Dava dan Nadira pergi ke PT XXX menggunakan mobil kantor. Mereka nampak duduk berdua di belakang supir. Awalnya, Nadira hendak duduk di samping supir, akan tetapi Dava langsung mencegahnya dengan cepat. Pemandangan yang tidak biasa dirasakan oleh supir kantor. Pasalnya, ia sudah terbiasa mengantar sang CEO dengan asisten pribadinya, Rifky Ardian. Wajah dingin Dava sesekali melirik ke arah Nadira yang duduk tak tenang di sampingnya. Ia pun menahan senyum diam-diam, melihat tingkah Nadira yang sepertinya tidak nyaman menempel terus dengannya. Apa boleh buat, siapa suruh sudah meninggalkannya sekian tahun tanpa berperasaan. Sekali-kali, harus diberi pelajaran dengan bahasa cinta. “Hei… apa kamu tidak bisa duduk tenang sedikit saja, Dira?” tegur Dava sengaja dengan tatapan sinis. Nadira pu

