Di bandara Halim Perdana Kusuma. Nadira baru saja turun dari mobilnya, untuk berpamitan dengan supirnya. Namun, suara baritone Dava, membuat Nadira sampai terlonjak kaget. Sontak, Nadira langsung memutar tubuhnya untuk segera menghadap ke arah Dava. “Duh, Kak Dava, bikin kaget sajah,” dengus Nadira sambil geleng-geleng kepala, sambil menarik kopernya. Dava malah terkekeh pelan, lalu menghentikan tangan Nadira yang menarik kopernya. Ia pun membawa Nadira ke dalam pelukkannya dengan sangat mesra. Namun, dengan cepat tangan Nadira segera memukul pelan punggung Dava. “Kak, lepasin! Ini, di tempat umum,” cebiknya kesal. “Aku rindu, Sayang! Emangnya nggak boleh ya, Cuma meluk kek gini doang, huem?” bisik Dava tetap enggan melepaskan tubuh Nadira. “Jaga nama baikmu dan nama baikku, Kak! Ba

