Bab 3 – Hati-Hati, Sheryl!

1497 Words
“Sher, kita makan siang bareng Hanny, ya,” ujar Sheryl menjelang jam istirahat kantor. “Okay.” Sheryl mengunci layar laptopnya lalu melangkah mengikuti Stephanie menuju ruang kerja tim personalia. Sejak Sheryl bergabung dengan timnya, Stephanie merasa beban di pundaknya semakin ringan. Sheryl banyak membantu pekerjaannya. Untunglah Sheryl merupakan wanita yang cerdas. Tak butuh waktu lama baginya mengajari Sheryl semua job desk-nya. Stephanie merasa tenang karena pekerjaannya akan diteruskan oleh Sheryl selama ia mengambil hak cuti hamilnya. Siang hari itu, Hanny mengajak mereka untuk menikmati makan siang di kantin karyawan. Saat Sheryl dan Hanny memesan makanan, Stephanie berjaga di meja yang mereka tempati agar meja tersebut tidak ditempati oleh orang lain. Stephanie juga tidak perlu mengantri memesan makanan karena ia sudah membawa bekal yang disiapkan oleh ibu mertuanya. Selama menunggu antrian, Sheryl mengedarkan pandangannya ke sekeliling area kantin. Miris. Banyak orang yang merokok. “Han, kita makan di pantry kantor aja mau ga?” ajak Sheryl. “Kenapa, Sher?” tanya Hanny. “Banyak yang ngerokok. Kasihan Stephanie, kan dia lagi hamil,” jawab Sheryl. “Bener juga sih. Ya udah minta makanannya dibungkus aja, ya.” “Sip.” Setelah Sheryl dan Hanny menerima pesanan makanannya, mereka segera menghampiri Stephanie yang tampak setia menanti teman-temannya. “Yuk, makan,” ujar Stephanie begitu Sheryl dan Hanny menghampirinya. “Steph, kita makan di pantry kantor aja,” ujar Hanny. “Lho? Kenapa?” tanya Stephanie dengan dahi berkerut. “Sheryl khawatir sama kondisi lo. Di sini banyak bapak-bapak ngerokok,” jawab Hanny. Stephanie pun segera memeluk Sheryl yang membuat temannya itu terkekeh. “Makaci ya, Beb. Lo dari dulu emang perhatian banget sama temen-temen lo.” “Kalian akrab banget ya waktu kuliah?” tanya Hanny setelah mereka bertiga keluar dari area kantin. “Seakrab itu sih. Kita ke mana-mana bertiga. Di mana ada Stephanie, di situ ada Sheryl,” jawab Stephanie. “Dan ada Christina,” timpal Sheryl. “Satu geng kalian isinya tiga orang?” tanya Hanny lagi. “Betyul,” jawab Sheryl dan Stephanie dengan kompak. *** Hari itu, Radit, Yoga, Willy, dan Cakra mewakili pihak PT YOW dalam persidangan gugatan terhadap PT WOY karena telah melanggar hak cipta dalam pembuatan logo brand produk sepatu mereka. PT WOY diduga meniru logo yang telah lama digunakan oleh PT YOW karena logo tersebut benar-benar mirip. Perbedaan hanya pada garis yang lebih panjang dan perbedaan warna. Tentu saja PT YOW merasa dirugikan dengan peniruan logo produk mereka. Untunglah mereka memiliki tim kuasa hukum yang mumpuni untuk memenangkan gugatan mereka hingga mereka berhasil mendapatkan haknya dengan memberikan denda pada PT WOY sebesar Sepuluh Milyar Rupiah. “Dasar lo pengacara bujang lapuk! Makanya kawin biar hidup lo happy!” teriak salah seorang pengacara dari pihak lawan. “Heh! Jaga mulut lo!” balas Willy, sang Senior Associate. “Jaga mulut lo! Gue udah punya istri dan anak! Baca akun-akun gosip seleb kek gitu biar tau gue si DJ Radit Paling Ganteng!” timpal Radit seraya terkekeh. “Bang Radit, lo hajar dong tuh orang! Mulutnya kayak gak pernah disekolahin!” ujar Cakra, si Junior Associate, dengan raut wajah cemberut. “Sabar Cakra! Kalau Radit yang mukul duluan kan Radit yang bisa jadi tergugat,” ujar Yoga. “Oh iya, ya, tapi ngeselin banget tuh orang! Orang tim dia yang salah kok dia yang marah?!” balas Cakra. “Lo harus banyak belajar sabar dan belajar maklum, Cak,” ujar Yoga lagi. “Padahal dia anak hukum lho. Kan di kuliah hukum kita diajarin gak boleh mengungkit dan menyinggung kehidupan pribadi lawan kita! Tuh orang selama kuliah dulu bobo apa gimana sih?!” lanjut Cakra. “Udeh, biarin aja. Dengan dia begitu kan bikin orang-orang tau gimana sifat aslinya,” balas Radit. “Bagus buat firma hukum kita juga lho, Cak. Jadinya orang-orang lebih simpatik ke kita dan lebih mau pakai jasa firma hukum kita dibanding firma hukum mereka,” timpal Willy. “Bener juga ya, Bang,” balas Cakra. Keempat pengacara itu pun kembali ke kantor firma hukum tempat mereka bekerja dengan hati riang gembira. *** Pukul empat sore, Stephanie mengajak Sheryl dan Hanny untuk menyantap dimsum yang mereka beli di kantin. Ia membutuhkan tenaga tambahan untuk berjibaku dengan kemacetan jalan raya Jakarta yang akan ia hadapi sebentar lagi untuk pulang kembali ke rumahnya yang nyaman. Dengan telaten, Stephanie memasukkan dimsum ke dalam microwave untuk dihangatkan. “Lo telaten banget deh, Steph. Udah cocok banget jadi ibu,” ujar Sheryl. “Iya, dari awal gue kenal Stephanie tuh udah kerasa banget aura keibuannya,” timpal Hanny yang membuat Stephanie terkekeh karena teringat kembali awal pertemuannya dengan Hanny. Di kantor firma hukum tersebut Stephanie merasakan sedikit sulit berteman baik dengan para rekan kerjanya. Entahlah, rasanya mereka tak mau ada anggota baru di dalam gengnya hingga ia bertemu dengan Hanny saat makan siang bersama di pantry kantor. Pantry tersebut sangat penuh di jam istirahat makan siang. Berhubung kursi kosong hanya tersedia di meja yang ditempati Hanny, maka Stephanie meminta izin pada Hanny untuk bergabung dengannya. Nyatanya Hanny sangat senang mendapatkan teman di firma hukum tersebut. Sejak saat itu, Stephanie dan Hanny sering kali terlihat bersama ke kantin, ke ATM, ke minimarket, dan ke mall. Setelah selesai memanaskan dimsum, tiga sekawan itu duduk di meja utama pantry. Mereka menyantap cemilan sore mereka seraya bersenda gurau. Tak berapa lama kemudian, tampak empat orang pengacara tampan memasuki ruang kantor mereka dan berlalu melewati pantry. “Hai, Sher, makan apa?” ujar Radit menyapa Sheryl seraya mengintip makanan yang tersaji di hadapan gadis itu. “Dimsum, Kak,” balas Sheryl. “Mau coba?” “Mau dong.” Radit pun segera mengambil garpu lalu menyantap dimsum itu. “Beli di kantin, ya?” “Iya, Kak. Kok tau?” “Tau dong. Gue juga suka beli di sana. Enak dimsumnya.” “Ambil lagi, Kak.” “Sip.” “Bisa bener nih kucing garong satu!” celetuk Yoga setelah mengambil air minum dari dispenser. “Bang Yoga sirik aje!” protes Radit. “Modal wey. Beli sendiri. Kan gak enak sama Sheryl dimsumnya lo abisin,” balas Yoga. “Gapapa, Kak. Santai aja,” ujar Sheryl seraya terkekeh. “Tuh, yang punya dimsum aja gak protes,” celetuk Radit. “Maaf ya, Sher, si Radit kelamaan jomblo makanya kelakuannya jadi agak-agak,” ujar Yoga pada Sheryl. “Lah, apa hubungannye?” timpal Radit dengan memberengutkan wajahnya. “Udeh, ayo balik!” ujar Yoga. “Makasih ya, Sher. Besok kalau mau beli dimsum ajak-ajak ye!” ujar Radit berpamitan pada Sheryl. “Iya, Kak. Sama-sama,” balas Sheryl dengan senyum manisnya. “Sher, lo kenal bang Radit?!” tanya Stephanie dengan raut wajah terkejut. “Kenal sama bang Yoga juga?!” tanya Hanny yang tak kalah terkejut. Sheryl pun ternganga mendapati kedua temannya yang histeris mendapati dirinya kenal dengan kedua pengacara tampan yang mereka sebutkan itu. “Iya, emang kenapa?” “Wah, gokil!” ujar Hanny seraya geleng-geleng kepala. “Lo tau gak siapa Yoga sama Radit itu?” tanya Stephanie. “Gue baru kok kenal mereka. Hari pertama kerja di sini si Radit gak sengaja nabrak gue di lobby pas mau ke lift. Eh, waktu gue mau ambil gelas di pantry ketemu lagi sama doi. Ya udah dia minta kenalan. Cuma gitu doang sih,” jawab Sheryl. “Keluarganya bang Yoga yang punya Djojodiningrat Corporation,” ujar Stephanie. “Keluarganya bang Radit yang punya Hadiputro Tanubrata Kimia Group!” “Hah?! serius?!” Kali ini Sheryl yang terkejut. Kedua matanya tampak terbelalak saking tak percayanya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Lo tau artis Indah Karnasih?” tanya Hanny. “Iya, tau,” jawab Sheryl. “Kenapa?” tanyanya. “Ya itu adiknya si bang Radit,” jawab Hanny. “HAH?! J-jadi, suaminya Indah Karnasih yang kaya banget itu adik iparnya bang Radit?!” tanya Sheryl untuk memastikan. “Betul,” jawab Stephanie dan Hanny berbarengan. “Bang Arkan?” tanya Sheryl. “Kakek neneknya bang Arkan punya perusahaan freight forwarding. Daneswara Lines,” jawab Hanny. “Waw! Gile! Ini kantor terbuat dari apa ya? Banyak pewaris-pewaris tajir!” ujar Sheryl yang membuat Stephanie dan Hanny terkekeh. “Ya ampun, gue lima tahun kerja di sini gak pernah sekalipun dilirik pengacara-pengacara tampan nan mapan itu. Lo keren banget Sher bisa akrab sama mereka,” ujar Hanny. “Ah, biasa aja. Kebetulan doang kok kemarin itu si Radit nabrak gue di lobby,” balas Sheryl. “Kayaknya lo mesti hati-hati deh, Sher. Gue denger-denger banyak yang naksir bang Radit. Yang naksir bang Yoga sama bang Arkan juga banyak, tapi mereka udah ada yang punya. Sisa si Radit doang yang buat mereka masih ada harapan,” ujar Stephanie. “Ah elah, lebay amat,” protes Sheryl. “Gue juga udah lama denger cewek-cewek pengacara di sini banyak yang berusaha deketin bang Radit. Yang dari back office minder duluan sama para lady lawyer. Kayaknya bener yang dibilang Steph. Lo harus hati-hati selama kerja di sini,” ujar Hanny.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD