Hening. Suasana di dalam lift ketika sudah tertutup itu pun mendadak senyap. Hanya bola mata mereka yang saling mengunci dengan melemparkan tatapan penuh tanya dalam benaknya masing-masing, yang tentunya sangat bertolak belakang. Debaran jantung dalam dad4, berdetak tidak pada semestinya. Semburat raut wajah keduanya pun nampak memerah tak mampu disembunyikan dari sisi mana pun. Setelah saling tatap dan bungkam dalam keheningan di lift tersebut, Nadira pun akhirnya membuka suara. “Tolong lepaskan lengan saya, Pak!” Dava pun tersentak lirih, lalu melirik ke arah tangannya yang masih memegangi lengan Nadira dengan sangat kuat. Nampak, ada ruam kemerahan di sekitar sisi lengan Nadira yang putih mulus, karena tertekan oleh cengkraman tangannya yang besar dan lebar, lagi kencang. “M-maaf,

