Chapter 7. Saling Memaafkan.

1629 Words
“Eyang ini, Papanya Bunda kamu, Sayang. Mari, Eyang peluk!” jelasnya, tanpa lelah merentangkan kedua tangannya untuk bisa memeluk sang cucu. Sedangkan Nando, nampak terdiam membeku, ketika mendengar lelaki tua yang ada di hadapannya itu menyebut dirinya sebagai papa bundanya. Namun, detik kemudian, ia pun tersenyum kecil. “Apa Eyang itu sama seperti Opah?” tanyanya lagi. “Iya, Sayang. Eyang sama dengan Opah. Kalau Cucu Eyang lebih suka memanggil Opah, Eyang nggak keberatan. Yang penting, Cucu Eyang suka.” “Aku sudah memiliki Opah,” ucapnya, sambil menggandeng tangan Troy. “Aku tidak mau memiliki Opah lagi, selain Opah Troy,” jelasnya, membuat Cakra seketika membisu. Kedua tangannya gemetar, netranya pun berkaca-kaca, menatap nanar wajah bocah di depannya yang membuat dirinya tertampar oleh ucapannya. Nadira yang mendengar hal itu pun, lantas ikut berjongkok menghadap putra kecilnya. “Nando, Sayangnya Bunda. Nando nggak boleh ngomong seperti itu! Eyang ini, Opahnya Nando juga. Sama seperti Opah Troy. Nando, Anak Bunda yang paling genius, kan? Jadi, Nando pasti paham!” tuturnya dengan lemah lembut. “Papa harus sabar, menghadapi Anak Dira yang ini. Nando ini, super kritis dan genius. Ia sangat peka dan keingintahuannya sangat besar, dibandingkan Anak seusianya yang lain. Dira ajah sampai kewalahan, Pah,” bisiknya lirih, di samping ayahnya. Cakra pun tersenyum mengembang, setelah mendengar bisikkan Nadira. “Aku paham, Bunda,” ucapnya dengan anggukkan. Kemudian, menoleh ke arah Cakra. “Eyang…” Nando segera masuk ke dalam pelukkan Cakra dengan wajah ceria. Setelah puas berpelukkan, Cakra pun menggendong tubuh bocah genius itu dengan sangat senang. Meskipun usianya sudah memasuki usia lima puluh tahun. Namun, Cakra masih memiliki tubuh yang sehat dan bugar. Karena, ia selalu menjaga pola makan dan selalu rutin berolah raga. Cakra pun berjabat tangan dengan Tasya dan Troy, saling menyapa dan berbincang dengan hangat. Lalu, netranya mencari seseorang yang sepertinya ganjil. “Kalau Cucu Papa yang satunya lagi, di mana, Sayang?” tanya Cakra kepada sang putri. “Oh, Nanda tadi tertidur dalam perjalanan, Pah. Sekarang, sedang tidur di kamar….” Dira menahan ucapannya, tiba-tiba saja sangat berat mengakui itu adalah kamar miliknya. Cakra seperti mengerti, diamnya Nadira menahan ucapannya. “Itu masih tetap kamarmu, Sayang. Masih sama seperti kamarmu yang dulu. Tidak ada yang berubah sedikit pun. Masih tetap sama, sebelum kamu pergi. Seperti rasa sayang Papa dan Mama, kepadamu.” Air mata Cakra pun kembali menetes. Ia tidak bisa menyembunyikan lagi rasa sesalnya dahulu. Nadira pun menatap nanar wajah sang ayah. Ia pun tidak menyangka, jika ayahnya masih sangat menyayanginya. “Dira juga sayang Papa dan Mama.” Tasya dan Troy pun terharu dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya. Air mata mereka pun ikut mengiringi kisah sedih antara anak dan ayahnya tersebut. Karena, selama ini mereka lah yang sangat berjasa untuk perjuangan hidup Nadira bersama kedua buah hatinya. “Tuan Troy dan Nyonya Tasya, saya ucapkan beribu-ribu terima kasih. Berkat kalianlah, Putri saya bisa melanjutkan hidup dan menempuh pendidikan dengan sukses. Tanpa kalian, saya tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi dengan Putri dan kedua Cucu saya di sana. Maafkan saya, yang terlalu egois di masa lalu,” ujarnya tulus di sela tangisannya. “Sama-sama, Tuan Cakra. Kami pun senang, bisa menjaga dan melindungi mereka. Kami sudah menganggap Nadira dan si kembar Nando dan Nanda, seperti Anak dan Cucu kami