program hamil, kadang terlintas dipikiran Dona, jika Pras mandul, buktinya sampai hari ini Dona tidak hamil juga, padahal dulu dia pernah hamil, ya walaupun harus keguguran.
"Aku nggak bisa! Kamu tahu kan kerjaan aku banyak, besok aku ada meeting penting!"
"Aku nggak minta besok! Bisa besoknya lagi, atau minggu depan, aku curiga kamu menyembunyikan sesuatu." Pras bisa saja jujur pada Dona, namun ia enggan lantaran memikirkan Sari.
"Aku akan cari waktu." Pras bingung mengelak wanita ini.