Nadira nampak sedih menatap kedua buah hatinya yang masih tertidur. Dirinya yang baru saja menjalankan sholat shubuhnya pun tak kuasa meneteskan air mata. Betapa hancur hati dan perasaannya, jika sampai kedua buah hatinya tahu siapa ayah kandungnya yang ternyata masih hidup, tidak seperti apa yang dikatakan kepada mereka jika ayahnya telah tiada, ketika mereka bertanya keberadaan sang ayah. “Maafkan Bunda, Nak! Maafkan Bunda sudah membuat kalian tidak pernah mengetahui siapa sebenarnya Ayah kalian,” bisik Nadira lirih, sambil mengecup kening mereka bergantian yang masih tertidur lelap. Nadira ingin menjerit kepedihan yang sedang menyayat hatinya, kala membayangkan kedua anaknya akan membenci dirinya, jika mereka tahu selama ini ia telah membohongi mereka. Rasa ingin menghilang dan menjau

