Nadira keheranan melihat raut wajah asisten Rifky yang nampak kusut dan tidak bersemangat, sekembalinya dari ruangan Dava. Hatinya pun bertanya-tanya, ingin sekali menyapanya. Namun, urung ia lakukan. Tanpa bicara sepatah kata pun, asisten Rifky langsung duduk di kursinya sambil menghela napas berat. Ia merasa kesal dan frustasi, dengan sikap bos seperti Dava yang begitu egois dan menyebalkan. Ia pun menatap lekat-lekat wajah Nadira yang tampak duduk dengan tenang disaat suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja. “Nona Nadira!” panggil asisten Rifky setelah puas menatapnya. “Iya, Pak!” Nadira pun lekas menoleh dengan raut wajah siaga. “Bolehkah saya mengajukan satu pertanyaan tentang masa lalu kamu dengan Pak Dava? Tolong jawab dengan jujur!” Deg! Jantung Nadira tersentak kage