sendiri,” sahut Tasya, lalu diikuti oleh Troy, suaminya. “Ya, Tuan Cakra. Kami tidak bisa jauh dan lepas dengan Nadira dan si kembar Nanda dan Nando. Kami tidak bisa membayangkan, jika kami berjauhan dengan mereka. Hanya merekalah, pelepas lelah dan pelipur lara kami selama ini.” Tangisan haru bercampur bahagia, mengiringi pertemuan mereka semua. Setelah itu, tatapan Nadira berpindah kepada sang ibu yang sedang tertidur pulas dengan peralatan medis yang melekat di tangan dan hidungnya. Tangisan Nadira pun semakin pecah, lalu berhambur duduk di bangku lipat yang menghadap ke arah Sandrina, ibunya. “M-mama…. Ini Dira, Mah! Dira udah ada di dekat Mama. Mama harus sembuh, dan sehat seperti sedia kala,” bisiknya lirih, sambil menggenggam jemari tangan Sandrina yang tidak di pasang jarum infus. Tasya dan Troy pun ikut menghampiri Nadira, sambil memberikan kekuatan untuk lebih bersabar dan menerima ujian dari sang Pencipta, dengan mengusap lembut bahu Nadira. “Kamu harus lebih banyak bersabar, Sayang! Semoga Mama kamu lekas kembali sehat, dan diangkat penyakitnya.” Sedangkan Nando, seperti sedang merasakan kenyamanan berada di pangkuan Cakra, eyangnya yang baru pertama kali ia temui. *** “Udah berapa lama, Mama tertidur seperti ini, Pah?” tanya Nadira, karena ia merasa putus asa, setelah beberapa lama ia berbisik, masih tidak mendapatkan respon dari Sandrina. “Sepertinya, hampir satu jam yang lalu, Sayang. Setelah minum obat dari Suster, Mama kamu akan tertidur pulas sampai beberapa jam kemudian. Setelah itu, Mama kamu baru terbangun dan pasti mencari dan menanyakanmu. Apakah Putriku sudah datang bersama Cucu kembarku. Seperti itu,” jelas Cakra dengan jujur. Nadira pun kembali menatap wajah pucat ibunya yang masih tertidur di atas ranjang. “Apa Mama harus selalu memakai alat ini, Pah?” tanyanya sambil memegang selang ipus dan oksigen Sandrina. Cakra pun mengangguk lemah. “Ya, hanya dengan memakai ini, Mamamu masih bisa bertahan. Karena, Mamamu sudah tidak mau makan dan minum sama sekali. Semuanya, lewat jalur selang infus itu, Sayang.” Betapa getirnya perasaan Nadira. Tubuhnya terasa tercabik-cabik dan terkoyak, mendapati kenyataan pahit yang sedang dialami oleh ibunya. Terakhir kali Nadira berkomunikasi dengan Sandrina, dua bulan yang lalu, saat Nadira akan menghadapi sidang skripsinya. Saat itu, Nadira meminta doa kepadanya, untuk menghadapi sidang skripsi agar lancar dan berhasil. Air mata Nadira tak henti-hentinya mengalir deras, melihat kondisi Sandrina yang begitu menyedihkan. Pantas saja, akhir-akhir ini ibunya jarang menelponnya. Ternyata, ini alasannya. “Kuatkan dirimu, Sayang! Doakan yang terbaik untuk kesembuhan Mamamu,” ucap Tasya, merasakan kepedihan yang sama. Sebagai sahabat, ia pun tidak tega melihat kondisi Sandrina yang sudah lemah seperti itu. “Terima kasih, Tante,” ucap Nadira, sambil sesegukkan di depan ibunya. *** Setelah hampir dua jam berjalan. Tasya dan Troy, membawa Nando untuk tidur menyusul Nanda. Karena, beberapa kali nampak Nando yang menguap. Sedangkan Nadira masih tetap menunggu di depan Sandrina, sampai ibunya itu terbangun. Ia sudah tidak sabar ingin melihat ibunya terbangun dan melihatnya ada di depannya. Cakra yang belum melihat sang putri beranjak dari tempat duduknya, menyarankan untuknya beristirahat terlebih dahulu. Ia tidak tega, melihat sang putri yang pastinya kelelahan setelah perjalanan jauh. “Beristirahatkah, Sayang! Sudah sangat larut, malam ini. Nanti, kalau Mama kamu terbangun, Papa akan mengabarimu. Sekarang, lebih baik kamu istirahatlah dulu.” “Baiklah, Pah. Pokoknya, Papa harus bangunin Dira, kalau Mama sudah bangun!” Dira pun akhirnya beranjak pergi untuk segera mengistirahatkan dirinya sejenak, seusai memeluk sang papa. “Ya, Sayang. Itu, pasti,” ucap Cakra mengulas senyum, seraya mengusap rambut panjang Nadira dengan lembut dalam dekapannya. Ia pun menatap getir, kepergian sang putri dari kamarnya. Meskipun ia sudah mendapatkan pintu maaf. Namun, hatinya masih merasa belum pantas untuk menjadi seorang ayah yang bijak untuk putrinya tersebut. *** “D-dira… D-dira, apa kamu sudah datang, Sayang?” suara terbata lirih, berkali-kali terucap dari bibir Sandrina. “P-pah… P-pah, apakah Dira sudah datang? M-mama ingin melihatnya, Pah.” Selalu kata itu yang diucapkan oleh Sandrina, beberapa hari yang lalu, ketika ia baru terbangun dari tidurnya. “P-pah…. Bangunlah, Pah!” Sandrina berusaha membangunkan suaminya, meskipun suaranya tak terdengar jelas. Tangannya yang lemah pun, berusaha untuk menepuk-nepuk punggung Cakra yang tengah tertidur menyangga kepalanya di bibir ranjang. Akhirnya, Cakra pun terbangun. Setelah beberapa kali suara Sandrina memanggilnya, dan merasakan gerakan lembut yang menyentuh punggungnya. “Mama sudah bangun?” Cakra tersenyum bahagia, seraya melirik ke arah jam dinding. “Masih jam satu pagi, Mah. Mama tidur lagi, ya.” Sandrina menggeleng pelan. “N-nadira, Pah. M-mama ingin bertemu N-nadira,” pintanya lirih. Cakra tersenyum getir. Ia tidak tega melihat wajah Sandrina yang penuh harap ingin lekas bertemu dengan putrinya. Namun, ia pun tidak sampai hati mengganggu istirahat tidur Nadira yang baru sekitar dua jam yang lalu meninggalkan kamarnya. Pilihan yang sulit, memaksa Cakra mau tidak mau harus mengambil keputusan. Ya, akhirnya ia pun segera beranjak pergi dari kamarnya, untuk membangunkan sang putri. *** “Dira… !” panggil Cakra lirih. Ia tidak ingin membangunkan kedua cucu kembarnya juga. Dira yang memang belum bisa tidur, akhirnya menyahut sambil membukakan pintu kamarnya. “Ya, Pah. Apa Mama sudah bangun, Pah?” “Kamu belum tidur, Sayang?” tanya Cakra, melihat penampilan Nadira yang mengenakan mukena. “Dira belum bisa tidur, Pah. Dira baru selesai sholat tahajud, dan mendoakan kesembuhan Mama.” “Ya Allah, Papa bangga memiliki Putri seperti kamu, Sayang. Maafkan segala kehilafan Papa, selama ini. Papa sangat menyesal, telah membuangmu sekian lama,” ucap Cakra penuh penyesalan. Nadira menggeleng pelan. “Dira sudah memaafkan Papa, sedari dulu. Papa pantas melakukan semua itu. Karena, Dira memang salah.” Cakra pun menarik Nadira dalam pelukkannya, sambil menumpahkan tangisannya kembali. detik kemudian, Cakra pun mengurai pelukkannya. “Mama kamu sudah bangun. Dan, ia mencarimu.” “Benarkah, Pah? Dira segera ke sana,” tanyanya, seraya melangkah kaki menuju kamar Cakra dan Sandrina. Sesampainya di pintu kamar, Nadira pun segera melangkah masuk dan duduk di depan ibunya. “M-mama…. Ini Dira, Mah.” Suara Nadira terdengar bergetar lirih, sambil memegangi jemari tangan ibunya yang terasa dingin. Padahal, dua jam terakhir ia meninggalkan ibunya, jemari tangan yang ia genggam masih begitu hangat. “M-mah… Mah…!” panggil Nadira mulai panik. Ia pun mulai menyentuh semua suhu tubuh ibunya, mulai dari kaki hingga dahinya. Hanya dahi ibunya yang masih terasa hangat. Namun, ia pun merasa curiga, ia pun lantas menyentuh urat nadi di tangan Sandrina. Deg! Jantung Nadira tersentak pilu, ada gejolak sesak yang menghimpit dadanya. “Ada apa, Sayang? Ada apa dengan Mamamu?” tanya Cakra, yang merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh putrinya tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD