Bab 8 – Sheryl vs Yuri feat. Dea

1455 Words
Satu bulan setelah Stephanie mengajarkan Sheryl semua tugas-tugasnya, ia resmi mengambil jatah cuti melahirkannya untuk konsentrasi pada kelahiran anak pertamanya. Seketika kantor terasa sangat sepi bagi Sheryl karena ia tidak memiliki rekan kerja yang dapat diajak berbincang mengenai segala hal, kecuali Stephanie. Ia belum begitu dekat dengan Hanny, maka rasanya sedikit canggung bila membicarakan hal yang bersifat pribadi. Apalagi Hanny adalah staf dari tim personalia. Tentu saja Sheryl harus benar-benar menjaga ucapannya. Sheryl tetap mengajak Hanny untuk makan siang bersama di kantin atau di pantry kantor mereka. terkadang Hanny yang terlebih dulu mengajak Sheryl untuk pergi ke kantin atau ke minimarket untuk membeli cemilan. Namun, hari itu Hanny tidak masuk kantor karena sedang terserang demam. Khawatir akan menularkan penyakitnya, Hanny memutuskan untuk meminta izin pada atasannya untuk diperbolehkan beristirahat di rumah. Atasan Hanny pun memberikan izin pada Hanny untuk tidak masuk kantor. Sayangnya, hal itu membuat Sheryl semakin kesepian. Sheryl memutuskan untuk pergi ke kantin seorang diri karena tak seorang pun di timnya mengajaknya pergi makan siang bersama. Ia memutuskan untuk memesan agar pesanan makanannya dibungkus saja karena ia ingin menyantap makan siangnya di pantry kantornya. Rasanya sedikit aneh makan siang seorang diri di kantin di mana satu meja seharusnya bisa diisi oleh empat orang, tetapi ia harus menghabiskan jatah satu meja itu untuk dirinya seorang. Sekembalinya Sheryl ke kantor, ia mendapati pantry telah penuh terisi oleh para karyawan yang juga ingin menyantap makan siangnya. Satu-satunya kursi kosong yang masih tersisa hanya ada di meja yang ditempati oleh Merisa, Rosidah, Yunov, dan Marlina. Sheryl pun menghela napasnya dengan berat. Sepertinya ia harus menunggu beberapa menit lagi untuk bisa menyantap makan siangnya dengan tenang. “Sini, Sher,” ujar Marlina yang membuat Sheryl terpaksa terjebak dengan orang-orang yang entah apa alasannya seperti tak suka dengan kehadirannya. “Makasih,” balas Sheryl lalu duduk di samping Marlina. “Gue duluan, ya,” ujar Marlina lalu bangkit dari kursinya dan berlalu dari pantry. Dasar sial, rupanya asisten manajernya itu sama sekali tak peka pada keadaan Sheryl. “Duluan,” ujar Yunov yang juga segera bangkit dari kursinya. “Bye all,” ujar Merisa yang segera menyusul Yunov. Ia terpaksa menyudahi makan siangnya lebih cepat dan menyisakan makanannya karena ogah duduk bersama karyawan yang sudah tua, tetapi hanya berstatus kontrak sementara. Rosidah pun terlihat sangat tidak nyaman karena teman-temannya sudah meninggalkannya terlebih dulu. “Eh, gue pergi duluan gapapa, kan?” tanya Rosidah pada Sheryl. “Oh, iya,” jawab Sheryl. Akhirnya Sheryl duduk seorang diri di meja yang seharusnya ditempati enam orang itu. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling pantry. Betapa malunya ia ketika mendapati semua meja ditempati orang-orang bersama rekan-rekannya, tetapi ia hanya seorang diri di tengah keramaian itu. Ah, sudahlah, jam istirahat sebentar lagi akan segera berakhir. Orang-orang yang sedang sibuk menyantap makan siangnya seraya bersenda gurau dengan rekan-rekannya pun sebentar lagi akan pergi meninggalkan pantry untuk membeli kopi di coffee shop atau membeli cemilan di minimarket atau kembali ke meja kerjanya. Namun, rupanya tak perlu menunggu lama, rasa malu yang dirasakan Sheryl berganti menjadi rasa bingung karena tiba-tiba orang-orang memandanginya dengan takjub karena seorang pria tampan duduk di hadapannya. “Sendirian aja? Temen lo ke mana?” Seketika Sheryl ternganga memandangi pengacara tampan yang tanpa permisi duduk di hadapannya. “G-gak masuk, Bang,” jawab Sheryl. “Dua-duanya?” “Stephanie udah cuti melahirkan. Hanny lagi sakit.” “Oalah. Ya udah, gue temenin, ya.” “Iya, Bang.” Radit segera membuka stirofoam berisi nasi putih dan ayam penyet lalu menuangkan hidangan makan siangnya itu ke atas piring. Mereka pun menyantap makan siangnya seraya berbincang akrab. “Sheryl dulu kerja di mana?” “Di perusahaan garmen, tapi sekarang perusahaannya udah tutup. Gulung tikar.” “Oh gitu. Kerja di sini gimana? Enak kan?” ‘Bah! Kalau bukan karena si Stephanie dan kepepet butuh duit sih gue juga ogah!’ ujar Sheryl membatin. “Hmm … enak-enak aja sih, Bang.” “Semoga betah, ya.” “Tapi aku kan cuma gantiin Stephanie selama dia cuti hamil.” “Oh … kontraknya berapa lama?” “Enam bulan, Kak.” “Semoga aja nanti mereka mau tambah karyawan.” ‘Bisa gak doainnya biar gue buruan keterima di XYZ aje! Bukannye ape-ape, ketaker banget ini timnya Stephanie nge-bully gue!’ ujar Sheryl membatin demi mengingat perlakuan mereka selama ia bekerja di firma hukum tersebut. “Eh, Bos Radit paling ganteng, bisa bener lu gaet daun muda,” goda Novan, salah seorang rekan kerja Radit saat ia baru saja kembali dari kantin dan mendapati Radit sedang duduk berdua bersama seorang gadis yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Ia pun duduk di kursi yang bertepatan berada di samping Radit. “Eh, Van, kenalin nih, Sheryl,” ujar Radit. “Hai, Novan,” ujar Novan seraya tersenyum pada Sheryl. “Hai,” balas Sheryl dengan menunjukkan seringai kudanya karena Novan menggodanya dengan kedipan mata genitnya. “Dari tim mana?” tanya Novan. “Accounting,” jawab Sheryl. “Oh, business support, ya?” “Iya.” “Eh, abang-abang ganteng lo ke mana?” tanya Novan pada Radit. “Bang Yoga lagi ke klien. Bang Arkan lagi ada sidang,” jawab Radit. “I see. Eh, gue ikut makan di sini gapapa, kan?” tanya Novan. “Ya gapapalah,” jawab Radit. “Heh, Van, gangguin orang pacaran aje lu!” celetuk Louis. “Bangke lu!” ujar Radit menimpali ucapan Louis seraya terkekeh yang membuat Louis ikut tertawa. “Oke deh, gue sama Louis aja. Silakan dilanjutkan makannya ya, Mbak Sheryl,” goda Novan lagi sebelum bangkit dari kursinya dan bergabung dengan Novan di meja bar. “Eh, si cumi malah pindah!” ujar Radit. “Kita paham kok, Dit,” balas Louis. “Iye, kita gak akan ganggu temen kita yang lagi usaha,” timpal Novan. “Ya kan, Is?” “Ya dong, sebagai sesama pengacara XXX Law Firm harus solid,” balas Louis lalu ia dan Novan melakukan tos tangan yang membuat Radit geleng-geleng kepala. “Sorry ya, Sher. Emang reseh tuh bapak-bapak!” ujar Radit. “It’s ok, Bang, tapi Bang Radit gak risih kan makan sama aku?” “Ya enggak dong.” Baru saja Novan menjauh, rupanya ada lagi sang pengganggu datang. Dua orang gadis yang sudah bersahabat dekat sejak diterima bekerja di firma hukum tersebut diam-diam memandangi Sheryl dengan kesal. Kedua gadis itu adalah Yuri dan Dea yang baru saja kembali dari restoran yang berlokasi di lantai dasar gedung kantor mereka. Yuri pun tanpa segan segera duduk di samping Radit yang membuat Dea berdecih kesal karena Yuri selalu mendahuluinya mendekati pengacara tampan itu. Dea pun terpaksa duduk di samping Sheryl. “Hai, Dit, udah selesai kerjaannya?” ujar Yuri saat mendarat di kursi samping Radit yang membuat Sheryl sedikit ternganga karena Yuri tanpa permisi duduk di hadapannya. “Udah,” balas Radit seraya tersenyum. “Besok kita ke restoran yang baru dibuka di lobby kantor, ya. Enak-enak lho menu restonya.” “Oh, tadi lo jadi ke sana?” tanya Radit. “Jadi, dong. Oh ya, tadi gue beli kerupuk ikan di resto tadi. Enak banget. Lo mau?” tanya Yuri seraya mengeluarkan satu bungkus plastic dari dalam tote bag yang selalu dibawanya setiap jam istirahat makan siang. “Boleh,” jawab Radit. Ia pun segera mengambil kerupuk ikan tersebut dan memakannya. “Hmm … enak!” ujarnya setelah kerupuk ikan itu menghampiri lidahnya. “Oh ya, kenalin, ini Sheryl. Dia gantiin mbak Stephanie yang lagi cuti melahirkan,” lanjutnya memperkenalkan Sheryl pada kedua rekan kerjanya. “Oh, back office,” ujar Yuri yang membuat Sheryl sedikit mengerutkan dahinya. Nada suara Yuri terdengar meremehkan jabatannya. Dea pun berjabat tangan dengan Sheryl seraya menunjukkan senyum kemenangannya. Rupanya gadis yang duduk satu meja dengan Radit itu bukanlah saingannya. “Bukan main. Pakai pelet ape lu sampai bisa dikelilingin trio macan?” celetuk Yoga yang baru saja kembali dari kantor kliennya dan mampir ke pantry kantornya sebelum memasuki ruang kerjanya. “Hai, Bang Yoga,” ujar Yuri dengan nada yang terdengar genit hingga membuat Sheryl serasa akan memuntahkan makanannya. “Eh, ada kerupuk nih. Bagi dong,” ujar Yoga yang seketika membuat Yuri menyodorkan bungkus kerupuknya pada pria tampan itu. “Yur, De, balik yuk,” ujar Yoga setelah menyantap kerupuknya. Yuri dan Dea pun dengan senang hati bangkit dari kursi masing-masing karena senior mereka itu mengajak mereka untuk segera kembali bekerja. “Jangan ganggu Radit. Dia lagi usaha pendekatan sama anak baru,” lanjut Yoga seraya terkekeh yang membuat Radit ikut terkekeh dan memukul lengannya. Seketik Yuri dan Dea menghela napas seraya memutar kedua bola matanya. Mereka pikir Yoga memang benar-benar menyuruh mereka kembali bekerja, nyatanya bosnya itu menyuruh mereka tak mengganggu kemesraan Radit dengan si karyawan back office.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD